Chapter 24

Rika menghempaskan tubuhnya ke lantai, kedua mata gadis itu terbelalak bahkan ia tidak mampu mengeluarkan suara ketika melihat pemandangan yang begitu luar biasa dalam hidupnya. "Ini ... benar-benar nyata." Tubuh Rika bergetar, menyaksikan serbuk berwarna hijau sedang melayang menyelimuti tubuh kucing Alsou.

Ia menyayangkan tindakan Audrey karena memutuskan untuk melukai Alsou terlalu dalam, bahkan hampir mengenai jantungnya.

Ditengah perasaan tersiksa akibat gold thread yang masih bersemayam di urat nadinya, Aiko tampak berusaha untuk mengeluarkan sihir demi menyelamatkan Alsou.

Jika di antara kami hanya salah satunya saja yang bisa bertahan hidup, maka aku dengan senang hati akan memberikan kehidupan kepada adikku.

Aiko menangis di sela-sela rintihannya. Sadar bahwa kehidupan tidak akan lama lagi karena napasnya sudah mulai menipis.

"Aiko chan ...." Rika berusaha menghentikan tindakan Aiko yang memutuskan untuk memberikan seluruh sihir pemberian Iwayana demi penyembuhan Alsou.

Gadis itu menggeleng pelan, matanya semakin basah, tanpa bersuara Aiko akhirnya mengucapkan kalimat selamat tinggal ketika tahu bahwa tugas untuk menyembuhkan Alsou telah selesai. Ia tersenyum tipis kemudian terpejam.

Penampakan gold thread di pergelangan tangan Aiko telah lenyap seiring dengan terhentinya pergerakan napasnya. Tangis Rika semakin kencang, ia memeluk tubuh gadis itu, perasaan sedih menyelimuti dirinya terlebih lagi setelah dia mengetahui siapa Aiko sesungguhnya.

Keluarga Alsou adalah makhluk yang tidak jauh dari keluarganya dan hal inilah yang menjadi suatu alasan, mengapa Rika serta Zac terlibat terlalu dalam dengan hubungan kekeluargaan Nekomata tersebut.

"Tidak! Kalian berdua harus tetap hidup," bisik Rika, tanpa sadar ia kembali menangis sambil memeluk tubuh Aiko, sedangkan secara perlahan kekuatan menyelimuti tubuh Alsou dan membuat tubuh manusianya terlihat dengan mata yang mulai terbuka. Tidak ada lagi luka di tubuhnya.

Alsou terdiam, menatap Aiko. Dia mengetahui apa yang telah direncanakan oleh keluarganya dan hal ini membuat ia harus segera bertindak sebelum terlambat. Musuh mereka yang sesungguhnya kini telah tiada, tetapi tidak dengan saudara kembarnya. Dalam hati, tanpa sepengetahuan siapa pun, Alsou memiliki keputusan lain untuk membuat Aiko tetap hidup.

"Rika chan, apa kau tahu di mana Zac?" tanya Alsou, tampak tidak peduli dengan kesedihan yang dirasakan oleh Rika. "Aku perlu menemuinya, sebelum semuanya berakhir." Alsou berdiri di hadapan Rika, tidak ingin menatap ke arah kakaknya—Aiko.

Rika tercengang melihat ekspresi Alsou yang tidak peduli dengan keadaan Aiko dan dengan mudahnya ingin pergi meninggalkan saudara kembarnya.

"Rika chan! Aku perlu bertemu dengan Zac." Alsou tampak gusar dengan tatapan yang diberikan oleh Rika terhadap dirinya.

"Di kamar sebelah. Apa kau tidak memiliki rasa kepedulian dengan Aiko yang telah mengorbankan hidupnya untukmu?!" Rika tampak kesal dengan sikap Alsou dan berusaha untuk meraih tubuh gadis tersebut. Namun, dengan cekatan ia menepis tangan Rika lalu menatap dengan tatapan sedih.

"Kau tidak tahu yang sebenarnya, Rika chan." Alsou berjalan cepat mengambil selimut, melilitkan selimut tersebut di tubuhnya dan segera pergi meninggalkan ruangan. Ia tidak peduli dengan tatapan aneh para pengunjung rumah sakit, karena yang dia pikirkan saat ini adalah menemui Zac untuk mengucapkan hal terpenting dalam hidupnya.

Di depan pintu, gadis itu bisa melihat Zac sedang terbaring di tempat tidur dan dengan perlahan ia membuka pintu kemudian melangkah masuk ke dalam kamar pemuda tersebut. Alsou menyeka air matanya ketika melihat tuannya yang sedang terbaring lemah akibat tindakan penyelamatan untuk dirinya.

Sambil menggenggam tangan Zac, Alsou memutuskan untuk berbaring di sampingnya lalu membelai wajah pemuda itu. "Jika dewa kematian memberiku kesempatan untuk hidup kembali, maka aku ingin menjadi sama sepertimu, Dad."

"Kau ... hidup?" bisik Zac, terdengar lemah dan dengan tangan yang bergetar dia memeluk tubuh Alsou. "Yokatta ...." Ia mengusap lembut rambut gadis yang sangat dirindukannya.

Tanpa diperintah, air mata mereka mengalir dan mereka memutuskan untuk tidak saling memperlihatkan kesedihan serta kelegaan yang mereka rasakan.

Zac merasa begitu bersyukur karena Alsou kembali bersamanya dalam keadaan baik-baik saja. Sambil mempererat pelukannya, Zac berbisik, "Aku mencintaimu. Kumohon jangan pernah menghilang dari pandanganku. Kau ...." Zac tertawa pelan ketika sadar bahwa peliharaannya masih memanggil dengan panggilan Daddy, meskipun telah berulang kali ia mengingatkan gadis tersebut untuk tidak memanggil dengan sebutan Daddy.

"Berhentilah memanggilku dengan panggilan Daddy, Alsou karena aku bahkan belum memiliki istri."

"Apa Zac percaya rainkarnasi?" tanya Alsou tiba-tiba.

Gadis itu mengalihkan pembicaraan.

Zac mengangguk, tetapi mereka tidak saling menatap satu sama lain.

"Jika dilahirkan kembali aku ingin menjadi seperti dirimu dan kuharap dewa kematian akan mengabulkan permintaanku," bisik Alsou. Dalam diam air mata gadis itu semakin membasahi pipi dan pakaian Zac.

Pemuda itu turut menangis, meskipun tidak begitu memahami alur pembicaraan Alsou. Ia hanya tahu bahwa apa yang dikatakan gadis tersebut merupakan kalimat perpisahan antara dirinya dan Alsou.

"Aku membutuhkan Zac dan Zac pun begitu." Isak tangis Alsou makin terdengar samar. "Anata no koto ga daisuki." Alsou membenamkan wajahnya di dada Zac.

"Tanpa sadar aku juga menyayangimu, bahkan mencintai sebagai seorang manusia." Ragu-ragu untuk pertama kalinya Zac memberanikan diri untuk mencium pucuk kepala Alsou.

Mereka saling terdiam, menikmati saat-saat kebersamaan setelah beberapa waktu terpisah dan dalam keadaan yang berbahaya. Alsou menggenggam tangan kiri Zac yang sekarang sudah tidak sempurna akibat perbuatan Tendo. Setelah mencium tangan Zac dengan lembut, secepat mungkin ia membersihkan air matanya.

Aku harus bisa tampak baik-baik saja di hadapan Daddy.

"Sudah waktunya Zac. Berhati-hatilah dengan si Pirang karena aku tidak menyukainya."

Alsou mengerling lalu duduk di atas pinggang Zac, memegang wajah pemuda itu dengan kedua tangannya dan mencium bibir Zac. Ia tertawa ketika melihat wajah tuannya yang memerah seperti biasa kemudian menjauh dari tubuh Zac. "Aku akan merindukan kebaikan Daddy. Sayonara."

Tanpa menunggu jawaban dari Zac, Alsou segera pergi meninggalkan ruangan. "Jika dewa kematian menakdirkan kita bersama, maka kita akan bertemu lagi."

"Alsou!" Zac hanya bisa memanggil karena tubuhnya seketika tidak bisa digerakan. Well, diam-diam Alsou telah melumpuhkan pergerakan pemuda itu untuk beberapa saat karena tidak ingin membiarkan Zac mengejar dan menghalangi keputusan terselubungnya.

***

"Rika chan," panggil Alsou, matanya terlihat sembab dan begitu pula dengan Rika yang masih menangisi Aiko. "Apakah paman akan datang untuk melihat peliharaannya?"

Rika mengangguk.

"Bantu aku untuk memindahkan tubuh Aiko chan ke tempat tidur. Tidak akan ada yang mati bagi orang yang membela kehidupannya," bisik Alsou.

Rika tercengang dengan perkataan Alsou. Ia menyadari bahwa ada suatu hal yang memang belum ia ketahui terutama mengenai Audrey dan pria yang bersamanya. Begitu banyak rahasia yang belum ia ketahui tentang keluarga ini, bahkan ayahnya pun mungkin belum mengetahui hal tersebut.

"Alsou, apa yang ingin kau lakukan?" bisik Rika, merasa seperti ada yang tidak beres terhadap sikap Alsou. Apakah aku menyinggungnya dengan ucapanku tadi?

"Mereka sebentar lagi akan datang. Aku harap Rika chan bisa menahan mereka untukku."

Mengernyitkan dahi, Rika merasa enggan untuk meninggalkan mereka, tetapi melihat bahasa tubuh memaksa dari Alsou membuatnya dengan berat hati meninggalkan kamar Aiko.

"I'll trust you." Rika menggigit bibir dengan wajah yang tampak cemas.

Alsou mengangguk.

Klik.

"Terima kasih karena telah memberiku sedikit kehidupan. Aku telah menggunakannya dan aku berhak untuk mengembalikannya karena semua ini adalah kesalahanku yang bersikap gegabah untuk menyelamatkan orang-orang yang kusayangi." Alsou menggenggam tangan kanan Aiko dan mengeluarkan serbuk biru miliknya. "Hiduplah Aiko chan. Kau tidak boleh menukarkan hidupmu untukku."

Alsou memberikan seluruh sihirnya kepada Aiko. Itulah keputusan yang ia buat ketika tahu bahwa kakaknya telah memberikan hidupnya untuk mengembalikan nyawa yang telah di ambang batas. Ini bukan salah Audrey karena menusuknya terlalu dalam, ini adalah kesalahannya sebab tidak mendengarkan dan mengikuti rencana dengan baik.

Secara perlahan luka di tubuhnya kembali terbuka, mata gadis itu terpejam, dan tampak kondisi Alsou semakin melemah.

Blam.

Suara pintu yang dibuka secara paksa tiba-tiba terdengar. Namun, Alsou tidak menghiraukannya bahkan ketika orang itu memanggil namanya berulang kali dan berusaha menghentikan kegiatannya.

Terlambat. Alsou terjatuh dari tempat duduknya, bersamaan ketika Iwayana memeluk gadis itu.

"Kau sudah gila, Nak," bisik Iwayana, "maafkan, Ibu." Iwayana menangis sambil memeluk Alsou.

"Iwayana! Dia mengalami pendarahan!" Suara seorang pria yang sangat ia kenal tiba-tiba terdengar, sambil berusaha melepaskan Alsou dari pelukannya.

"Kau ...." Iwayana tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya ketika melihat sosok di hadapannya.

_____________________
Anata no koto ga daisuki: Aku menyayangimu

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top