9

Aroma anyir memenuhi udara hingga membuat siapapun yang tak terbiasa dengan aroma tersebut akan mual seketika. Michio menggeram kesal. Raungan kemarahan memenuhi udara. "Mundur!" titahnya geram. Dengan menahan rasa malu yang luar biasa, ia menarik mundur pasukan yang ia pimpin.

Sudah banyak korban berjatuhan di pihak mereka. Perang yang sudah berlangsung selama dua tahun lamanya ini pun belum terlihat titik terangnya. Yang ada, mereka hanya semakin gelisah dan cemas. Pemimpin klan Vutoo memang tak menunjukkan gelagat akan menghabisi mereka. Ia hanya melalukan pertahanan dan menyerang seadanya agar mereka mundur.

Akan tetapi, ramalan yang diramalkan oleh penyihir misterius itu! Bagaimana pun caranya, ia harus memusnahkan klan Vutoo. Sebelum anak yang diramalkan muncul, ia harus membereskan semuanya jika tak ingin dibinasakan oleh anak itu.

Di dalam tendanya, Michio menatap Torin dan Pasoon gusar. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Tatapan mencemooh tak lepas dari wajah Torin. Bibirnya berkerut menahan tawa. Jika saja ia tak ingat ada Pasoon di sini, tawanya pasti sudah meledak sejak sepuluh menit yang lalu. Pemandangan Michio berbalik pulang bersimbah darah dengan prajurit yang hanya tersisa ⅒ adalah pemandangan yang amat menarik—setidaknya begitulah menurut ia.

Tahu bahwa Torin sedang mencemoohnya. Michio melempar bola api tepat di wajah pria itu. Torin menggeram dan langsung melempar sebongkah tanah keras ke dada Michio. Tak mau kalah, Michio mengeluarkan api panjang bak cambuk dan melecutkannya ke tubuh Torin secara membabi buta. Dari sepuluh serangan, Torin setidaknya menerima 6 cambukan.

Pertarungan keduanya berlangsung sengit walau hanya sebentar. Pergerakan mereka terhenti akibat napas yang tercekik. Kepala keduanya kini diselimuti oleh sebuah gelembung air yang mencegah pasokan oksigen masuk ke paru-paru mereka. Dalam hitungan menit, wajah keduanya berubah keunguan dan keduanya berusaha menggapai-gapai sesuatu.

Tatapan dingin dilemparkan oleh Pasoon. "Jika tak ingin meregang nyawa di tanganku, sebaiknya kalian berdua jaga sikap," desisnya tenang, tetapi berbahaya.

***********

Laszlo berguling di atas kasurnya. Rasa bosan mulai melahapnya secara perlahan. Jemarinya yang berada di atas kasur pun ia main-mainkan guna menghalau rasa tersebut. Ternyata, bolos sekolah tak seindah yang ia bayangkan. Ia sama sekali tak mengerti mengapa anak-anak lain suka sekali membolos. Padahal ini sangatlah membosankan. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan atau kerjakan. Satu-satunya, rasa nyaman saat bolos hanyalah karena ia tak perlu menyelam di lautan manusia yang berisik.

Laszlo menggulingkan badannya ke kanan dan menatap jendela yang ditutupi oleh tirai biru muda. Helaan napas berat meluncur dari bibirnya. Matanya terpejam sejenak, sebelum akhirnya terbuka kembali dan menatap nyalang pada jendela. "Aku bosan," desahnya.

Laszlo bangkit dari kasurnya dan berjalan keluar kamar. Rumah sedang kosong. Emily pergi bekerja dan ia ditinggal seharian. Ia tak mengerti mengapa tiba-tiba Emily memberikan ia izin untuk membolos. Padahal biasanya, separah apa pun sakitnya, selama ia masih bisa berjalan dengan tegak, Emily akan memintanya untuk bersekolah saja.

Saat kemarin malam Emily memberinya izin, ia mensyukurinya. Namun, saat ini, ia malah bertanya-tanya. Sebenarnya kenapa ibunya tiba-tiba memberinya izin?  Dan yang lebih anehnya lagi, sang ibu memintanya untuk istirahat di rumah selama seminggu penuh! Baru sehari saja ia sudah merindukan perpustakaan sekolah! Apalagi seminggu!

Tidak bisa! Ia akan coba berbicara pada ibunya. Bernegosiasi dengan ibunya bukanlah hal yang mudah, tetapi jika ia tak mencobanya, ia tak akan pernah tahu jawabannya. Ia sudah memutuskan agar nanti malam ia akan berbicara panjang dengan sang ibu.

Namun, ibu yang ia tunggu-tunggu, tak pulang malam itu. Terpaksa, ia harus menunda niatnya hingga esok harinya. Akan tetapi, kejadian yang sama kembali terulang. Rasa cemas dan khawatir pun mulai menggerayanginya secara perlahan. Walau Emily selalu mengabarinya dan mengatakan ia hanya sedang pergi dinas ke luar kota. Laszlo tetap khawatir.

Malam itu, ia tak bisa tidur sama sekali. Hatinya gelisah karena tahu bahwa Emily sengaja tak pulang karena sedang menghindarinya. Entah apa yang Emily sembunyikan, tetapi perasaannya mengatakan bahwa itu merupakan sesuatu yang besar. Diingatnya kembali mimik wajah seputih kertas milik Emily saat ia mengatakan ia merasakan sesuatu yang aneh sebelum kesadarannya terenggut di hari itu.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Ibu menghindariku seolah aku adalah monster?" keluhnya.



--------------
666.091021
Angkanya bagus. Pas banget

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top