8

"Tuan! Kita tidak bisa seperti ini terus," ujar Davin gusar. Walau pertahanan mereka bisa terbilang cukup kokoh, tetapi jika musuh terus mendesak seperti ini, suatu saat pertahanan mereka juga pasti akan jebol.

Nathan menghela napas panjang. Rasa frustrasi mencekiknya hingga ia merasa sulit untuk bernapas. Ia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Davin. Namun, ia juga tak ingin memerangi teman-temannya.

"Mereka bukan lagi temanmu, Nathan! Kau lihat baik-baik! Buka matamu lebar-lebar! Teman macam apa yang tega memusnahkan klan temannya sendiri, bahkan termasuk temannya juga?!" teriak Davin frustrasi.

Davin bukannya tak mengerti situasi Nathan. Ia tahu bahwa dulunya Nathan dan para pemimpin klan yang lain adalah teman baik. Ia juga sama, menganggap mereka teman. Akan tetapi, kini situasinya sudah berbeda. Mereka bukan lagi teman. Mereka adalah musuh! Musuh yang harus digilas tanpa ampun!

Selang beberapa lama, Nathan tak juga menjawab rasa frustrasi Davin hingga pria itu memilih untuk meninggalkan tenda Nathan dengan langkah lebar. "Terserah padamu saja! Jangan salahkan aku jika aku tak tahan, lalu mengambil tindakan yang menurutku sesuai," bisiknya geram dan meninggalkan Nathan yang terduduk lemas di kursinya.

Nathan menatap kepergian Davin nanar. Ia mengerti kegelisahan Davin. Adiknya, yang juga merupakan istrinya, sedang hamil besar. Anak yang diramalkan akan menjadi pemimpin yang paling kuat hingga klan-klan lainnya akan turut bertekuk lutut. Ramalan itulah yang membuat pemimpin klan lainnya yang sudah menyimpan rasa iri padanya melalukan jalan ekstrim ini.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" desahnya sendu. Ia menatap langit-langit tenda yang berwarna hitam kosong. "Kenapa mereka tak mau mengerti kalau bisa saja, anak yang tengah dikandung oleh Jasmine bukanlah anak dalam ramalan? Kenapa mereka bersikukuh seperti itu?"

*************

Sebuah ketukan halus mendarat di pintu coklat itu dan membuat pemuda yang di dalamnya mengangkat kepalanya dari lembaran kertas. "Masuk saja," ujarnya mempersilakan.

Selang sedetik, pintu dibuka dengan kasar. Lalu, tampaklah wajah khawatir milik Kaizen. Begitu melihat Laszlo tengah sibuk menekuri tugas sekolah, Kaizen langsung mencibir dengan mimik wajahnya. Ia segera melangkah menuju meja belajar dan membanting buku-buku tersebut hingga tertutup.

"Tidak belajar sehari tak akan membuatmu mati! Kau sedang sakit, berisirahatlah dengan benar!" tegas pemuda itu sembari menyeret temannya menuju kasur. Didorongnya kuat Laszlo hingga pemuda itu hanya bisa terbaring pasrah.

Bibirnya terbuka, hendak membantah. Namun, ternyata Kaizen lebih cepat. Tangannya menyorongkan masuk sebutir anggur ke dalam mulut Laszlo hingga protesnya tertelan bersama dengan buah tersebut. Kaizen menghela napas lega karenanya.

"Makan saja dan istirahat. Lagi pula, tak ada orang yang tak tahu bahwa kau sedang sakit," jelas Kaizen tak acuh. Sedangkan Laszlo yang mendengarnya melotot kaget dan tersedak anggur yang-lagi-lagi dimasukkan paksa oleh Kaizen.

Melihat Laszlo terbatuk-batuk, Kaizen segera menyambar segelas air dan menyodorkannya. Laszlo menerima gelas tersebut dengan senang hati dan segera meneguk isinya hingga tandas.

"Pelan-pelan saja, aku tak akan merebut anggur-anggur ini," ledek Kaizen santai.

Laszlo menggeleng kuat. "Apa maksud perkataanmu tentang tak ada yang tak tahu bahwa aku sakit?" desak Laszlo tak sabar. Seingatnya, setelah meninggalkan ruang kesehatan, ia masih mengikuti pelajaran selanjutnya dan pulang dengan normal; seperti biasa.

Kaizen mengangkat bahunya tak acuh. "Tak ada maksud lain. Persis seperti itu. Berita kau ambruk dan mimisan hebat sudah menyebar di mana-mana bak api yang membakar hutan yang telah disiram minyak," jelas Kaizen dengan wajah lempeng.

Laszlo menarik rambutnya frustrasi. Memalukan sekali! Siapa yang menyebarkan hal itu?! Benar-benar menyebalkan!

Seolah mendengar apa yang dikeluhkan Laszlo dalam hati, Kaizen menjelaskan, "Banyak mata yang melihat kau kugendong menuju ruang kesehatan dengan bersimbah darah. Kelas kita letaknya paling jauh dari ruang kesehatan. Ingat?"

Tanpa sadar, Laszlo mengangguk paham. Benar apa yang dikatakan oleh Kaizen. Letak kelas mereka memang jauh sekali dengan ruang kesehatan. Bahkan mereka pun harus melewati ruang guru terlebih dahulu sebelum mencapai ruang kesehatan. Tak heran jika seangkatan mereka dan bahkan guru-guru bisa mengetahui soal hal ini.

Bahu Laszlo melorot lemas. Rasa malasnya semakin meningkat hingga ia pun memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa absen satu hari esoknya. Mungkin, jika ia beralasan masih tak enak badan sang ibu akan mengizinkannya absen. Akan tetapi, bisa juga tidak.

Entahlah! Ia harus mencoba terlebih dahulu baru bisa mengetahuinya. Ia akan mencoba mengantongi izinnya nanti malam saat ia dan ibunya tengah makan bersama.



---------------
693.061021
Heiho!
Gimana kabar kalian?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top