7
Torin dan Michio saling melempar tatapan tajam. Pertarungan mereka yang terpaksa harus usai itu ternyata masih meninggalkan kedongkolan di hati masing-masing. Sementara itu, Pasoon hanya memperhatikan keduanya dalam diam.
Cukup lama aksi saling melotot itu terjadi sampai Pasoon-sekali lagi-harus memisahkan keduanya secara paksa. Ia berdeham keras sebanyak tiga kali seraya memukul meja dengan agak kuat. Kedua pasang mata itu segera mengalihkan pandang ke arah Pasoon.
"Apa kalian masih ingin saling menghancurkan?" tembak Pasoon tepat sasaran membuat keduanya terdiam kaku.
Selang beberapa lama, keduanya berdeham pelan. Kemudian, memaksakan diri mereka fokus pada lembaran-lembaran kertas yang ada di atas meja. Strategi yang sebelumnya telah mereka susun telah habis terbakar sehingga sekarang mereka harus menyusun ulang strategi untuk menggilas lawan mereka.
Sementara itu, klan Vutoo terus memantau keadaan lawan yang beberapa hari belakangan mendadak tenang. Dari informan rahasia yang mereka sebar ke seluruh penjuru, mereka mengetahui bahwa terjadi konflik internal di kubu lawan. Tentu saja, informasi itu mereka sambut dengan hati senang.
Untuk sementara waktu, mereka bisa lebih santai. Walau begitu, mereka harus tetap waspada sembari mempersiapkan perang yang kemungkinan bisa lebih besar lagi. Jika tak ingin musnah, mereka harus tetap waspada dan fokus.
"Tuan, kami mendapat kabar bahwa Tuan Pasoon berhasil menengahi konflik tersebut," lapor salah seorang berjubah hitam dengan penutup wajah berwarna senada.
Nathan menghela napas gusar. Ketenangannya akibat konflik internal klan Fuoco dan Klan Trae ternyata hanya berlangsung sebentar saja. Sekarang situasinya pasti akan lebih rumit karena Pasoon sudah turun tangan. Ia harus mempersiapkan segalanya dengan sempurna bila tak ingin menanggung banyak kerugian-baik jiwa maupun materi.
"Persiapkan pertahanan! Cek senjata kalian dan juga persediaan makanan serta obat-obatan. Jika ada yang kurang segera lapor agar kita bisa memintanya pada wilayah pusat," titahnya tegas pada tangan kanannya.
*******
Seminggu sudah Kaizen mendiamkan Laszlo. Laszlo sendiri tak mengerti apa dan di mana letak kesalahannya. Ia bahkan sudah pernah meminta maaf pada Kaizen di hari ketiga mereka berselisih paham. Akan tetapi, permintaan maafnya tak diacuhkan oleh Kaizen. Maka dari itu, Laszlo memilih untuk mendiamkan saja pemuda itu-membiarkan ia bertindak sesuka hatinya hingga amarahnya mereda.
Sejak itu, Yuri pun semakin sering mengajaknya bicara. Awalnya, Laszlo menanggapinya sekadarnya saja. Namun, lama kelamaan, sikapnya mendingin dan hal itu membuat Yuri menjadi bingung. Hari ini, Laszlo malah semakin terang-terangan memintanya untuk pergi.
"Pergilah! Aku sedang tak ingin meladenimu," usirnya begitu Yuri mendekati mejanya.
Yuri bingung sekaligus kaget. Sebelumnya, belum pernah Laszlo mengusir orang terang-terangan seperti itu. Ialah orang pertama yang diperlakukan seperti ini. Hatinya sakit. Ia pun berbalik pergi sambil menggigit bibir bawahnya kuat. Dan dengan mata berkaca-kaca.
Kejadian itu, tak luput dari sorotan Kaizen. Pemuda itu langsung mendekati Laszlo dan menarik kerahnya. Sebuah bogeman melayang ke arahnya membuat Laszlo menutup matanya pasrah. Ia pikir, biarlah ia dipukuli sekali dua kali bila itu bisa meringankan kedongkolan di hati Kaizen.
Namun, sudah satu menit ia menunggu, pukulan Kaizen tak kunjung mendarat di wajahnya. Matanya terbuka perlahan dan mendapati Kaizen tengah berkutat dengan perisai tak kasat mata yang berada di antara dirinya dan juga bogeman itu. Ia bisa melihat urat-urat yang menonjol di leher Kaizen akibat pemuda itu memaksakan kekuatannya.
Kening Laszlo berkerut. Ia merasa, ia pernah mengalami kejadian seperti ini. Entah berapa lama Kaizen memukuli perisai tak kasat mata itu hanya demi mendaratkan bogeman mentah di wajahnya. Pemuda itu terlihat lelah dan kesal. Sementara, Laszlo merasa bingung.
Tiba-tiba, kepalanya terasa sakit bak dihantam oleh godam ratusan ton, berulang kali. Pandangannya bahkan menggelap selama beberapa saat sebelum akhirnya tubuhnya jatuh lemas. Ia merasakan cairan hangat dan kental yang menetes dari hidungnya.
Cengkraman pada kerah bajunya kini telah terlepas. Tangan kekar itu beralih ke pundaknya. Samar, ia mendengar suara berat yang memanggilnya. Namun, telinga yang masih berdengung akibat rasa sakit yang menghantam kepalanya meredam suara tersebut.
Setelah suara itu benar-benar menghilang, ia baru tahu bahwa suara berat yang teredam itu merupakan suara Kaizen.
"Las! Las! Kau tak apa?" tanya Kaizen dengan nada panik luar biasa.
Ia mengangkat kepalanya, pandangannya sudah normal. Ia bisa melihat gurat-gurat panik sekaligus khawatir pada wajah yang bisa dibilang tampan itu. Alis hitam yang rapi dan lebat; mata coklat terang yang indah. Pandangan yang biasanya lembut dan ramah itu tergeserkan oleh kekhawatiran.
Laszlo menggelengkan kepalanya kuat beberapa kali. Kemudian, memukuli kepalanya beberapa kali, dan langsung ditahan oleh Kaizen.
"Tidak! Aku tak apa," balasnya setelah sekian lama. Kaizen terlihat tak percaya. Akan tetapi, ia memang sudah baik-baik saja sekarang. Sakit di kepalanya sudah pergi. Telinganya juga sudah tak berdengung lagi. Ia juga sudah tak mimisan lagi, sepertinya.
Laszlo menatap sekelilingnya setelah merasa aneh dengan tempat duduknya yang terasa empuk. Ruangan serba putih, lalu terdapat aroma alkohol. Tak salah lagi, ia pasti berada di ruang kesehatan. Sensasi dingin membuatnya tersadar kembali dari lamunannya. Ia melihat Kaizen tengah mengompres hidungnya dengan es batu.
"Kau!" Kaizen menarik napas gusar. Tak lama, ia menunduk. Aura penuh penyesalan menguar dari setiap pori-porinya. "Maaf. Seharusnya aku tak marah padamu. Seharusnya aku juga tak memukulmu," sesalnya.
Laszlo hanya berdeham kecil. Kaizen memukulinya? Apa itu artinya apa yang ia lihat tadi hanyalah khayalannya semata? Akan tetapi, kenapa yang ia rasakan bukanlah rasa sakit akibat menerima pukulan dari seseorang melainkan rasa sakit seperti tengah dilindas dengan kejam.
-----------------
865.021021
Yuhuuuu
Selamat malam minggu, Gengs
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top