10

Nathan menatap Davin tenang. Mimik wajahnya tak memperlihatkan emosi apa pun. "Davin, bagaimana pergerakan mereka?"

Pertempuran terakhir sudah terhenti sejak dua bulan yang lalu dengan kemenangan di pihak mereka. Akan tetapi, selama ini bahkan perang kecil pun tak ada. Seolah musuh hilang di telan bumi. Oleh karena itu, Nathan merasa cukup gelisah.

Ia tahu, ini pasti strategi milik Pasoon yang ingin membuat mereka lengah. Tentu saja, ia tak bisa membiarkan orang-orangnya jatuh dalam trik licik seperti itu.

"Latihlah pasukan seperti biasa. Perkuat penjagaan dan pertahanan. Mereka bisa menyerang kapan saja. Tapi jangan terlalu menekan para prajurit hingga mereka ketakutan atau merasa stress. Dan jangan pula membiarkan mereka lengah," titah Nathan yang diterima oleh Davin senang hati.

Davin menaruh tangan kanannya di atas dada kirinya, lalu membungkuk hormat. "Saya mengerti, Tuan. Jika nanti ada kabar dari prajurit pengintai, akan segera saya sampaikan pada Tuan." Setelahnya, Davin mengundurkan dirinya untuk melaksanakan perintah sang tuan.

Davin menjadwalkan penjagaan benteng secara bergilir, melatih para anak buahnya agar kondisi mereka selalu prima. Pertahanan yang diciptakan dengan sihir pun selalu di cek beberapa waktu sekali. Sesuai permintaan tuan mereka, mereka tak akan lengah, tetapi juga tak akan terlalu stress.


***********

"Woah! Ada apa ini?" desah Kaizen bersemangat begitu ia membuka pintu kamar Laszlo. "Kau sampai memintaku untuk menginap," serunya senang.

Dua jam yang lalu, Kaizen menelepon Laszlo saking bosannya berada di rumah. Orang tuanya sedang pergi entah ke mana dan ia juga tak tahu harus mengajak siapa untuk keluar dan bermain. Satu-satunya orang yang terlintas di pikirannya hanyalah Laszlo. Walau, tentu saja, Laszlo akan menolak ajakan bermainnya.

Sebenarnya, Kaizen memiliki cukup banyak teman. Akan tetapi, ia sedang tak ingin bersama teman-temannya itu. Saat ini, ia hanya menginginkan kenyamanan dan teman-temannya tak cocok dengan label "nyaman" tersebut. Di antara sekian banyak teman, hanya satu orang yang cocok dengan kata "nyaman" itu-dan orang itu adalah Laszlo.

Laszlo hanya mengangkat bahunya tak acuh. "Ibu tak pulang lagi. Sepertinya beliau menghindariku," aku Laszlo tak acuh.

Bibir Kaizen yang senantiasa mengoceh itu terkatup rapat mendengar pengakuan Laszlo. Marie menghindari Laszlo? Tidak mungkin! Jika Kaizen ditanyai siapa ibu paling perhatian di muka bumi ini, ia akan menjawab dengan yakin Marie-lah orangnya!

Kaizen segera memalingkan wajahnya menatap Laszlo. Mimik tak percaya diberikan pada pemuda itu hingga pemuda itu kesal dan melemparkan bantal tepat di muka Kaizen. Kaizen yang tak siap, sempat terhuyung sesaat begitu menerima timpukan tersebut.

"Omong kosong apa yang kau bicarakan?!" seru Kaizen tak percaya begitu ia menemukan suaranya kembali.

Laszlo memutar bola matanya malas. Bibirnya terbuka sejenak, lalu menutup kembali. Ia memilih untuk tak menjelaskan lebih lanjut lagi dan melemparkan sebuah benda pipih ke arah Kaizen yang ditangkap dengan panik oleh pemuda tersebut.

Kaizen menangkap ponsel Laszlo dengan alis terangkat. Ia menyalakan layar yang sedang menampilkan ruang obrolan antara Laszlo dengan sang ibu.

Laszlo : Ibu, mengapa kau belum pulang?

Pesan itu terkirim 3 hari yang lalu, tepatnya 1 hari setelah kejadian Laszlo tak sadarkan diri, pukul 07.00 malam.

Ibu : Maaf, Nak. Ibu lupa mengabarimu. Ibu tak bisa pulang karna ada kerjaan mendadak.

Pesan balasan dari Marie diterima pada 2 hari yang lalu, pukul 02.00 dini hari. Kaizen mengerutkan keningnya bingung. Ia tahu kebiasaan Laszlo dan Marie. Biasanya Marie akan langsung membalas pesan Laszlo sesibuk apa pun dia. Akan tetapi, pesan balasan yang diberikan Marie memiliki rentang waktu yang cukup jauh.

Jempol Kaizen menggulir kembali layar ponsel Laszlo. Kebanyakan Laszlo yang bertanya apakah sang ibu sudah makan, kapan sang ibu akan pulang. Namun, jawaban dari Marie selalu singkat dan hanya pada intinya saja. Benar-benar seperti tengah menghindari orang.

"Kau berbuat salah pada ibumu?" tuduh Kaizen begitu selesai membaca pesan-pesan tersebut.

Laszlo menarik ponselnya dari tangan Kaizen cepat dan kuat hingga Kaizen sedikit tersentak. Pemuda itu menggeleng dengan cepat. "Tak mungkin kau begitu. Menurutmu, ibumu adalah orang yang paling penting bahkan lebih penting dari nyawamu. Jadi tak mungkin kau membuatnya marah." Kaizen menyangkal sendiri pertanyaannya.

Kening pemuda itu berkerut dalam seolah ia tengah memikirkan sesuatu yang serius. Bibirnya tertarik membentuk sebuah garis menandakan keseriusan berpikirnya. Selama lima menit, ia bertahan dengan mimik seperti itu. Kemudian, ia berseru sebal, "Sudahlah! Lebih baik kita tidur saja!"

Laszlo terjatuh ke atas kasur akibat tarikan tiba-tiba Kaizen. Laszlo menghela napas lelah saat menoleh ke kanan dan mendapati temannya sudah mendengkur halus, napas pemuda itu teratur menandakan bahwa ia sudah menyebrang ke alam lain.


-------------------
725.131021
Yo! Siapa yang punya temen modelan Kaizen? Kalau punya temen kayak gitu bagusnya diapain ya??

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top