45
Tangis Chrisabella pun pecah. Ia menarik Laszlo ke dalam pelukannya dan menarik Nathan agar pria itu memeluk mereka. Pertemuan ini sangatlah singkat dan ia masih belum bisa merelakan bahwa pertemuan ini harus berakhir.
Tahu bahwa sang ibu masih ingin bersama, Laszlo menepuk-nepuk punggung sang ibu pelan. "Aku akan berkunjung kemari lagi," janjinya pasti.
Chrisabella mengurai pelukan, tangannya menangkup wajah Laszlo. Sebuah gelengan pelan ia berikan pada putranya. Kecupan ringan mendarat lembut di dahi Laszlo.
Mata Laszlo terpejam. Hati dan pikirannya ingin menyimpan kehangatan tersebut selamanya. "Aku pasti akan berkunjung lagi, Ibu," janjinya sekali lagi.
"Tidak! Kamu tidak boleh berkunjung lagi, Nak," tolak Chrisabella di sela-sela isaknya.
Laszlo memandangnya tak mengerti. Ia bisa melihat bahwa Chrisabella dan Nathan masih tak ingin berpisah dengannya, begitu pula dengannya. Ia tak mungkin salah mengira, tetapi melihat Chrisabella menolak kedatangannya. Rasa kecewa menghantamnya dengan keras.
Sebuah usapan hangat mendarat di kepalanya, membuat Laszlo mendongak dan langsung bertatapan langsung dengan netra Nathan yang memancarkan kesenduan. "Kalau kau ke sini, itu bukanlah pertanda baik. Bukankah kau sudah tahu tempat apa ini?" tanyanya pelan.
Laszlo mengangguk tegas. Tentu saja ia tahu. "Ini kan tempat untuk ji-" Mata Laszlo membulat sempurna. Ia paham sekarang. Pada awalnya, seharusnya ia tak boleh memasuki tempat ini. Akan tetapi, karena satu dan yang lain hal, ia malah memasuki tempat ini.
Namun, kalau ia ingin menetap di sini selamanya bersama kedua orang tuanya. Itu berarti ia harus meninggal terlebih dahulu. Untuk sesaat, pemikiran tersebut sangat membuatnya tergoda. Ia bahkan hampir mengatakan pada kedua orang tuanya tidak apa jika ia meninggal saat ini juga.
Chrisabella mengusap pipi Laszlo lembut. "Buang pikiranmu sekarang. Untuk saat ini, kau memiliki tugas yang sangat besar. Maafkan kami karena harus membebanimu dengan tugas yang berat. Kami sungguh minta maaf." Chrisabella kembali menarik Laszlo ke dalam pelukannya.
Laszlo menggeleng pelan. "Tidak. Kalian berdua adalah orang tua terhebat yang ada di dunia ini. Aku berterima kasih pada kalian karena kalian sudah membiarkanku hadir di dunia yang menakjubkan ini dan membuat orang-orang yang baik menjagaku," ujar Laszlo tulus.
Nathan mengangguk puas. Memang harus seperti itulah putranya. "Mintalah pada Davin untuk menjelaskan situasinya padamu. Kau harus hati-hati, terutama pada penyihir hitam," ujar Nathan memperingatkan.
Laszlo menganguk patuh. Perlahan, ia merasa tubuhnya mulai memberat. "Aku mencintai kalian," ucapnya karena takut tak bisa mengatakannya lagi.
@_@
"Bagaimana ini? Sudah 3 hari dia seperti ini," ucap Yuri dengan nada gusar. Ia bergerak bolak-balik di dalam kamar Laszlo.
Sejak 3 hari yang lalu, Laszlo tiba-tiba berada dalam kondisi tak sadar. Ia bagaikan jasad tanpa jiwa. Walau begitu, tubuhnya masih terasa hangat dan perlahan-lahan mulai mendingin.
Yuri mengigit jarinya gemas. Kaizen yang menatapnya hanya bisa menghela napas panjang. Ia bangkit dari duduknya dan memegang pundak Yuri, meremasnya pelan. "Tenanglah! Bukannya kau yang bilang agar percayakan saja pada Laszlo. Lagi pula, Davin dan Emily juga pergi kembali ke klan untuk mencari tahu tentang hal ini, 'kan?"
Yuri mengangguk lemas. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Kaizen. Rasanya, ia ingin menangis saat ini. Rasa cemas semakin hari semakin menumpuk.
"Kalian seperti tengah menghadiri upacara pemakaman seseorang."
Tubuh Yuri dan Kaizen membantu mendengar selorohan tersebut. Mereka berdua langsung menoleh ke arah tempat tidur. "Las!" seru keduanya senang dan langsung menghambur memeluk Laszlo.
Tawa yang jarang itu pun meluncur membuat ketenangan membanjiri hati sepasang remaja tersebut. "Apa kalian sedang berencana untuk memakamkanku?" Lagi-lagi, remaja 14 tahun itu berkelakar dengan ringan.
Kaizen menepuk pundaknya agak keras hingga ia mengaduh. "Apa kau tahu seberapa khawatir dan takutnya kami? Masih bisa bercanda sekarang?" hardiknya. Walau begitu, matanya menatap lembut pada Laszlo.
"Apa ada sesuatu yang tidak nyaman, Las?" tanya Yuri sembari menyentuh kening Laszlo; mengecek apakah remaja pria itu demam ataukah tidak. Suhu tubuh mereka sama membuat Yuri bisa mendesah lega.
Yuri beralih pada Kaizen. "Kai, hubungi Om dan Emily sekarang. Katakan pada mereka kalau Las sudah kembali," pintanya yang langsung dituruti oleh Kaizen.
Kaizen mengeluarkan sebuah kelereng kecil yang sudah ia rapalkan mantra. Kelereng ini ada sepasang, ia sendiri yang mencoba untuk membuatnya. Tujuan awal ia membuat itu agar ia bisa berkomunikasi dengan orang tuanya bila ia pergi ke klan Vutoo nantinya. Akan tetapi, siapa yang sangka bahwa benda itu akan dipakai di situasi seperti ini?
"Kai?" Suara Emily terdengar jernih di telinga Laszlo.
Laszlo menatap kelereng kecil bersinar itu dengan penasaran. "Apa itu Emily?" tanyanya penuh harap. "Kalau iya, tolong katakan padanya kalau aku minta maaf karena sudah membuatnya khawatir," lanjutnya lagi.
Kedua bahu Laszlo merosot turun, kepalanya menunduk dalam. Ia terlihat sangat merasa bersalah. "Aku juga ingin minta maaf pada kalian semua. Sungguh, aku minta maaf," ungkapnya tulus.
"Apa itu Laszlo? Apa Laszlo sudah kembali?" tanya Emily tanpa bisa menyembunyikan kegirangannya.
Kaizen menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Begitulah. Aku hanya ingin mengabarimu kabar baik ini saja. Kami menunggu kedatangan kalian ke sini," ujar Kaizen sebelum memutus sambungan tersebut.
Kaizen berjalan mendekati Laszlo, lalu mengunci leher pemuda itu pelan. "Kalau kau merasa bersalah. Jangan seperti itu lagi! Kau tahu 'kan kalau kami semua menyanyangimu dan mengkhawatirkanmu?"
Laszlo terkekeh pelan. Baru saja ia hendak membalas, Yuri menggenggam tangannya. Laszlo menatap Yuri dengan sebelah alis terangkat. "Kami mohon, kami menyanyangimu sebagai teman. Jadi, kami mohon agar kamu jangan tinggalkan kami," ungkap Yuri dengan mata berkaca-kaca.
Laszlo tersenyum canggung. Ia tak menyangka Yuri akan bersikap seperti itu. Ia bahkan tak pernah membayangkannya sebelumnya. Selama ini, hubungannya dengan Yuri memang baik, tetapi tidak sampai seperti ini.
Walau begitu, ia merasa senang. Mereka menganggapnya teman, bukan pemimpin. Hal itu membuat hatinya merasa lebih tenang. "Baiklah, terima kasih."
Laszlo menarik kedua tangannya dari genggaman Yuri. Namun, belum lepas seluruhnya, Yuri kembali menarik tangannya dan menggenggamnya erat. Yuri memejamkan matanya selama beberapa saat. Laszlo tak begitu yakin apa yang sedang dilakukan oleg gadis itu, tetapi ia merasakan kehangatan dari kekuatan sejenis mengalir ke dalam tubuhnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Laszlo heran.
Kaizen pun menyempil di antara Laszlo dan Yuri. Ia menatap Yuri dengan tatapan cemburu. "Benar. Apa yang kau lakukan? Apa pada akhirnya kau menyadari perasaanmu yang sebenarnya adalah untuk Laszlo?" tanyanya tanpa mau repot-repot menyembunyikan rasa cemburunya.
Sebal, Yuri pun menggeplak kepala Kaizen dengan keras hingga kepala Kaizen terlempar ke kiri. Laszlo meringis melihat hal itu, apalagi suaranya terdengar keras. Pasti sakit, pikirnya.
"Kau!"
-------------------
1034.050322
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top