46
"Kau!" Yuri meremas tangan Laszlo kuat sembari memelototinya dengan mata yang melebar. "Apa yang kau lakukan di ruang hampa sana?" tuntutnya.
Laszlo mengedip-ngedipkan matanya tak paham. Kepalanya miring ke arah kiri, dengan tatapan polos, ia membalas tatapan Yuri yang membara. "Apa maksudmu?"
Kaizen memutus acara genggaman-atau lebih tepatnya peremasan-tangan itu dengan gusar. "Benar, Yuri. Apa yang kau maksud?"
Yuri menatap Kaizen gemas. "Apa kau benar-benar tak merasakannya?" tanya Yuri sebal.
Alis Kaizen terangkat sebelah. Merasakan apa? Ia sama sekali tidak merasakan apa pun. Di sekitar sini hanya ada mereka bertiga dan jauh di luar sana memang ada beberapa orang, tetapi bukan musuh. "Ti-" ucapan Kaizen terputus saat ia menyadari maksud dari Yuri.
Benar, kekuatan yang mengalir di tubuh Laszlo berbeda. Biasanya, kekuatan di tubuh Laszlo terasa seperti terkurung dan tidak bebas. Namun, saat ini, kekuatan Laszlo terasa begitu bebas. Dan juga liar. Kaizen pun melemparkan pandangan curiga pada Laszlo.
Belum sempat Kaizen membuka mulut; menodong cerita. Terdengar seruan haru dari arah pintu. "Laszlo! Akhirnya kau bangun juga, Nak."
Yuri dan Kaizen segera membuka jalan agar Emily bisa mendekati Laszlo. Begitu sampai di depan Laszlo, Emily langsung menubruknya dan memberikannya pelukan erat. Mata Laszlo terpejam, ia menikmati pelukan Emily yang hangat. Sesuai dugaannya, hangatnya pelukan Emily dan Chrisabella terasa berdeba.
Dari pelukan Emily ia bisa merasakan kasih sayang dan ada juga rasa hormat, tetapi pelukan dari Chrisabella hanya penuh dengan kasih sayang. Walau begitu, pelukan keduanya tetap membuatnya merasa hangat dan nyaman.
"Aku baik-baik saja, Emily," ungkapnya sembari mengurai pelukan di antara mereka. Ia menatap Davin yang berdiri bersama dengan Yuri dan Kaizen di dekat tempat tidur. Seulas senyum ia berikan pada Davin. "Hai, Davin! Kudengar kau teman terbaik ayahku," ucapnya sembari mengerling jahil.
Mata Davin membulat sempurna. Dari mana remaja pria itu tahu, padahal ia tak menceritakannya sama sekali. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Davin kaget.
Laszlo tersenyum tipis. "Ada cara untuk mengetahui hal itu, Davin. Lalu, apa kau bisa menjelaskan padaku bagaimana situasi klan saat ini? Yang kudengar, sebelum orang tuaku meninggal, penyihir hitam mulai muncul, ya?" tanyanya membuat keempat orang yang ada di ruangan itu mengerjap heran.
Tak ada yang pernah mengatakan situasi itu pada Laszlo. Bagaimana caranya remaja pria itu bisa mengetahuinya? Ini sangat aneh! Emily menatap tajam pada Davin yang langsung menggeleng panik.
"Tidak! Bukan aku," bantahnya tegas.
Emily menghela napas panjang. Ia menatap langsung ke dalam mata Laszlo; mencari kebenaran. "Dari mana kau mengetahui ini semua, Las? Lalu, apa yang terjadi dengan kekuatanmu?"
Yuri dan Kaizen pun mendekat dengan cepat. Itulah yang ingin mereka ketahui sedari tadi. Apa yang terjadi pada Laszlo sehingga kekuatannya terasa begitu berbeda? Apa yang dilalui Laszlo selama remaja pria itu tak sadar?
Laszlo menatap satu per satu wajah yang sedang menatapnya dengan tatapan penasaran dengan canggung. "Jadi, itu ... ayah yang memberitahukan padaku," jelasnya singkat.
Kening keempat orang itu mengerur dalam. "Tuan Nathan?" tanya keempatnya bingung.
Laszlo mengangguk tegas. "Iya, ayah yang memberitahukan padaku kalau aku adalah tuan dari kekuatan ini. Jadi, kalau aku membebaskan mereka, aku bisa mengendalikan mereka semauku," jelas Laszlo membuat wajah keempatnya semakin bingung.
Laszlo menghela napas panjang. Ia pun menjelaskan secara singkat saat ia berada di ruang hampa tersebut, lalu bagaimana caranya ia pergi ke ruang kosong. Ia pun menceritakan pertemuan singkat dan bermaknanya bersama kedua orang tuanya. Tentu saja, ia menceritakan sedikit cerita yang dikisahkan oleh kedua orang tuanya mengenai Emily dan Davin.
"Jadi, kapan kalian berdua akan melangsungkan pernikahan?" tanyanya sembari menatap Davin, lalu Emily. Ia melakukan itu secara berulang-ulang dengan tatapan yang berbinar.
Pipi Emily merona mendengar pertanyaan tersebut. Sementara Davin memalingkan wajah sembari berdeham keras. Keduanya tak terlihat ingin menjawabnya sama sekali. Walau terlihat malu-malu, terdapat aura sendu yang meliputi keduanya.
"Apa karena aku?" gumam Laszlo heran. Ia ingat Nathan mengatakan padanya, seharusnya setelah perang itu selesai, Emily dan Davin akan menikah. Namun, alih-alih berakhir, peperangan malah menjadi semakin buruk hingga menyebabkan tewasnya kedua pemimpin Klan.
Davin sontak menatap Laszlo lekat-lekat. "Ini bukan karena Tuan Muda. Sama sekali bukan. Hanya saja, keadaannya menjadi seperti itu," jelas Davin terburu-buru. Ia kemudian melirik ke arah Emily sesaat, lalu membuang muka sekali lagi.
Emily sendiri, ia menghindari tatapan Davin sepenuhnya. Ia juga menolak untuk menatapnya. Laszlo, Yuri, dan Kaizen merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi di sini. Dan sesuatu itu adalah hal yang besar.
Melihat suasana yang sendu itu membuat dingin udara sekitar, Laszlo pun segera mengalihkan pembicaraan. "Aku minta maaf karena sudah membuat kalian semua khawatir. Sungguh, aku tak bermaksud dan tak akan melakukannya lagi," ungkapnya jujur.
Keempat pasang mata itu menatap Laszlo. Yuri yang pertama kali bereaksi. "Kalau sudah tahu, jangan dilakuin lagi nanti. Bukannya kau bilang ingin mengunjungi kedua orang tuamu lagi?" selorohnya membuat Laszlo meringis malu.
"Ya, aku memang ingin menemui mereka lagi," akunya membuat napas keempat orang itu tercekat. "tapi bukan sekarang," lanjutnya sembari menyeringai lebar.
"Kau berubah," komentar Kaizen pelan. Ia sama sekali tak salah menilai, ia yakin. Laszlo yang biasanya adalah Laszlo yang kaku dan tak tahu cara untuk melempar selorohan. Namun, Laszlo yang ini berbeda. Ia terlihat begitu santai dan bahkan bisa bercanda. Ia terlihat lebih manusiawi.
Melihat Laszlo yang terdiam tak tahu harus merespons apa, Kaizen pun tersenyum lebar. "Walau begitu, aku senang dengan perubahanmu yang menuju ke arah yang lebih baik ini," akunya. "Kau terlihat lebih manusiawi sekarang. Orang tuamu pasti memarahimu dengan keras karena kau teralu kaku selama ini. Dan aku bersyukur karenanya," lanjutnya lagi dengan nada riang.
Laszlo menggeleng pelan. Tampang sombong ia pamerkan pada Kaizen. "Maaf mengecewakanmu, Kawan. Tapi, aku tak dimarahi, tuh. Malah aku mendapatkan pelukan dan pujian," ungkap Laszlo jemawa.
Kaizen mendengkus sebal. Tak ia sangka ia dijatuhkan dengan cara seperti ini. Laszlo yang sekarang memang lebih ekspresif dan menyenangkan. Namun, ia juga berubah menjadi berkali-kali lipat menyebalkan.
Yuri terbahak mendengarnya. Sementara, Kaizen bersungut sebal. Namun, Davin dan Emily hanya bisa menatap Laszlo dengan tatapan bodoh. Nathan yang mereka kenal bukanlah Nathan yang bisa mengakui sesorang dan memberikan pelukan hangan pada seseorang, kecuali istrinya sendiri-Chrisabella.
"Kalian kenapa?" tanya Laszlo bingung dengan tampang bodoh Davin dan Emily. Tampang keduanya mirip seperti orang yang baru saja mendengar bahwa ayam bisa melahirkan seekor anak kucing.
"Sepertinya Tuan Nathan yang bertemu denganmu dan Tuan Nathan yang kami kenal adalah dua orang yang berbeda," komentar keduanya secara serempak.
------------
1045.09032022
Akhirnya masuk juga ke jalan ceritanya..
Wkwkwkkw
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top