44
Melihat Laszlo yang kebingungan, Nathan pun segera berucap, "Sebaiknya kau tak perlu memikirkannya begitu dalam. Yang terpenting, kalau kau datang ke sini itu artinya ada yang sedang kau cari atau ada yang sedang ingin kau pastikan. Apa aku benar, Nak?"
Laszlo terdiam. Apa yang sedang ia cari? Ia sama sekali tak tahu apa-apa. Sebuah gelengan pelan ia berikan pada sang ayah. "Entahlah, Tuan. Saya juga tidak tahu sama sekali. Sejujurnya, saya bahkan masih belum percaya adanya hal-hal aneh di luar nalar seperti ini," akunya jujur.
Chrisabella berjalan mendekatinya, menangkup kedua pipinya dan memaksanya mendongak. "Sebelum itu, sebaiknya kau perbaiki dulu cara bicaramu, Sayang. Aku tak akan senang bila kau memanggilku nyonya!" tegas wanita itu sembari melotot tajam.
Laszlo melirik Nathan yang terlihat kaget sekaligus sedih. Matanya berkedip pelan. Apa ada yang salah dengan perkataannya tadi? Ia tak mengerti.
Chrisabella mencengkram wajah Laszlo lebih kuat; memaksa Laszlo hanya fokus padanya saja. "Coba ulangi!" titahnya tegas, tak ingin dibantah. "Ibu," lanjutnya lagi.
Alis Laszlo bertautan. Pikiran Laszlo mendadak menjadi kosong lantaran ini terlalu tiba-tiba. Biasanya, ia memanggil Emily dengan sebutan ibu, tetapi kali ini ia harus memanggil orang lain dengan sebutan ibu. Rasanya agak aneh dan canggung.
Melihat Laszlo tak kunjung memberikan respons. Hati Chrisabella pun menjadi ngilu. Padahal ia sudah tahu bahwa permintaannya sulit untuk dikabulkan. Namun, karena ia begitu ingin mendengarnya, ia tetap saja memintanya dan berujung pada kecewa. "Sudah kuduga pasti sulit untukmu, ya?" lirih Chrisabella sedih.
Laszlo bisa melihat selaput bening yang perlahan berkumpul semakin banyak di sudut mata Chrisabella. Hatinya ikut tercubit saat sebulir kristal bening tersebut jatuh. Nathan pun segera mendekati istrinya dan meremas pundaknya pelan.
Tanpa ia sadari, bibirnya pun bergerak di luar kendalinya. "Ibu," panggilnya pelan. Gerakan tangan Chrisabella yang menyusut air matanya pun terhenti.
Wanita cantik berambut perak itu memandang Laszlo penuh hari. "Sekali lagi, Nak," pintanya penuh harap.
Laszlo memandangnya ragu sejenak. "Ibu," panggilnya pelan. Kali ini, nadanya terdengar lebih yakin dibandingkan pertama. Rasa hangat memenuhi rongga dadanya hingga membuatnya merasa sesak akibat bahagia. Apalagi saat Chrisabella tanpa sungkan menariknya ke dalam pelukan, lalu menghujaninya dengan ciuman-ciuman kasih sayang.
Tawa geli meluncur dari bibirnya. Belum pernah ia merasakan kehangatan yang seperti ini. Biasanya, pelukan Emily memang hangat. Namun, yang ini terasa berbeda. Tangannya bergerak otomatis membalas pelukan hangat itu. Ia bisa merasakan bahu Chrisabella berguncang. Wanita itu menangis.
Tiba-tiba, Laszlo merasakan begitu sesak. Nathan menarik keduanya ke dalam pelukan erat. Dengan posisi Laszlo yang di tengah. Remaja itu hendak protes. Namun, ia segera mengurungkan niatnya lantaran inilah satu-satunya kesempatan mereka bertemu dan berpelukan seperti ini. Ia memilih untuk menikmati keadaan ini saja.
"Jadi, apakah ayah dan ibu bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai apa yang kita bahas tadi?" tanya Laszlo setelah Nathan dan Chrisabella mengurai pelukan mereka. Kini, ketiganya duduk melingkar sembari berpegangan tangan. Hal itu terjadi atas permintaan Chrisabella dan kedua pria itu tak sanggup menolak permintaannya.
Nathan menatap ke langit-langit. Nadanya mengawang saat bertanya, "Bagaimana caranya agar aku bisa menjelaskan padamu secara sederhana, ya?"
Pria dengan fitur wajah tegas itu menatap istrinya dengan padangan bertanya. Mimik Chrisabella pun tak kalah bingung. Kening wanita itu berlipat tanda ia sedang memutar otaknya. "Daripada dijelaskan, kita hanya bisa memberikan contoh," gumamnya pelan.
"Jadi," ucap Nathan membuat Laszlo menatapnya dengan perhatian penuh. "Tadi, aku sudah mengatakan bahwa tempat ini adalah tempat yang menampung jiwa dari klan Vutoo, 'kan?" tanyanya pelan.
Laszlo mengangguk. "Ya, itu sebabnya aku bisa bertemu dengan jiwa ayah dan ibu. Apa mungkin di sini ada jiwa-jiwa dari leluhurku atau saudaraku yang lain?"
Nathan mengangguk singkat. "Ada. Ruang hampa, ruangan hitam yang sebelum kamu bisa capai ke sini, itu tempat di mana seorang Klan Vutoo yang memiliki kekuatan besar sedang mencari sesuatu. Entah itu jati diri ataukah ada sesuatu yang menganggu nurani dan pikirannya. Lalu, ruang kosong, ruang putih yang sekarang ini, adalah tempat di mana kamu bisa menemukan jawabannya.
"Ruang hampa itu, ruang yang mengerikan, walau kamu pasti merasa nyaman di sana. Di ruangan itu, banyak jiwa yang terjebak dan tidak bisa keluar. Kalau kau sudah bisa mencapai ruang kosong ini, kau akan bisa keluar ke dunia nyata karena apa yang kamu cari sudah kamu temukan," jelas Nathan pelan.
Laszlo mengangguk paham. Singkatnya, ruang hampa merupakan tempat pencarian dan bisa membuat orang tersesat. Lalu, ruang kosong merupakan tempat jawaban berada. Dan di ruang kosong ini, ia bertemu dengan jiwa ibu dan ayahnya. Apa mungkin selama ini ia memang mencari sosok ibu dan ayahnya?
"Jangan khawatir, Sayang! Kau pasti bisa menjadi pemimpin yang baik dan dihormati seperti ayahmu ini. Kau bahkan bisa lebih baik daripada itu," ungkap Chrisabella menenangkan kecemasan yang selama ini terus menghantuinya.
Laszlo menatap Chrisabella dengan padangan tak percaya. Chrisabella menyentuh pipi kanan Laszlo lembut dan mengusapnya perlahan. Senyum yakin khas seorang ibu memberikan kekuatan pada Laszlo. Laszlo pun bisa melihat seberapa bangganya Chrisabella padanya lewat tatapan mata sang ibu.
Ia teringat saat tadi ia tak bisa mengendalikan kekuatannya sesuka hati. Hatinya pun menjadi sedih. "Tapi aku tak bisa mengendalikan kekuatanku dengan benar," akunya dengan muram.
Sebuah telapak tangan besar mendarat di atas puncak kepala Laszlo membuat remaja pria itu mendongak. Nathan menatapnya, sorot mata pria itu memancarkan kepercayaan padanya. Dan itu membuatnya tenang. Sebuah elusan yang hangat dan kasar hingga membuat rambut Laszlo berantakan mendarat di atas kepalanya.
"Percaya saja pada dirimu. Kekuatan itu adalah milikmu. Kau tuan dari kehampaan itu sendiri. Kau akan bisa mengendalikannya. Percaya pada instingmu dan biarkan mereka bergerak sesuai kemauanmu," ujar Nathan pelan. Tak ada kesan menggurui dari nasihat tersebut hingga Laszlo merasa ia pun bisa mengendalikan kekuatannya seperti yang dikatakan Nathan.
"Ya, aku mengerti, Ayah!" Keyakinan merasuk ke dalam hatinya. Persis seperti kata Nathan, ia adalah tuan dari kekuatannya. Oleh karena itu, ia pasti bisa mengendalikannya. Mulai sekarang, ia akan membiarkan kekuatannya bergerak bebas sesuai dengan instingnya.
Chrisabella mendadak sendu. Ia menatap Laszlo dan mengusap pipinya pelan. Laszlo bisa merasakan ketidak relaan Chrisabella dengan jelas. "Apa kau akan pergi sekarang?" tanyanya pelan.
Nathan menarik Chrisabella ke dalam pelukannya. Ia mengusap pundak Chrisabella lembut untuk menenangkannya. "Di sana, banyak yang mengkhawatirkannya sama seperti kita. Aku yakin ia sudah pergi terlalu lama. Jika lebih lama daripada ini, orang-orang yang ada di sana pasti akan menjadi panik. Kita harus membiarkannya pergi, Sayang," bisik Nathan pelan, lalu mengecup kening Chrisabella penuh kasih.
Alis Laszlo terangkat. Pergi? Ia harus pergi ke mana? Ia bahkan belum lama di sini. Ia masih ingin mengobrol dan bertanya-tanya pada kedua orang tuanya. Ia masih belum puas. Ia bisa merasakannya, jika ia pergi sekarang, ia tak akan bisa menemui keduanya lagi dalam waktu yang amat sangat lama.
"Tak bisakah aku berada di sini lebih lama?" mohon Laszlo dengan suara bergetar.
---------------
1107.02032022
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top