43
Suara pecahan memekakkan telinga remaja pemuda itu. Tangan yang awalnya berada di depan mata, kini berpindah menutupi kedua telinganya. Tanpa ia sadari, tubuhnya refleks menunduk dan mengecil; berjongkok untuk memperkecil bidang yang kemungkinan akan terluka nantinya.
Selang beberapa menit, ia tak merasakan rasa sakit atau apa pun di tubuhnya. Perlahan, ia menurunkan kedua tangannya dari telinga dan membuka sebelah matanya sepelan mungkin. Ruangan kali ini sangat berbeda dengan yang tadi; ruangan ini putih, cerah. Walau begitu, kenyamanan yang ia rasakan dari kedua ruangan tersebut sama saja; tak ada yang berbeda.
"Halo?" panggil Laszlo entah pada siapa. Ia berharap, di ruangan serba putih ini akan ada yang menjawabnya. Walau sebenarnya ia juga agak pesimis dengan pemikiran tersebut. Apalagi ruangan serba putih ini tak jauh berbeda dengan ruangan serba hitam yang tadi.
Ruangan ini luas dan tak terlihat ujungnya sama sekali. Tak terlihat lantainya ataupun dindingnya, apalagi pintu. Laszlo kembali melangkahkan kakinya ke depan. Namun, beberapa detik kemudian, sebuah ide terlintas di otaknya.
"Kalau aku lemparin kekuatanku lagi ke ruangan ini, kira-kira apa yang akan terjadi, ya?" tanyanya penasaran.
Binar semangat di kedua matanya mulai membara. Ia menutup mata, menarik napas dalam, lalu memusatkan kekuatannya di telapak tangan. Saat membuka mata, sebuah kelereng kecil berwarna hitam terbentuk di atas telapaknya. Seulas senyum senang terbit di wajahnya karena sebentar lagi ia bisa menuntaskan rasa penasarannya.
"Oho! Nak! Kau tak seharusnya melakukan hal tersebut di sini," tegur sebuah suara bariton.
Laszlo menoleh dengan panik. Tidak boleh? Gawat! Ia hanya tahu cara untuk mengeluarkan kekuatannya dan melemparkannya. Bagaimana cara untuk menarik kembali kekuatannya?
Mata Laszlo melebar. Tidak! Ia sudah mencapai batasnya. Jika ini tidak dilepaskan, ia yang akan menanggung semua efeknya. Dan ia yakin tubuhnya pasti akan sakit semua jika menerima serangan yang cukup kuat ini.
Ctak!
Pria itu menjentikkan jarinya dan bola hitam raksasa yang ada di tangan Laszlo pun lenyap tak bersisa; diserap olehnya. Laszlo menatap pria bertubuh kekar dan tinggi itu dengan tatapan kagum. Ia tak tahu siapa pria itu, tetapi satu hal yang ia tahu, pria itu jauh lebih kuat darinya. Dan mereka pasti berasal dari klan yang sama.
"Siapa Anda?" tanya Laszlo sesopan mungkin. Ia mengambil sikap waspada. Walau ia tahu pria itu tak akan menyerangnya, tetapi tak ada salahnya mewaspadai orang asing, bukan?
Pria berkaus hitam dengan celana kain dengan warna senada itu tersenyum tipis. Kepalanya menggeleng pelan melihat Laszlo yang baru saja ingat harus bersikap waspada kepada orang asing. Namun, anehnya, tatapan kagum padanya sama sekali tak luntur.
"Nathan! Apa kau mengganggunya? Bukankah sudah kubilang kalau kau tak boleh mengganggunya?!" hardik sebuah suara lembut membuat tubuh pria yang dipanggil Nathan mengkaku sejenak.
Pria itu menoleh, tatapan matanya lembut saat menatap wanita cantik berkulit putih dengan netra abu-abu. Wanita itu memakai gaun berwarna biru langit, sangat cocok dengan warna kulitnya. Rambutnya yang perak dan bergelombang terlihat begitu indah. Ia terlihat seperti malaikat.
"Ah! Kau sangat manis! Senang sekali rasanya bisa bertemu denganmu seperti ini, Sayang," seru wanita itu senang. Tanpa sungkan, wanita itu berjalan mendekati Laszlo dan langsung menariknya ke dalam pelukan.
"Chris," rajuk Nathan begitu Chrisabella memeluk Laszlo.
Wanita itu mendecak sebal. Kedua alisnya menukik tajam, tatapannya memancarkan amarah. "Apa? Kau bahkan cemburu pada anakmu sendiri? Jangan bertingkah seperti anak kecil!" tegur wanita itu gusar.
Kedua alis Laszlo bertaut. Anak sendiri? Siapa? Dirinya? Dia anak dari pria kekar yang keren itu? Lalu, siapa wanita ini? Akan tetapi, tunggu! Siapa namanya tadi? Nathan? Ia ingat bahwa ia pernah mendengar nama tersebut.
Saat ia mengingat di mana ia pernah mendengar nama tersebut, tangannya secara refleks mengurai pelukan itu. Raut kekecewaan tergambar di wajah Chrisabella. Ia mengira Laszlo menolak pelukannya karena merasa tak nyaman. Melihat wanita itu kecewa dan sedih, Laszlo bisa merasakan hati kecilnya berdenyut sakit.
"Maaf," gumamnya kecil. Akan tetapi, ia kembali teringat dengan cerita Davin. Matanya beralih menatap Nathan dengan penuh kekaguman. "Nathan Vuto!" seru Laszlo girang. "Anda adalah pemimpin sebelumnya klan Vutoo. Benarkan?" lanjur Laszlo sembari berjalan mendekati Nathan.
Kedua sudut bibir Nathan tertarik melebar. "Akhirnya kau mengenaliku, Nak. Tapi aku agak sedikit kecewa karena kau memanggilku seolah-olah aku orang asing," ungkapnya dengan nada yang terdengar aneh di telinga Laszlo.
Laszlo bisa merasakan wajahnya memanas. Secara teknis, pria di hadapannya ini bukanlah orang asing. Pria itu merupakan ayah kandungnya. Namun, karena ini baru pertama kalinya ia bertemu dengan Nathan, mau tak mau ia merasakan kecanggungan yang aneh. Ia kemudian menoleh pada wanita lembut dan cantik itu.
"Apa pun tebakanmu. Kurasa itu benar. Namanya Chrisabella. Dia ibumu. Pasanganku. Istri dari mantan pemimpin Klan Vutoo," ungkap Nathan seolah bisa membaca pikiran Laszlo.
Chrisabella berjalan dengan anggun menuju Nathan, gerakan tangannya yang menggandeng lengan Nathan terlihat begitu alami. Begitu pula dengan Nathan yang memberikan lengannya dengan gerakan yang seolah memang sudah terbiasa melakukan hal tersebut.
"Apa kalian masih hidup?"
Laszlo merutuki dirinya sepersekian detik setelah melontarkan pertanyaan itu dari sekian banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Ia berharap ada lubang besar yang menelannya saat ini. Akan tetapi, kali ini tidak terjadi seperti apa yang diharapkannya-tidak seperti sebelumnya.
Terdengar suara tawa yang menyembur dari hadapannya. Laszlo mendengkus sebal. Memang salahnya menanyakan hal tersebut pada orang yang jelas-jelas sudah meninggal. Ia benar-benar seorang idiot.
Nathan menggeleng lemah. "Tidak. Kami yang sekarang hanya jiwa. Kami bisa menemuimu karena kau berkunjung ke ruang hampa. Ruang hampa ini ... bisa dibilang adalah seperti tempat untuk menampung jiwa-jiwa yang telah meninggal dari klan Vutoo," jelas Nathan pelan.
Laszlo mengangguk paham. "Jadi nama ruangan ini, ruang hampa? Kenapa aku bisa ada di sini?"
Chrisabella melepaskan pegangan tangannya dari lengan Nathan dan berjalan mendekati Laszlo. Kali ini, remaja pria itu tak menghindar bahkan ketika Chrisabella mengusap pelan pipinya. Rasanya hangat dan nyaman hingga tanpa sadar Laszlo memejamkan matanya selama beberapa sekon.
"Kau datang ke sini untuk mencari jati diri." Kali ini Chrisabella mengambil alih. "Biasanya, bagi para pemilik kekuatan besar yang lahir di klan Vutoo, saat mereka sedang mencari jati diri mereka. Mereka akan terserap di ruang hampa ini. Ruang hampa, biasanya bisa menjadi tempat yang mengerikan, tetapi nyaman. Namun, bisa juga menjadi tempat yang menyenangkan, tetapi tak nyaman," lanjutnya pelan.
Kedua alis Laszlo bertaut. Apa pula maksudnya itu? Tempat yang mengerikan tetapi nyaman. Dan juga tempat yang menyenangkan, tetapi tak nyaman? Kontrakdiksi macam apalagi ini?
-------------------
1034.26022022
Pertemuan orang tua dan anak yang kurang mengharukan ya? Sengaja sih. Karena kan mereka juga gak pernah tahu satu sama lain sejak Las lahir kan. Soalnya... Eh, kayaknya aku pernah tulis. Tapi bisa jadi belum. Jadi gak aku lanjutin deh..
Wkwkwkkwkw
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top