42

Laszlo PoV

Hmm? Apa ini? Di mana ini? Keningku berkerut dalam. Kuputar kepalaku ke sekeliling, gelap. Tak terlihat apa pun di sini. Kuangkat tanganku dan menjulurkannya ke depan; mencoba meraba apa saja yang ada di depan. Akan tetapi, nihil; tak ada apa pun di depan.

"Halo?" teriakku sekuat tenaga.

Tak ada jawaban selain suaraku yang menggema di ruangan hitam ini. Aku pun memutuskan untuk duduk bersila.

Walau di sini sangat gelap hingga aku tak bisa melihat apa pun. Anehnya, aku sama sekali tak merasa takut. Alih-alih aku malah merasa tenang. Mungkin ini adalah hal yang patut disyukuri.

Duduk bersila lama-lama membuat kakiku terasa seperti digigit oleh banyak semut. Aku pun memutuskan untuk menjulurkan kakiku sepanjang mungkin, lalu merebahkan tubuhku. Walau aku tak merasa ada lantai, tetapi aku yakin aku tak akan jatuh sama sekali.

Entah sudah berapa lama aku terkurung di sini, aku harap ada yang akan mengeluarkanku. Walau sebenarnya aku juga tak yakin ingin keluar dari tempat gelap yang anehnya membuat nyaman ini. Akan tetapi, kalau boleh jujur, aku merindukan teman-teman serta Emily dan Davin.

"Seandainya ada yang bisa memberi tahuku ini ada di mana," desahku sembari memejamkan mata dengan tenang.

Alisku mengerut, walau mataku terpejam rapat. Aku bisa merasakan bahwa aku tak akan pernah bisa tertidur di sini. Entah mengapa, tetapi firasatku mengatakan sesuatu seperti itu. Akhirnya, kuputuskan untuk bangkit dan berjalan-jalan dengan harapan aku bisa menemukan petunjuk di mana ini dan bagaimana cara agar aku bisa keluar.

Ayunan langkahku ringan menuju ke depan. Kini, aku tak lagi mencoba berjalan sembari meraba-raba. Ada keyakinan pasti yang mengatakan padaku bahwa di depanku merupakan ruang yang benar-benar kosong.

Entah berapa lama sudah aku berjalan dari titik awal, aku sama sekali tak tahu. Jika ditanya apakah aku sudah berjalan jauh ataukah tidak, aku pun tak bisa memberikan jawaban pasti. Satu hal yang kutahu adalah, aku sudah bergerak. Namun, entah aku bergerak di tempat atau bergerak maju, aku sama sekali tak mengetahuinya.

"Hei! Halo!"

Aku tetap bersuara, walau tahu tak akan ada yang menjawabku. Rasanya sedikit sepi di sini karena hanya ada diriku sendiri.

"Kaizen!"

"Yuri!"

"Davin!"

"Emily"

Rasa bosan membuatku mengabsen satu per satu nama dari kenalanku. Namun, begitu nama mereka meluncur dari bibirku, aku baru menyadarinya. Ternyata selama 14 tahun aku hidup, aku hanya berbicara dan berteman dengan mereka berempat saja. Rasanya sungguh menyedihkan.

Baiklah! Mari lupakan sejenak perasaan menyedihkan tersebut. Sebaiknya sekarang aku bergerak maju ke depan. Entah apa yang akan kujumpai di sana, sebaiknya aku tetap bergerak saja. Lagi pula, tak ada ruginya untukku sama sekali. Aku bahkan tak merasakan lelah sedikit pun walau aku yakin sudah berjalan cukup jauh dan lama.

Aku menepuk jidatku keras. Bodoh sekali aku, mumpung berada di ruangan sebaiknya aku belajar cara menggunakan kekuatanku saja. Lagian, aku juga sedang berlatih dengan Emily.

Biasanya, aku tak mengeluarkan semua kekuatanku secara maksimal karena takut melukai orang-orang di sekitarku. Di sini, aku bisa mengeluarkan seluruh kekuatanku dengan bebas karena tak ada orang sama sekali. Jangankan orang, benda-benda mati saja tak ada. Ini benar-benar tempat yang cocok untuk melatih kekuatanku.

Aku menarik napas dalam dan mencoba untuk mengumpulkan kekuatan di tangan kananku. Perlahan, sebuah bola hitam muncul. Awalnya bola tersebut mirip seperti kerikil kecil. Namun, lama kelamaan ukurannya menjadi semakin besar dan besar hingga menyerupai sebuah bola basket. Kulemparkan bola tersebut ke sembarang arah.

Krak!

Aku berjengit kanget. Perasaan di sini sama sekali tak ada benda apa pun. Jadi, suara apa itu tadi? Suaranya seperti dinding yang dipukul dan hendak runtuh.

Namun, sedetik kemudian, aku menepis pemikiran tersebut. Tak mungkin jika ruang kosong ini runtuh karena saat aku berjalan saja, tak ada terdengar suara sama sekali. Sepertinya suara tadi hanya halusinasiku semata karena aku merindukan suara lain selain suara diriku.

Sekali lagi, aku memusatkan kekuatan di tangan hingga terbentuk bola hitam tersebut. Namun, kali ini bola tersebut lebih besar ukurannya di bandingkan yang tadi. Saat ukurannya sudah sebesar globe, aku pun melemparkan bola hitam tersebut.

Krak!

Loh? Tidak! Ini tak mungkin hanya halusinasiku semata! Aku mendengarnya! Benar-benar mendengarnya! Kuarahkan mataku pada arah di mana aku melempar bola-bola hitam milikku. Samar, aku melihat ada retakan kecil di sana.

Rasa semangat bercampur kobaran rasa penasaran membuatku menjadi semakin rajin untuk memecahkan dinding hitam ini. Aku memusatkan kekuatan di tangan dan membentuk bola-bola hitam yang besar, lalu melemparkannya ke arah yang sama. Berulang kali aku melakukan hal tersebut hingga retakan itu menjadi semakin besar dan besar.

Krak! Krak! Krak!

Sebuah cahaya yang menyilaukan mata menyusup masuk. Terlalu terang! Aku tak bisa menjaga mataku untuk tetap terbuka. Pada akhirnya, aku harus menutup mata sembari berharap-harap cemas dan memikirkan apa yang akan terjadi jika ruang hitam ini pecah.




--------
779.23022022
Yuhu! Siapa nih yang kangen sama Las? Ini satu part full tentang Las ya..

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top