41
Yuri menundukkan kepalanya dalam. Gadis berambut blonde itu mengigit bibir bawahnya kuat. Matanya terpejam rapat. Ia memaksa otaknya bekerja lebih keras. Ia harus mencari cara untuk menarik Laszlo keluar dari ruang hampa tersebut.
"Caranya ...," gumam gadis itu gemas. Jemarinya saling memilin dengan cemas.
Kaizen yang melihat kekasihnya cemas dan panik itu pun segera menyentuh kedua pundak Yuri. Gadis berambut blonde itu mendongak. Matanya langsung bertabrakan dengan iris coklat terang milik Kaizen yang indah. Di sana, ia menemukan ketenangan hingga akhirnya ia bisa berpikir dengan otak yang lebih jernih.
"Sebaiknya kita membawanya pulang terlebih dahulu," putus Kaizen. Ia berharap, Emily dan Davin ada di rumah saat ini. Semoga saja Emily atau pun Davin tahu mengenai fenomena ini dan tahu cara mengatasinya.
Kaizen menoleh ke kanan dan kiri. Sepi. Tak ada orang. Walau ia sudah menggunakan sihir pendeteksi, tetap saja ia harus memastikan bahwa keadaan benar-benar aman. Setelah yakin 100%, pemuda berkacamata itu langsung menggunakan sihir teleportasi untuk memindahkan mereka bertiga langsung ke kamar Laszlo.
Begitu sampai di kamar, Yuri segera keluar dari kamar dan mencari pamannya. "Paman! Emily!" teriaknya dengan suara keras.
Sementara itu, Kaizen membaringkan tubuh Laszlo agar saat bangun nanti Laszlo tak merasakan ketidak nyamanan yang tidak perlu. Tak berapa lama, Yuri kembali ke kamar sendirian. Raut kekecewaan tercetak jelas di wajah Yuri.
"Aku akan mencari mereka," putus Yuri beberapa saat kemudian. Binar semangat kembali berkobar di dalam matanya.
Kaizen menarik tangan Yuri membuat gadis itu fokus padanya. "Kau mau cari mereka ke mana? Apa kau tahu di mana mereka sekarang?" tanyanya dengan suara tenang.
Yuri terdiam. Benar kata Kaizen, ia bahkan tak tahu di mana keberadaan pamannya beserta Emily saat ini. Bisa saja mereka pergi keluar entah kemana. Bisa juga mereka kembali ke klan. Atau kemungkinan-kemungkinan yang lainnya. Namun, ia sama sekali tak memiliki tebakan yang benar-benar akurat.
"Tenanglah! Ya? Kita pikirkan sama-sama," ujar Kaizen dengan suara lembut. Ia menoleh ke belakang, memastikan keadaan Laszlo tidak memburuk-jika tak terlihat ada perubahan yang bagus. Helaan napas lega meluncur bebas dari bibirnya saat melihat Laszlo terlihat begitu tenang bak orang yang tengah tidur.
Kaizen menarik Yuri agar duduk di tepi tempat tidur. "Tolong jelaskan lebih rinci padaku apa yang terjadi di sini. Kamu bisa, 'kan?" tanya Kaizen pelan. Yuri mengangguk kecil. Bibirnya terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar.
Kaizen tersenyum tipis, lalu mengusap punggung jemari Yuri. "Kalau kamu menjelaskan situasi ini lebih rinci padaku. Mungkin saja kita bisa mencari jalan keluarnya bersama. Lalu kita bisa menyelamatkan Laszlo. Bagaimana? Kamu percaya padaku, 'kan?" bujuk Kaizen masih dengan suara lembutnya.
Yuri menatap Kaizen ragu. Kelembutan dan ketenangan dari Kaizen menularinya sedikit demi sedikit. Ia pun mulai memaparkan apa yang ia ketahui dari hasil membaca buku yang ada di perpustakaan di rumah pemimpin Klan Vutoo sebelumnya.
"Biasanya, orang-orang yang memiliki kekuatan yang sangat besar bisa saja tertarik ke ruang hampa," jelas Yuri. Pemuda berkacamata itu mendengarkan dengan saksama. Sesekali, kepalanya mengangguk kecil tanda ia paham dengan penjelasan yang diberikan oleh gadis berambut blonde tersebut.
"Aku kurang tahu gimana keadaan ruang hampa ini karena aku sama sekali belum pernah masuk ke sana. Dari buku-buku yang pernah kubaca, kebanyakan keturunan pemimpin semua pernah masuk ke dalam sana. Katanya ruang itu gelap dan gak ada apa pun. Cuma, mereka merasa nyaman di sana. Seolah itu adalah rumah dan memang tempat untuk mereka berdiam. Ada beberapa catatan yang bilang kalau dulu ada beberapa orang yang seharusnya memimpin klan, tetapi malah terjebak di ruang hampa dan tidak bisa kembali. Pada akhirnya, jasad mereka kosong tanpa jiwa.
"Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana cara masuk dan keluar dari ruang hampa ini. Walau para leluhur sudah membuat penelitian, tapi tidak ada yang benar-benar berhasil meneliti ruang hampa ini. Semakin tinggi rasa penasaran orang itu terhadap ruang hampa, biasanya orang itu malah tak bisa masuk ke sana. Akan tetapi, saat orang-orang dengan kekuatan besar lahir. Mereka bisa saja tiba-tiba terseret ke sana tanpa alasan. Lalu, mereka akan merasa nyaman di sana dan tak ingin keluar lagi.
"Tapi dari semua yang aku baca, sepertinya mereka semua yang masuk ke sana memiliki satu persamaan. Dari catatan-catatan yang aku baca, rata-rata dari mereka yang pernah masuk ke ruang hampa atau yang pernah terseret ke ruang hampa. Mereka semua sedang mencari jati diri. Kalau mereka berhasil mencarinya, mereka akan kembali dengan sendirinya. Akan tetapi, jika tidak berhasil mereka akan terkunci selamanya di ruang hampa," jelas Yuri sembari mengingat-ingat apa yang pernah ia baca.
Kaizen mengerutkan keningnya, jempolnya ia taruh di bawah dagu dengan jemari telunjuk berada di depan dagu. Mimiknya serius saat mencerna setiap informasi yang keluar dari bibir Yuri. "Jadi, tidak ada cara untuk masuk dan kalau ingin keluar harus dari keinginan orang itu sendiri," gumamnya setelah berhasil mencerna semua informasi yang ada. Matanya beralih menatap Laszlo yang terlihat begitu tenang.
"Kami percaya padamu, Kawan. Cepatlah temukan apa yang kau cari itu dan lekaslah kembali," ungkapnya pelan. Matanya berkilat saat wajahnya mendadak muram. "Tentu saja, di sini kami juga akan terus mencari cara untuk membuatmu kembali pada kami," ungkapnya serius.
-----------------
841.20022022
Yuhu!
Udah lama banget kan ya, Las gak update? Iya, nih. Kemaren libur karna imlek. Eh, pas udah gak masa liburan malah jatuh sakit. Jadi deh lama updatenya. Hehehehe.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top