40
"Oi! Las!"
Sebuah tepukan pelan mendarat di pundak Laszlo diikuti dengan panggilan pelan yang terdengar tepat di telinganya. Laszlo tersentak. Matanya menatap Kaizen dengan tatapan heran. "Apa?" tanyanya pelan.
"Kau melamun lagi, ya?" tegur remaja pria berkulit putih itu tanpa menatapnya. Pandangan Kaizen lurus ke depan-tempat di mana Mrs. Hathway tengah menjelaskan mengenai aljabar dengan penuh semangat-dengan tatapan datar.
Leher Laszlo sempat tergerak sebentar sebelum akhirnya terdiam. Ia tidak melamun, tetapi juga bukan tidak melamun. Entahlah, ia sama sekali tak mengerti. Ia sadar, tetapi rasanya juga tak sadar. Pada akhirnya, ia hanya bisa menjawab dengan suara pelan, "Iya dan tidak."
Mendengar keraguan di suara Laszlo, Kaizen menyempatkan matanya melirik sahabatnya sejenak. "Apa yang kau maksud itu?" bisiknya pelan. Kepalanya sudah kembali menatap lurus ke arah depan.
Laszlo menggeleng pelan. Ia juga tidak mengerti. Ia hanya mengingat ia tiba-tiba terlempar ke dunia gelap gulita yang tak ada seorang pun atau apa pun di sana. Ia sendiri. Dan bebas. Matanya melirik Mrs. Hathway sejenak sebelum berbisik pelan, "Nanti saja baru dibahas."
Bisa gawat jika Mrs. Hathway memergoki keduanya mengobrol di tengah-tengah wanita paruh baya itu menjelaskan. Mrs. Hathway paling membenci siswa yang turut menjelaskan sesuatu di saat ia menjelaskan pelajaran di depan kelas. Mereka berdua pasti akan dijadikan bulan-bulanan sepanjang sisa semester kali ini. Baik Laszlo maupun Kaizen sama sekali tak mengharapkan hal tersebut terjadi.
Sesekali, Kaizen diam-diam melirik Laszlo di sepanjang sisa pelajaran hingga membuat remaja pria itu sedikit risi. Walau begitu, Kaizen tak mendapati Laszlo termenung atau melamun lagi. Remaja berkacamata putih itu sangat fokus dan bersemangat menerima setiap celotehan Mrs. Hathway mengenai rumus-rumus aljabar.
@_@
"Kau ada masalah apa dengan Laszlo?" Yuri mendaratkan bokongnya di atas kursi kayu yang ada di atap sembari meletakkan makanan yang tadi dibelinya dari kantin di atas meja. Matanya menatap Kaizen dengan binar-binar penasaran.
Kaizen berdeham kecil. Tangannya menarik Yuri agar ia lebih mendekat lagi padanya. Wajahnya bergerak mendekati wajah kecil Yuri hingga Yuri bisa merasakan hangatnya embusan napas Kaizen di lehernya.
Tanpa dikomando, ia merasakan panas menyebar ke seluruh leher dan wajahnya. Ia langsung bergerak menjauh sebelum Kaizen menyadari bahwa wajahnya memerah. Akan tetapi, pergerakannya tertahan. Kaizen menggenggam lengan atasnya dengan kuat. Pelan, Yuri memutar kepalanya untuk melihat ekspresi Kaizen.
Rasa kecewa langsung menyerbunya begitu melihat mata Kaizen hanya terpancang ke arah depan seolah tak peduli dengan jarak mereka yang sudah semakin menipis. Pipinya menggembung demi menunjukkan kekesalannya. Namun, Kaizen masih belum memberikan reaksi apa pun. Matanya masih menatap lurus ke depan dengan pandangan bingung.
Yuri pun memaksa matanya menatap ke arah pandang Kaizen karena penasaran. Di depan mereka, Laszlo duduk dengan tenang. Akan tetapi, ada yang aneh dengan remaja pria itu. Walau biasanya ia memang tenang dan tak banyak bicara serta bergerak. Namun, yang kali ini sedikit berbeda.
Mata Laszlo yang menatap kotak bekalnya terlihat kosong. Kedua tangan yang memegang tutup kotak pun hanya diam begitu saja. Melihat hal itu, degup jantung Yuri meningkat tajam. Ia segera menyentuh tangan Laszlo-masih hangat.
"Kai, siram!" titah Yuri membuat Kaizen bingung setengah mati.
"Huh? Siram? Apa? Siapa?" tanya Kaizen di tengah kebingungannya. Ia menoleh ke kiri dan mendapati wajah Yuri memucat. Ia bisa melihat kepanikan Yuri saat menyadari keadaan Laszlo. Kini, ia mengerti siapa yang harus disiram olehnya. "Las? Kau memintaku untuk menyiramnya?"
Yuri menatap Kaizen dengan penuh permohonan. "Lakukan saja dulu. Jangan bertanya. Siram dia dengan apa pun. Kalau tidak berhasil, bangunkan dia dengan sihirmu," teriak Yuri histeris.
Kaizen menatap sekeliling. "Ini di sekolah, Yuri," ujarnya memperingatkan. Takut kalau-kalau Yuri melupakan keberadaan mereka saat ini.
"Ciptakan sihir ruang saja," usul Yuri dengan nada frustrasi. Kaizen benar-benar tidak cerdas sama sekali, keluhnya sebal. Namun, bukan itu yang penting sekarang. Ia harus menarik Laszlo kembali dari ruang hampa. Jika terlalu lama Laszlo berada di sana, ia takut Laszlo tak bisa kembali lagi.
Walau bingung, Kaizen tetap melaksanakan perintah Yuri. Ia memastikan sekelilingnya tidak ada orang terlebih dahulu-menggunakan sihir pelacak. Lalu, membuat ruang dengan menggunakan sihir. Kemudian, ia mengguyur Laszlo dengan air-menggunakan sihir lagi-seperti yang dipinta oleh Yuri.
Usaha tersebut berakhir dengan sia-sia. Laszlo basah, tetapi ia diam saja. Matanya juga masih terlihat kosong. Sama sekali tak terlihat tanda-tanda remaja pria itu sadar akan keadaan sekitar. Kaizen menatap Yuri dengan padangan bertanya.
Yuri menggigit jari jempolnya cemas. Ia hanya pernah mendengar kasus ini. Orang yang belum terbiasa dengan kekuatan elemen kosong akan tertarik oleh ruang hampa. Sebelumnya, ia tak pernah mengalaminya. Ia sama sekali tak tahu apa alasannya bahkan di buku-buku sejarah klan Vutoo juga tak dijelaskan mengapa ada orang-orang yang bisa tersesat di ruang hampa.
Tidak ada penjelasan mengenai bagaimana cara untuk keluar dari ruang hampa atau bagaimana cara memasukinya. Ia sama sekali tak mengerti. Ia hanya pernah membacanya lewat buku bahwa ada beberapa orang yang bisa tersesat di ruang hampa, lalu tak pernah bisa membawa jiwanya kembali. Walau juga ada kasus yang jiwa orang tersebut bisa kembali dari ruang hampa, tetapi tak dijelaskan bagaimana orang tersebut bisa kembali.
"Kau tahu sihir tentang jiwa?" tanya Yuri tiba-tiba membuat kening Kaizen berkerut dalam.
"Tiba-tiba?" tanya Kaizen tak mengerti. "Apa maksudmu?" lanjutnya lagi. Sesaat kemudian, ia menggeleng tegas. "Tidak! Bukan itu yang penting sekarang. Bisa kau jelaskan situasi apa ini sekarang?" Kaizen menatap Laszlo yang hanya diam mematung, lalu mengalihkan padangannya pada Yuri yang gelisah setengah mati.
Yuri menggigit kuku jempolnya. Matanya menatap Laszlo sejenak, lalu menatap Kaizen selama beberapa saat. Kegiatan tersebut ia lakukan selama beberapa kali hingga membuat Kaizen yang melihatnya menjadi gemas.
Kaizen menangkap wajah Yuri dan menahannya. Ia menatap ke dalam mata Yuri, menuntut. "Yuri, aku mohon. Demi apa pun yang ada di dunia ini. Tolong jelaskan situasi ini padaku agar aku bisa membantumu mencari solusinya," mohon Kaizen pasrah. Ia sama sekali tak tahu tentang situasi ini sama sekali. Sementara, Yuri yang mengetahui dengan jelas situasi sekarang malah panik sendiri. Alih-alih menjelaskan sesuatu padanya.
Yuri menarik napas panjang. Matanya melirik Laszlo yang masih terdiam. Gadis berkucir kuda itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan perlahan. Napas yang ia tarik terasa begitu berat seolah ada beban berat yang mengimpitnya. "Sepertinya, jiwa Laszlo tersesat di ruang hampa," jelas Yuri dengan suara berat.
Kening Kaizen berkerut semakin dalam. "Apa itu ruang hampa?"
Yuri menarik napas dalam. "Aku juga tidak begitu mengerti apa itu ruang hampa dan bagaimana cara memasukkinya. Yang kutahu, hanya orang-orang dari klan Vutoo yang bisa terserap ke dalam sana," jelas Yuri dengan suara bergetar.
Kedua matanya memerah dan berkaca-kaca. Kaizen bisa merasakan ketakutan yang dalam dari tatapan tersebut. "Lalu? Apa kau tahu cara mengeluarkannya dari sana? Kalau kita tidak bisa mengeluarkannya dari sana, apa yang akan terjadi padanya?" tanya Kaizen dengan jantung yang berdegup kencang.
------------------
1113.05022022
Rabu kemaren aku gak up karna lupa hari. Sibuk juga sama masalah imlekan 😭😭😭
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top