3
"Bagaimana perkembangan di luar sana? Apakah musuh sudah menarik mundur pasukannya dan menyerah?" Pria berkulit putih dengan rambut keperakan serta bola mata berwarna hitam itu mendongak. Kesenduan di dalam bola mata hitam itu tak dapat ia sembunyikan saat ia bertemu tatap dengan bawahannya.
Pria berjirah hitam membungkukkan badannya selama beberapa detik. Sebuah gelengan pelan ia berikan pada tuannya. Sedikit rasa sedih menyelinap di dalam suaranya. "Belum, Tuan. Sepertinya mereka benar-benar sudah gelap mata dan yakin harus menghabisi klan Vutoo."
Helaan napas panjang meluncur dari bibirnya, jari telunjuknya mengetuk permukaan meja dengan irama teratur. Kelihatan sekali ia sedang dilanda dilema. Kerutan di keningnya tak pernah meninggalkan barang sejenak. "Sudahlah! Kamu boleh keluar. Jangan lupa untuk memerintahkan pergantian penjaga. Kasihan mereka."
Pria berjirah hitam itu mengangguk patuh. "Baik, Tuan." Ia membungkukkan badannya sejenak sebelum mengundurkan diri dari hadapan sang tuan.
Pria berkulit putih itu menggeram kecil. "Sampai kapan kalian akan terus begini? Apa kalian benar-benar akan seperti ini? Apa kalian yakin bisa menangani kekuatan dari klan Vutoo?" gumamnya frustrasi.
Pria itu berjalan ke luar tenda dan masuk ke dalam tenda besar yang ada di sebelahnya. Kakinya mengayun mantap menuju tempat tidur yang ada di tengah tenda. Seorang wanita berkulit putih dengan rambut panjang hitam legam terbaring di sana. Tangannya terulur mengelus lembut wajah damai itu.
Perlahan, kelopak mata wanita itu terbuka. "Ada apa?"
Pria itu menggeleng pelan, lalu menarik wanita itu masuk ke dalam pelukannya. Walau pelukan tersebut agak renggang akibat terhalang oleh perut sang wanita yang membesar. "Bagaimana kabarmu? Apa kamu yakin akan berada di sini saja? Tidak bisakah kamu kembali ke Vutoo? Aku akan meminta kakakmu untuk mengawalmu kembali."
Wanita itu mengurai pelukan mereka. Sebuah gelengan tegas ia berikan. Tak lupa senyum lembut juga terukir manis di wajah cantiknya. Manik hitamnya menatap lurus pada wajah pria itu. "Bagaimana bisa aku membiarkan suamiku di medan perang sendirian?" tanyanya lembut. Tangan putihnya terulur mengelus pipi sang suami.
Kening pria itu terlipat tak suka. "Tapi kamu sedang hamil besar sekarang," protesnya tegas. Hatinya tak tenang melihat istrinya menderita di medan perang.
*********
"Laszlo! Wah! Kau sungguh luar biasa. Sudah telat begitu malah tidak mendapat masalah sama sekali." Kaizen mendaratkan bokongnya ke tempat duduk di samping Laszlo. Ia sungguh tak menyangka sahabat baiknya itu benar-benar melaksanakan rencananya untuk terlambat masuk. Padahal sistem sekolah mereka sungguh ketat.
Laszlo hanya mengangkat bahu tak acuh. Ia lebih tak menyangka lagi dalam waktu singkat Kaizen sudah mengenali seisi ruangan. Ia sungguh takjub dengan kemampuan bersosialisasi Kaizen yang berbanding terbalik dengannya.
"Las, apa kau mau ikut denganku ke cafetaria?" Kaizen menatap Laszlo penuh harap.
Walau malas, Laszlo tetap memenuhi permintaan sang teman. "Ayo!" Laszlo memimpin jalan menuju cafetaria karena di sepanjang perjalanan Kaizen sibuk menyapa orang-orang yang ia kenal dan sesekali berhenti untuk mengobrol sejenak. Akhirnya, Laszlo-lah yang paling pertama sampai di cafetaria. Ia pun memesankan makanan dan minuman untuk Kaizen.
Begitu sampai di cafetaria, mata Kaizen bergerak liar mencari pemilik rambut keperakan. Saat mendapati apa yang ia cari. Ayunan langkahnya pun menjadi mantap menuju sebuah meja yang diisi oleh seorang pemuda berambut perak dengan earphone terpasang sempurna di telinganya.
"Wah! Terima kasih," ucap Kaizen penuh semangat melihat semangkuk bihun kuah dengan segelas coklat panas yang sudah tersaji di atas meja. Tanpa bertanya, ia melahap hidangan tersebut dengan nikmat. Memang, Laszlo adalah sahabat yang terbaik. Laszlo selalu tahu apa saja yang ia inginkan dan butuhkan tanpa harus bertanya terlebih dahulu.
"Memang kaulah yang terbaik, Las," puji Kaizen di sela-sela makannya.
Laszlo hanya mengangguk kecil menanggapi temannya yang ia anggap sangat jorok itu. Kaizen tak pernah berubah. Selalu makan dengan heboh dan berbicara dengan mulut yang penuh makanan. Melihat hal itu, terkadang nafsu makan Laszlo bisa terjun bebas ke dasar jurang.
"Bicaralah setelah kau menelan makananmu, Kai. Atau kau akan tersedak nantinya," tegur Laszlo tak tahan lagi karena Kaizen masih sibuk mengoceh di sela-sela acara makannya. "Lalu, makanlah pelan-pelan. Aku tak akan mencuri makananmu," lanjutnya lagi mengomentari gaya makan Kaizen yang berantakan dan serba terburu-buru.
Kaizen menyeruput bihunnya dengan suara heboh. "Kau tak tahu sebentar lagi bel masuk akan berbunyi? Kita sudah sangat terlambat, tahu?" Kaizen memprotes dengan mulut penuh membuat Laszlo memutar bola matanya malas.
Di dalam hatinya, ia diam-diam berharap Kaizen tersedak. Benar saja, belum ada 3 detik ia berharap. Kaizen tersedak akibat menyeruput bihun terlalu heboh. Pemuda berlesung pipi itu terbatuk-batuk dengan keras hingga wajahnya memerah. Laszlo hanya menggeleng pelan seraya menyodorkan coklat panas milik Kaizen pada pemuda itu.
Kaizen menerima minumannya dengan senang hati dan langsung meminumnya. Akan tetapi, coklat tersebut segera tersembur keluar akibat terlalu panas dan Kaizen tak dapat menoleransi rasa panas tersebut. Ia merasakan lidahnya yang terbakar.
-------
774.18092021
Hmmm....
Siapa nih yang sama kayak Kaizen?
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top