2

"Tuan, pasukan garis depan musuh sudah roboh," lapor pria berkulit kecoklatan dengan jirah berwarna hitam. Sang Tuan hanya menangguk kecil. Matanya menatap jauh ke depan untuk melihat keadaan musuh yang sudah dalam keadaan terdesak.

"Tarik kembali pasukan! Untuk sementara waktu mereka tak akan menyerang. Paling tidak untuk dua minggu ke depan," ujarnya membuat pria tersebut mengangguk patuh.

Pria berbaju jirah itu pergi dan memerintahkan pasukannya agar kembali mundur dan masuk ke dalam markas. Walau begitu, ia tetap menempatkan beberapa orang untuk terus berjaga di perbatasan. Agar jika sewaktu-waktu musuh menyerang, mereka tak akan langsung musnah.

"Tuan, semua pasukan sudah ditarik mundur. Hamba hanya menyisakan beberapa prajurit untuk berjaga di perbatasan," lapor pria berjirah hitam itu.

Sang Tuan hanya mengangguk kecil. Walau ia memenangkan pertarungan ini, suasana hatinya tak begitu bagus. Terlihat dari raut wajahnya yang sedih dan kecewa. Ia benar-benar tak mengharapkan peperangan ini terjadi. Seharusnya, mereka bersatu dan saling melindungi, bukannya saling menyerang seperti ini.

Helaan napas panjang meluncur bebas dari bibir merahnya. Ia terlihat tertekan dengan keadaan ini. "Baiklah. Kalian boleh keluar. Jangan lupa untuk mengobati prajurit yang terluka," ujarnya membuat semua komandannya pamit undur diri.

"Seharusnya kita berteman, bukan saling bermusuhan seperti ini. Kenapa kalian menginginkan kemusnahan salah satu dari kita?" gumamnya penuh sesal.

*******

Laszlo menarik napas panjang begitu melihat suasana koridor sekolah yang sudah berubah menjadi lautan manusia. Padahal ia sudah berangkat 1 jam lebih awal dari jam masuk sekolah, tetap saja ia masih kesiangan. Wajar, ini merupakan hari pertama sekolah. Sepertinya, murid-murid sedang bersemangatnya hingga datang lebih awal. Laszlo pun memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi gedung sekolah. Ia akan pergi ke sekitar hingga jam masuk kelas untung menghindari lautan manusia yang menyesakkan.

Namun, saat kakinya mencapai gerbang sekolah. Sebuah suara cempreng menyapa indra pendengarannya membuatnya harus menghela napas. Tak ingin ditahan dan ditarik ke dalam lautan manusia tersebut, Laszlo menyumpal telinganya dengan earphone dan berjalan-setengah berlari-keluar dari lingkungan sekolah.

Dengan napas tersengal, Laszlo memutar kepalanya. Setelah yakin ia tak diikuti oleh siapapun, ia menganyunkan langkahnya sedikit lebih santai. Sebuah desahan kecil meluncur dari bibirnya. Rasanya sangat melelahkan ketika berada di luar rumah. Apalagi jika bertemu dengan orang-orang seperti Kaizen, manusia super aktif dan cerewet.

Lelah berjalan, Laszlo menatap jam yang melingkar manis di pergelangannya. Ternyata baru lima belas menit berlalu, padahal ia sudah merasa waktu berjalan lama sekali. Laszlo menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, matanya menatap sekeliling dengan saksama, mencari tempat yang bisa ia gunakan untuk duduk dan melamun selagi menghabiskan waktu.

"Laszlo Damian! Akhirnya terkejar," desah sebuah suara cempreng dengan napas terengah.

Laszlo memutar bola matanya malas. Dalam hati, ia mengumpati pemuda yang mengejarnya dengan gigih itu. Belum ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, ia merasakan empasan bokong di sebelah kirinya. Tanpa menoleh pun, ia sudah tau itu merupakan Kaizen.

"Kenapa kau selalu kabur meninggalkanku?" protes pemuda berambut pirang itu sebal.

Laszlo hanya mengangkat bahunya tak acuh. Ia menurunkan volume lagunya agar setiap kata yang meluncur dari bibir bawel Kaizen terdengar di telinganya.

Kaizen mendengkus sebal. Laszlo selalu seperti itu, dingin dan cuek. Ia selalu mengabaikan dirinya. Seharusnya, Laszlo berterima kasih padanya karena masih ingin berteman dengan pemuda itu. "Hei! Kau dengerin aku gak sih?!" Sekali lagi, ia mencoba untuk melancarkan aksi protes.

Laszlo menatapnya selama beberapa detik, lalu mengangguk kecil. "Kapan aku tak mendengarkan ocehanmu?"

Kaizen terkekeh. Benar kata Laszlo. Walau tak sering menanggapi, Laszlo selalu mendengar semua ocehannya. Bahkan ocehan tak penting sekali pun. Pemuda langsing itu pun sering kali mengingat semua perkataannya-termaksud hal tak penting. Itu juga sebabnya ia masih bertahan menjadi sahabat baik Laszlo. Sebab, tak ada lagi yang tahan dengan kecerewetan dirinya. Mungkin, sebenarnya, ia yang harus bersyukur dengan hadirnya Laszlo sebagai sahabatnya, bukan sebaliknya.

"Ah! Apa kau sudah melihat kita ada di kelas berapa?" tanya Kaizen memecahkan kehebingan.

Laszlo menggeleng pelan. "Terlalu ramai," ujarnya membuat Kaizen menggeleng tak percaya.

Kaizen menatap Laszlo dengan saksama. Ia selalu merasa heran dengan sikap Laszlo yang selalu menjaga jarak, bahkan terkesan menghindari berhubungan dengan orang-orang. "Iya, sih. Memang agak ramai," komentarnya menyetujui. Menurutnya, tak ada gunanya membantah ucapan Laszlo yang lebih sering mengungkapkan fakta.

"Lalu, kau berencana sampai kapan duduk di sini?" tanya Kaizen penasaran.

Laszlo menatap jam di tangannya, menimbang sejenak sebelum menjawab. "Setengah jam lagi."

Mata Kaizen membelalak lebar. "Kau gila?!" serunya tak percaya. "Kenapa tidak sekalian saja kau bolos?!" gerutunya sebal. Setengah jam lagi berarti mereka akan terlambat selama lima menit. Sistem sekolah mereka tak akan membiarkan itu terjadi. Kaizen menggeleng kuat, lalu saat dilihatnya Laszlo sebuah pemahaman mendarat di otaknya.

Terlambat, itu memungkinkan jika orang itu adalah Laszlo Damian. Kaizen menghela napas panjang. Sia-sia saja kekhawatirannya. Lebih baik ia pergi sekarang dan meninggalkan temannya sebelum mendapat masalah.

"Pergilah!" Laszlo mempersilakan pemuda itu beranjak lebih dahulu karena ia tak bermaksud menahan temannya hingga berakibat buruk pada Kaizen.

----------------
800.15092021

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top