1
"Tuan, sebaiknya apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa hanya bertahan saja. Jika begini terus, kita yang akan kalah nantinya." Seorang pria berjubah hitam menatap tuannya dengan penuh hormat.
Peperangan sudah berlanjut selama satu minggu lamanya dan yang mereka lakukan selama ini hanyalah bertahan dengan menyerap semua serangan yang diarahkan pada mereka.
Pria dengan bekas luka di mata kirinya menatap tuannya dengan tak sabaran. Mereka sudah semakin terdesak. Korban terus berjatuhan dari pihak karena mereka tak melancarkan serangan balasan. Hanya menerima dan bertahan saja. "Tuan! Anda harus mengambil keputusan sekarang sebelum kita semakin dirugikan," desaknya.
"Cepat siapkan tempat tidur dan air. Dan bawa ke mari prajurit yang terluka," titah seorang pemuda berkulit putih.
Sang Tuan menatap bawahan serta rakyatnya yang terluka. Tangannya terkepal kuat. Walau ia tak ingin memperburuk keadaan, tetapi ia sudah tak bisa diam dan hanya mencoba bernegosiasi karena pihak sana tak ingin melakukannya. Tujuan mereka jelas, ingin memusnahkan seluruh klan miliknya.
"Siapkan pemanah! Siapkan pasukan garis depan untuk berperang. Aku sendiri yang akan memimpinnya. Jangan lupakan untuk mengevakuasi warga yang tak berdosa," putusnya membuat beberapa bawahan langsungnya mendesah lega.
Pria dengan bekas luka di mata kiri segera meluncur dan menyiapkan tim pemanah. Pria dengan baju jirah pun bersiap memimpin pasukannya untuk berperang. Sementara pemuda berambut perak segera memimpin pasukannya bergerak menuju desa yang terimbas perang.
-------
"Tuan Muda, kami harap Anda cepat kembali," bisik sebuah suara yang sarat akan penderitaan dan kesengsaraan.
Laszlo terbangun dengan napas terengah. Dari kening hingga lehernya mengalir keringat sebesar biji jagung. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sembari mengatur napasnya yang terengah. Setelah beberapa lama, detak jantungnya kembali normal. Matanya beralih pada nakas, di mana terdapat sebuah jam digital. Pukul 03.25.
Laszlo menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan. Ia menurunkan kakinya dan menapaki marmer dingin tanpa menggunakan alas apa pun. Rasa dingin langsung merambat naik dari telapak kaki hingga ke seluruh tubuhnya membuat dirinya lebih segar.
Kakinya melangkah santai menuju balkon kamarnya. Ia membuka pintu dan langsung dihadapkan dengan langit hitam penuh bintang dan udara pagi yang dingin. Ada pula aroma embun pagi yang menyapa indra penciumannya lembut.
Laszlo memejamkan matanya sejenak, menikmati aroma embun yang dihantarkan oleh angin pagi yang dingin. Walau angin tersebut sangat menggigit hingga ke tulang-tulangnya, Laszlo malah merasakan kenyamanan. Kedua sudut bibirnya tertarik akibat perasaan tenang yang mulai menyelimuti perlahan.
Tiga puluh menit ia berdiri sembari menikmati aroma embun serta ditemani oleh gigitan angin yang dingin. Matanya perlahan mulai terasa berat. Ia pun memutuskan untuk memejamkan matanya beberapa jam lagi sebelum pergi ke sekolah nantinya. Toh, jika ia terlambat nanti, ibunya akan membangunkannya. Jadi ia tak perlu khawatir.
"Laszlo? Laszlo? Apa kau sudah bangun, Nak?"
Sebuah gedoran halus disusul dengan suara lembut menarik Laszlo dari alam mimpinya. Ia memaksa tubuhnya mengambil posisi duduk, lalu menatap pintu coklat itu selama beberapa detik. Senyumnya terkembang sebelum meluncurkan balasan.
"Iya, Bu. Aku sudah bangun," jawabnya tepat sebelum suara lembut itu kembali memanggilnya.
Suara ketukan terhenti. "Cepatlah mandi dan siapkan barang-barangmu jika tak ingin terlambat sekolah," ujar suara itu. Selang beberapa detik, terdengar suara langkah kaki ringan yang menjauhi pintu.
Laszlo pun bergegas mengambil handuk dan pakaian ganti. Kakinya melangkah gontai menuju kamar mandi. Setelah melepas pakaian, ia menyalakan shower dan menyabuni seluruh tubuhnya. Lima belas menit berlalu, ia menyelesaikan kegiatannya. Kemudian, turun ke bawah.
Aroma daging yang tengah dibakar menggoda cacing yang ada di perutnya. Suara desisan minyak yang tengah menggoreng telur pun tak mau kalah menggodanya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. "Wah! Harum sekali," pujinya seraya menyiapkan peralatan makan.
Laszlo memindahkan roti yang telah selesai dipanggang ke piring. Kemudian, piring itu diantarkan pada Emily yang tengah menggoreng telur. Dengan cekatan, Emily memindahkan daging yang sudah ia panggang di atas frying pan, ke atas lembaran roti tawar. Tak lupa, ia juga turut memindahkan telur mata sapi ke atas piring tersebut.
"Lalukan bagianmu," ujar Emily seraya menyodorkan kedua piring itu pada Laszlo.
Laszlo menerima kedua piring itu dengan senang hati. Ia beralih menuju meja makan dan menaruh kedua piring tersebut ke atas tatakan meja. Ia mengambil sambal dan menuangkannya ke atas piring. Setelahnya, ia mengangguk puas dengan hasil karyanya yang tak seberapa itu.
Emily hanya menggeleng kecil melihat tingkah putranya. "Apa yang membuatmu begitu puas hanya dengan menuangkan saus di pinggir piring?" ledeknya membuat putranya mendengkus sebal.
"Seharusnya ibu tak boleh merusak kebahagiaan putra semata wayang ibu," protesnya membuat Emily tertawa. Emily hanya bisa mengangkat bahunya tak acuh untuk menanggapi protes putranya.
-------------
734.11092021
Pendek? Yap! Emang. Soalnya lagi bener" blank nih.
Cuma karena udh deel, ya, udah, deh. Aku hanya harap ini gak mengecewakan.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top