Prolog
Bagaimanapun, ini tetaplah kesalahanku.
Suara itu, terus bergema di dalam kepalaku. Aku tak mengerti apa maksud dari kalimat itu. Apa yang menjadi kesalahanku? Kesalahan apa yang dimaksud? Aku sama sekali tak mengerti.
Ingin rasanya kuabaikan suara itu, tetapi tak bisa. Otak dan hatiku terus memberontak, lalu menuntunku kembali pada kesalahan yang tak pernah kutahu apa itu. Rasa bersalah terus menumpuk. Semakin lama, semakin tinggi hingga aku tak sanggup menahannya lagi.
Setiap hari, aku dipeluk oleh perasaan tak nyaman yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Aku hanya berpikir bahwa aku tak berhak bahagia. Aku tak berhak mencicipi apa itu rasa manis yang ada pada kehidupan ini. Perasaanku, semakin lama semakin memburuk. Hati yang semula cerah, perlahan menghitam hingga aku tak tahu lagi mana yang benar ataupun salah.
Semua tindakan, ucapan, dan pemikiranku terasa salah dan tidak pada tempatnya. Aku tak tahu harus melakukan apa dan bagaimana. Entah aku bisa keluar dari kukungan perasaan buruk ini ataukah tidak. Aku sama sekali tak tahu. Sekeras apa pun aku berusaha, aku terus dan terus kembali lagi di tempat ini seolah sedang berjalan di tempat.
Rasa lelah mulai menghampiri. Rasa muak pun mulai menyambangiku. Walau begitu, aku tak pernah tahu tindakan mana yang tepat untuk melepaskan diri. Rasanya, semakin bertindak, semakin tenggelam ke dalam pusara yang kelam. Akhirnya, aku memilih diam. Dan tenggelam di dalam lubang hitam itu.
Namun, begitu menyerah dan menyelami lubang hitam itu. Aku menemukan sesuatu yang tak masuk di akal. Sesuatu yang tak pernah terjadi dan tak akan pernah terjadi—atau setidaknya begitulah kepercayaanku hingga kini—terjadi di depan mataku.
Suara riuh orang-orang yang berteriak penuh dendam bergema di telingaku. Aku berbalik dan mendapati sekelompok—atau lebih tepatnya sepasukan—manusia dengan beragam senjata yang diangkat tinggi-tinggi berseru.
"Musnahkan mereka! Mereka adalah musuh! Mereka harus dihancurkan! Kalahkan! Hancurkan mereka! Jika tidak, mereka yang akan melahap kita hidup-hidup! Jangan sisakan satu orang pun di antara mereka!"
Banyak sorak-sorai yang menyahuti titah penuh semangat dan diwarnai dendam itu. Tak berselang lama, orang-orang yang berada di barisan paling depan pun merangsek maju ke depanku. Mataku membelalak lebar. Seharusnya aku lari, menyingkir. Akan tetapi, tubuhku menolak perintah dari otakku. Hanya mengkaku dan membiarkan orang-orang itu berdatangan, lalu menabrak dan menghajar dengan penuh dendam.
Selang beberapa menit berlalu, aku menyadari bahwa mereka bukan menyerangku, melainkan kelompok lain dengan pakaian serba gelap. Kedua kelompok saling melemparkan serangan, entah itu bertujuan untuk melindungi diri atau membunuh. Suasana menjadi sangat kacau.
Tanah bergetar, lalu membelah. Beberapa orang yang tak siap menghadapi itu, tertelan oleh tanah yang terbelah. Lemparan api yang keluar dari telapak tangan orang-orang dengan pakaian merah menghujani kelompok berbaju hitam. Walau begitu, sebuah perisai gelap menelan api tersebut dengan cepat.
Tak hanya sampai di sana, para pria dengan baju berwarna coklat mendatangi dan melemparkan tombak pada sekelompok pria berbaju hitam. Suasana sungguh kacau, aku yang berdiri di tengah menjadi tak tahu apa yang harus kulakukan. Ingin rasanya aku menghentikan peperangan yang entah apa tujuannya itu, tetapi aku tak bisa melakukannya.
Aku hanyalah penonton di sini. Aku hanya bisa melihat. Itulah yang kusadari. Aku tak tahu ini apa, tetapi sepertinya ini adalah mimpiku. Karena tak ada yang bisa kulakukan, aku hanya berjalan lurus menuju barisan belakang kelompok berbaju hitam yang mati-matian melakukan pertahanan diri.
Kuakui, mereka cukup hebat. Walau jumlah mereka dengan jumlah lawan tak seimbang, mereka cukup gigih untuk melawan. Dan bahkan, mereka juga cukup banyak menghabisi musuh.
Aku mengernyit tak suka saat aroma anyir besi berkarat menyapa indra penciumanku. Genangan berwarna merah mulai bermunculan di mana-mana. Namun, lama-kelamaan aku mulai terbiasa dengan hal ini. Bahkan suara berisik yang tadinya mengganggu pun, mulai bisa kuabaikan.
Setelah berjalan cukup jauh. Aku mendapati sebuah tenda berwarna hitam yang cukup besar. Di dalam tenda tersebut ternyata kosong, aku pun masuk dan melihat-lihat. Di tenda ini, terdapat peta, perlengkapan untuk mengobati, persediaan makanan, serta beberapa senjata, seperti tombak, pedang panjang, dan belati.
Di sudut tenda, terdapat sebuah box bayi berwarna putih, sangat mencolok jika dibandingkan dengan nuansa hitam tenda ini. Rasa penasaran memaksaku melongok ke dalam box hingga terlihat seorang bayi lelaki kecil yang masih belum bisa membuka matanya.
"Tidak!"
Aku berteriak dan terus berteriak seperti orang gila saat api mulai membakar tenda ini. Bahkan api pun mulai merambat ke box bayi tersebut. Perlahan, jago merah mulai menjilati kulit merah dan lembut itu. Namun, tak ada yang bisa kulakukan selain melihat dan berteriak seperti orang gila.
----------------
Okay. Jujur. Ini project fantasi pertama aku. Aku gak tau ini bakal gimana ke depannya. Semoga sukses nah.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top