4

"Serang!" Sekelompok pria berjirah merah menembakkan panah berapi. Sementara itu, sekelompok pria berbaju coklat mulai merangsek maju menjebol dinding benteng hitam tersebut. Para pria berjirah hitam pun tak mau kalah, mereka berusaha keras memukul mundur musuh yang terus mendobrak masuk.

"Tahan! Jangan sampai pertahanan kita berhasil dijebol," titah seorang pria berjirah hitam. Para prajurit pun melaksanakan perintah dengan baik.

Pasukan berpedang, menghalau musuh dengan menganyukan pedangnya. Pasukan pemanah meluncurkan serangan anak panah tanpa henti hingga beberapa orang prajurit berjirah merah dan hitam tumbang karenanya. Di bagian paling belakang, para penyihir membentuk pelindung tak kasat mata untuk menghalau hujan panah api yang ditembakkan oleh pasukan musuh.

"Tuan! Pertahanan mereka sungguh sempurna seperti yang sudah kita perkirakan dari klan Vutoo," lapor seorang pria berjirah merah pada atasannya.

Pria paruh baya berjanggut merah itu mengetukkan jemari telunjuknya tak sabar di atas permukaan tanah. Tak lama, ia menggebrak meja dengan kuat. Urat-urat lehernya menonjol dan juga wajahnya memerah saat berteriak marah. "Dasar tidak berguna!" makinya geram. "Tak ada kemampuan seorang pun yang bisa mereka serap, tapi kalian tak bisa menembus pertahanan mereka?!" raungnya membuat pria berjirah itu menunduk memohon maaf.

Pria paruh baya dengan jubah coklat berjalan pelan mendekati pria berjenggot merah itu tenang. "Sudahlah! Redakan amarahmu. Kau juga tahu sendiri, 'kan? Jika memusuhi mereka, mau sebanyak apa pun pasukan yang kita kerahkan juga pasti sulit. Kau harusnya juga tahu bahwa kemampuan berperang mereka lebih hebat dari kita makanya kita sering mengirim para monster itu ke medan perang."

*********

"Laszlo!"

Laszlo mencopot penyumpal kupingnya dan bangkit dari duduknya. Langkahnya mengayun santai menuju ruang dapur. "Iya, Bu?"

Emily menoleh sejenak, lalu kembali menatap oven. Tangan kurusnya menyambar sarung tangan anti panas dan memakainya. "Ah, kau sudah datang, Las?"

Laszlo segera merebut sarung tangan tersebut. "Biar aku saja." Tanpa rasa canggung, pemuda berusia lima belas tahun itu mengeluarkan pai panas dari oven menggantikan ibunya. Ia meletakkan pai tersebut di atas meja, lalu mengambil pisau. Dipotongnya simetris menjadi 8 potongan.

Emily tersenyum bangga. "Padahal aku memanggilmu bukan untuk membantuku. Aku hanya ingin menyuruhmu makan karena pai apel kesukaanmu sudah matang," jelasnya membuat Laszlo mengangkat bahu tak acuh.

"Ah! Tolong kau masukkan 3 potong ke dalam kotak dan antarkan ke rumah Kaizen, ya," pinta Emily sembari melepas celemeknya.

Laszlo mengangguk patuh. Ia segera bergerak menuju lemari dan mencari kotak. Tangannya bergerak ringan memasukkan potongan pai tersebut ke dalam kotak. Setelah selesai, ia menggendong kotak itu seraya berjalan menuju rumah Kaizen.

Rumah Kaizen hanya berjarak 4 rumah darinya. Itu sebabnya ia dan Kaizen sangat dekat. Dia sudah mengenal pemuda itu sejak berusia 5 tahun. Mungkin itu sebabnya juga Kaizen tak pernah merasa canggung untuk berhadapan dengannya, berbeda dengan anak-anak lainnya.

Ayunan kaki Laszlo terhenti di pintu berwarna biru muda. Ia memencet bel dan menunggu dengan sabar. Selang satu menit penuh, sebuah kepala muncul untuk mengintip tamunya.

"Astaga! Kalau kau datang ke sini harusnya langsung masuk saja! Kenapa kau harus memencet bel segala?" gerutu Kaizen seraya membuka pintu dengan lebar.

Laszlo hanya menggeleng pelan. "Ini. Dari ibu." Laszlo menyodorkan kotak transparan berisi pai apel dan diterima Kaizen dengan mata berbinar.

"Wah! Tante tau saja kalau aku lapar," seru Kaizen senang. Ia kemudian menyingkirkan badannya yang menghalangi jalan masuk Laszlo. "Ayo! Masuk!" ajaknya yang hanya ditanggapi Laszlo dengan gelengan pelan.

Kaizen menghela napas panjang. "Baiklah! Tolong sampaikan rasa terima kasihku pada ibumu, ya," pinta Kaizen. Walau begitu, ia masih belum menyerah. Ia menatap Laszlo penuh permohonan agar pemuda itu mau masuk ke rumahnya dan bermain sebentar.

Namun, pertahanan Laszlo ternyata lebih kuat. "Ya," balas Laszlo tenang. Pemuda itu membalikkan badannya dan mengambil langkah menjauh.

Kaizen menggerutu sebal. "Hei! Ya, sudahlah. Hati-hati di jalan, ya," teriak Kaizen membuat kaki Laszlo membatu.

Dengan gerakan cepat, Laszlo menoleh dan menatap aneh Kaizen. Perkataan menjijikan macam apa yang sudah dilontarkan oleh pemuda tak tahu malu itu? Mendapati pandangan 'apa kau masih waras?' dari Laszlo membuat Kaizen merenggut sebal.

"Pergilah! Menyebalkan!" maki Kaizen, lalu membanting pintu dengan keras. Akan tetapi, beberapa detik kemudian, pintu kembali terbuka dan memunculkan Kaizen yang sudah siap berpergian. "Aku ikut!"

Laszlo menggeleng pasrah. Biarkan sajalah, pikirnya. Kaizen jika sudah memutuskan sesuatu, tak akan ada yang bisa menghentikannya.


--------------
688.22092021

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top