23
"Kai, ayo cepat bangun! Kau tak mau sekolah?" Laszlo menarik selimut yang membungkus Kaizen rapat. Tak lupa ia juga menarik bantal serta guling yang dipakai oleh Kaizen, lalu ditaruhnya di atas sofa cream di tengah kamar.
Kaizen mendengkus sebal. Semua benda yang membuatnya tidur dengan nyaman telah diambil paksa, mau tak mau, Kaizen harus memaksa matanya terbuka. Nyawanya yang masih belum puas berjalan-jalan pun ditarik paksa masuk ke dalam raganya.
"Hah! Dasar makhluk rajin! Bahkan di saat kabur dari rumah pun kau tetap pergi ke sekolah?" keluh Kaizen di sela-sela mengumpulkan nyawanya.
Gerakan tangan Laszlo yang sedang merapikan tempat tidur Kaizen terhenti. Kabur dari rumah, tiga kata yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. "Yah, walaupun aku kabur, aku tetap harus belajar, 'kan?" tanya Laszlo dengan gerakan sambil lalu.
Kaizen menepuk jidatnya penuh sesal. Mulutnya benar-benar harus dijahit. Bisa-bisanya di pagi yang cerah ini ia menghancurkan hari orang dalam waktu tiga detik. "Maaf, Las. Kau tahu aku tak bermaksud seperti itu." Kaizen berhenti sejenak karena menyadari bahwa ucapannya itu terdengar aneh. Terdengar seperti alasan.
"Ti-tidak. Bukan, jadi, maksudku-"
Laszlo memotong ucapan Kaizen dengan cepat, "Hei, Kai! Apa kau punya buku baru?" Ia harus mengalihkan topic sebelum Kaizen membahas sesuatu yang lebih buruk hingga hubungan mereka menjadi canggung. Ia tahu bahwa Kaizen tak bermaksud untuk mencemooh atau dengan sengaja ingin melukainya. Hanya pemilihan kata Kaizen yang kurang tepat saja. Ia paham dan mengerti akan hal itu.
"Buku baru?" ucap Kaizen membeo. Keningnya berkerut dalam, untuk apa Laszlo memerlukan buku baru? Apa yang bisa dilakukan remaja pria itu dengan buku baru? Bunuh diri? Tentu saja itu hal yang mustahil! Pergi ke tempat yang jauh? Apalagi itu! Tidak mungkin.
Laszlo menepuk jidat Kaizen kuat. Temannya yang satu ini pasti sedang berkhayal yang aneh-aneh. "Kau ingat aku 'kabur' tanpa membawa apa-apa?" Laszlo memberikan tanpa kutip pada kata kabur dengan kedua tangannya.
Mendengar pertanyaan Laszlo, Kaizen semakin bingung. Ia ingat, tentu saja ingat. Lalu apa hubungan kabur tanpa membawa apa-apa dengan buku baru. Ia sama sekali tak mengerti. Jangankan mengerti, sebuah ide untuk relasi antara keduanya saja ia tak punya.
Laszlo menghela napas pasrah. Salahnya yang tak mengutarakan maksudnya langsung. Dirinya yang bodoh memilih untuk berkomunikasi dengan Kaizen yang nyawanya bahkan masih belum setengah penuh. "Mandi sajalah dulu." Dengan sebal Laszlo melemparkan handuk bersih pada Kaizen. Ia sendiri sudah mandi tadi, setelah minta izin meminjam kamar mandi pada orang tua Kaizen-tentunya.
Selang sepuluh menit kemudian, Kaizen masuk ke kamarnya dengan rambut basah. Aroma sabun menguar dari tubuhnya. Laszlo mengernyitkan hidungnya. "Seberapa banyak sabun mandi yang kau gunakan hingga aromanya sekuat ini, Kai?" cemoohnya.
Kaizen mencebik. Ia akui dirinya memang berlebihan. Ia bahkan melumuri sabun dan shampoo sebanyak tiga kali untuk memastikan bahwa dirinya benar-benar bersih. Ini hari pertamanya bertemu dengan Yuri setelah jadian kemarin. Ia harus bersih dan wangi agar hati pacarnya tak berpaling pada sahabat dekatnya.
"Sudahlah! Jangan mencemoohku!" Kaizen melemparkan sebuah baju baru serta celana baru tepat di wajah Laszlo. Akan tetapi, remaja pria itu berhasil menangkapnya dengan sempurna. Dan hal itu membuat Kaizen semakin kesal. "Pakai itu! Kau tak mungkin memakai baju yang sudah kau pakai dari kemarin, 'kan?"
Laszlo berterima kasih, lalu segera ngacir ke toilet. Ia keluar setelah berganti baju dengan yang baru. Sangat pas, seolah-olah itu memang benar bajunya, bukan milik Kaizen. Padahal, yang ia-dan orang-orang lain-tahu bentuk tubuh serta tinggi badannya dan Kaizen itu berbeda. Lantas mengapa Kaizen memiliki baju yang sangat pas untuknya?
"Seharusnya itu kuberikan pada saat ulang tahunmu minggu depan," jelas Kaizen seolah mengerti kebingungan Laszlo.
Laszlo hanya ber-oh ria mendengarnya. "Ya, sudah. Anggap saja kau memberikannya lebih cepat," balas Laszlo sambil lalu. Ia kemudian berbalik dan menatap Kaizen serius. "Apa kau punya buku baru?" Ia mengulang lagi pertanyaan 20 menit sebelumnya.
"Untuk apa ka uterus-terusan meminta buku baru padaku?" sungut Kaizen tak mengerti. Cukup sudah! Ia tak mau bertanya-tanya sendiri apa tujuan Laszlo meminta buku baru padanya.
Sekali lagi, embusan napas pasrah dikeluarkan Laszlo. "Aku 'kabur' tanpa membawa apa-apa. Dan untuk bersekolah, lalu belajar aku butuh buku catatan yang baru untuk mencatat pelajaran hari ini," jelasnya membuat Kaizen terbahak kuat.
Ia benar-benar tak akan bisa mengerti jalan pikiran Laszlo. Sungguh! Entah dialah yang aneh atau Laszlo-lah yang aneh. Ia sama sekali tak mengerti.
--------------
718.04122021
Yuhuuuu..
Siapa nih punya temen kayak Laszlo? Seneng banget belajarnya 😂😂😂😂
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top