22
"Hei, Las!" panggil Kaizen pada Laszlo yang kini tengah berbaring di atas kasurnya.
Laszlo hanya diam. Posisinya masih sama seperti dua jam yang lalu saat pemuda itu meminta izin untuk bermain di rumahnya; tiduran dengan lengan kanan menutupi wajahnya.
"Las? Apa kau mendengarku?" tanya Kaizen dengan nada yang sudah naik satu oktaf.
Laszlo masih diam. Sebenarnya, ia mendengar pertanyaan pemuda itu dengan jelas-amat sangat jelas malah. Akan tetapi, ia hanya belum ingin menjawabnya. Ia tak tahu harus menjawab apa karena memang ia masih belum mengetahui apa pun.
"Las! Emily datang," ujar Kaizen memberitahu. Namun, sekali lagi. Laszlo masih diam tanpa reaksi apa pun.
Rasa kesal, cemas, dan gemas bercampur menjadi satu. Kaizen pun memutuskan untuk naik ke atas kasur dan menendang Laszlo kuat hingga pemuda itu terguling ke bawah. Laszlo meringis kesakitan karena berbenturan dengan lantai marmer yang dingin serta keras.
"Biarkan saja," balas Laszlo pada akhirnya. Hanya dua kata. Namun membuat mata Kaizen membulat sempurna.
Kaizen langsung melompat turun dan berjongkok menatap Laszlo yang sudah berbaring nyaman di lantai; masih dengan pose tadi-tangan kanan menutupi wajahnya. "Apa kau serius, Las?" serunya tak percaya.
Laszlo berdeham pelan. Kaizen memutar bola mata malas, lalu mengguncangkan tubuh Laszlo dengan heboh. "Las! Apa kau serius dengan perkataanmu? Kau ingin aku membiarkan ibumu pulang begitu saja?"
Laszlo menarik napas gusar. Ia menurunkan lengan dan membuka matanya untuk menatap Kaizen tajam. "Ya! Aku serius! Biarkan saja! Lagipula ibu tak datang ke sini. Kau kira kau siapa sampai berani menipuku?!" bentaknya kesal.
Kaizen terdiam. Otaknya macet mendapati reaksi Laszlo yang begitu sensitif. Ia sama sekali tak mengerti apa yang sedang Laszlo pikirkan saat ini. Namun, ada satu kesimpulan yang bisa ia tarik dari keadaan Laszlo sekarang, remaja pria itu sedang berselisih dengan ibunya.
"Kau bertengkar dengan Emily," ucapnya pelan. Kalimat yang lebih tepatnya disebut dengan pernyataan itu membuat Laszlo mendengkus sebal karena apa yang baru saja diucapkan oleh Kaizen merupakan fakta yang sebenarnya.
Laszlo mendudukkan badannya paksa, lalu mengusap wajahnya kasar. "Kau juga sering melakukan hal itu," komentarnya sambil lalu seolah apa yang tengah terjadi padanya adalah hal yang wajar. Padahal, siapapun bisa melihat kalau hubungan Laszlo dan Emily itu sangat harmonis hingga sulit untuk membayangkan keduanya berselisih paham.
"Hah?" Hanya itu yang bisa meluncur dari bibir Kaizen untuk merespon hal tak biasa itu. Kaizen menatap Laszlo lurus, berusaha membaca wajah sahabatnya itu. Namun, selama apa pun ia menatap wajah yang terbilang tampan itu, ia tak mendapatkan hasil apapun. Ia hanya bisa menganggumi wajah tegas dengan mata berwarna hitam kelam dibingkai dengan alis rapi nan tajam yang juga sewarna dengan iris kelam tersebut.
"Memang tampan," lirih Kaizen pelan, terselip keirian di nada suaranya.
Laszlo mengangkat wajahnya dan menatap Kaizen jijik. Walau begitu, ia tak mengatakan apa pun sampai Kaizen menyadari tatapan tersebut, lalu memerah malu.
"Apa?!" bentaknya keras. "A-aku tak tertarik padamu!" sanggahnya cepat. "Kau tahu sendiri aku sudah punya Yuri," lanjutnya panik. Seiring dengan kalimatnya yang selesai, Kaizen semakin memerah. Akhirnya remaja pria itu dengan salah tingkah bangkit berdiri dan keluar kamar.
Laszlo menggeleng pelan, lalu terkekeh. Wajah malu milik Kaizen sedikit meringankan beban hatinya. Ia kembali membaringkan tubuhnya di atas lantai marmer dingin itu dan memejamkan matanya. Secara otomatis, otaknya memutar adegan di mana Emily menyebutnya 'anak itu' dengan suara datar. Remaja pemuda itu menghela napas panjang dan berat.
"Rumahku akan runtuh nanti kalau helaan napasmu berat begitu," komentar Kaizen menggunakan nada sejenaka mungkin.
Laszlo hanya diam. Ia membuka matanya dan melirik jam digital yang ada di meja belajar Kaizen, sudah pukul 20.45 malam. Ia harus kembali, ia tak boleh mengganggu waktu istirahat Kaizen. Pelan, ia memaksa tubuhnya bangkit. "Aku pulang dulu," pamitnya pelan.
Kaizen menaikkan alisnya heran. "Kau? Pulang?" beonya. "Apa kau yakin kau ingin pulang?" tanya Kaizen penasaran. Ia hanya ingin Laszlo tak sungkan padanya. Setidaknya, walau sahabatnya itu tak ingin cerita, ia ingin menyediakan tempat yang bisa dijadikannya untuk menenangkan diri barang sejenak saja.
Laszlo terdiam. Ia tak ingin pulang. Belum. Ia butuh waktu untuk mencerna semua yang dilihatnya dan apa yang didengarnya tadi siang. Ia butuh waktu untuk mendengarkan penjelasan apa yang nantinya akan keluar dari bibir wanita yang selama ini ia kira ibu kandungnya.
"Kalau tak ingin pulang, menginaplah di sini saja. Kau boleh tidur di kasurku," ujar Kaizen seolah mengerti kekalutan yang tengah mendera Laszlo.
-------------
710.01122021
Yeah! Cerita awalnya udh selesai ^^
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top