21

"Ini rencana terakhirku."-Pasoon berjalan mendekati Michio yang menggeram marah-"Kita habisi saja sumber dari semua masalah ini."

Mata Michio membelalak lebar. "Kau gila?!" makinya tak percaya. "Anak itu bahkan belum lahir,"-Michio melangkah mondar-mandir di dalam ruangannya-"kalau kau tak lupa," lanjutnya lagi dengan nada mengingatkan.

Pasoon tersenyum tipis. "Bukankah itu justru keuntungan bagi kita? Kita tinggal kirim seseorang saja untuk menghabisi anak terkutuk itu beserta jalang kurang ajar itu." Pasoon mengusap-ngusap tangannya penuh semangat.

Michio menggeleng tak percaya. Pasoon sudah gila, pikirnya kasihan. "Kalau kau mau, lakukan saja sendiri. Aku tak ingin mati konyol bersamamu," ujarnya sambil berjalan menuju pintu dan membuka pintunya lebar-lebar. "Kau tahu di mana jalan keluarnya, 'kan?" tanya pria itu lagi membuat Pasoon menganga tak percaya.

Setelah berhasil lepas dari keterkejutannya, Pasoon mencibir, "Dasar penakut!" Kakinya mengentak kuat saat ia berjalan keluar ruangan. Di setiap langkah yang diambilnya selalu diiringi dengan umpatan-umpatan kasar yang entah ditujukan pada siapa.

"Apa?! Kau mau tak bisa melihat matahari terbit esok?" makinya pada setiap orang yang melewatinya dengan tatapan takut sekaligus kasihan.

***

"Dasar kurang ajar! Apa yang kau lakukan sekarang, Davin?!"

Kepala pria yang menahan Laszlo terdorong kuat ke depan akibat sebuah pukulan keras yang dilayangkan oleh pemilik suara yang menghardiknya-Emily. Davin meringis perih sembari menoleh ke belakang menatap teman seperjuangannya dengan tatapan tak terima. Sementara itu, Laszlo hanya bisa terpaku diam menatap Emily kaget sekaligus heran.

"Ibu?" gumamnya bingung.

Emily tersentak, lalu membuang muka. Tangan kurusnya menarik belakang kerah baju Davin. "Menyingkir! Mau sampai kapan kau menimpa anak itu?"

Cengkraman tangan Laszlo pada Davin mengendur saat ia mendengar Emily menyebutnya dengan 'anak itu'. Kekecewaan terpancar jelas di wajah remaja pria itu. Davin yang menyadari hal tersebut langsung bangkit dari posisinya, lalu menarik Laszlo berdiri.

"Kau anak yang kuat dan pintar," pujinya sembari menepuk pelan pundak Laszlo. Laszlo tak menanggapi pujian itu, ia masih syok dengan perubahan sang ibu. Davin bisa merasakannya. Remaja berusia 14 tahun itu pasti sakit hati saat orang yang ia kira ibu kandungnya seumur hidupnya ini malah menyebutnya 'anak itu' dengan nada ringan.

Davin mencengkram lengan Emily pelan dan menariknya. "Hei! Kau membuat anak itu sakit hati. Bukankah kau sedikit keterlaluan? Masa kau menyebut anak yang sudah kau besarkan selama ini dengan anak itu?"

Laszlo semakin terpekur. Anak yang sudah kau besarkan selama ini? Apakah itu berarti ia bukan anak kandung Emily? Lalu, siapa orang tuanya? Mengapa orang tuanya membuangnya sehingga ia dibesarkan oleh Emily sendirian?

Melihat wajah Laszlo semakin pucat. Emily tahu bahwa bisikan-yang lumayan keras-Davin terdengar oleh remaja pria itu. "Las, apa kau mau mendengarkan aku sebentar?"

"Aku?" lirih Laszlo tak percaya. Bahkan sekarang Emily tak mau repot-repot menyebut dirinya sendiri dengan ibu. "Maaf," lirih Laszlo sambil berjalan mundur.

"Las? Aku mohon," pinta Emily memelas. Kedua matanya memerah serta berkaca-kaca seolah-olah ingin menangis.

Laszlo menggeram kecil. Ia yang seharusnya ingin menangis di sini. Bukan Emily atau bahkan pria tak dikenal itu. Takut dengan kenyataan yang akan diterimanya sebentar lagi, Laszlo berbalik dan langsung berlari ke luar. Tak dihiraukannya Emily yang memanggilnya penuh permohonan. Ia perlu mendinginkan otaknya sejenak.

Laszlo berlari dan terus berlari hingga akhirnya kakinya tak kuat menopang beban tubuhnya dan juga paru-parunya berteriak meminta pasukan oksigen. Laszlo memperhatikan sekeliling, ternyata tanpa ia sadari ia berlari menuju taman di dekat sekolahnya.

"Las?" panggil sebuah suara yang familiar di telinga Laszlo.

Laszlo mengusap air mata-yang entah kapan mengalirnya-dengan cepat seolah-olah tengah mengusap keringat yang mengalir di dahinya. "Ah, hai, Kai," sapanya canggung. Ia bahkan tak menyadari bahwa ia membuat senyuman aneh di wajahnya.

Kaizen menaikkan sebelah alisnya heran. "Yang menyapamu itu Yuri, bukan aku," ucap Kaizen pelan.

Laszlo tertawa gugup. "Ah! Iya. Maaf. Maksudku, hai, Yuri," ujarnya sambil mengatur ekspresinya setenang mungkin.

Kaizen menghela napas lelah. "Kau ada masalah." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Laszlo langsung menggeleng cepat.

"Tidak," sanggahnya dengan suara melengking hingga kepanikannya menular pada Kaizen beserta Yuri. Menyadari hal itu, Laszlo segera menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan. "Tidak," ulangnya, kali ini dengan suara yang sangat tenang.

Kaizen menggeleng pelan. "Kau tahu? Kau tak jago berbohong," ujar pemuda itu sambil menekan kedua pundak Laszlo. Seulas senyum tipis Kaizen berikan berharap Laszlo bisa berkata jujur padanya.

Akan tetapi, Laszlo tetaplah Laszlo. Pemuda itu hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Aku sungguh tidak apa-apa." Matanya lalu menatap Yuri dan Kaizen secara bergantian. Rona kedua remaja itu sangat berbeda saat ia meninggalkan keduanya tadi siang.

Dan jika ditelisik dari keduanya masih bersama hingga menjelang sore seperti ini. Pastilah sudah terjadi sesuatu yang baik di antara keduanya. Senyum tipisnya pun kembali terkembang. "Aku turut senang atas resminya hubungan kalian," ujarnya tulus.

Sepasang remaja itu memerah. Kaizen melotot kaget dan Yuri menunduk malu.

"Ka-kau! Da-dari mana kau tahu?" gagap Kaizen terkejut.

Laszlo hanya tersenyum tipis dan mengangkat bahunya tak acuh.




----------------
804.27112021
Yeay! Selamat Kaizen-Yuri! Baik-baik, ya! Jangan nyusahin Las lagi. Nanti diamuk, lho! Terus jangan lupa makasihnya buat Las. Jangan lupa karna Las kalian bisa jadian! Awas kalau lupa!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top