24

"Loh? Tumben sekali kau makan di kantin, Las?" Pertanyaan dari seluruh isi kantin ditanyakan pada Laszlo yang tengah meyeruput spaghettinya.

Laszlo menelan makanannya setelah mengunyah beberapa kali. Setelah yakin tak ada sisa makanan di mulutnya, remaja pria itu tersenyum kecil. "Terjadi begitu saja," balasnya ringan sama sekali tak peduli dengan keheranan yang menguar dari sekitarnya.

Kaizen mengedipkan sebelah matanya, lalu membisiki Yuri dengan suara kecil. "Nanti kita paksa dia cerita di tempat yang sepi."

Yuri hanya mengangguk kecil, lalu kembali menekuni makanannya. Sementara Laszlo, ia sudah selesai makan. Berkat tatapan penasaran dari seisi kantin, Laszlo mempercepat makannya. Ia bahkan tak peduli lagi jika nanti ia menderita sakit perut akibat makan terlalu cepat-bahkan hampir tanpa mengunyah. Laszlo meneguk jus melonnya dengan cepat, lalu bangkit dari kursinya.

Yuri yang melihat hal itu langsung panik lantaran ia makanannya masih tersisa setengah. "Hei!"

Kaizen hanya mengangguk kecil pada Laszlo yang menatapnya sejenak sebelum angkat kaki dari tempatnya. Remaja pria itu langsung berpaling pada kekasihnya. "Biarkan saja. Dia hanya tak nyaman dengan tatapan orang-orang. Bukan tak nyaman karena makan semeja denganmu," jelas Kaizen tenang.

Yuri mendesah lega. Ia mengira Laszlo tak nyaman karena ada dia sekarang. Namun, ternyata remaja itu hanya tak nyaman dengan tatapan seisi kantin. Sejujurnya, ia juga sedikit takut dengan tatapan lapar para gadis remaja itu pada Laszlo. Tak heran Laszlo bisa merasakan tidak nyaman. Apalagi, Laszlo merupakan orang yang tertutup dan jarang mau berinteraksi dengan orang. Yuri sendiri saja merasa sangat amat beruntung bisa direspons oleh Laszlo.

"Oh, begitu. Kalau boleh jujur, tatapan cewek-cewek itu ke Laszlo memang sangat menakutkan," balas Yuri sambil memamerkan seringaiannya.

Kaizen mengangguk-mengakui. Ia sendiri juga terkadang merasa takut dengan tatapan buas para gadis itu. Ia merasa mereka bisa menerkamnya kapan saja dan di mana saja. Dan jujur, itu sangat menakutkan. Ia tahu Laszlo pasti tertekan karenanya.

"Sepertinya dia sedang mengalami masalah," ujar Kaizen memberitahu.

Yuri menatap Kaizen terpana. "Apa dia juga tipe yang membicarakan hal seperti itu?" tanyanya. Terselip ketakjuban dalam nada suaranya.

Kaizen terkekeh pelan, lalu menggeleng. Kalau saja Laszlo bisa menceritakan apa yang dirasakannya, itu pasti akan lebih mudah baginya untuk menghadapi sahabatnya.

"Itu pasti akan sangat menyenangkan," komentarnya.

Yuri bisa menangkap kegetiran di dalam suara Kaizen. Tangannya terulur untuk mengusap punggung Kaizen lembut. Ia merasakan kefrustrasian Kaizen. "Pasti sulit, ya?" tanya Yuri lembut.

Kaizen tersenyum lebar. "Ya, kurang lebih. Tapi aku bisa mengerti sih. Ia tak memiliki ayah dan saudara untuk berbagi. Ibunya, Emily, juga lebih sering berada di luar untuk membanting tulang demi menghidupi mereka. Dia pasti sudah terbiasa hidup tanpa mengeluh atau mengatakan apapun yang ada di hatinya. Jadi, pasti sulit baginya untuk mengutarakan perasaannya," jelas Kaizen, menguak sedikit kehidupan yang dijalani Kaizen.

Pemuda itu terdiam selama beberapa saat, menimbang apakah ia sudah membuka kehidupan pribadi Laszlo terlalu banyak. Ia tahu, apa yang ia katakana saat ini, bukan hanya didengar oleh Yuri. Walau suaranya sudah ia atur untuk sekecil mungkin, tetap saja ada gadis-gadis yang mencoba mencuri dengar lantaran penasaran dengan Laszlo dan ingin merasa lebih dekat dengannya.

"Jadi, kau tahu dari mana?" tanya Yuri sepelan mungkin. Ia menyadari tatapan orang-orang pada mereka semakin liar. Yuri yang tak nyaman pun menghentikan acara makannya dan menyambar selembar tisu. Ia mengusap bibirnya dengan tisu tersebut.

"Ayo!" ajak Yuri yang mulai merasa risi dengan tatapan sekitar. Kaizen tertawa geli melihat tingkah Yuri. Yuri yang biasanya cuek malah tiba-tiba merasa tak nyaman dengan pandangan orang-orang dan lucunya tatapan itu bukan ditujukan karena rasa penasaran pada gadis itu, melainkan pada Laszlo.

"Apa itu sangat lucu bagimu, Kai?" sungut Yuri sebal. Saat ini, mereka berada di koridor yang lumayan sepi. Dan Yuri tahu dengan jelas bahwa sudah sejak dari kantin Kaizen menahan tawa gelinya.

Kini, Kaizen terbahak dengan hebatnya. Remaja pria itu terpingkal hingga perutnya kram. "Ah, maaf. Tapi ini benar-benar aneh. Padahal biasanya kau begitu cuek, tapi-" Ucapan Kaizen terputus akibat tawa yang kembali meledak.

Sebal ditertawakan terus, Yuri memilih untuk berjalan mendahului Kaizen. "Hei! Kau hutang cerita padaku! Akan kutagih sampai ke liang lahatmu nanti kalau kau tak mau cerita!" Yuri menghampiri Laszlo terlebih dahulu untuk menyalurkan kekesalannya, lalu kembali duduk di tempatnya diiringi dengan dua jenis tatapan; tatapan tak mengerti dari Laszlo dan tatapan penasaran dari seluruh siswa.




-----------------
703.08122021
Yuhu!
Las datang lagi menemani Rabu kalian. Ada yang kangen?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top