18
"Tu-tuan!" seru seorang prajurit berjirah coklat sambil menerobos masuk tenda besar berwarna merah. Wajahnya pucat serta kedua bola matanya yang bergerak liar. Ia menatap ketiga tuan penguasa tiga klan besar itu dengan pandangan panik-sekaligus pasrah. "Kita diserang," ujarnya lemah.
Ketiga pria itu bangkit berdiri dengan panik. "Apa?!" seru ketiganya tak percaya.
Diserang? Itu sama sekali tak terlintas di otak ketiganya. Mereka tahu bahwa Nathan adalah pria berhati lembut walau sering dikirim ke medan perang. Pria itu sama sekali bukanlah tipe yang akan mengigit duluan. Ia lebih senang duduk diam sambil menunggu mangsanya menghampirinya. Bukan menghampiri mangsanya seperti ini. Hal ini benar-benar di luar dugaan mereka.
"Ini gawat!" ujar Torin panik. "Kita akan kalah," desahnya pasrah.
Pasoon mendorong kuat tubuh Torin hingga pria kekar itu terhempas kuat dan menimpa beberapa tombak yang ditaruh di samping pintu masuk tenda hingga patah. "Diamlah! Apa perlu kau mengutuk kita seperti itu?!" teriak Pasoon marah.
Torin meludah sembari melempar pandangan tajam. "Siapkan pasukan untuk berperang," titahnya pada prajurit tersebut. Kini, ia harus memimpin sendiri pasukannya karena telah kehilangan komandannya yang setia dan hebat.
Di depan markas, Nathan melihat pasukan prajurit musuh yang kelimpungan pun hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya. Bisa-bisanya ia mau mengalah pada orang-orang payah ini. "Siap-siap untuk menyerang!" perintahnya yang disambut sorak-sorai para pasukannya. Tanpa perlu menunggu waktu lebih lama lagi, ia membawa pasukannya maju dan mulai membantai semua prajurit musuh yang bisa mereka jumpai.
**
"Kalau kau mencari Kai, dia sedang berada di kantin," ujar Laszlo pada gadis berambut hitam dengan mata sipit itu tenang.
Wajah putih itu memerah dengan cepat. Ia langsung berlari menjauh setelah mengucapkan terima kasih dengan suara yang amat sangat lirih. Laszlo menghela napas panjang. "Kai sungguh buta," desahnya lelah.
"Hai, Las! Di mana Kaizen?" Seorang pemuda berambut acak-acakan menghampiri meja Kaizen dan melongok ke bawah.
Laszlo menggeleng melihat tindakan itu. Memangnya Samuel pikir Kaizen itu kucing yang senang bersembunyi di bawah meja. "Kau sedang mencari apa sampai melongok ke bawah meja seperti itu?" tanya Laszlo.
Samuel hanya memamerkan gigi-gigi putihnya yang rapi. "Mana tahu dia sedang tiduran di bawah meja," balasnya dengan nada jenaka.
"Tunggu saja di sini. Dia akan kesal kalau kau mengganggunya sekarang," balas Laszlo tanpa mau repot menanggapi tingkah Samuel yang menurutnya aneh. Walau ia tak bisa bertindak sebagai mak comblang untuk Kaizen, ia rasa sepertinya ini akan cukup membantu temannya itu.
"Apa? Kalian sedang membicarakan sesuatu yang jelek tentangku?" Kaizen tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka membuat Laszlo menatapnya kaget sekaligus heran. "Hei! Aku tak menyangka ternyata kau suka membicarakan aku yang jelek-jelek di belakangku," gerutu Kaizen tak percaya.
Laszlo memutar bola matanya malas. Ia memilih diam dan tak menanggapi gerutuan tak masuk akal Kaizen. Ia menatap pemuda itu kaget bukan karena tengah membicarakan pemuda itu dengan jelek, melainkan kaget mengapa pemuda itu ada di kelas padahal pujaan hatinya sedang mencarinya.
"Hei, Kai! Aku ada berita bagus buatmu," seru Samuel tak mengacuhkan kekecewaan tak masuk akal Kaizen.
Tampang kecewa itu langsung berganti penasaran. "Apa itu, Sam?" tanya Kaizen antusias, bahkan pemuda itu tanpa sadar melompat kecil.
"Kau ingat pegunungan di bagian utara yang sangat ingin kau kunjungi itu? Saat aku mengajukan proposal agar kita mengadakan liburan ujian ke sana, itu langsung disetujui oleh pihak sekolah," teriak Samuel dengan suara tertahan.
Binar-binar senang memancar dari wajah manis serta nakal milik Kaizen. "Wah! Sungguh? Apa itu akan menjadi tempat tujuan kita setelah ujian berakhir? Ini pasti akan sangat menyenangkan!" seru Kaizen senang. Ia mengalihkan pandangannya pada Laszlo yang terlihat biasa saja dan menyenggol lengan Laszlo penuh semangat. "Hei! Las, kau dengar itu?"
Laszlo hanya mengangguk singkat. "Bukan saatnya kau begini, bodoh! Kau sudah melewatkan sesuatu yang amat sangat penting," lirih pemuda itu dengan suara yang amat kecil.
Merasa Laszlo seperti sudah berbicara sesuatu, tetapi ia tak dapat menangkap satu kata pun. Kaizen memusatkan perhatiannya secara penuh pada Laszlo dengan tatapan penuh tanya. "Apa kau mengatakan sesuatu tadi, Las?"
Laszlo hanya menggeleng pelan. "Aku tak mengatakan apa pun," kilahnya tenang. Laszlo menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan-menahan diri agar tak memaki temannya bodoh lagi.
-----------
682.17112021
Yuhu! Apa kabar kalian? Semoga baik, ya.
Jangan lupa jaga kesehatan
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top