17
"Davin, siapkan pasukan!" Nathan bangkit dari duduknya dan segera menyambar jubah hitam serta baju jirahnya. Sementara itu, Davin memandang tuannya dengan pandangan heran. Saat Nathan hampir selesai memakai jubahnya dan menyadari Davin masih di sana sembari menatapnya heran, ia berbalik. "Davin? Kau dengar ucapanku tadi?" tanyanya membuat Davin tersadar dari kebingungannya.
"Ya? Maksud, Tuan?" Davin bukannya ingin bersikap tak sopan dengan meminta tuannya mengulang perintahnya dua kali. Ia hanya ingin memastikan penglihatan serta pendengarannya tak salah.
Nathan menghela napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan. "Kita akan menyerang mereka. Jika kita diam saja di sini dan menunggu untuk diserbu, pasukan kita akan berkurang banyak nantinya karena saat mereka menyerang nantinya mereka pasti sudah dengan persiapan penuh. Sebaiknya untuk mengurangi korban jiwa di pihak kita, kita lebih dulu menyerang saja. Jadi, siapkan pasukan!" jelasnya tenang.
Davin menggeleng pelan, lalu mengangguk patuh. "Ya, Tuan. Saya mengerti." Davin pun keluar untuk menyiapkan pasukan seperti yang diperintahkan tuannya. Ia meminta para prajurit berkuda untuk bersiap dengan senjata penuh dan mengomando para pemanah untuk menyiapkan anak panah yang banyak serta bersiap di posisi mereka masing-masing. Tak lupa, ia juga mengonfirimasi pada ketua penyihir untuk menyiapkan pasukannya untuk penyerangan kali ini.
"Tuan, semua telah disiapkan," lapor Davin setelah menyelesaikan tugasnya. Nathan mengangguk, lalu memerintahkan pada Davin agar meminta semua pemimpin pasukan berkumpul untuk membahas strategi yang akan mereka laksanakan hari ini.
**********
Kaizen menoleh dan menatap Laszlo dengan gugup. "Hah? A-apa? Aku melakukan apa memangnya?" racaunya tanpa bisa menyembunyikan kegugupannya. Pemuda itu bahkan menolak untuk melihat wajah Laszlo.
Laszlo menghela napas panjang. "Kalau memang kau ingin merahasiakannya, aku tak masalah, kok," ujarnya menyerah karena tak ingin membuat Kaizen merasa tak nyaman dengannya. "Aku hanya berharap yang kau lakukan itu bukan sesuatu yang berbahaya. Untuk sekarang, lebih baik kau tidur saja. Aku yakin kau masih mengantuk," lanjutnya lagi, lalu keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.
Di belakang, Kaizen mengekorinya dengan tatapan tak enak. "Hei, Las," panggilnya pelan. Laszlo bisa menangkap rasa sungkan dari panggilan tersebut.
Pemuda itu menoleh dan tersenyum kecil. "Ah! Maaf. Kau pasti lapar. Makan, lalu tidurlah. Ambil sendiri! Jangan manja!" ujarnya santai sembari menyendokkan nasi dari rice cooker ke piringnya.
Kaizen tersenyum lega melihat Laszlo tak tersinggung sama sekali dengan kelakuannya beberapa saat yang lalu. Ia pun mengekori Laszlo dengan semangat dan bertingkah seolah tak terjadi apa pun sebelumnya. Pemuda itu makan dengan lahap sembari memuji kemampuan memasak Emily-yang menurut pemuda itu-tak ada tandingannya.
Laszlo hanya tersenyum kecil menanggapi ocehan bernada riang milik Kaizen. Ia bersyukur Kaizen tak menjadi canggung dengannya akibat pertanyaannya tadi. "Bagaimana hubunganmu dengan Yuri?" Laszlo menanyakan hal yang tiba-tiba terlintas di pikirannya, walau ia tak sepenuhnya penasaran.
Tangan yang sedang menggenggam sendok itu melemas hingga sendok tersebut terjatuk dengan suara "klang" yang keras. Saat Laszlo menatap wajah Kaizen, ia bisa melihat wajah itu merah padam bahkan hingga ke telinga dan leher. "A-ap-apa yang ka-kau maksud?" gagapnya sembari mendengkus kasar.
Laszlo terdiam melihat reaksi Kaizen yang malu-malu itu. Rasa geli menggelitik perutnya hingga ia pun tak kuasa untuk menahan tawa kecilnya menyembur keluar. "Persis seperti pertanyaanku barusan, Kai," ujarnya setenang mungkin berusaha tak terpengaruh oleh kegugupan Kaizen.
Kaizen membuang muka, lalu meneguk airnya rakus. "Apa?" tukasnya, entah kenapa terdengar lebih ke malu daripada kesal.
Laszlo tak dapat lagi menahan tawanya agar tak meledak. Melihat reaksi Kaizen yang menurutnya sangat lucu. "Aku sedang bertanya padamu tuan, Kaizen Claude," ujarnya membuat air mukanya setenang mungkin. "Bagaimana hubunganmu dengan Nona Yuri Blaze? Apa hubungan kalian mengalami kemajuan?" ulang Laszlo. Kali ini, di setiap kata yang disemburkan terselip sedikit nada penasaran.
"Tidak tahu. Aku tak mengerti apa maksudmu," balas Kaizen sambil bangkit dari duduknya. Ia mengangkat piringnya yang sudah kosong dan langsung berjalan menuju wastafel. Dengan harapan Laszlo tak tahu bahwa ia sedang salah tingkah, tetapi harapan tersebut adalah harapan yang sia-sia.
Laszlo menghela napas panjang. "Ah! Kau sama sekali tak bisa berbohong, Kai. Dan kau tahu itu dengan jelas," ujar Laszlo pelan sembari berharap temannya itu menyerah untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Kaizen berbalik setelah menyelesaikan cuciannya. "Kemarikan," pintanya pada Laszlo yang sudah selesai makan. Laszlo menuruti itu dan memberikan piring kosongnya pada Kaizen-malas melewati sesi berdebat dengan pemuda itu.
"Jadi?" desak Laszlo. Ia mulai merasakan keseruan saat menggoda Kaizen dan ia tak bisa menghentikan hal itu sama sekali.
Kaizen memutar bola matanya malas. "Apa maksudmu dengan jadi?" Kaizen berbalik dan bersidekap menatap Laszlo dengan pandangan tak senang.
Laszlo mengembuskan napas panjang. "Kau paham maksudku, Kai. Kau belum menjawab pertanyaanku," balasnya tak mau menyerah.
"Tidak ada apa-apa. Kau tahu sendiri kalau dia tak tertarik padaku, tapi tertarik padamu," balas Kaizen. Laszlo bisa menangkap nada tak senang dari setiap lontaran kata Kaizen walau pemuda itu berusaha tak menunjukkannya.
Kaizen menghela napas lelah. "Maaf. Aku tahu itu bukan salahmu," desah pemuda itu merasa bersalah karena sudah satu menit penuh Laszlo tak memberikan reaksi apa pun padanya. Ia tahu dengan jelas bahwa jika ada gadis yang menyukai Laszlo, itu bukanlah salah Laszlo. Laszlo bukanlah pemuda yang senang tebar pesona di sana-sini. Bahkan pemuda itu lebih senang menghindari para wanita karena menurutnya itu merepotkan.
------------
847.13112021
Ayeyyyy...
Kayaknya makin gak jelas aja ini cerita mau dibawa ke mana..
Wkwkwkwkwk
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top