16

Nathan membentangkan peta yang telah ditandai dengan tiga warna berbeda; warna hitam untuk posisinya, warna merah untuk posisi klan Fuo, dan biru untuk klan Qua. Awalnya, ada 4 warna yang menghiasi peta tersebut. Namun, warna coklat-untuk klan Trae-telah disingkirkan setelah kematian Diego. Ia cukup yakin bahwa klan Trae tak akan melakukan perlawanan lagi sebab prajurit yang sebelumnya dibawa oleh Diego merupakan prajurit dari klan Trae dan sudah hampir semua-sisa satu orang-gugur di perang yang lalu.

Nathan mengetuk-ngetukkan jemarinya secara konsisten di atas peta. Alisnya menukik diikuti dengan kening yang terlipat tanda sedang berpikir keras. Wajahnya mengeras saat mengingat bagaimana orang-orangnya gugur di perang yang lalu.

Tangannya mengepal kuat. Di hadapannya, Davin menatapnya dengan sorot khawatir. "Tuan?" panggil ajudannya pelan.

Nathan mengangkat wajahnya dan menatap Davin tenang. "Katakanlah, Davin. Jangan ragu! Kau itu temanku, bukan bawahanku," ujarnya lelah. Benar. Itu yang dirasakannya. Davin adalah temannya, bukan bawahannya. Walau Davin sudah bersumpah setia untuk menjadi pedangnya dan akan selalu melindunginya beserta keturunannya. Akan tetapi, sampai kapan pun, ia akan tetap menganggap Davin adalah temannya.

"Apa yang akan Tuan rencanakan selanjutnya?" tanya Davin hati-hati. Nadanya pelan dan penuh dengan pertimbangan.

Nathan terdiam selama beberapa sekon sebelum menjawab. Pandangannya menerawang. "Kita sudah terlalu jauh untuk berhenti, Davin. Kita akan melawan, itu yang mereka inginkan. Usahakan agar orang-orang kita tak banyak yang gugur. Keselamatan kita lebih penting," ujarnya pelan.

Davin mengambil posisi siap. "Baik, Tuan. Saya mengerti," jawabnya patuh.

*********

"Bagaimana?" tanya Laszlo pada Kaizen yang baru kembali dari ruang guru.

Bahu Kaizen merosot turun. Wajahnya terlihat lelah, bawah mata pemuda itu menghitam. Laszlo meringis kecil saat mata lelah itu menatapnya dengan tatapan kau-sungguh-sungguh-bertanya-tentang-itu-sekarang.

"Maaf," ringis Laszlo sembari mengangkat kedua tangannya ke atas. "Tidurlah. Akan kubangunkan kau bila Mrs. Brown datang," lanjutnya sembari mempersilakan temannya untuk tidur sejenak.

Tanpa banyak bantahan, Kaizen mengempaskan bokongnya ke atas bangku dan langsung menelungkupkan wajahnya di atas meja. Laszlo memperhatikan temannya dalam diam.

Ia agak heran mengapa temannya yang hanya menyalin semua yang sudah dikerjakan dengan rapi itu malah tak tidur sama sekali. Sebenarnya, apa yang tadi malam Kaizen lakukan sehingga tak tidur semalaman? Entahlah, ia rasa, jika Kaizen ingin bercerita, pemuda itu pasti akan mengatakannya. Setidaknya sekarang ia harus memberikan temannya itu waktu untuk istirahat.

Lengan Laszlo bergerak ragu, ingin rasanya ia menyenggol Kaizen agar terbangun. Namun, ia merasa tak tega jika harus melihat wajah lusuh itu terangkat tinggi sembari memaksakan diri untuk mendengarkan penjelasan Mrs. Brown yang pasti tak akan bisa ia mengerti. Setelah melewati berbagai pertimbangan, akhirnya Laszlo mengurungkan niatnya untuk membangunkan Kaizen.

Mrs. Brown meminta pada mereka untuk membuka buku teks halaman 34. Kemudian menjelaskan mengenai berbagai macam reaksi kimia yang diikuti oleh sebagian besar murid dengan tatapan kosong. Tanpa terasa, tiga puluh menit pun berlalu. Dan Mrs. Brown pun menyadari bahwa ada salah seorang muridnya sedari tadi tak mendengarkan penjelasannya dan malah tidur.

Mrs. Brown menghentikan penjelasannya dan menolehkan kepalanya pada barisan paling belakang-tempat Laszlo dan Kaizen berada. "Mr. Claude!" Walau suaranya pelan, terselip nada jengkel yang jelas di suaranya. Walau terpasang senyum manis di wajahnya, siapapun bisa merasakan rasa kesal dari wanita itu.

"Maaf, Mrs. Brown," sela Laszlo sopan sebelum wanita itu mengamuk besar. Setelah mendapatkan perhatian penuh dari Mrs. Brown, Laszlo melanjukan, "Kaizen Claude sedang tak enak badan, Mrs. Tadinya saya sudah menyarankannya untuk pergi ke ruang kesehatan saja, tapi dia menolaknya."

Mrs. Brown terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Lain kali suruh dia ke ruang kesehatan saja. Saya tak ingin dicap sebagai guru yang tak berperasaan," ujarnya dengan tenang.

"Baik, Mrs. Brown. Saya paham." Laszlo mengangguk patuh. Ia pun menyenggol lengan Kaizen pelan dan berbisik, "Hei, kawan! Bangunlah! Pelan-pelan. Mrs. Brown sudah di dalam kelas dari setengah jam yang lalu. Aku mengatakan kalau kau sedang sakit."

Kaizen mengikuti perintah Laszlo dengan benar. Ia perlahan menegakkan tubuhnya dan membuat gerakannya selemas mungkin. Ia harus bersyukur karena wajahnya terlihat lusuh saat ini. "Maafkan saya, Mrs. Brown," sesalnya.

Mrs. Brown menghela napas panjang. "Sudahlah! Lupakan saja! Kuharap kau cepat sembuh, Mr. Claude." Mrs. Brown mengalihkan pandangannya ke seluruh kelas. "Kita lanjutkan pelajaran kita saja."

Setelahnya, pelajaran berlangsung dengan tenang dan damai hingga pelajaran terakhir di hari itu. Laszlo dan Kaizen pun pulang bersama. Keduanya sepakat untuk pergi ke rumah Laszlo saja.

"Sebenarnya, apa yang kau lakukan tadi malam hingga kantong matamu begitu hitam dan kau terlihat sangat lusuh?" tanya Laszlo karena sudah tak dapat menahan rasa penasarannya.



----------
738.10112021
Hi! Apa kabar kalian? Semoga sehat ya.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top