19
"Pertahankan barisan!" seru Torin geram melihat pasukannya mulai terdesak mundur dan sisa sedikit. Bahkan para prajurit yang tersisa pun mulai kewalahan menghadapi prajurit musuh. Torin memutar balikkan kuda yang ditungganginya ke arah tenda Michio.
"Dasar pria tua berengsek!" makinya kesal begitu mendapati tenda tersebut kosong melompong. Bahkan seekor semut pun tak dapat ia jumpai. Lantas, ia segera membelokkan ke tenda pasukan Pasoon dan meraung marah.
Di tempat bekas tenda Pasoon terpasang, kini sudah tak tersisa apa pun. Hanya terdapat bekas-bekas kayu bakar yang sudah hangus beserta tanah berlubang bekas pasungan penahan tenda.
Teriakan penuh amarah terdengar menggelegar dari arah utara menarik perhatian Nathan. Ia membawa beberapa prajuritnya dan merangsek ke asal teriakan. Di sana, ia melihat Torin sedang meraung-raung marah.
"Torin? Bisakah kita berdamai saja?" mohon Nathan. Dalam setiap kata yang meluncur dari bibirnya, nada lelahnya terdengar sangat kental.
Torin menundukkan kepalanya dalam. Tahu bahwa ia tak akan bisa menang. "Penggallah aku! Aku menyerahkan nyawaku, tapi tolong kau musnahkan klan Vutoo dan Qua hingga habis tak bersisa. Dan tolong berbelas kasihlah pada klan Trae-ku. Aku mohon. Mereka tak bersalah sama sekali. Mereka hanya sial karena mengikutiku, pemimpin yang bodoh." Torin turun dari kuda dan membungkuk pada Nathan.
"Kau tahu aku tak mau seperti ini, 'kan?" Nathan berseru tak terima.
Torin menggeleng pelan. "Kau harus seperti ini. Kau juga tahu, 'kan?"
Nathan menggeleng tegas. "Tidak, Torin! Aku tak ingin membunuh temanku lagi. Kau berharga bagiku sama seperti rakyat-rakyatku yang lainnya. Kau sudah kuanggap seperti keluargaku."
Torin menggeram. "Bukan waktunya keras kepala, Nathan! Kau harus! Harus! Kau harus membunuhku! Biarkan pemimpin bodoh sepertiku dihukum mati agar rakyatku tak menderita lagi. Biarkan aku bertemu dengan Diego, lalu meminta maaf padanya secara langsung."
Seseorang berdecih pelan. "Kalau kau mati begitu saja seperti ini. Itu akan sangat menyenangkan untukmu. Hidup dan jalani hukumanmu dengan meratapi setiap nyawa yang sudah kau perlakukan dengan sia-sia," geram Davin penuh kebencian.
*****
"Laszlo!"
Kaizen dan Laszlo menoleh ke belakang secara bersamaan. Laszlo langsung memutar bola mata malas saat melihat sesosok gadis putih bermata sipit mendekatinya dengan pipi merona.
Helaan napas panjang diembuskannya dengan berat. "Sebaiknya kau jangan buat kesalahpahaman yang berkepanjangan, Yuri," ujar Laszlo mengingatkan, lalu berbalik dan meninggalkan Yuri yang mematung serta Kaizen yang mendengkus kesal.
Kaizen menahan lengan Laszlo kasar. "Hei! Las! Bukankah kau seharusnya jangan sekasar itu pada Yuri?"
Laszlo menepis tangan Kaizen pelan dari tangannya. "Aku tak sekasar itu. Sebaiknya kalian berdua berbicaralah dari hati ke hati. Jangan melibatkan orang lain di dalam hubungan kalian!" ujarnya malas. Laszlo kemudian menoleh pada Yuri. "Kau juga! Sebaiknya kau jujur saja. Toh orang-orang tidak buta. Hanya temanku saja yang bodoh," ungkapnya membuat wajah kedua insan itu merah padam dalam artian yang berbeda.
Kaizen menggeram kesal. "Las! Sialan kau! Apa maksud dari perkataanmu barusan?"
Laszlo mengentakkan kakinya sebal. Ia malas menjelaskan semuanya secara rinci. "Persis seperti yang aku katakan," ungkapnya tenang. "Pikirkanlah sendiri! Lalu, aku juga sudah berkali-kali memberikan kalian kesempatan. Jika kali ini tidak digunakan dengan baik lagi. Aku tak akan memberikannya lagi," lanjutnya lagi sebelum pergi meninggalkan kedua insan yang salah tingkah itu.
Kaizen menatap Yuri dengan wajah merah padam. "Maaf. Kau tahu? Dia itu sedikit-" Kaizen memutar jari telunjuknya di pelipisnya sendiri hingga membuat Yuri tertawa kecil.
"Tapi aku rasa, dia memang benar, Kai," lirih Yuri pelan sambil menatap Kaizen malu-malu.
Otak Kaizen beku hingga ia hanya bisa menatap Yuri dengan tatapan kosong. "Se-sebentar! Ma-maksudmu apa?"
Yuri sekali lagi terkekeh pelan. Kekehan yang menurut Kaizen merupakan suara yang paling merdu yang pernah Kaizen dengar. Suara yang sangat menenangkan seolah suara dari surga.
Gadis bermata sipit itu tersenyum malu-malu. Wajahnya memerah; ia menunduk dalam. "Berbicara dari hati ke hati," bisiknya pelan-amat sangat pelan hingga Kaizen hampir tak bisa mendengarnya.
Jantung Kaizen berdetam dengan keras setelah berhasil memproses kata-kata yang dibisikkan oleh Yuri. "Ah! I-itu ... ayo," ajaknya linglung.
------------
643.20112021
Yuhuuuu
Kali ini lbh banyak romensnya yak di bagian Las, tp bukan adegan romensnya Las
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top