Bab 9a

VALENDRA

Cahaya terang mengacaukan mimpi indahku. Setelah Ibu tiada, aku sering memimpikan Ibu. Semuanya selalu cantik dan terasa damai. Ibu tersenyum lembut, senyum terbaiknya semasa hidup. Kami mengobrol bersama lalu di akhir pertemuan, Ibu selalu mengulurkan tangan mengajakku ikut. Aku sudah menyambut uluran tangannya, tapi selalu saja ada orang yang menghalangiku ikut. Tidak tahu siapa dia, tapi yang jelas laki-laki.

Ck! Kepalaku sakit. Kalau bukan Chiara mengajak main truth or dare untuk merayakan Tahniah yang baru putus dari pacarnya. Kalau bukan karena Farhana yang menanyakan privasiku sehingga aku malas menjawab yang berakhir aku dihukum minum, tentu aku tidak bakal mabuk.

Tanganku bergerak memijat kepala. Mataku perlahan terbuka. Aku mengerjapkan mata, samar menangkap ada yang berbeda. Plafon rumah Ayah khas Jepang, berbahan kayu dengan rangka kisi-kisi yang rapi, memperlihatkan serat alami yang hangat dan menenangkan. Di beberapa bagian tampak panel tipis berwarna terang yang tersusun simetris, memantulkan cahaya lembut hingga membuat ruangan terasa lapang dan hening. Sedangkan yang kulihat sekarang, lebih megah, bermotif marmer putih berurat halus dengan lis emas yang mengilap di setiap sudutnya, memancarkan kesan dingin sekaligus berkelas. Di tengahnya menggantung lampu kristal besar bergaya chandelier klasik, berlapis-lapis dan berkilauan saat menangkap cahaya. Setiap detailnya terasa mahal dan berlebihan, khas selera lama yang ingin menunjukkan kemewahan tanpa perlu banyak kata.

"Pagi, Mbak."

Aku menoleh mendapati suara asing menyapa. Seorang wanita kira-kira berusia 40 tahun membawa penyedot debu. Dia mengenakan seragam berupa kemeja krem dipadukan celana panjang cokelat tua. Sepatu pantofel cokelat melengkapi penampilannya. Pasti dia yang membuka jendela.

"Saya di mana?" tanyaku.

"Mbak di rumah Keluarga Suvarnapati. Mas Vyan yang bawa ke sini."

Aku mengamati sekeliling lebih detail. Ranjangku king size. Seprai satin berwarna krem membungkus kasur tebal itu dengan rapi, dipenuhi bantal-bantal empuk berlapis sarung halus. Di sisi kanan, berdiri nakas dari kayu gelap mengilap dengan lampu meja berkaki emas dan kap kain yang lembut cahayanya. Tak jauh, lemari besar berpanel ukiran klasik menjulang hampir menyentuh plafon, sementara di dekat jendela tinggi berbingkai tebal, sebuah sofa panjang berlapis beludru dan meja kecil berkaca menambah kesan eksklusif. Lantai marmernya dingin dan berkilau, ditutupi sebagian oleh karpet tebal bermotif elegan yang meredam setiap langkah, membuat ruangan itu terasa sunyi sekaligus mewah.

"Saya Sari, ART di rumah ini." Wanita tadi memperkenalkan diri. "Maaf, Mbak, ada titipan dari Mas Vyan."

Aku duduk bersandar pada headboard untuk mengurangi sakit kepala. Rasanya mau muntah, tapi tidak ada yang dimuntahkan.

Mbak Sari berjalan ke sisi nakas, mengambil amplop cokelat, "Ini," katanya seraya menyerahkan amplop tadi.

Aku mengamati wajah Mbak Sari, masih mengumpulkan kesadaran. Sejurus kemudian membukanya dan terkejut.

"Loh uang? Ini uang apa?"

Jumlahnya setelah dihitung ada Rp. 3.400.000, lumayan.

"Anu," Bahasa tubuh Mbak Sari langsung tidak nyaman. "Kurang tahu, itu titipan Mas Vyan."

Something fishy here. Dia menolongku kenapa malah memberikan uang? Tidak ada pebisnis apalagi yang playboy akan menghamburkan uang begitu saja. Manusia pencuri kesempatan yang selalu mencari keuntungan sepertinya, pastilah penuh perhitungan.

"Orangnya di mana?" Kumasukkan uang itu ke dalam amplop kembali, agak takut menyentuhnya.

"Di atas, lagi berenang."

"Antar saya ke sana."

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top