Bab 9b

VOTE DAN KOMEN YANG BANYAK!

VALENDRA

Rumah kelarga Suvarnapati sangat luas. Sepertinya bisa menampung ratusan pengungsi dari daerah konflik. Aku malah kepikiran bagaimana kalau usaha mereka suatu hari bangkrut lalu tidak mampu membayar ART? Apa iya mereka semua mau bergotong royong membersihkan rumah sebesar ini?

Di rumah Ayah, ada satu ART. Rumah kami tidak besar. Semasa di Korea, aku terbiasa bebersih dan memasak sendiri. Terlebih aku hidup dari uang beasiswa yang mengharuskan hidup hemat. Namun aku yakin Keluarga Suvarnapati beda level. Orang-orang seperti mereka lebih suka menguras energi di gym daripada mengerjakan pekerjaan rumah.

"Sejak Bapak sakit jantung, rumah ini ada lift-nya." Mbak Sari memberikan informasi yang tidak kutanya saat menekan tombol lift. Pintu baja terbuka dan kami dibawa ke lantai lima, lantai teratas rumah ini.

Mbak Sari menjelaskan bahwa lantai ini dikhususkan untuk area relaksasi dan hiburan keluarga, terlihat dari tata ruangnya yang luas dan senyap. Di satu sisi terdapat ruang spa pribadi dengan aroma terapi yang lembut, lengkap dengan sauna dan jacuzzi berlapis marmer, sementara di sisi lain terbentang lounge santai dengan sofa panjang menghadap jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan luar. Tak jauh dari sana, sebuah home theater dengan kursi empuk berderet rapi dan dinding berlapis peredam suara berdiri berdampingan dengan ruang hobi yang dipenuhi rak koleksi dan dekorasi bernilai tinggi. Di ujung koridor, sebuah indoor garden tertata elegan dengan tanaman hijau terawat, menghadirkan suasana tenang yang terasa kontras dengan kemegahan lantai ini. Mbak Sari menunjukkan teleskop yang biasa digunakan untuk meneropong bintang-bintang di malam hari.

"Gym dan kolam renang lewat sini, " Mbak Sari terus berjalan menuju ujung lantai.

Aku berjalan mengikuti Mbak Sari menuju ruangan berpintu kaca hitam.

"Mas Vyan ada di dalam," ucapnya.

Aku mengangguk lagi. "Mbak Sari nggak ikut masuk?"

Mbak Sari menggeleng. "Saya masih banyak pekerjaan."

Kuucapkan terima kasih sebelum mendorong pintu kaca tersebut. Apa yang menyambutku mendefinisikan apa itu kekayaan sesungguhnya. Ruangan gym itu luas dan terang, meski tertutup atap, dindingnya hanya setengah tinggi dan bagian atasnya berupa panel yang bisa dibuka dengan remote, membiarkan udara segar dari taman luar mengalir bebas ke dalam. Deretan alat olahraga berjajar rapi seolah berada di pusat kebugaran eksklusif. Treadmill modern menghadap ke luar, sepeda statis dan spinning bike di sisi lain, elliptical trainer, serta rowing machine yang mengilap. Tak jauh, area angkat beban dipenuhi dumbbell berbagai ukuran, barbell lengkap dengan weight plate, power rack, smith machine, cable crossover, hingga bench press dan adjustable bench. Ada juga leg press, leg extension, leg curl, lat pulldown, hingga mesin chest press dan shoulder press, semuanya tersusun simetris di atas lantai karet tebal yang meredam suara.

Di sisi bersebelahan, kolam renang indoor membentang tenang dengan air sebening kaca, memantulkan cahaya lembut dari lampu di langit-langit. Uap tipis naik perlahan, memberi kesan hangat dan privat, sementara tepian kolam dilapisi batu halus yang dingin saat dipijak. Bukaan dinding yang sama membuat angin membawa aroma taman yang segar, menyusup di antara permukaan air yang sesekali beriak pelan. Beberapa kursi santai dan handuk putih tersusun rapi di pinggir kolam, menambah suasana seperti resort pribadi yang tersembunyi di puncak rumah megah ini.

Vyan tengah berada di dalam kolam, berenang menggunakan gaya kupu-kupu, gaya yang konon katanya paling sulit di antara sekian banyak gaya renang. Setiap kali lengan kokoh itu mengayuh, suara 'byur' keras tercipta.

"Vyan!" panggilku seraya berjalan mengikutinya dari luar kolam. Mataku mengikuti setiap gerakan tubuhnya yang terlatih bergerak ritmis membelah air. Otot bahu dan punggungnya menegang setiap kali dia mengangkat tubuh ke permukaan, lalu jatuh kembali dengan hentakan kuat yang terasa berlebihan di mataku, tipikal laki-laki yang selalu ingin terlihat mengesankan meski tak diminta. Ada disiplin di sana, itu tak bisa kupungkiri, tapi juga semacam kebutuhan untuk menunjukkan dominasi yang terasa melelahkan untuk ditonton. Aku menyilangkan tangan, bersandar ringan, membiarkan pikiranku menilai tanpa simpati, sampai akhirnya dia melambat, meraih tepian kolam, lalu mengangkat dirinya keluar dengan satu dorongan kuat, air menetes dari tubuhnya dan meninggalkan suara sunyi yang tiba-tiba terasa terlalu jelas di ruangan itu.

Vyan mengambil handuk putih, mengeringkan tubuhnya lalu melepas kacamata renangnya. Aku tidak mengikutinya duduk di salah satu sunchair.

"Sudah bangun, Tuan Putri?" tanyanya disertai senyum merayu seekor buaya darat.

"Aku datang ke sini buat ngucapin terima kasih," kataku dengan mata yang masih mengamatinya. Vyan kini menyesap segelas mungkin orange juice. "Tapi aku perlu tahu, ini apa?" Kuangkat amplop cokelat berisi banyak uang.

"Oh itu," katanya masih mengobral senyum, "Bayaran."

"Untuk?"

"Pricelist," dan senyumnya berubah jail.

"Ah..." Aku mengangguk paham. Jadi dia sudah melihat semuanya, termasuk hasil kerja Christopher, temanku di Bali.

"Jadi kamu sudah ngapain saja sampai mengeluarkan uang sebanyak ini?"

Vyan tidak langsung menjawab, melainkan meneguk lagi orange juice-nya perlahan, matanya menatap jauh ke arah kolam yang masih berkilau lembut di bawah cahaya lampu. Cairan oranye itu menetes sedikit di bibirnya sebelum dia meneguknya sekali lagi, seolah menunda jawaban untuk menikmati momen tenang yang tidak biasa dia beri untuk dirinya sendiri. Udara hangat dan aroma segar dari taman indoor menyatu dengan suara air yang perlahan beriak di kolam, menciptakan jeda hening.

"I touched you, ten minutes," Vyan terdiam, menatap mataku dengan intens, tampak mengulur waktu.

"Lalu?"

"I touched your... boobs."

"Hmmm... Sangat sopan sekali," sindirku mendengar pengakuannya yang tidak ada malunya.

"Aku sudah minta orang-orangku bersihin tubuh kamu, tapi mereka nggak berani, takut disuruh bayar."

Aku tertawa. Baru kali ini ada yang menjadi korban. Aku membuat price list bukan untuk jual diri sungguhan, tapi justru menghalangi laki-laki mengambil keuntungan secara gratis dari tubuhku.

"Thank you. Kamu royal banget, soalnya ngasihnya berlebihan."

Vyan menggeleng. "I kissed you, just a tiny peck, not a French kiss."

Aku menatapnya diam sejenak, membiarkan pengakuannya meresap di pikiran tanpa memberi reaksi yang bisa memuaskannya. Seorang womanizer seperti Vyan seringnya memulai hubungan bukan karena perasaan, tapi murni penasaran. Bukannya aku mau bikin dia penasaran lalu mengejar-ngejarku, hanya saja aku tidak mau meng-entertain playboy manapun termasuk dia.

"Oke deh." Aku mengangguk kecil. Berbalik, aku pura-pura tidak ambil pusing soal apa yang terjadi semalam. Bukankah marah juga percuma? Dia bisa berkelit dengan seribu satu macam alasan. Bagusnya aku bikin pricelist sehingga tidak rugi-rugi ama. Bayangkan perempuan lain yang jadi korban pelecehan saat tidak sadarkan diri tapi juga tidak mendapatkan bayaran. Setidaknya nasibku lebih baik dari banyak perempuan walau yang kuterima tetaplah sebuah pelecehan. Tindakannya justru semakin menjelaskan bahwa di dunia ini, perempuan tidak aman. Dan siapa yang menjadi ancaman? Jelas laki-laki.

"By the way, nyari sarapan di mana ya? Aku lapar," kataku hampir menyentuh pintu kaca hitam.

Reaksi Vyan yang terkaget-kaget sungguh menghibur. Dia langsung bangkit dari sunchair, meletakkan gelas jus jeruknya lalu berjalan menghampiriku.

"Seriously, Valendra? Don't you want to slap me?"

Tentu saja bukan cuma ingin menamparnya, kalau bisa aku ingin membunuhnya detik ini juga. Namun berurusan denga orang kaya, pastinya akan berakhir sia-sia. Aku memilih menghemat tenaga, waktu dan uang.

"Buat apa? Udah ditolong, dikasih uang lagi. Masa marah-marah?" jawabku santai.

Vyan tampak tidak percaya. Dia menyentuh tanganku ketika aku berbalik untuk pergi.

"You touch, you pay," kataku dan Vyan langsung mengangkat tangannya.

"Kamu nggak marah? Aku laki-laki, aku lihat tubuhmu, aku sentuh kamu, dan aku cium kamu."

Aku meliriknya sinis, "Well, at least kamu bayar dan nggak korupsi."

Mulut Vyan terbuka seperti ikan mas koki. Jelek sekali.

"Kalau semua hal bisa kamu ubah jadi transaksi, terus apa yang benar-benar kamu anggap berarti, Valendra?" tanyanya pelan.

Tatapannya yang biasanya ringan dan penuh permainan kini tertahan lebih lama di wajahku, alisnya sedikit berkerut, seperti seseorang yang baru saja menyadari ada aturan yang tidak bisa dia baca dengan mudah. Jari-jarinya sempat bergerak kecil, seolah ingin memastikan aku tidak benar-benar pergi, tapi egonya menahan gerakan itu tetap setengah jalan. Napasnya belum sepenuhnya stabil, naik turun pelan, sementara rahangnya mengeras samar, bukan marah, melainkan frustrasi yang ditahan, karena untuk pertama kalinya, reaksiku tidak memberinya posisi menang ataupun kalah, hanya ruang kosong yang tidak bisa dia kendalikan.

Menarik, aku betah membahas ini tiga hari tiga malam.

"Jadi menurut kamu, segala hal baru dianggap berarti kalau diberikan secara gratis?" tanyaku.

"Aku nggak bilang begitu, tapi..."

Aku berjalan mendekat, membatalkan niat mencari sarapan. Aku tidak akan melewatkan mengedukasi playboy sok pintar ini. Daripada sunchair, aku lebih suka duduk di tepi kolam, memasukkan kakiku ke dalam air. Ternyata ini kolam air hangat.

"Maaf, jangan tersinggung, tapi aku mau tahu apa kamu jual diri?" tanya Vyan ikut duduk di sebelahku.

"Menyewakan diri lebih tepatnya. Dan kamu klien pertama."

"Artinya kamu masih..."

"Virgin? Yes, I am."

Vyan tidak bisa berkata-kata selama beberapa saat. Hanya hening yang menjadi latar musik. Dia menatapku sarat rasa ingin tahu.

"Tapi kenapa, Valendra? Kamu nggak kekurangan uang." Ketika pertanyaan itu meluncur, aku sudah siap dengan jawaban. Aku sudah berlatih ini jauh-jauh hari sebagai antisipasi selama bertahun-tahun.

"Kamu tahu, banyak laki-laki memanipulasi perempuan. Kalau cinta, berikanlah dirimu secara gratis seutuhnya atau dengan mahar murah tetapi laki-laki mendapatkan segalanya. Ketika pacaran, perempuan rela mencium gratis, memeluk gratis, menghibur gratis, jadi terapis gratis, bahkan seks pun gratis. Ketika nanti menikah, dapat mahar seadanya tapi dituntut masak gratis, nyuci gratis, merawat suami gratis, hamil gratis, melahirkan gratis padahal tubuh perempuan rusak. Kamu tahu nggak, laki-laki rela keluar uang untuk makan di restoran tapi nggak mau keluar uang untuk bayar masakan istrinya. Rela keluar uang untuk biaya laundry, untuk bayar ART, tapi nggak rela keluar uang untuk membayar jasa istrinya, rela bayar jasa pijat plus-plus, tapi dipijat, lalu seks dengan istrinya mereka menolak membayar padahal dulu kasih mahar berapa sih? Ada lima miliar? Kamu tahu nggak, jasa surrogate mother di Amerika itu satu sampai dua miliar. Tapi istri dipaksa melakukan itu semua tanpa bayaran. Ya aku sih nggak mau."

"Wow...." Vyan ternganga. Penjelasanku seperti memukul sesuatu yang tak terlihat di dalam dirinya. Aku bisa melihatnya dari cara bahunya yang semula tegak perlahan turun, bukan santai, tapi seperti kehilangan pijakan, sementara tatapannya tak lagi mencoba membaca atau menantang, melainkan tertahan di wajahku dengan fokus yang terlalu lama untuk sekadar penasaran. Bibirnya sedikit terbuka seolah ingin menyela, tetapi tidak ada kata yang keluar, dan untuk pertama kalinya sejak aku melihatnya, Vyan tampak tidak punya skrip, tidak ada senyum miring, tidak ada permainan, hanya jeda panjang yang canggung di tubuh seseorang yang terbiasa selalu memegang kendali. Tangannya yang tadi sempat aktif kini diam di atas pahanya, jari-jarinya kaku, seakan bahkan sentuhan kecil pun bisa mengganggu sesuatu yang sedang dia cerna dengan susah payah, sementara napasnya berubah lebih dalam dan lambat, bukan karena tenang, tapi karena dia sedang menahan sesuatu yang tidak dia mengerti bagaimana cara meresponsnya.

"Dari mana kamu dapat pemikiran seperti itu?" tanya Vyan.

Aku mengetuk-ngetuk pelipisku. "I'm smart."

"Jadi menurutmu, perempuan yang mau melakukan itu secara gratis let's say karena perannya sebagai istri, itu tidak smart?"

"Kamu tahu berapa IQ rata-rata orang Korea Selatan? 106 sampai 107. Sedangkan IQ rata-rata orang di negara kita berapa? Studi Lynn and Becker tahun 2019 menempatkan Indonesia dengan rata-rata IQ 78.49. Makanya perempuan Korea Selatan sekarang banyak banget yang malas menikah dan malas punya anak karena mereka menyadari peran sebagai istri dan ibu sangat tidak menguntungkan untuk perempuan. Data speaks, aku nggak akan berdebat soal itu."

Aku hendak berdiri untuk menyudahi perdebatan ini, tapi tampaknya Vyan belum puas.

"Tunggu, duduk dulu. Jelaskan lagi," katanya seperti ada yang mengganggu pikirannya. "Kamu pernah kepikiran nggak kalau semua perempuan berpikiran seperti itu, maka populasi manusia akan punah?"

"Dan keluarga kamu nggak bisa jadi keluarga kaya yang memiliki semua kemewahan ini?" tanyaku tajam.

"What?"

"Kalau penduduk Indonesia bahkan bumi ini sedikit, siapa yang mau beli barang dan jasa? Kamu kira siapa yang beli produk Microsoft sehingga Bill Gates menempati daftar orang terkaya selama bertahun-tahun? Biawak?"

Vyan tidak mendebatku, tapi menatapku dengan mata yang tampak sibuk memproses semua kata-kataku.

"Vyan, kamu bisa menikmati kemewahan ini karena ada jutaan orang yang membeli produk dan jasa keluargamu. Kekayaan besar sering lahir dari akumulasi konsumsi dalam skala luas. Dari banyak orang, bukan hanya segelintir."

"Jadi kamu nggak mau punya anak karena nggak mau bikin orang kaya semakin kaya?" tebaknya.

Aku tersenyum sinis, tentu bukan cuma itu masalahnya. Bukankah sudah kubilang prempuan itu dirugikan dalam hubungan asmara? Aku memiringkan kepala, membiarkan pikiranku menyusun pola yang selama ini terlalu sering diabaikan orang lain. Bukan hal baru, hanya sesuatu yang jarang dilihat dengan jujur tentang bagaimana peran, pilihan, dan ekspektasi dibentuk seolah alami, padahal sebenarnya menguntungkan pihak tertentu. Banyak orang menerimanya tanpa bertanya, tanpa benar-benar menghitung siapa yang memberi dan siapa yang paling banyak mengambil. Dan justru di situlah letak masalahnya.

"Kamu tahu siapa yang paling diuntungkan dengan seorang perempuan menjadi istri dan ibu?"

"Laki-laki?" tebak Vyan.

Aku mengangguk, "Iya sih kalau laki-lakinya miskin. Dia bakal dapat pembantu dan jasa seks gratis. Tapi mereka tetap dapat beban membiayai anak itu kan. Yang paling untung adalah negara."

"What?" Mata Vyan membola, "How come?"

"Kamu tahu gimana China yang dari negara miskin sekarang jadi super power menyaingi Amerika? Mereka nawarin pengusaha Eropa dan Amerika buat bikin pabrik di negaranya. Nawarin penduduk yang melimpah dan tenaga kerja murah. Kalau satu orang bikin ulah, tinggal cut, ganti yang baru. Akhirnya banyak perusahaan asing berdiri di China. Negara dapat pemasukan berupa pajak."

Aku membiarkan kata-kataku menggantung tanpa buru-buru menutupnya, membiarkan udara hangat dari kolam mengambil alih suasana yang tadi sempat terasa tajam. Kaki yang terendam air bergerak pelan, menciptakan riak kecil yang berulang dan menenangkan, seolah percakapan barusan hanya bagian dari sesuatu yang lewat, bukan sesuatu yang harus diselesaikan. Di titik itu, aku tidak lagi tertarik menang atau membuktikan apa pun. Ada jeda yang justru terasa lebih nyaman daripada debat panjang yang tidak akan pernah benar-benar selesai.

Vyan di sebelahku tidak langsung bereaksi, dan untuk sekali ini, aku tidak merasa perlu mendorongnya. Keheningan di antara kami tidak lagi canggung, melainkan seperti ruang bernapas yang perlahan menurunkan suhu dari panasnya pertukaran pikiran tadi. Aku menyandarkan sedikit berat tubuhku ke belakang, telapak tangan menahan di tepi kolam yang dingin, kontras dengan air hangat yang membungkus kakiku, menciptakan sensasi seimbang yang anehnya menenangkan.

Pikiranku sendiri mulai melambat, tidak lagi setajam sebelumnya, lebih seperti aliran yang mengalir tanpa perlu diarahkan. Aku sempat melirik pantulan cahaya di permukaan air, memecah bentuk kami menjadi bayangan yang samar dan tidak utuh, dan entah kenapa itu terasa pas, tidak semua hal perlu jelas, tidak semua harus didefinisikan sekarang.

"Dan pihak yang paling dirugikan dari pernikahan dan punya anak adalah perempuan?" Vyan mengambil kesimpulan sendiri.

"Yes," aku mengiyakan. "Kamu bisa cek, penderita osteoporosis paling banyak adalah perempuan, terutama perempuan yang pernah hamil dan melahirkan. Bayangin kalau seorang suami miskin, nggak punya uang, nggak bisa kasih pemenuhan gizi buat istrinya selama hamil, maka bayi akan mengambil zat pembentuk tulangnya dari ibu. Nggak hanya tulang, ibu hamil pun mengalami kerontokan rambut. Nggak cuma itu. Kamu tahu proses melahirkan sangat menyakitkan. Batas vagina dan anus bisa digunting supaya kepala bayi bisa keluar. Kalau operasi Caesar pun, jarum epidural yang dipakai gede banget dan sakit pastinya. Belum lagi risiko kematian karena pendarahan. Placenta Previa, misalnya. Lalu pre-eklamsia. Ada temanku meninggal setelah gagal ginjal dan cuci darah karena pre-eklamsia. Makanya kalau dibilang anak harus berbakti sama ibunya, aku bilang salah sih. Yang paling harus berbakti dan dimintai ganti rugi atas kerusakan tubuh perempuan selama hamil dan melahirkan adalah negara."

"Makanya kamu minta bayaran setinggi itu untuk berhubungan seks, hamil, dan melahirkan?" tanya Vyan.

"Yes," Aku mengetuk kepalaku lagi. "That's what being smart looks like."

"Kamu..."

"Vyan, dengerin lagunya Paris Paloma yang judulnya Labor deh. Itu udah gambarin banget kok perempuan dirugikan oleh hubungan asmara. Banyak perempuan merasa rugi pacaran lama tapi nggak jadi nikah, padahal mereka nggak tahu kalau menikah dan jadi istri, jauh lebih merugikan daripada pacaran."

Bagiku ini bukan soal membenci laki-laki atau menolak kedekatan, tapi soal menghitung dengan jujur apa yang selama ini selalu ditutupi dengan kata-kata manis. Terlalu banyak perempuan diajarkan untuk memberi tanpa menghitung, sementara dunia di sekelilingnya terus mengambil tanpa merasa berutang. Aku tidak tertarik jadi bagian dari pola itu. Kalau sesuatu memang tidak seimbang sejak awal, buat apa dipaksakan terlihat indah? Lebih baik aku berdiri sendiri, dengan semua konsekuensinya, daripada masuk ke sistem yang dari awal sudah jelas tidak dirancang untuk menguntungkanku.

Vyan mengalihkan pandangan ke depan, ke arah langit biru yang bebas. "Kamu kedengeran seperti orang yang benci laki-laki. Apa karena Ayah kamu?"

Aku membalas pertanyaannya dengan senyum, "Pasti aku ngoceh yang bukan-bukan ya? Udah biasa."

"Biasa kalau kamu mabuk?"

Aku mengangguk. "Tapi aku jarang minum, semalam ada perayaan kecil."

"Truth or dare? Dan kamu menolak jujur?"

"Masalahnya bukan aku yang nggak jujur, masalahnya mereka yang nggak percaya aku. Mereka mikirnya aku pernah patah hati, ditolak cowok, or something like that Makanya aku jadi kelihatan nggak butuh cowok."

Vyan menoleh, menatapku dengan matanya yang teduh. Tatapan itu tidak seperti yang biasa kutemui. Tidak menghakimi, tidak juga meremehkan, justru terlalu tenang, seolah dia benar-benar mendengar tanpa buru-buru menyimpulkan. Itu aneh. Sedikit mengganggu, bahkan. Untuk sesaat, pikiranku seperti kehilangan ritme, tidak menemukan celah untuk langsung mematahkan atau menolak. Bukan karena aku berubah pikiran, jelas tidak. Tapi ada jeda kecil yang tidak biasa, seperti retakan halus di dinding yang selama ini berdiri rapi dalam kepalaku. Dan aku tidak suka kenyataan bahwa hanya dengan satu tatapan, dia bisa membuatku berhenti sejenak.

"Memangnya kamu butuh cowok?" tanyanya.

"Ya," aku mengangguk. "Tapi buat dipekerjakan, bukan sebagai pasangan."

Vyan mendengus geli. "What?"

"Siapa yang jadi kapten kapal dan kru kapal kargo? Laki-laki. Mereka yang memungkinkan aku pakai barang-barang impor. Siapa yang jadi nelayan, pemadam kebakaran, pilot, kuli bangunan, tukang listrik? Mayoritas pekerjaan berbahaya dilakukan laki-laki. Aku nggak menuntut perempuan harus diberikan lapangan kerja yang sama. Kasihan, nanti kecelakaan kerja. Biarlah laki-laki saja. Makanya aku tetap butuh laki-laki sebelum peran mereka digantikan AI suatu hari nanti. Untuk apa? Untuk mempermudah hidupku."

Vyan tidak langsung menyanggah. Justru sudut bibirnya terangkat tipis, bukan mengejek, lebih seperti menemukan sesuatu yang menarik untuk dimainkan. Cara dia memandangku berubah, bukan lagi sekadar melihat perempuan yang bisa dia goda, tapi seperti sedang membaca teka-teki yang tidak biasa. Ada kilat ringan di matanya, tanda pikirannya bekerja cepat, menimbang, menghubungkan, mungkin juga menantang. Bukannya tersinggung, dia justru terlihat hidup, seolah argumenku barusan memberinya hiburan baru yang lebih seru daripada semua hal yang biasa dia kuasai. Dan yang paling mengganggu, dia tidak terlihat ingin menang... dia terlihat ingin terus bermain.

"Val," Vyan yang tadi tampak merenung sekarang seperti berani mengungkapkan pikirannya, "Kamu pernah kepikiran nggak kalau misalnya laki-laki kepikiran hal yang sama, apa yang akan terjadi?"

"Jelasin," kataku.

"Kalau laki-laki mikir, 'buat apa menikah, harus nafkahin anak-istri.' Kayak gitu contohnya. Apa yang akan terjadi?"

"Bukannya banyak laki-laki yang mikir gitu, makanya perempuan juga kerja cari duit? Tapi perempuan tuh bisa semuanya sih. Hamil bisa, melahirkan bisa, jadi professor bisa, kerja bisa," kataku bangga.

"Tetap aja angkat galon nyari laki-laki juga." Vyan tersenyum geli.

"Beli dong dispenser yang galonnya di bawah, atau beli pompa portabel. Jangan kayak orang susah. Lagian kalau aku daripada jadi istri yang masak gratis, nyuci gratis, bersih-bersih gratis, mending jadi TKW di Dubai sih."

Vyan tidak langsung menanggapi. Pandangannya tertahan padaku, bukan dengan sorot menggoda seperti biasa, melainkan lebih dalam, seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang tidak bisa dia kategorikan dengan mudah. Sudut bibirnya sempat terangkat, refleks lama yang nyaris muncul, tapi batal sebelum benar-benar jadi senyum. Dia mengusap tengkuknya pelan, napasnya keluar lebih berat dari yang seharusnya, sementara pikirannya berputar cepat, mencoba membedah setiap argumen yang barusan menghantam tanpa permisi.

"I love your brain," katanya.

"Not my body?" sindirku.

Vyan hanya menggeleng ringan disertai senyuman. Pikiran laki-laki seperti dia sangat bisa ditebak.

"Senang ngobrol sama kamu," kataku. "Pengen lebih lama, sayangnya aku lapar."

Aku berdiri karena perutku keroncongan. Kuulurkan tangan ketika Vyan ikut berdiri.

"So... Friends?" tanyaku.

Vyan mengangguk, menyambut uluran tanganku. "Sure..." Dia tatap mataku agak lama. "Friends."

Tangan kami pun berjabatan hangat.

***

Ada bab yang nggak diposting di Wattpad, yakni bab 8b. SIlakan ke Karyakarsa Belladonnatossici

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top