Bab 8a

Vote dan komen yang banyak.

VYAN

Waktu Valendra membalik argumen soal bunga kantong semar, aku sempat menahan senyum. Cara berpikirnya terlalu cepat untuk ukuran kebanyakan perempuan yang biasa mengelilingiku. Sinisnya pas, tajamnya terasa. Ada sesuatu di kepalanya yang bekerja tanpa ragu, tanpa basa-basi. Menarik. Tapi sekarang, melihat dia setengah hilang kendali karena ulah Tahniah, Farhana, dan Chiara, penilaianku ikut bergeser. Kenapa dia tidak menolak dari awal?

Di sisi lain, Adam, Ganesh, dan Reza sudah lebih dulu turun ke dance floor, ritual klasik yang terlalu sering kulihat. Sibuk tebar pesona, berburu perhatian, memilih target. Sementara itu, lingkaran pertemanan Valendra justru tenggelam dalam euforia mereka sendiri, meninggalkannya sendirian di sofa, tubuhnya merosot, kesadarannya nyaris habis. Lucu juga. Di tempat seperti ini, yang paling tajam justru sering jadi yang paling lengah.

"You mau apa?" Alvin yang stay denganku di sofa, menahan lenganku.

"Mau bawa Valendra pulang."

"Jangan cari penyakit," Alvin memperingatkan. "Dia anaknya Dokter Basri Gunawan."

"Lo pikir gue mau ngapain?"

"I bisa baca pikiran you. Muka you ada subtitle-nya."

Lampu klub memantul di wajah Valendra yang pucat, kontras dengan gelas-gelas kosong di meja dan tawa orang-orang yang tak lagi peduli siapa yang tersisa di sudut ruangan. Ada sesuatu yang terasa tidak sinkron. Perempuan dengan kepala setajam itu justru membiarkan dirinya larut sampai kehilangan kendali. Bukan karena dia lemah, tapi karena untuk sekali ini dia memilih tidak melawan. Dan pilihan itu, membuatku jauh lebih terganggu daripada semua argumen dinginnya tadi siang.

"Minggir." Aku menepis tangan Alvin dan berdiri.

Aku turun dari lounge menuju lantai bawah tempat Valendra meringkuk tidak sadarkan diri. Selama beberapa saat aku berdiri di depan sofa, sibuk berpikir kenapa Valendra bisa masuk ke circle Chiara and the gank. Aku menajamkan fokus kepada teman-teman Valendra di dance floor. Farhana sudah menari berpelukan dengan Reza, Tahniah ciuman dengan Adam, sementara Chiara cukup tahu diri dengan mencari meja sosialita sesama wanita. Tidak ada satu pun yang ingat pada Valendra.

"Gue harus apain lo?" Kutatap sosok Valendra yang cegukan kecil lalu tertawa sendiri.

"Hmmmm.... Gue kira lo smart, ternyata tolol juga ya."

"Bisa nggak jangan ngatain?" Valendra beringsut dari posisinya. Tampak sempoyongan dan sulit duduk tegak.

"Masih bisa dengar?" tanyaku sedikit mencemooh.

Mata bulat berbingkai bulu mata lentik itu mengerjap. "Vincent, is that you? Kamu udah meninggal kan?"

"Gue bukan Vincent, gue Vyan."

"Oh? Di surga kamu dapat nama baru?" Valendra menutup mulutnya dramatis. "Vincent, nggak boleh ngomong lo-gue, nanti diomelin Ayah loh."

Asyik juga menyaksikan gadis setajam Valendra bisa ngomong ngawur begini. Ada jeda aneh di antara versi dirinya yang tadi siang dan yang sekarang, seolah-olah dia sengaja mematikan separuh pikirannya dan membiarkan dunia berjalan tanpa filter. Aku berjongkok sedikit, memperhatikan detail kecil yang orang lain pasti lewatkan. Cara jemarinya mencengkeram ujung sofa, napasnya yang tidak stabil, dan sorot matanya yang sesekali kembali fokus lalu hilang lagi. Bukan tipe perempuan yang biasa kubiarkan begitu saja, apalagi di tempat seperti ini. Terlalu banyak kemungkinan buruk yang bisa terjadi, dan aku tidak pernah suka meninggalkan sesuatu yang sudah terlanjur menarik perhatianku di tengah kekacauan yang bukan levelnya.

Valendra cegukan, "Ups, sorry, Cent. Aku kebanyakan minum hihhihi...." Dia tertawa geli.

"Cukup mabuknya, sekarang waktunya pulang." Aku mengulurkan satu tangan. "Ikut aku."

"Haaaa? Ikuuut? Nggak mau ah, aku belum mau mati."

Aroma alkohol yang menyengat bercampur dengan parfum mahalnya, menciptakan ironi yang aneh, seolah dua dunia yang seharusnya tidak pernah bertemu kini saling menempel tanpa izin. Dalam kondisi setengah sadar, Valendra tampak jauh lebih manusiawi dan rapuh.

Aku mendengus lelah, "Aku antar kamu pulang."

Di luar ramalan BMKG, Valendra malah bernyanyi sembari bertepuk tangan, "Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang ke rahmatullah."

Aku diam sebentar, memperhatikan dia yang duduk miring sambil sesekali tepuk tangan. Rambutnya berantakan, matanya setengah terbuka, tapi masih sempat senyum-senyum sendiri seperti lagi ngobrol dengan orang yang cuma dia yang lihat. Ini orang yang tadi kami gosipkan. Reza bilang dia cerdas, badass. Lihat sekarang, untuk duduk tegak saja sulit.

"Ayo pulang." Aku menunjuk punggungku. "Naik sini."

"Vincent, kamu kira ini WC? Sana ke toilet kalau kebelet eek!"

Aku menoleh, kesabaranku yang setipis tisu direndam air, semakin larut saja. "Buruan naik, gue capek jongkok di sini!"

"Galak amat," Valendra menggerutu. "Kamu sebenernya masuk surga apa neraka sih? Tapi muka kamu gantengan, kayak bukan Vincent."

Aku menghela napas pelan, setengah geli, setengah lelah, sambil tetap bertahan di posisiku. Ada batas tipis antara sabar dan pergi, dan anehnya aku masih memilih yang pertama. Biasanya, aku sudah angkat kaki. Kalau dipikir-pikir, buat apa aku peduli pada gadis menyebalkan ini. Tapi malam ini beda. Mungkin karena aku sudah terlanjur melihat sisi dirinya yang tidak ditampilkan ke siapa pun, atau mungkin karena egoku tidak suka kalah dari keadaan seabsurd ini.

"Emang gue bukan Vincent!" hardikku.

"Terus siapa? Keanu Reeves?" Valendra menyipitkan mata, berusaha fokus menatap wajahku, lalu tiba-tiba terkikik sendiri.

"Tua amat," gerutuku.

"Oh, ketuaan ya? Terus maunya siapa? Tom Holland mau? Tapi tinggian kamu kayaknya. Eh, di surga kamu makan galah ya? Kok makin tinggi?" Cerocosan Valendra makin absurd saja, aku malas meladeni.

"Buruan naik, betis gue pegal!"

Menyebalkan, iya. Ribet, juga iya. Tapi anehnya aku belum juga pergi. Mungkin aku ikutan mabuk sepertinya.

"Mau ngajak main kuda-kudaan? Oke deh!" Valendra naik ke atas punggungku. Ngomong-ngomong berat juga.

"Hiyaaaa kuda... Jalan! Jalan!" Valendra menjewer kupingku.

Tanganku terulur ke belakang menahan pantatnya. Aku berjalan pelan menembus kerumunan Antasena. Setiap dua langkah, dia berteriak sendiri seperti lagi naik wahana pasar malam, kadang tertawa, kadang menepuk tanganku yang jelas-jelas lagi sibuk menahan dia supaya tidak jatuh. Beberapa orang sampai menengok, mungkin bepikir aku lagi bawa pacar atau lagi menculik. Tiba-tiba dia menyandarkan kepala ke pundakku lalu diam sebentar. Aku kira akhirnya tenang, tapi satu detik kemudian malah menyanyi lagi dengan lirik yang beda dari sebelumnya.

"Kuda..." Valendra menyapaku manja, dia belai-belai pipiku. "Kudaku wangi banget. Pakai parfum Ayah ya? Awas nanti kamu disabetin kayak waktu itu loh."

Jalanku yang sudah tidak lurus karena menahan beban tubuhnya, bertambah oleng karena tidak fokus. Seharusnya aku abaikan saja ucapan orang mabuk, tapi rasa penasaran mengalahkan akal sehatku.

"Ayah kamu galak?" tanyaku.

Valendra menjewer telingaku. "Ayahku ya ayahmu juga lah, Vincent. Emangnya kamu anak tetangga?"

"Aduh, iya, iya. Ayah KITA galak? Puas?" Aku ingin mengusap telangaku yang pedas dijewer dia.

"Kamu amnesia ya? Kan baru kemarin kamu disabet Ayah karena pakai parfumnya. Kamu sih, masih kecil udah naksir guru."

Punggungku bukan pegal lagi, tapi sudah nyeri. Makan apa Valendra bisa berat begini? Jauh juga pintu keluar.

"Aku naksir guru?" tanyaku demi mengabaikan rasa pegal.

"Eh-hmm... Naksir Bu Amel. Darah Sunda Minahasa nggak bisa bohong. Emang cakep sih orang itu. Tapi kan kamu masih kecil. Masa umur 15 tahun naksir cewek 25 tahun? Nanti pas kamu umur 30, Bu Amel udah tuaaaa."

Langkahku makin pelan, bukan karena jalannya jauh, tapi karena setiap kali aku mau fokus jalan, dia menambah cerita baru yang makin ngawur. Tiba-tiba dia mencubit pipiku, lalu teretawa sendiri, lalu beberapa detik kemudian diam seperti termikir sesuatu yang sangat penting, padahal jelas tidak ada yang penting.

"Terus, Vincent diapain sama Ayah?" Daripada mendengar celotehan tidak penting, lebih baik kukembalikan fokusnya ke jalan yang benar, menceritakan kenangan masa kecilnya.

"Kuda, kamu tuh beneran pikun ya?" Valendra menarik wajahku. "Apa jangan-jangan kamu jin yang menyamarjadi Vincent? Eh, tapi, Cent, mukamu persis kuda beneran loh."

Valendra betulan meringkik persis kuda.

"Jawab dulu!" Aku melepaskan tangan Valendra yang meraup wajahku, "Vincent diapain sama Ayah?"

"Disabetin pakai gesper, terus Ayah nyuruh kamu berdiri di depan ruang tamu dari maghrib sampai tengah malam, nggak boleh duduk, nggak boleh makan, cuma disuruh lihat semua orang lewat sambil dibilangin kalau kamu bikin malu keluarga... Terus besoknya kamu tetap harus sekolah, tapi uang jajan kamu diambil, handphone disita, dan yang paling parah... Ayah nggak ngomong sama kamu seminggu penuh, padahal biasanya kamu yang paling nempel ke Ayah... kamu sampai nungguin di depan ruang kerja cuma buat denger satu kata aja, tapi Ayah tetap lewat seolah kamu nggak ada..."

"Wow, aku pasti trauma ya," jawabku tidak percaya Dokter Basri Gunawan bisa sesadis itu.

"Ehm-hmmm... Kasian kamu, Cent." Valendra membelai kepalaku penuh kasih sayang. "Kamu sampai janji akan belajar yang serius, akan nurut apa kata Ayah, nggak akan pacaran sampai Ayah bilang boleh.... Terus apa lagi ya?" Valendra terdiam sesaat lalu berseru, "Oh! Kamu bilang akan jadi dokter nerusin profesi Ayah. Baru deh, Ayah maafin kamu dan jadi sejak saat itu jadi sayaaaaaannng banget sama kamu."

Di balik kalimatnya yang terdengar ringan dan berantakan karena mabuk, tersimpan potongan kenangan yang terlalu rapi untuk sekadar dianggap omong kosong. Dia mungkin tidak sadar sedang bercerita, tetapi setiap detail yang keluar dari mulutnya terasa seperti serpihan masa lalu yang pernah dia lihat, rasakan, atau simpan terlalu lama.

"Tapi, Cent, aku iri sama kamu," bisik Valendra jujur.

"Kenapa?"

"Karena akhir ceritamu sama Ayah happy ending, sedangkan aku masih gantung. Ayah dari dulu jahat sama aku, sampai sekarang pun nggak sayang. Masa Ayah mau jodohin aku sama selang pom bensin Pertamina?"

"HAH!" Aku kaget.

"Iya, namanya Vyan Ezra Suvarnapati. Ganteng sih, tapi udah nyelup sana-sini kayak selang pom bensin Pertamina."

What?! Jadi gadis yang aku tolong dan aku gendong susah payah ini menyemakanku dengan apa katanya tadi? Ckckck... Kalau saja tidak mabuk, aku ingin memperbaiki cara pandangnya terhadapku.

"Cent, jangan bawa aku pulang ke rumah Ayah."

Keningku berkerut. Mulai aneh-aneh lagi, "Terus ke mana?"

"Ke surga aja sama kamu."

Hmmmm.... Kok seram ya?

"Mau aja, masalahnya di surga nggak ada tempat buat selang pom bensin Pertamina," sindirku. Aku mendesah lega sebab pintu keluar Antasena sudah tampak. Doorman membiarkan kami lewat tanpa curiga.

"Bercanda ih," katanya. Rasa hangat dan kenyal terasa di pipiku. "Cium nih."

Dan dia betulan menciumku.

"Kamu....Nyium aku?!" tanyaku sedikit syok. Kenapa jadi norak begini, kayak aku masih perjaka saja. Oh, iya. AKu kan lagi cosplay jadi Vincent yang masih polos.

Namun Valendra tidak menjawab, malah memperdengarkan dengkur halus. Mona Valendra Gunawan tertidur di punggungku.

***

Seharusnya aku mendengarkan peringatan Alvin supaya tidak mencari penyakit. Kalau saja Valendra memintaku diantar ke rumahnya, buatku tidak masalah harus ke Cibinong dari Senopati di tengah malam, lalu balik ke rumahku sendiri di Kemang. Memang seperti bolak-balik, tapi setidaknya aku memastikan keselamatan putri sahabat ayahku. Berhubung Valendra sendiri memintaku jangan mengantar ke rumah ayahnya, jadi tempat paling aman adalah membawa ke rumahku sendiri. Rumah Ayah lebih tepatnya.

Kesialan seolah belum selesai mengincarku malam ini. Baru beberapa langkah turun dari mobil dengan tubuh Valendra yang lemas di punggungku, tiba-tiba dia menegang, lalu tanpa peringatan memuntahkan isi perutnya tepat di dada depan polo shirt Loro Piana milikku. Cairan hangat itu merembes cepat, baunya tajam menyergap hidung, membuat refleksku nyaris ikut tersedak. Teksturnya lengket, sebagian menetes pelan ke bawah, sebagian lagi menempel menjijikkan di kain mahal yang sekarang terasa berat dan basah.

"Mas Vyan!" Mang Ucup berlari tergopoh-gopoh dari pos satpam. "Ini siapa?"

"Valendra, anaknya Dokter Basri Gunawan."

"Dokter yang suka datang ke sini ngobatin Bapak?"

Aku mengangguk. "Nanyanya nanti aja. Bantuin."

Mang Ucup mengambil Valendra dari gendonganku lalu diturunkan ke lantai. Aku memapah Valendra di sisi kanan, Mang Ucup memapah di sisi kiri.

Valendra merintih, membuka matanya lalu. "Hoek!"

Mari bertepuk tangan! Dia muntah lagi, kali ini memuntahi bajunya sendiri. Bayangkan saja bau alkohol campur asam lambung.... Sungguh sedap sekali. Mau marah juga percuma.

Bertiga kami menaiki undakan teras, dan begitu tiba di depan pintu utama, kami menekan belnya.

"Loh, Mas Vyan." Mbak Sari, salah satu ART-ku kaget saat membuka pintu karena melihatku membawa perempuan. "Ini siapa?"

"Cewek. Nggak lihat?" balasku.

Mata Mbak Sari membola sesaat, tapi lalu dia tampak ketakutan. "Aduh, Mas...Kalau sampai Bapak tahu..."

"Ya jangan sampai tahu," sambarku walau sadar itu tidak mungkin. Terlalu banyak CCTV bertebaran di sini.

Mbak Sari bergeming di pintu seperti orang bodoh.

"Panggil yang lain, bawa ke kamar tamu. Bersihin. Ganti bajunya," kataku memberi instruksi yang runtut. "Ini Valendra, anaknya Dokter Basri Gunawan."

"Baik, Mas." Mbak Sari jalan di depan mendahului. Dia membuka pintu kamar tidur tamu. Aku dan Mang Ucup meletakannya di atas ranjang.

"Ambil baju Vita, ini bajunya dicuci, kena muntahan," kataku lagi.

"Iya, Mas."

Aku bergegas meninggalkan Valendra supaya diurus oleh Mbak Sari dan ART lain sesama perempuan. Aku sendiri harus segera mandi. Muntahan Valendra baunya minta ampun.

Naik ke lantai dua, aku masuk ke kamar mandi. Kulepaskan pakaianku lalu melempar ke keranjang pakaian kotor. Begitu tubuhku tersiram air hangat dari shower, aku langsung merasakan kesegaran.

Alih-alih memikirkan lekuk tubuh Valendra, aku malah terngiang ucapannya. Bukankah orang yang mabuk adalah orang yang paling jujur? Firasatkau mengatakan, keputusan Valendra tidak mau menikah dan childfree bukan semata paparan paham semasa dia kuliah di Korea, tetapi ada hubungannya dengan keluarga sendiri.

Masalahnya ada pertentangan dalam hati kecilku. Di satu sisi, aku ingin percaya pada Valendra. Namun di sisi lain, Om Basri tidak tampak seperti orang yang suka melakukan kekerasan. Jika beliau berakting seperti orang baik, aktingnya sungguh luar biasa.

Aku menggosok seluruh tubuh dan kepalaku sampai bersih. Alhasil, kamar mandiku ikut wangi. Air hangat membilas semua busa sampai habis tak bersisa. Tidak lupa menggosok gigi. Rencananya setelah mandi, mau langsung tidur. Sekitar satu jam kemudian, ritual mandiku selesai. Kuambil bathrobe dari gantungan lalu keluar.

"Astagfirullah, kaget saya, Mas." Mbak Sari mengelus dada ketika aku membuka pintu.

"Kenapa, Mbak?" tanyaku seraya menghanduki kepala.

"Anu, Mas, maaf. Saya nggak berani pegang putrinya Dokter Basri."

"Kenapa lagi?"

Mbak Sari tampak takut, "Mas Vyan... Maaf... Mas Vyan lihat sendiri saja."

Ada apa dengan ART di rumah ini? Kenapa semakin lama semakin tidak becus kerja? Apa aku harus minta Ayah mengganti dengan orang baru?

Kesal, kulempar handukku asal dan bergegas keluar diikuti Mbak Sari. Di kamar tidur tamu, tiga orang ART berbaris rapi, menunduk melihat kedatanganku. Valendra sudah tidak berpakaian, hanya diselimuti. Wajahnya tampak damai dalam lelap.

Mbak Sari menunjuk punggungnya sendiri sebagai isyarat agar aku membalikkan tubuh Valendra. Kuikuti sarannya dan kaget melihat apa yang tertera di sana.

***

Bab 8b hanya tersedia di Karyakarsa ya, Sexy Readers.

Adegannya lumayan bikin kaget, makanya taruh di sana.

Love,
Bella

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top