BAB 7

VOTE DAN KOMEN YANG BANYAK


Bab 7

VYAN

LED berkilat, berganti-ganti warna. Merah ke biru, biru ke kuning, kuning ke ungu. Lagu racikan DJ membahana seantero Antasena. Tangan lincahnya bergerak di DJ controller memuaskan selera clubbers.

Pengunjung Antasena berbaur di lantai, meliuk-liuk, saling berpeluk. Para gadis berpakaian sexy layaknya bunga, mempesona lebah-lebah agar menyesap madu hingga habis tak bersisa.

Beginilah kondisi Antasena hampir setiap malam. Pada weekend dan hari besar nasional, kondisinya lebih riuh lagi, tapi tetap aman terkendali. Dari sekian banyak kelab malam di Jakarta, cuma Antasena yang memenuhi standar kualitas. Di sini semua saling kenal. Kami tahu si A anak siapa, si B istri siapa, si C bisnis keluarganya apa. Jangan harap ada manusia antah berantah bisa masuk tanpa seleksi ketat doorman.

Oleh karenanya, para gadis merasa aman dress out. Tidak perlu takut dibungkus orang tak dikenal. Di sini, semuanya behave. Seberapa pun horny, haram hukumnya meniduri gadis mabuk di Antasena. Urusannya bisa panjang, bukan cuma dipaksa menikah, tapi bisnis keluarga jadi teruhan. Kalaupun mau bersenang-senang, harus dalam keadaan sober dan atas consent bersama.

Musik membahana, tepuk tangan meriah berkumandang. Suasana hangat tercipta di tengah kepulan asap vape. Malam semakin tinggi, gelas alkohol diisi alkohol lagi. Denting dan seruan 'cheers' bergema di mana-mana.

Aku meneguk isi gelasku. Belum dan pastinya tidak akan mabuk. Toleransiku pada alkoho lumayan tinggi. Sambil minum, mataku tak lepas dari sosok Valendra. Aku ebrtanya-tanya, kenapa gadis seperti dia minum-minum sampai tipsy. Lihat saja caranya tertawa, sudah tidak terkontrol. Kupikir gadis seperti Valendra Gunawan tidak akan bertindak bodoh, tapi ya, sekali lagi aku membuktikan cuaca lebih mudah diprediksi daripada isi kepalanya.

Sepertinya dia ikut permainan truth or dare, tapi semua jawabannya adalah kebohongan, makanya disuruh minum terus. Tawa Valendra terlihat makin lepas. Teman-temannya menuang alkohol ke gelasnya. Lagi dan lagi. Bersorak heboh saat dia minum sampai tandas.

"Turun?" Ganesh sudah gatal mau mencari mangsa baru setelah putus.

Aku menggeleng. Kuambil brie cheese, menggulung dengan smoked salmon lalu memakan bersama tegukan Dom Pérignon.

"Tumben." Adam mengikuti arah pandangku. "Ngincer Chiara lo?" Dia berdecak. "Tiati naksir bininya Jason Hutani."

Keluarga Hutani punya bisnis biodiesel yang dirintis sejak zaman Presiden Soeharto. Sudah melebarkan sayap ekspor ke mancanegara. Pasar ASEAN sudah pasti dikuasai, sekarang merambah pasar Asia Tengah.

"Udah tahu. Gue datang nikahan mereka."

"Anaknya cewek tiga. Lagi promil di Aussie buat dapetin anak cowok." Adam menambahkan informasi tidak penting.

Bagi Keluarga Hutani yang masih pegang tradisi Tionghoa lama, kehadiran penerus laki-laki is a must. Poisisi seorang istri bisa digeser gundik jika si gundik punya anak laki-laki sedangkan si istri hanya melahirkan anak perempuan. Adat mereka mengenal cucu dalam dan cucu luar. Apa itu kesetaraan gender?

"Bukan dia lah, lo kira gue minat jadi pebinor?"

Adam mengepulkan asap vape. "Terus siapa yang lo liatin sampe mata lo mau copot gitu? Tahniah Bakrie?"

Chiara dan Tahniah memang satu meja dengan Valendra. Aku heran kenapa Valendra bisa main dengan orang-orang itu. Bukannya mau menghakimi, tapi sepertinya bentrok secara karakter. Satu orang perempuan anti laki-laki dikelilingi tiga perempuan pengincar laki-laki.

"Jangan sama dia." Aku belum jawab apa-apa, Adam sudah mencela.

"Kenapa?"

"Lo belum tahu reputasinya?"

Jelas saja aku tahu putri kedua Haidar Bakrie, pengusaha tambang penguasa daerah Indonesia Timur. Namanya masuk daftar 100 richest Indonesians versi Forbes. Sekali aku berkencan dengannya dan langsung dapat semuanya. Tipe yang ringan shallow, gampang ditebak, cepat bikin laki-laki dekat dan nyaman. Namun ya begitu, tidak ada istimewanya.

"Piala bergilir," jawab Adam tanpa tedeng aling-aling, "Mainnya berisik kayak figuran film horror yang mati duluan."

"Anjing lo," makiku.

"Tapi barangnya pink, Bro. Wangi. Rapet lagi," sambar Reza. Kukira dia cuek, ternyata mendengarkan juga.

"Pernah, Re?" Adam bertanya tapi tidak tampak kaget.

"Malah gue heran kalau kalian yang di sini belum pernah nyicip," sahut Reza sambil tertawa.

Selentingan tentang kebinalan Tahniah sudah menyebar. Entah bagaimana reaksi ayahnya kalau tahu anak perempuannya digosipkan hyper. Ada yang bilang Tahniah mencari figur Ayah lantaran ayahnya tidak pernah ada di rumah. Hanya uang yang mengalir ke rekening.

"Tipe kayak gitu sih, bolehlah dinikmati, tapi bukan buat dinikahi," kata Reza lagi.

"Yoi, Bro." Adam mengajak Reza ber-high five. "Kalo mau makan sate kambing, nggak perlu pelihara kambingnya. Tapi kali aja si Vyan minat."

"Cewek kayak Tahniah itu bukan selera Vyan. Udah kebanyakan nyicip yang begituan," timpal Ganesh santai, memutar-mutar isi gelasnya. "Dia pengen nyoba yang otaknya ada isinya. Kayak itu tuh."

Aku nyaris tersedak. Apa Ganesh sudah tahu soal Valendra? Kuikuti arah telunjuk Ganesh. Dia membidik perempuan berpakaian dengan bahu terbuka sebelah. Rambutnya dikuncir tinggi.

"Farhana Aljufri. S1 HI UI, lagi lanjut S2 di London. Bibit unggul, bagus buat memperbaiki keturunan."

"Nah!" Alvin tampaknya setuju. "Bagus tuh, secara you kan paling minus satu keluarga. Intelegensi anak nurun dari Ibu. Nggak pa-pa IQ lo agak low, yang penting ibunya anak-anak high quality IQ."

Reza bertepuk tangan, "Gas, Bro. Deketin."

"Taik lah." Aku mencibir.

Bukannya sok jual mahal. Farhana Aljufri memang dari keluarga terpandang. Ibunya profesor bidang ekonomi, masuk tim ahli presiden sekarang. Ayahnya adalah duta besar Indonesia untuk Inggris Raya. Bicara soal isu internasional, Farhana memang cerdas. Sayangnya dia gampangan. Mengajaknya ke ranjang tidak perlu waktu bulanan apalagi tahunan, cukup dua hari dan aku sudah dapat semua serta tahu rahasianya termasuk jumlah body count-nya yang lebih dari 20.

"Terus yang mana sih yang lo lihatin dari tadi?" tanya Adam.

Kutunjuk sosok Valendra pakai dagu. "Turtleneck hitam arah jam 2."

"Cewek itu? Yang rambutnya sepunggung?" Adam mengomentari satu-satunya perempuan berpakaian tertutup di Antasena.

"Yup!"

"Anaknya Basri Gunawan yang punya RS jantung itu kan?" imbuh Adam lagi, kali ini suaranya terdengar ngeri.

"Kenal?"

Adam mengangguk tapi mukanya masam. Bukan memandang remeh, tapi lebih seperti trauma. "Bokapnya ngelobi bokap gue buat nikahin anaknya sama gue. Nggak minta mahar banyak-banyak, malah gue mau dikasih rumah sakit. Gila kan?"

Ayahnya Adam merupakan importir peralatan medis. Umumnya dari Jerman dan Inggris, tapi sekarang melirik produk China yang lebih canggih tapi harganya super miring.

"Lah cocok. Kenapa nggak lanjut?" tanya Reza.

"Mainnya kurang jago kali, atau desahannya berisik kayak kuntilanak," pancingku sekalian meledek. Selera Adam memang perempuan anggun yang desahannya pelan.

"Boro-boro main," Adam tampak frustrasi dipaksa mengingat kenangan soal Valendra. "Anaknya susah. Sebagai alumni FH UI, gue sarankan kalian semua minggir deh. Dia anaknya ngeyelan. Kalau sampai nikah, beuh...siap-siap rumah kita bakal jadi medan perang. Dia tuh tahan loh ladenin debat sampai tiga hari tiga malam. Capek, Bos! Kita kan mumet ya urus kerjaan. Maunya nyampe rumah ketemu bini, disayang, manja-manjaan, ngewe, mesra-mesraan, bobok, besoknya seger. Ya kali diajak argumen mulu. Panas gue yang ada."

Kukira cuma kepadaku Valendra mode sarkas final bos, ternyata kepada Adam pun sama. Padahal reputasi Adam termasuk bersih. Di antara kami, dia yang paling jago pencitraan karena dia masih ada jaim-jaimnya. Kadang masih sok cool walau topeng belaka. Ada yang menyamakan vibe tenangnya sebelas dua belas Nicholas Saputra.

"Bener, mending jangan sama dia, Vyan. Secara otak lo kan pas-pasan ya," Ganesh tidak mau kalah. "Galak banget itu orang. Masa dia bilang laki-laki ibarat lebah. Perempuan tinggal memanen madunya."

"Gila kan?" Adam geleng-geleng kepala. Tapi kok bisa bahas lebah? Awal mulanya ngebahas apa?"

Aku memasang telinga baik-baik. Tidak sabar mendengar apa yang Valendra katakan pada teman-temanku sampai pada trauma.

"Kan gue mau cairin suasana aja biar nggak tegang. Lupa awalnya gimana, gue bilang cewek itu ibarat bunga. Kecantikan dan keharumannya menarik para pria untuk mempersunting. Makanya banyak cewek dikasih nama Bunga, Sekar, Mawar, Melati, Aster, Anyelir, Daisy, gitu-gitu kan?"

Kami semua mengangguk setuju.

"Nah, si cewek sinting yang namanya Valendra Gunawan tapi ngakunya Mona Rajapatni ini malah bilang, 'Ada yang salah sama cara berpikir kamu. Kamu analogikan perempuan adalah bunga yang cantik, harum, tapi pasif, sedangkan laki-laki tetap manusia. Seolah kamu mau bilang perempuan hanya diciptakan untuk menarik perhatian laki-laki. Lalu kalian para laki-laki memetik bunga tersebut, memindahkan ke vas, kalian nikmati keindahannya sampai layu dan mati. Terus tinggal buang bunga lama, lalu petik bunga baru.'"

Valendra denhgan pola pikirnya memang bikin kita either tepuk tangan atau ingin mengirimkannya ke dokter jiwa.

"Hahaha... Anjir.... Iya juga, kok nggak kepikiran ya?" Reza tertawa keras. Dia yang paling santai di antara kami. Reza tipe yang chill.

"Ya, tapi ada benernya sih omongan anaknya Dokter Basri Gunawan." Mungkin di sini cuma Alvin yang bisa menyelami isi pikiran Valendra. "Kenapa you analogikan cewek sebagai bunga dan cowok sebagai manusia?"

"Ah gimana sih lo Chindo PIK." Ganesh menyesap minumannya dengan gusar. "Gue kan niatnya muji. Dia emang cantik, mukanya eksotik khas Indonesia, bukan yang diputihin sampe kayak tahu cina. Cuma entah emang otaknya emang beda, si Valendra nangkepnya gue lagi menghina. Dia malah bilang, 'Aku nggak setuju perempuan dianalogikan sebagai bunga. Perempuan adalah peternak lebah. Laki-laki adalah lebah yang nyari madu alias duit bagi perempuan. Jadi tugas perempuan tinggal nungguin lebah-lebahnya bawa madu. Makanya harus ternak lebah sebanyak mungkin.'"

Aku tertawa sementara Reza bertepuk tangan.

"Ini!" Reza menunjuk-nunjuk. "Ini baru namanya cerdas, badass." Reza menepuk-nepuk bahu Ganesh. "Kalah udah, Nesh...Nesh... Sungkem lo sama Valendra. Akal-akalan barat lo nggak mempan."

Adam mendengus tidak setuju. "Cewek kayak gitu nggak usah nikah. Pantesnya jadi perawan tua. Lihat aja tuh bokapnya udah desperate."

"Denger-denger sih dia emang nggak mau nikah," timpal Ganesh.

"Lesbiola?" Adam manggut-manggut. "Pantes."

"Kalau soal itu kurang tahu ya," kata Ganesh.

Aku yang sejak tadi menutup mulut rapat-rapat, akhirnya bertanya juga. "Misal gue nikahin Farhana, kalian yang udah pernah nyobain dia bakal ngomong apa?"

Ganesh yang menjawab duluan, "Kalau gue sih bakalan bisikin di pelaminan, 'Selamat ya, Bro, nampung basian gue.'"

Reza tertawa keras. "Anjing lo emang, temen bangsat."

Sudah jelas kan, kenapa sebejat-bejatnya pria, tetap memilih gadis perawan sebagai istri? Untuk menghindari ucapan-ucapan semacam ini.

"Kalau gue nikahin Valendra, pas kalian datang ke nikahan gue, apa yang akan kalian bilang?" tanyaku.

Teman-temanku saling pandang, diam semua. Mungkin mereka pikir, lebih masuk akal Kim Jong Un nyaleg di Garut daripada aku dan Valendra bersatu di pelaminan.

"Impossible," kata Alvin.

"Kalo, Vin, kalo."

Setan juga si Alvin, malah geleng-geleng yakin bahwa itu tidak mungkin.

"Walau kemungkinannya kecil, kalau itu sampai kejadian, respect sih gue," kata Adam tanpa basa-basi. "Pasti kesabaran dan kerendahan hati lo level dewa."

***

Ternyata cowok kalau lagi gibah ngeri-ngeri. Kayaknya ini belum apa-apa dibandingkan kasus anak-anak FHUI yang lagi rame. Di Karyakarsa Belladonnatossici sudah up sampai bab 20. Silakan kalau mau baca duluan di sana.


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top