BAB 6

Bab 6

VYAN

Baru kali ini aku bertemu perempuan seperti Valendra. Dia bukan tipe yang bisa aku baca dalam lima menit pertama, bukan juga tipe yang bisa aku arahkan pelan-pelan ke pola yang aku mau. Biasanya aku cuma butuh lihat cara perempuan bereaksi, cara mereka ketawa, bertanya balik, atau sengaja diam untuk tahu mereka main di level mana. Valendra beda. Dia tidak reaktif, tidak defensif, dan yang paling mengganggu, dia tidak tertarik buat "ikut" ritme yang biasa aku ciptakan. Seolah-olah aku bukan pusat permainan di kepalanya.

Yang lebih aneh, dia jelas memperhatikan. Bukan tipe yang cuek karena tidak paham, tapi justru karena terlalu paham. Cara dia memotong pembicaraan, cara dia memilih mana yang layak didengar dan mana yang langsung dibuang, itu bukan kebiasaan orang biasa. Itu kebiasaan orang yang sudah terlalu sering ketemu omong kosong dan memutuskan waktunya terlalu mahal untuk itu. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku merasa... kata-kataku tidak otomatis jadi senjata yang efektif.

Rencanaku untuk terlihat heroik barusan juga tidak membantu sama sekali buat mengembalikan posisi. Seharusnya, situasi seperti itu jadi momen yang gampang. Aku turun, beresin masalah, dia lihat, lalu kagum, dia bisa rawat aku penuh kelembutan, jatuh cinta, selesai. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dia ikut turun, dan bukan sekadar membantu, tapi menyelesaikan dengan cara yang bersih, cepat, tanpa banyak gaya. Tidak ada kebutuhan untuk terlihat hebat, tidak ada jeda buat cari validasi. Itu bukan aksi buat dilihat orang, itu refleks. Dan refleks seperti itu tidak bisa dipalsukan.

Yang bikin pikiranku tidak berhenti jalan sekarang bukan karena dia "menarik" dalam arti biasa. Ini bukan soal ketertarikan yang simpel. Ini lebih ke rasa penasaran yang mulai berubah arah. Aku bukan lagi berpikir bagaimana cara mendapatkan dia, tapi bagaimana cara mengerti dia tanpa dia sadar sedang dipelajari. Karena kalau semua orang selama ini bisa aku ubah jadi peluang, Valendra terasa seperti sesuatu yang justru bisa... mengubah cara mainku sendiri. Dan anehnya, aku tidak keberatan pada kemungkinan itu.

"Boleh minta nomer kamu?" tanyaku ketika tujuan bohonganku sudah tampak. Aku sudah siap mendengar penolakan, karena toh Valendra sudah tahu apa niatku. Namun aku bukan tipe orang yang menyerah sebelum bertanding.

"Mana HP kamu?" Di luar dugaan dia malah meminta ponselku. Tanpa jual mahal.

Aku menyerahkan iPhone keluaran terbaru. Namun Valendra malah mengerutkan kening.

"Bukain bagian kontak, aku nggak pakai iPhone."

"HP kamu apa?"

Valendra menggoyangkan Samsung Galaxy sepertinya keluaran 4 tahun lalu yang kelihatan sudah seperti zombie. Ujung layarnya sudah retak.

"Itu masih bisa dipakai?" tanyaku prihatin. Ayahnya dokter jantung dan punya rumah sakit jantung, mobilnya BMW, tapi ponselnya seperti itu.

"Masih lah, buat getok kepala orang juga bisa."

Aku tertawa mendengar leluconnya yang sarkas itu. Aku menatap ponsel itu sedikit lebih lama dari yang seharusnya, bukan karena kasihan, tapi karena mencoba memahami pola yang lagi-lagi tidak masuk ke sistem pikiranku. Semua orang di lingkaranku selalu upgrade, selalu mencari yang paling baru, paling mahal, paling terlihat. Itu standar. Tapi Valendra? Dia jelas punya akses ke semua itu, tapi memilih tidak peduli. Bukan gaya sok sederhana, bukan juga karena tidak mampu. Ini lebih ke keputusan sadar kalau hal seperti itu memang tidak penting buat dia. Dan anehnya, justru di situ letak "nilainya". Dia bukan orang yang bisa diukur dari apa yang dia pakai atau dia tunjukkan. Dia seperti aset yang tidak kelihatan di laporan, tapi justru paling berharga kalau tahu cara bacanya. Dan buat pertama kalinya, aku merasa sedang melihat sesuatu yang... bukan untuk dipamerin, tapi buat dipahami pelan-pelan.

Kubuka phonebook di iPhone-ku lantas menyerahkan kepada Valendra. Dia lincah memasukkan nomer ponselnya lalu menggunakan ponselku, melakukan missed call ke ponselnya.

"Udah aku simpan ya nomer kamu," katanya sambal menyerahkan ponselku.

"Kalau aku chat, ada yang marah nggak?" pancingku. Memang Om Basri sudah bilang Valendra malas menikah, tapi bukan berarti tidak punya pacar kan?

"Ada."

Nah kan.

"Siapa?" tanyaku.

"Aku. Kalau chat kamu ngeselin."

Jawaban itu harusnya simpel, tapi cara dia menyampaikannya bikin aku berhenti setengah detik lebih lama dari biasanya. Bukan karena isinya, tapi karena dia sama sekali tidak memberi celah untuk ditafsir macam-macam. No permainan tarik-ulur, No basa-basi yang bisa aku putar jadi peluang. Straight. Bersih. Dan anehnya, itu justru bikin semuanya terasa lebih "mahal". Dia bukan tipe yang harus dijaga dari orang lain, dia tipe yang... kalau bermasalah, sumbernya ya dia sendiri, karena standarnya jelas dan tidak akan dia turunkain hanya untuk bikin orang lain nyaman. Dan buat seseorang yang terbiasa membuat orang menyesuaikan diri tanpa sadar, bertemu orang yang dari awal sudah menetapkan batas tanpa perlu bilang "jangan" itu... menarik. Bukan karena dia menolak, tapi karena dia membuat aku harus berpikir dua langkah lebih jauh sebelum bahkan mulai main.

"Tenang," kataku santai sambil membuka pintu mobil, nada suaraku ringan tapi sengaja ditinggal sedikit jeda, "aku nggak akan bikin kamu marah... setidaknya, nggak di chat pertama."

Aku berpikir Valendra akan mengulur waktu, menahanku agar jangan turun. Yah, boleh kan pede daripada minder? Namun dia tidak menjawab apa-apa, langsung pergi begitu saja.

Masih siang, pukul tiga, tapi aku ditinggalkan di perumahan tanpa tahu sebenarnya mau apa. Aku membuka chat WhatsApp di ponsel dan menemukan chat dari teman-teman satu circle ku.

[AdamBachtiar 12:44: Antasena yok.]

[Ganesherlambang 12:55: Boring.]

[Alvinhudaya 13:12: Ada DJ import. Berlin. Main set jam 9 tapi soundcheck dari sore.]

[AdamBachtiar 13:13: Antasena buka dari jam 4 anyway.]

[Ganesherlambang 13:13: Jam segitu yang datang cuma orang-orang yang nggak punya kerjaan.]

[Alvinhudaya 13:14: Kita emang punya kerjaan?]

[Rezabakrie 13:14: Punya. Menghabiskan uang keluarga dengan cara elegan.]

[AdamBachtiar 13:15: Speak for yourself. Gue lagi nunggu dividen cair.]

[Ganesherlambang 13:15: Itu juga bukan kerja.]

[Alvinhudaya 13:16: DJ-nya bukan kaleng-kaleng. Resident Berghain katanya.]

[Rezabakrie 13:16: Semua DJ yang lo bawa pasti "katanya".]

[Alvinhudaya 13:17: Ini serius. Set techno, no commercial. Crowd diseleksi.]

[AdamBachtiar 13:17: Antasena emang pernah nggak seleksi?]

[Ganesherlambang 13:18: Last time ada anak baru masuk, besoknya langsung di-blacklist.]

[Rezabakrie 13:18: Salah dia pakai sepatu LV yang itu.]

[AdamBachtiar 13:19: Yang full monogram?]

[Rezabakrie 13:19: Iya. Norak.]

[Alvinhudaya 13:20: Fokus. Table I udah ready. U bawa siapa?]

[Ganesherlambang 13:20: Nggak bawa siapa-siapa. Capek pura-pura kenal orang.]

[AdamBachtiar 13:21: Same.]

[Rezabakrie 13:21: Gue datang telat. Meeting dulu.]

[Alvinhudaya 13:22: Meeting apaan jam segini.]

[Rezabakrie 13:22: Properti. Bali.]

[Ganesherlambang 13:23: Oh jadi kita tetap kerja ya, ternyata.]

[AdamBachtiar 13:23: Kita kerja kalau mood.]

[Alvinhudaya 13:24: Jam 4 I di sana. Siapa cepat dia dapat sofa tengah.]

[Ganesherlambang 13:24: Sofa tengah itu buat yang haus validasi.]

[Alvinhudaya 13:25: Dan U tetap duduk di situ.]

[Ganesherlambang 13:25: Karena view-nya paling bagus.]

[AdamBachtiar 13:26: Gue langsung dari rumah. 30 menit.]

[Rezabakrie 13:26: Save gue satu spot.]

[Alvinhudaya 13:27: Santai. Antasena itu rumah kedua kita.]

[Ganesherlambang 13:27: Lebih sering di sana daripada di rumah asli malah.]

[AdamBachtiar 13:28: Rumah asli terlalu banyak aturan.]

[Alvinhudaya 13:28: Di Antasena cuma satu aturan.]

[Rezabakrie 13:29: Jangan miskin.]

[AdamBachtiar 13:31: @Vyanezra nongol, bro.]

[Vyanezra 15:25: I'm in.]

***

Cukup sulit mencari parkiran di Antasena. Klub ini memang beda, tidak seperti klub lain yang asal punya KTP dan uang, kita bisa masuk. Antasena adalah sesuatu yang disebut "kelab malam", tapi pukul empat sore, pintunya sudah terbuka. Bukan untuk keramaian, tapi untuk orang-orang yang tidak perlu menunggu malam untuk merasa hidup.

Parkiran Antasena sudah terisi mobil-mobil mewah yang tidak biasa. Bukan BMW atau Mercedes yang generik, tapi deretan Bentley dengan bodi besar yang terasa seperti bergerak tanpa usaha dan beberapa Rolls-Royce yang parkir nyaris tanpa suara. Di sudut lain, ada Porsche edisi terbatas dengan warna yang tidak pernah masuk katalog umum, serta satu-dua Ferrari yang justru tidak mencolok, dipilih bukan untuk pamer, tapi untuk kepuasan pribadi. Tidak ada yang berisik, tidak ada yang berusaha menarik perhatian, karena di sini, semua orang sudah tahu bahwa yang benar-benar mahal tidak pernah perlu terlihat mahal. Di antara semuanya, terselip McLaren dengan desain tajam yang lebih terasa seperti mesin daripada simbol status, satu Pagani yang terlalu artistik untuk sekadar disebut kendaraan, Maserati yang elegannya nyaris understated, dan Lotus yang hanya dipilih oleh mereka yang benar-benar peduli pada sensasi mengemudi, bukan sekadar dilihat.

Aku sendiri mengendarai Aston Martin Valkyrie warna hijau, bukan hijau terang yang berusaha mencuri perhatian, tapi hijau tua dalam yang nyaris hitam saat tidak terkena cahaya, seperti warna daun hutan yang basah setelah hujan. Di bawah pantulan lampu, warnanya berubah halus, menampakkan undertone emerald yang dingin, memberi kesan hidup.

Aku masuk tanpa perlu berhenti, hanya satu lirikan singkat dari para doorman yang berdiri tenang di pintu. Cukup untuk memastikan aku memang bagian dari tempat ini. Itu yang selalu aku suka dari Antasena. Bukan sekadar eksklusif, tapi terkendali. Tidak ada suara berlebih, tidak ada gerakan yang tidak pada tempatnya. Orang-orang di sini tahu batas tanpa perlu diingatkan, dan yang tidak tahu, tidak akan pernah sampai ke dalam.

Hari masih sore sehingga ruangannya setengah terang. Cahaya matahari masih masuk tipis dari celah kaca tinggi yang dilapisi tirai gelap. Sofa-sofa besar sudah terisi, bukan oleh orang yang ingin dilihat, tapi oleh mereka yang sudah terlalu terbiasa dilihat sampai tidak lagi peduli. Di sini, minum bukan pelarian, tapi bagian dari ritme. Percakapan berjalan pelan, bukan karena malas, tapi karena semua orang tahu mereka tidak perlu buru-buru menjelaskan diri.

Musik mengalir rendah di latar, belum benar-benar menjadi pusat, lebih seperti napas panjang yang menjaga ruangan tetap hidup. DJ sudah ada di booth, tapi belum tampil, hanya soundcheck, memainkan potongan deep house yang bersih, kadang beralih ke sesuatu yang lebih jazzy, seolah sedang membaca suhu ruangan. Tidak ada yang benar-benar menari. Yang ada hanya gestur kecil, jari yang mengetuk meja, kaki yang bergerak pelan mengikuti beat. Di meja-meja, aku melihat wajah-wajah yang familiar. Pemilik bisnis yang tidak pernah muncul di media, investor yang lebih banyak diam daripada bicara, dan anak-anak seperti aku, yang terlihat santai, tapi pikirannya tetap berjalan, menghitung, menilai, memutuskan.

"Bro!" Alvin mengajakku feast bump. Dia sudah booking sofa dan di mejanya sudah ada sebotol Macallan 18 dengan warna amber pekat yang dituang tanpa es, Dom Pérignon yang dibiarkan tetap dingin di dalam bucket perak, serta satu gelas Negroni dengan potongan kulit jeruk tipis yang sengaja tidak disentuh. Di sampingnya, charcuterie tersusun presisi. Irisan bresaola yang hampir transparan, smoked salmon favoritku, almas caviar yang buttery dan silky, ditemani potongan brie cheese yang creamy, manchego yang sedikit tajam, serta green olives dan crackers yang hanya berfungsi sebagai penyeimbang.

"Yang lain?" tanyaku.

"Biasa, ada kerjaan," sahutnya ringan.

Alvin adalah putra pengusaha kelapa sawit sejak era Presiden Soeharto. Seusia denganku. Hobinya juga sama, ditemani perempuan.

"Tumben nggak sama siapa-siapa?" aku mempertanyakan kebiasaannya yang berubah akhir-akhir ini.

Alvin berdecak. "Udah di-warning sama Papi I. Cari cewek yang bener, kalau tahun ini gak ketemu, bakal dijodohin sama anak partner bisnisnya. Tinggal pilih sama yang punya FMCG atau biodiesel," kekehnya.

"Enak dong."

"Kagak lah!" Alvin mulai ngegas dengan logat chindo-nya.

"Ya enak lah, bibit, bebet, bobot jelas. Nggak perlu repot koleksi dan seleksi, tinggal resepsi," candaku.

"You sendiri gimana, Bro?" Alvin mengalihkan topik.

Aku mengambil gelas Macallan 18, memutarnya sedikit sebelum menyesap, memberi waktu satu detik lebih lama dari biasanya sebelum jawab.

"Baru ketemu sesuatu yang... aneh."

Alvin langsung menyipitkan mata. "Aneh gimana? Jelek tapi pede, atau cantik tapi kosong?"

Aku menggeleng pelan. "Nggak masuk dua-duanya."

"Wah, menarik." Alvin menyandarkan badan, mulai tertarik. "Jarang-jarang you nggak bisa kategoriin."

"Itu dia masalahnya," aku tersenyum tipis. "Biasanya orang keliatan maunya apa dari lima menit pertama. Ini nggak."

Alvin terkekeh. "Pura-pura nggak mau kali."

Aku menggeleng lagi, kali ini lebih yakin. "Kalau pura-pura, gue udah tau polanya. Ini... dia beneran nggak peduli."

Alvin diam sebentar, lalu mengangkat alis. "Nggak peduli ke apa? Ke you?"

"Ke semuanya," jawabku santai. "Status, uang, cara gue ngomong. Nggak ada yang dia tangkep sebagai sesuatu yang penting."

"Bullshit," Alvin langsung nyela. "Semua orang peduli."

Aku menoleh sedikit, senyumku masih ada tapi lebih tipis. "Iya. Makanya gue bilang aneh."

Alvin mengambil Negroni-nya, menyesap pelan. "Terus? You jadi penasaran?"

"Gue nggak pernah nggak penasaran," jawabku ringan.

"Nama?"

Aku diam setengah detik. Bukan karena lupa justru karena terlalu jelas.

"Mona Valendra Gunawan, anaknya Dokter Basri Gunawan. Tahu kan, yang punya RS Jantung Valmont Cardiac Institute."

Alvin yang tadinya santai langsung berhenti setengah detik, gelas Negroni di tangannya menggantung.

"Valmont Cardiac Institute?" ulangnya, nadanya turun sedikit, bukan kaget, lebih ke memastikan.

Aku cuma mengangkat alis tipis.

Alvin menghela napas pendek, lalu terkekeh pelan. "Gila... pantes."

Aku tidak langsung komentar.

"Papi I pernah dirawat di sana," lanjut Alvin, kali ini lebih serius. "Bypass ringan. Kita awalnya mau ke Mount Elizabeth Hospital atau National Heart Centre Singapore... tapi akhirnya stay di situ."

Aku menoleh sedikit. Itu bukan pilihan yang sembarangan.

"Dan jujur aja," Alvin melanjutkan, "fasilitas, dokter, sistem... nggak kalah. Bahkan beberapa hal lebih private." Dia menyandarkan badan, matanya kembali ke aku. "Itu bukan RS biasa, Bro. Itu udah level institusi."

Aku tersenyum tipis.

"Jadi..." Alvin mengangkat alis, nada suaranya berubah jadi setengah menggoda, setengah menilai, "...yang you bilang 'aneh' itu, anak pemilik salah satu cardiac institute paling gila di sini?"

"Kurang lebih," jawabku santai.

"Anehnya gimana?" Alvin tampak tertarik."

"Nama bapaknya Dokter Basri Gunawan, tapi dia memperkenalkan diri sebagai Mona Valendra Rajapatni."

"Oh, I see." Alvin mengangguk."Nama ibunya Sekar Anyelir Rajapatni, salah satu mantan aktris film."

Aku merenung. Jadi Valendra lebih suka memakai nama ibu ketimbang ayahnya?

Alvin tertawa pendek, menggeleng. "Bukan aneh itu namanya." Dia menatapku lebih dalam. "Itu high value asset yang nggak dijual bebas. Super mahal."

Aku tidak langsung jawab, hanya memutar gelas Macallan 18 di tangan.

"Dia bukan mahal," kataku, mataku turun sebentar ke meja, ke Almas Caviar yang belum tersentuh. "Dia... susah diakses."

Alvin tersenyum miring. "Tapi, semua yang susah diakses ujung-ujungnya sama aja."

Aku terkekeh pelan. "Biasanya iya."

"Ini beda lagi?" Alvin mulai menikmati ini.

Aku menyandarkan badan, akhirnya terlihat sedikit lebih santai, tapi mataku tetap hidup.

"Ini tipe yang kalau lo salah langkah sedikit..." aku berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada ringan, "...lo nggak bakal dikasih kesempatan kedua. Bahkan mungkin nggak bakal dikasih reaksi sama sekali."

Alvin tertawa. "Serem amat."

"Bukan serem," kataku. "Efisien."

Alvin menggeleng. "Jadi sekarang you lagi apa? Ngejar?"

Aku menatapnya sebentar, lalu tersenyum, bukan senyum santai yang biasa, tapi yang sedikit lebih tajam.

"Gue lagi cari tau... ini permainan, atau bukan."

Menjelang malam, sekitar jam enam lewat, atmosfernya mulai bergeser tanpa perlu diumumkan. Lampu-lampu diturunkan perlahan, bukan drastis, tapi cukup untuk mengubah cara orang melihat satu sama lain. Crowd mulai bertambah, tapi tetap terkontrol. Tidak ada yang masuk tanpa alasan. DJ mulai mengikat set-nya, transisi lebih jelas, beat lebih konsisten, cukup untuk membuat percakapan mulai terpotong-potong oleh musik. Orang-orang yang tadi duduk mulai berdiri, bukan untuk menari, tapi untuk mendekat, untuk terlihat, untuk memastikan posisi mereka di dalam ruangan tetap terbaca.

Teman-temanku berdatangan satu persatu, menambah riuh suasana dengan cerita bisnis mereka. Kami mengobrol ngalor ngidul soal apa saja. Sambil terus minum dan makan dari wadah charcuterie.

Ketika jam melewati angka sembilan, Antasena sudah berubah sepenuhnya. Musik jadi terlalu keras, orang-orang mulai datang untuk melupakan diri, seleksi berubah dari siapa yang layak masuk menjadi siapa yang cukup menarik untuk dilihat. Itu fase di mana Antasena berhenti jadi ruang dan mulai jadi panggung.

Banyak gadis muda juga berdatangan. Ada yang bersama pasangannya, ada pula yang bersama teman satu circle-nya. Aku mengenal mereka semua. Kebanyakan memang kami saling kenal. Dunia kami begitu sempit sehingga aku bisa mengenali hampir semua isi club.

Sampai mataku tertumbuk pad satu sosok. Valendra masuk bersama Chiara Hutani dan beberapa perempuan lain, tapi kehadirannya langsung terasa seperti kontras yang disengaja. Di tengah gaun-gaun ketat dan siluet tubuh yang dipamerkan tanpa ragu, dia justru memilih potongan yang tertutup, jatuh rapi mengikuti garis tubuh tanpa pernah benar-benar menampakkannya. Lengan panjang, neckline tinggi, warna gelap yang tidak berusaha mencuri perhatian, tapi justru menyerapnya. Rambutnya dibiarkan tergerai sederhana, tanpa styling berlebihan, dan hampir tidak ada aksesori mencolok selain jam yang terlihat lebih seperti alat daripada perhiasan. Dia duduk tenang, sedikit bersandar, gelas di tangannya diangkat sesekali tanpa tergesa, lebih banyak mendengar daripada bicara. Tidak ada usaha untuk terlihat menarik. Dan mungkin justru itu yang membuat mataku tidak bisa lepas darinya. Di antara semua yang berusaha untuk dilihat, dia satu-satunya yang tidak peduli, dan entah kenapa, justru dia yang paling jelas terlihat.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top