BAB 5


VOTE DAN KOMEN YANG BANYAK

BAB 5

VALENDRA

Mobil BMW X5-ku berhenti di rumah dengan arsitektur Jepang yang kental. Terlelak tidak jauh dari danau buatan, rumah itu berdiri tenang seperti sesuatu yang sengaja dijauhkan dari dunia yang berisik.

Tidak ada pagar tinggi. Hanya pembatas rendah dari batu alam dan susunan tanaman hijau yang dipangkas rapi, seolah cukup untuk memberi tahu: ini wilayah privat, tanpa perlu berteriak.

Gerbang kayu geser terbuka perlahan, suara relnya halus, nyaris tidak terdengar. Jalan masuknya bukan aspal, tapi batu-batu datar yang disusun tidak simetris, memaksaku mengurangi kecepatan. Seperti semua yang ada di rumah ini, tidak pernah terburu-buru, tidak pernah berisik.

Di sisi kiri halaman, berdiri pohon kamboja tua. Batangnya berpilin, tidak sempurna, justru itu yang membuatnya terasa hidup. Bunganya jatuh satu-satu ke tanah kerikil putih di bawahnya, menciptakan kontras yang aneh antara sesuatu yang lembut dan sesuatu yang dingin.

"Ayah turun di sini, kamu lanjut saja sama Vyan," ucap Ayah sebelum membuka pintu mobil.

Aku ikut turun, tapi bukan masuk ke rumah, melainkan pindah duduk di depan.

"Gue kira..."

"Aku-kamu aja ya," pintaku. Aku melihat reaksi Vyan yang terkejut. Aku heran sejak kapan bahasa aku-kamu jadi monopoli orang yang pacaran. Aku selalu pakai aku-kamu walau bicara kepada sesama jenis atau lawan jenis dan langsung dapat sorakan heboh. "Lebih sopan aja daripada lo-gue."

Vyan mengangguk setuju. "Aku kira kamu mau duduk di tengah terus."

Aku tertawa, "Ya, bagus juga sih idenya, biar sekali-sekali ngerasain disupirin anak konglomerat."

Vyan ikut tertawa sambil melajukan mobil keluar dari garasi rumah Ayah. Mobil meluncur pelan keluar dari halaman, roda menyentuh batu-batu datar yang berderak halus. Begitu keluar ke jalan utama, Vyan menaikkan kecepatan, satu tangan di setir, satu lagi santai di dekat jendela.

"Rumah kamu..." Vyan melirik sekilas, "...kayak tempat orang kabur dari dunia."

"Ayah memang suka yang sepi. Rumah kan tempat kabur dari rutinitas ya."

"Kalau kamu?" tanya Vyan dengan percaya dirinya menatap mataku dari kaca spion.

"Sama. Dunia kebanyakan suara nggak penting."

"Wah, galak." Vyan tertawa kecil. "Padahal kamu mantan jurnalis. Harusnya cinta suara."

"Aku cinta suara yang punya isi. Bukan yang cuma ingin didengar."

Vyan mengangguk pelan, lalu senyum miring. "Menarik. Jadi kamu tipe yang kalau orang ngomong kosong langsung kamu blacklist?"

"Aku bukan blacklist," jawabku tenang. "Aku cuma berhenti mendengar."

"Lebih kejam."

"Lebih efisien."

Vyan tertawa, kali ini agak keras. "Oke, noted. Jangan banyak omong kosong di depan kamu."

Aku menunggu kapan saatnya Vyan akan kabur dariku lantas menceritakan baru saja ketemu gadis aneh. Laki-laki seperti dia terbiasa mendapatkan kekaguman, sedangkan aku melihatnya sejenis predator berkaki dua.

"To the point, " kataku, "Ayah nawarin kamu berapa?"

"Nawarin apa?" Vyan pintar juga pura-pura polos.

"Sebelumnya, aku ucapkan selamat. Kamu adalah laki-laki ke 125 yang diiming-imingi sesuatu supaya mau sama aku."

Vyan tidak tampak terkejut. Ya, wajar saja kan perempuan kritis dan tidak penurut sepertiku susah dapat jodoh?

Vyan menghela napas panjang, pura-pura pasrah. "Aku kira kamu bakal tipe yang pura-pura nggak sadar."

"Berapa?" tanyaku datar.

"Bukan angka." Vyan tersenyum miring, tapi kali ini ada jeda sebelum dia lanjut. "Rumah sakit jantung akan dihibahkan atas nama aku, kalau aku nikahin kamu."

Aku diam. Tidak kaget. Hanya menghela napas pelan. Bukannya marah, malah tersenyum.

"Basically kamu seperti laki-laki di India yang akan menerima dowry?" ucapku. "Dan aku adalah perempuan dengan posisi lemah yang harus membayar untuk mendapatkan laki-laki?"

Vyan tertawa pelan, bukan karena mengejek, tapi lebih seperti menikmati arah pikiranku.

"Kalau itu sudut pandangnya," katanya santai, jemarinya mengetuk ringan setir, "berarti aku laki-laki yang cukup mahal sampai harus 'dibayar' segitu besar."

Dia melirik sekilas, senyumnya tipis, tidak defensif.

"Pede," kataku.

"Harus dong daripada minder," lanjutnya, "Tapi lucunya..." lanjutnya, "aku justru lihat kebalikannya."

Aku tidak menoleh, tapi diamku cukup untuk menyuruhnya lanjut.

"Kalau seseorang berani nawarin sesuatu sebesar itu," katanya pelan, "itu bukan karena perempuannya lemah."

Ada jeda satu detik. Sengaja.

"Itu karena perempuannya terlalu sulit didapat... sampai harus 'menggeser dunia' sedikit supaya ada yang cukup berani mendekat."

Dia kembali fokus ke jalan, nada suaranya tetap ringan.

"Jadi kalau mau pakai analogi..." tambahnya, "kamu bukan perempuan yang bayar laki-laki."

Senyumnya muncul lagi, kali ini lebih tajam.

"Kamu alasan kenapa harga laki-laki tiba-tiba jadi naik."

"Dan kamu tergoda?" tanyaku akhirnya.

Vyan tertawa kecil, tapi tidak seenteng biasanya. "Aku pebisnis, bukan orang bodoh. Tawaran kayak gitu... semua laki-laki waras bakal mikir."
Dia berhenti sejenak, lalu menoleh. "Bisa saja aku menolak, tapi aku tetap datang karena penasaran sama kamu."

"Penasaran kenapa?" tanyaku.

"Karena buatku, semua perempuan itu seperti bunga."

Aku mendengus, bukan karena tersinggung, tapi lebih karena lelah. Kalimat itu terdengar terlalu sering diucapkan laki-laki seperti dia, dibungkus rapi seolah filosofi, padahal hanya variasi lain dari cara lama yang sama. Aku tidak menoleh, tidak juga menyela, membiarkan suaranya mengalir seperti kebisingan latar yang tidak perlu ditanggapi. Di kepalaku, kata-katanya sudah lebih dulu disortir, dipisahkan antara yang mungkin punya isi dan yang hanya ingin terdengar menarik. Dan sejauh ini, Vyan masih terdengar seperti seseorang yang terlalu menikmati suaranya sendiri.

"Dengar dulu." Nada suaranya berubah lebih halus, seperti sedang membungkus kata-kata. "Perempuan itu kayak bunga. Cantik, punya cara sendiri buat menarik perhatian. Nggak perlu usaha berisik, orang juga datang sendiri."

Aku diam dua detik. Lalu mengangguk kecil.

"Benar."

Vyan tampak sedikit kaget karena aku tidak langsung menyerang.

"Tapi..." aku melanjutkan, "bunga kantong semar."

"Hah?"

Aku menoleh, kali ini dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat. "Dia memang menarik. Indah. Warnanya mencolok. Bentuknya unik."

Vyan mulai menyipitkan mata, sudah curiga.

"Lalu?" tanyanya.

"Lalu dia memakan." jawabku tenang. "Lalat masuk karena tertarik, lalu jadi nutrisi."

Vyan terdiam satu detik.

Dua detik.

Lalu dia tertawa keras. "Gila. Jadi menurut kamu laki-laki itu... lalat?"

"Nggak semua." Aku menatap ke depan lagi. "Hanya yang datang karena tertarik tanpa berpikir."

"Dan aku termasuk?"

"Aku belum putuskan. Kamu masih di luar mulut kantong."

Vyan ternganga, aku tidak melebih-lebihkan. Dia betulan membuka mulut seperti orang bodoh. Seperti orang yang baru pertama kali melihat Godzilla. Yah begitulah.

"Wah, serem juga metaforanya." Vyan menggeleng sambil tersenyum lebar. "Tapi jujur, aku suka."

"Tentu kamu suka. Kamu pikir semua itu permainan."

Mobil tetap melaju di tengah kepadatan Cibinong yang semakin terasa jelas begitu mereka benar-benar tenggelam di dalamnya. Panas siang menekan tanpa kompromi, memantul dari kap mobil dan kaca-kaca bangunan di sepanjang jalan. Motor-motor melintas cepat seperti aliran yang tidak pernah putus, sementara mobil bergerak dalam jeda-jeda pendek, maju lalu berhenti, seolah seluruh jalan sedang bernapas dalam ritme yang sama. Di sisi kiri dan kanan, kehidupan berjalan tanpa jeda. Orang-orang keluar masuk toko, pedagang melayani tanpa henti, dan semua tampak seperti bagian dari sistem yang sudah terlalu terbiasa untuk dipertanyakan.

Di balik kaca mobil, semua itu terasa sedikit teredam, seperti dunia luar yang hanya bisa dilihat tanpa benar-benar menyentuh. Namun pikiranku tidak ikut teredam. Percakapan barusan masih tertinggal, bukan sebagai sesuatu yang mengganggu, tapi sebagai sesuatu yang belum selesai. Jarang ada orang yang bisa mengikuti alur pikiranku tanpa terseret atau mencoba mengendalikan arah pembicaraan, dan lebih jarang lagi yang bisa membuatnya menahan senyum tanpa dia sadari. Ada sesuatu yang mengganggu ritme biasanya, bukan karena kacau, justru karena terlalu seimbang.

Mobil melaju melewati Bojonggede. Aku melirik dari kaca spion. Sejak dari Mount Aurum tadi, memang aku sudah mencurigai Pajero hitam yang seperti menguntit. Mohon maaf, aku tidak punya utang pinjol sehingga harus diikuti debt collector. Ayah sudah turun di rumah, tapi Pajero itu tetap mengikuti.

"Kamu punya musuh?" tanyaku kepada Vyan. Kami sama-sama melirik spion.

Rahang Vyan langsung mengeras. "Siapa pun yang lagi ngikutin kita, pasti nggak punya niat baik."

Aku tidak panik sama sekali. Aku ini mantan jurnalis, sudah pernah melalui situasi lebih gawat. Bukan sekali dua kali nyawaku terancam. Risiko pekerjaan.

"Terus, sekarang apa rencana kamu?" tanyaku tenang, lebih ingin tahu caranya berpikir dalam kondisi darurat. Sebetulnya aku punya solusi lebih efektif, belokkan saja mobil ke kantor polisi, lalu parkir sebentar di sana. Pasti orang-orang yang mengikuti kami bakal kabur. Namun, aku mau tahu bagaimana cara anak orang kaya ini menyelesaikan masalah.

"Akan aku hadapi," kata Vyan memasang mode serius.

"Maksudnya hadapi?"

"Ya hadapi, dengan cara laki-laki."

Alisku naik. "Beneran?"

Dan Vyan mengangguk. Matanya menyorot serius. Dia terus melajukan mobil sampai ke tempat sepi, lalu mengerem mendadak.

"Mau ngapain?" tanyaku.

"Kalau ada masalah itu dihadapi, jangan kabur," katanya.

Ya Tuhan, aku paling malas menghadapi laki-laki dengan egonya yang mau sok-sokkan pamer kehebatan supaya para wanita kelepek-kelepek. Aish ssibal!

Vyan turun dari mobil bertepatan dengan Pajero yang berhenti di depan kami. Empat orang pria berbadan besar, berpakaian serba hitam tampak bicara dengan nada tinggi. Aku tidak tahu apa yang mereka ributkan, tapi beberapa menit kemudian, mereka sungguhan adu jotos. Empat orang itu dengan gerakan terlatih mulai melancarkan pukulan, lalu Vyan dengan gerakan luwes

Vyan tidak terlihat seperti orang yang baru saja turun dari mobil untuk cari masalah. Bahunya tetap rileks, napasnya stabil, tapi kakinya bergerak ringan, selalu satu langkah lebih cepat dari orang pertama yang menyerang. Pukulan yang datang lurus ke wajahnya tidak dia tangkis dengan keras, hanya digeser sedikit dengan pergelangan tangan, cukup untuk mengubah arah. Dalam satu gerakan yang sama, tubuhnya berputar, siku kirinya menghantam sisi rahang lawan dengan sudut yang bersih, membuat pria itu langsung kehilangan keseimbangan sebelum sempat menyadari apa yang terjadi.

Dua orang lain maju hampir bersamaan, mencoba menutup ruang. Vyan mundur setengah langkah, bukan untuk menghindar, tapi untuk menciptakan jarak yang pas. Kakinya terangkat cepat, bukan tinggi, tapi cukup untuk menghantam lutut salah satu dari mereka dari samping. Gerakannya tidak besar, tapi presisi. Pria itu langsung goyah, dan dalam jeda sepersekian detik, Vyan memanfaatkan momentum dengan mendorong bahu lawan kedua, membuatnya bertabrakan dengan temannya sendiri. Tidak ada gerakan sia-sia, semuanya terasa seperti rangkaian yang sudah dihitung sebelumnya.

Yang terakhir mencoba menyerang dari belakang, tapi Vyan seperti sudah tahu. Tubuhnya berputar lagi, lebih cepat kali ini, tangannya menangkap pergelangan lawan, memelintir dengan arah yang membuat tubuh pria itu ikut terbawa. Dalam satu tarikan pendek, keseimbangan lawan hilang sepenuhnya, dan Vyan menjatuhkannya ke tanah dengan gerakan yang nyaris terlihat ringan. Aku berdiri diam, memperhatikan, bukan dengan panik, tapi dengan evaluasi yang dingin. Ini bukan sekadar pamer kekuatan. Ini teknik. Dan yang lebih mengganggu dari semuanya, dia melakukannya tanpa terlihat berusaha terlalu keras.

Vyan jelas bisa bela diri, tapi masa aku diam saja di sini menonton keseruan terjadi? Jadi aku ikut turun dari mobil.

"Val, masuk!" Vyan berteriak. Dan mungkin karena fokusnya terpecah, dia jadi kena pukul di bagian wajah.

Refleksku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Kaki kiriku maju setengah langkah, tubuhku langsung masuk ke posisi kuda-kuda rendah. Serangan berikutnya datang dari samping, dan tanpa ragu aku memutar pinggul, mengangkat kaki kanan tinggi lalu menjatuhkannya dalam dolyo chagi yang bersih ke sisi kepala pria itu. Kontaknya keras, tepat di pelipis. Tubuhnya langsung limbung, dan sebelum dia sempat jatuh sempurna, aku sudah menarik kakiku kembali ke posisi siap, napas tetap stabil, pandangan tidak pernah lepas dari tiga orang lainnya.

Satu orang mencoba menyerangku langsung dari depan, pukulannya lurus dan berat. Aku menahan dengan lengan bawah, memutar sedikit untuk mengalihkan tenaga, lalu dalam satu tarikan napas, kakiku meluncur ke depan dengan ap chagi yang cepat dan tajam, menghantam perutnya. Tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah, tapi belum jatuh. Aku tidak memberi waktu. Kaki yang sama langsung naik lagi, lebih tinggi kali ini, berputar dalam lintasan lebar menjadi dwi chagi yang menghantam dada saat dia mencoba maju kembali. Kali ini dia benar-benar terlempar, jatuh dengan suara keras ke aspal.

Dari sisi kanan, satu lagi mencoba mendekat, mungkin berpikir aku akan lebih mudah dilawan daripada Vyan. Kesalahan. Aku memutar tubuhku penuh, berat badanku berpindah dengan presisi ke kaki tumpuan, lalu kaki kiriku menyapu tinggi dalam yop chagi yang langsung menghantam rusuknya dari samping. Kontaknya terasa padat, seperti menghantam benda keras. Dia terhenti seketika, napasnya putus, tubuhnya membungkuk sebelum akhirnya ambruk perlahan ke tanah.

Yang terakhir mencoba mengambil celah saat aku selesai bergerak, tapi aku sudah membaca arah geraknya. Aku melangkah mundur setengah langkah, memberi ruang, lalu memanfaatkan momentum saat dia mendekat. Kakiku terangkat lagi, kali ini dalam putaran penuh yang lebih cepat yang memanfaatkan putaran tubuh untuk menambah tenaga. Tumitku menghantam rahangnya dengan sudut miring, cukup untuk memutar kepalanya dan menjatuhkan seluruh tubuhnya dalam satu gerakan yang tidak bisa dia tahan.

Ketika aku kembali berdiri tegak, napasku masih terkontrol, tidak ada gerakan yang terbuang. Empat orang itu sudah terkapar di aspal, sebagian meringis, sebagian bahkan tidak bergerak sama sekali. Aku hanya melirik mereka sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke Vyan, mengevaluasi situasi dengan dingin. Ini bukan pertama kalinya aku berada di posisi seperti ini, dan jelas bukan yang terakhir.

Aku menyentuhkan kedua telapak tanganku, membersihkannya, lalu menggandeng Vyan. "Ayo masuk ke mobil."

Vyan terus saja menoleh ke belakang, mengawasi empat orang terkapar dan mengerang kesakitan.

Aku mengambil gelas plastik berisi peach tea Tianlala yang isinya masih utuh, kutempelkan ke pipi Vyan yang tadi kena pukulan. "Aku aja yang nyetir. Kamu udah bonyok begitu."

Vyan mengerang dan mengumpat saat gelas plastik itu menyentuh pipinya. "Sial, sakit juga."

"Ya lagian, siapa suruh turun ngadepin preman," kataku seraya menyalakan mesin mobil.

"Kamu bisa bela diri?" tanya Vyan setelah aku melajukan mobil.

"Tae Kwondo, Dan 2 sabuk hitam," kataku. Vyan tampak terkejut. "Kamu juga bisa kan? Tadi itu apa?"

"Karate." Vyan menatapku lama.

"What?" tanyaku.

"Aku nggak ekspek kamu bakal turun nyelamatin aku."

Aku tertawa. "Aku nggak nyelamatin kamu, aku nyelamatin diriku sendiri."

"Dari apa?"

"Dari kemungkinan jadi tontonan, terus nanti warga berdatangan, lapor polisi, aku jadi saksi... Males banget."

Vyan terkekeh. "Yah, harusnya aku tahu, cewek kayak kamu nggak bisa dibikin terkesan dengan cara semudah itu."

***

Vyan mau bikin Valendra terkesan, malah dia yang terpesona.

Ada yang ikut bela diri di sini? Sampai sabuk apa nih?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top