Chapter 6

Casey terlalu malas untuk menutup lokernya. Setelah latihan pemandu sorak selesai, ia melemparkan perlengkapannya begitu saja dan langsung duduk di atas bangku untuk memijit pelan telapak kakinya. Napasnya terembus tenang terlebih ketika ia berpindah ke bagian betis yang jauh lebih pegal. Tak lupa menyempatkan diri untuk melambai dan berkata 'latihan yang bagus, sampai jumpa besok' ke personel lain. Setelah merasa baikan, ia mengunci loker dan siap untuk pulang.

Sampai suara melengking itu membuatnya bergidik. Racauan dan teriakan memanggil Casey seakan cewek itu tidak sedang berada di hadapannya. "Casey!"

Hanya satu orang yang mampu membuat suara segila dan semengerikan itu. Dengan senyum yang dibuat-buat, Casey berbalik dan untuk menatap gadis itu, yang persis berada di hadapannya. Kristy—yang Casey tahu tengah kesal minta ampun.

Terlalu cepat untuk bernapas lega sepertinya, batin Casey. "Ada apa, Kristy?"

"Apa kau percaya apa yang baru saja kutemukan di dalam lokerku?!"

Gadis itu lantas memasang gerik sok berpikir. Di lubuk hatinya dia sangat tidak ingin tahu, tetapi kemungkinan besar yang membuat Kristy menjerit ada beberapa hal. Hewan kecil berkaki banyak dan memilik sayap, atau surat cinta yang menjijikkan.

"Ada yang memberikanku surat ini!" teriak Kristy. Tebakannya benar, tetapi Casey bukan berarti senang karena itu.

"Jadi apa yang harus kulakukan?" tanya Casey pura-pura peduli.

"Temukan pengirim pesan ini dan bawa dia padaku!" Kristy dengan geram mengeluarkan surat yang dimaksudnya dari dalam saku. Kertas malang itu sudah diremasnya kuat-kuat membuat tulisannya nyaris tak terbaca. Namun, nama pengirimnya masih jelas, dan sontak matanya melebar.

Vincent Jackkal.

Casey gelagapan. Vin? Vin mengirimkan surat untuk Kristy? Sebelum Casey sempat mengatakan sesuatu, ponsel Kristy berdering. Wajahnya langsung berubah puas. "Kabar bagus, John sudah menemukannya."

Casey menahan napas saat mendengarnya. Kabar buruk. Ia sontak khawatir pada Vin di setiap langkahnya mengekori Kristy. Ketakutannya benar saat begitu mereka tiba. Cowok malang itu tersudutkan di loker.

Vin menoleh gugup saat melihat Kristy dan Casey datang. Lalu sesuatu yang sudah diduga Casey akan terjadi, akhirnya terjadi. Gadis itu menampar Vin sangat keras hingga suaranya menggema ke seisi koridor. Cowok itu bahkan tak mampu berkedip.

Seakan belum cukup, John menarik rambutnya untuk memaksnya menyaksikan Kristy merobek surat itu. Kristy berteriak lagi. "Kau menjijikkan! Berani-beraninya kau memberikanku—surat ini! Aku tidak akan sudi! Kau lembek! Gendut! Jelek! Bodoh! Dan—"

"Oke, itu sudah cukup, Kristy!" Casey langsung menghentikannya. Dia tidak tahan lagi, terlebih saat melihat Vin benar-benar diperolok begitu kejam. Di kesempatan yang ada, cowok itu langsung berlari meninggalkan mereka.

"Dia pasti akan menangis," ejek John. Sementara itu, Kristy kembali murka.

"Apa kau baru saja membiarkannya kabur, Casey?"

"Bukan seperti itu! Maksudku—" Kenyatannya memang begitu. Kristy sudah sangat keterlaluan, tetapi sekarang Casey yang ada dalam masalah. Jadi ia buru-buru memikirkan alasan yang masuk akal. "Aku yang akan memberinya pelajaran, kau tidak perlu mengotori tanganmu hanya untuk menampar Vin dua kali."

Sebelah alis Kristy terangkat, sementara Casey berusaha menahan keringat gugupnya menetes. Beberapa detik kemudian, nampak raut persetujuan. "Baiklah, kau memang benar."

Fyuh! Casey langsung berlari keluar sekolah untuk menyusul Vin, tetapi untuk berbicara padanya saja, tidak seperti janjinya pada Kristy. Setelah menyusur halaman sekolah, ia menemukannya duduk diam di bangku.

"Hei ...," sapa Casey, saat cowok itu menoleh terlihat dia meringis dengan pipi memerah.

"Hei," balas Vin agak canggung. "Apa Kristy yang membawamu kemari?"

Casey mengambil duduk di sampingnya, memainkan jemari sembari berpikir memilih kalimat yang tepat. "Aku minta maaf kau harus mengalami itu."

"Wow. Kau minta maaf untuknya? Kau sungguh teman yang loyal, Casey." Gadis itu tahu kalau Vin sedang mengejeknya, dan Casey tidak akan membalasnya, malah berpikir memang pantas mendapatkannya.

"Dia memang gadis yang populer, dan cantik, dan sangat hebat. Tapi kau juga tahu kalau dia punya sisi tempramen, manja, dan sangat kekanak-kanakan. Kenapa kau mengirimkan surat padanya?" tanya Casey.

"Bukan urusanmu aku suka padanya, Casey! Pergilah. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu."

Keadaan yang semakin memanas membuat Casey hampir kehabisan kata-kata, tetapi dia juga tidak mau menyerah secepat itu. "Aku hanya ingin membantumu, Vin. Kita teman, kan?"

"Dulu," balas Austin cepat. "Sekarang tidak lagi. Kau sudah punya teman baru."

"Kristy bukan temanku!" sanggah Casey. Vin yang semula hanya menunduk kini menoleh menatapnya terkejut. "Kau pikir aku mau berteman dengan gadis paling mengerikan di planet ini?"

"Lalu kenapa kau sangat dekat dengannya sekarang?"

"Aku terpaksa, karena—" Casey seketika terdiam, dan memalingkan wajahnya menghindari Vin. Cowok itu menyadari dengan jelas kalau Casey hampir saja keceplosan. Segera dia menyimpulkan kalau Casey punya rahasia dan Kristy mengetahuinya.

"Dia mengancammu? Kristy pasti tahu sesuatu, bukan begitu?"

Casey termangu untuk sejenak, dan sikapnya langsung memberi Vin jawaban 'iya'. Sekarang, cowok itu yang berbalik merasa kasihan. "Apa yang dia lakukan?"

"Jangan pernah mengalahkan pesona Kristy saat penampilan pemandu sorak, dan kemudian belikan dia semua pakaian-pakaian lucu dan keren yang dia mau," jelasnya dengan nada naik-turun.

Vin langsung tersadar dengan alasan mengapa di acara penerimaan tadi pagi, Casey terjatuh begitu saja. "Tapi kenapa bisa? Apa yang dia miliki darimu?"

"Sebuah video, rekaman video yang pastinya akan menghancurkan karir ibuku, dan memberiku gelar sebagai anak terburuk di seluruh alam semesta." Casey perlahan menaikkan kakinya, mencoba memeluk dirinya sendiri dan mulai sesenggukan. "Aku tidak punya pilihan lain, Vin. Nyatanya aku sangat tidak ingin dekat padanya, tapi ... sudahlah. Kau pasti tidak mau mendengarkan ceritaku yang bodoh."

"Aku mau, kalau itu bisa membantumu. Tapi aku tidak akan memaksa. Kalau perlu, kita bisa ke café di ujung jalan, memesan cappucino dengan kayu manis."

"Cappucino dengan kayu manis itu kesukaanmu, bukan aku." Casey membalas dengan tawa miris.

"Kau masih ingat?" Sudut bibir Vin, begitupun Casey. Seketika gadis itu merasa lega dan berhenti menangis. Dia tidak menolak saat tangannya ditarik Vin agar berdiri.

Sementara saat sudah jalan, Casey menarik napas panjangnya. Siap untuk bercerita. "Sekitar minggu kedua saat liburan semester, dan orang tua Kristy sedang keluar kota. Dia mengadakan pesta."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top