Chapter 7
Casey suka pesta, seperti semua remaja-remaja lainnya di kota Kamath. Ia mendatangi semua pesta yang diadakan murid-murid South Nova meski harus mengendap-endap agar tidak ketahuan ibunya. Untungnya dia punya kakak perempuan yang selalu siap membantu.
"Bersenang-senanglah." Crystal lebih tua tiga tahun daripada Casey. Kalau Casey diibaratkan bunga lily, Crystal adalah bunga kaktus yang telah mekar. Ia sosok kakak yang selalu melindungi keluarganya, terutama adiknya. Ia rajin berolahraga untuk menumbuhkan massa otot, bekerja di tiga tempat berbeda, termasuk memastikan Casey bisa memiliki tahun-tahun remaja yang menyenangkan. Rambutnya dipotong pendek, bukan gaya ponytail Casey, tetapi mereka berdua tetap sama-sama cantik.
Saat tiba di lokasi pesta, Casey langsung disambut hantaman gelombang bass yang kalau dinaikkan lagi sedikit, mungkin akan membuat kaca di jendela retak.
"Oke ... setengah jam berbaur, sekitar satu jam berdansa, pastikan untuk menyapa gadis yang berulang tahun ... dan pulang sebelum setengah sebelas," batin Casey menyusun agendanya malam ini.
"Casey! Hei, kau datang," suara yang berat memanggilnya. Dia melihat Zayn, yang Casey tahu akan jadi kapten tim basket South Nova di semester baru. Cowok itu bahkan tak repot-repot mengganti seragam basketnya dengan pakaian lain.
"Hei!" balas Casey dengan senyum lebar, terlebih saat Zayn berjalan mendekatinya.
"Jadi begini ... Casey. Aku kapten basket, dan kau kapten pemandu sorak. Kau tahu, kan, kalau sesama kapten itu punya semacam ... insting terhubung? Mau tahu apa yang aku tahu tentangmu?" kata Zayn, Casey tak menjawab melainkan terus tersenyum. Cowok itu melanjutkan. "Aku tahu kau akan datang."
"Atau ... kau tahu aku akan datang dari Kristy?"
"Uh ...." Zayn menggaruk tengkuknya. "Baiklah. Aku mengaku, aku menunggumu dari tadi."
"Ya, kau tahu cewek-cewek. Riasan dan pakaiannya? Kita harus memilih."
Zayn terkekeh, menampilkan senyuman dari gigi putihnya yang rata. "Kurasa. Kalau begitu, harus aku bilang, ini adalah penantian yang setimpal. Kau benar-benar cantik malam ini." Casey merasakan pipinya memanas, dan tak lama malah mendorong Zayn mundur tanpa alasan jelas.
"Dasar penjilat," balas Casey tertawa. "Omong-omong di mana Kristy?"
"Terakhir kulihat dia di sana. Tapi kau bisa menemuinya nanti, kan?" ujar Zayn menunjuk sembarang arah, tak mengalihkan perhatiannya pada cewek itu.
"Jangan khawatir. Aku pasti akan kembali." Casey kemudian pergi.
"Kalau begitu aku akan menunggu lagi." Casey melambai padanya sekali lagi. Ia berjalan melewati kerumunan pesta sampai matanya bertemu dengan Kristy yang tengah berbincang dengan gadis-gadis lain di atas sofa.
"Bisakah kau mempercayainya? Lani bahkan tidak bisa melakukan handstand, tapi di piramida dia masih diletakkan di atasku!" Casey sontak berhenti melangkah saat mendengar Kristy mengatakan itu. Diam-diam berusaha mendengarkan dari jauh.
"Bukankah dia agak ... langsing? Memang seharusnya pelatih menempatkan orang yang lebih berat di bawah, kan?" ujar Jesse, yang duduk di samping Kristy.
"Um, apa kau baru saja menyebutku berat?!"
"Maksudku, kau berotot?"
"Terserah. Aku akan berada di atas suatu hari nanti bahkan jika itu membunuhku. Maksudku, aku satu-satunya orang berbakat yang dimiliki tim sekarang."
"Kristy?" ucap Casey, dan Kristy berbalik dengan mata melebar.
"Casey?! Kau di sini?! Maksudku—" Sikapnya langsung berubah gugup, terlebih ketika Casey mulai berkacak pinggang. "Kau benar. Aku minta maaf. Aku hanya—aku hanya stres dan terbawa suasana."
"Itu bukan alasan untuk membicarakan teman satu timmu dari belakang."
"Aku tahu. Itu tidak akan terjadi lagi. Aku janji." Gadis-gadis lain mulai terkikik. Tanpa Casey sadari kalau Kristy membuat kilatan di wajah sebelum menutupinya dengan senyum paksa.
"Um, aku sangat senang kau bisa datang, Casey! Kupikir ibu walikota tidak setuju dengan pesta."
"Dia ada di acara penggalangan dana atau konferensi. Sebenarnya aku tidak tahu. Dia tidak akan menyadari kalau aku pergi."
"Mengapa repot-repot? Maksudku, semua orang tahu dia akan menang, lagi," ucap Kristy setelah meminum sodanya.
"Dia mendapatkan suaraku! Aku suka cara dia berkata 'aku mencintai kota ini'," tambah Jesse.
"Ugh, dia sebaiknya menang. Kemudian dia bisa berhenti melakukan kampanye itu selama delapan tahun atau lebih."
"Astaga, ibumu benar-benar tangguh."
"Tidak, tidak, itu tidak sepenuhnya benar. Dia sangat ... bergairah, kau tahu? Dia ingin membuat kota ini menjadi yang terbaik."
Beberapa gadis menepuk pundaknya. Sementara pesta Kristy terus berlanjut dan semakin ramai. Soda dan cemilan habis dengan cepat. Mereka mulai mengobrol tentang banyak hal lain seperti persiapan semester baru. Jesse lalu bersorak begitu lagu yang diputar berganti.
"Ooooh, aku suka lagu ini! Ayo berdansa!"
Kristy langsung menarik Casey ke tengah dan mulai berdansa. Musik EDM melantun keras, tetapi gadis-gadis bergerak tanpa peduli tempo. "Woooooo!" teriak Casey bersemangat.
"Lihat ini!" Kristy melakukan gerakan body roll ke depan, sambil menatap seorang cowok di seberang ruangan dengan pandangan malu-malu. Pris tidak mau kalah, dia menjatuhkan diri untuk memutar kuncir kudanya.
"Itu sangat konyol, Cass!"
"Yay, pesta! Apa kau senang, Casey?" ucap Jesse saat menaruh tangan di pundak Casey.
"Tunggu, jam berapa sekarang?" Casey melirik arlojinya, menyadari sudah hampir tengah malam. "Ack! Aku harus pulang, ibu akan membunuhku."
"Aww, boo! Aku suka pesta, Casey," sambung Jesse setelah Casey melepaskan diri dari rangkulannya. Ia buru-buru mengambil tas, melambai pada teman-temannya dan buru-buru pergi menuju pintu.
Di jalan keluar, Casey melihat Zayn berbicara dengan John. Ia sempat ingin berpamitan dengan mereka. Namun, malah terdiam saat mendengar Zayn menyebut namanya.
"Jadiiiii, Cass single, kan?" tanya Zayn.
"Ya. Kau menyukainya?"
"Mungkin ...," jawab Zayn. Sudut bibir Cass naik perlahan-lahan. Dia beringsut sedikit lebih dekat sambil tetap memastikan dirinya tak terlihat oleh mereka berdua.
"Sekedar info. Cass cukup dingin dan ibunya sangat galak. Kudengar dia memeriksa latar belakang siapa pun yang mencoba berkencan dengan putrinya," jelas John saat meneguk sodanya.
"Siapa yang menyebutkan soal berkencan? Dia tentu sangat cantik dan seksi tapi dia juga ... kau tahu?"
John menyeringai. "Apa? Menurutmu Cass orang yang bagaimana?"
Zayn mengangkat bahu dengan malas. "Dia membosankan. Aku membutuhkan gadis yang tahu cara bersenang-senang."
"Membosankan?" gumam Casey. Ia langsung berbalik dengan pandangan yang kabur karena air mata saat tawa Zayn dan John berdering di telinganya. Casey bergegas lari pulang lewat pintu lainnya, dan menabrak Kristy yang menghadap ke belakang.
"Hei! Kalau jalan itu—tunggu, Casey? Ada apa?"
"T--Tidak ada apa-apa. Aku baik. B--Bersenang-senanglah di sisa pestamu." Casey berusaha untuk melewatinya, tetapi Kristy langsung menarik tangannya.
"Oh tidak. Ayolah, kita pergi ke kamarku saja." Kristy tanpa ragu langsung menggiring Casey ke kamarnya dan menutup pintu. Kristy membuatnya duduk di atas tempat tidur sementara Casey berusaha menghapus air mata agar tak mengotori riasannya.
"Baiklah. Apa yang terjadi dibawah sana?" tanya Kristy setelah Casey terlihat sudah baikan.
"Sudah kubilang, tidak ada ... apa-apa."
"Oke. Aku sangat tahu kalau itu bukan 'tidak apa-apa', tapi silahkan berpura-pura selama yang kau mau. Aku akan menunggu." Kristy ikut duduk di meja rias dan mengambil ponsel.
"Hei, Kristy ...," panggil Casey setelah beberapa saat.
"Hmm?"
"Jujurlah, apa orang-orang berpikir aku membosankan?"
Kristy mengangkat kepala. "Ya ... kau tidak mendengar ini dari mulutku, tapi ...," Kristy sedikit memiringkan kepalanya, berusaha mencari kalimat yang tepat. "Maksudku, 'Miss Perfect' adalah sebutan terbaik yang pernah kau punya."
Casey mendesah. Ia menunduk menatap sepatunya.
"Hei, siapa yang peduli kata orang-orang? Kau kapten pemandu sorak, dan ibumu adalah seorang walikota! Kau punya hidup yang sangat sempurna!" sambung Kristy mencoba menyemangati.
"Tidak! Aku membenci hidupku!" Casey mengangkat kepalanya dan membalas dengan sedikit amarah. Mulut Kristy nyaris ternganga karena kaget. Sementara Casey terus berbicara dengan kata-kata yang mengalir deras dari mulutnya.
"Semua orang berpikir kalau kami adalah keluarga kecil yang bahagia karena ibuku seorang walikota. Tapi itu semua palsu!"
"Cass?"
"Ayah dan ibu saling membenci satu sama lain. Mereka berdua berselingkuh, dan mereka bahkan tidak berusaha menyembunyikannya dariku!"
"Mereka--Apa?!"
"Setiap malam akan ada pertengkaran besar di antara mereka ... kecuali malam itu mereka berteriak padaku karena berusaha ikut campur." Suara Casey melemah, dan dia menangis lagi dengan kepala bersandar ke kedua tangannya. "Aku sangat lelah karena harus menjadi anak walikota yang sempurna di setiap detik dan di setiap hari yang mengerikan, ketika ibu bahkan tidak peduli padaku." Tempat tidur bergoyang saat Kristy ikut duduk di sebelahnya, menariknya ke pelukan satu tangan.
"Cass ... itu pasti sangat ... aku tidak pernah menyangka kalau ibumu seburuk itu."
"Tidak ada yang tahu. Jika misalnya ada, dia pasti sudah dipecat besok." Casey kembali mengusap air matanya. Ia membiarkan tubuhnya sedikit lebih lama dalam pelukan Kristy. "Thanks for listening, Kristy. Aku minta maaf karena mengacaukan pestamu."
"Tidak usah khawatir, Cass."
***
Pelayan menaruh dua cangkir kopi di atas meja. Salah satunya ditaburi bubuk kayu manis. Vin menarik cangkir tersebut, tetapi belum meminumnya. Ia terdiam setelah mendengarkan cerita Casey. Gadis itu terus menunduk, menatap kepulan asap di cangkirnya. Pipinya merah, dan nyaris tak berani untuk menatap Vin lagi.
"Besok paginya saat aku bangun, aku mendapat pesan dari Kristy," ujar Casey sangat pelan.
"Dan ... isinya ...?" kata Vin hati-hati.
Casey mengangguk. "Ya. Dia merekam semua itu ke ponselnya."
Vin terdiam lagi. Ia sangat tak menyangka semua itu. Tentang Kristy—gadis yang ia sukai. Namun, ia lebih terperangah pada kondisi Casey. Pada dirinya, pada keluarganya.
"Kuharap kau tidak seperti Kristy ...," bisik Casey. "Tolong jangan beritahu siapa-siapa."
"Tentu saja tidak. Aku benar-benar ... kasihan padamu, Casey. Semua yang kau lalui benar-benar—"
"Ya ... aku tahu, tapi ... rasanya benar-benar lega setelah aku menceritakan ini padamu." Casey tersenyum kaku, dan mulai menyesap kopinya pelan-pelan.
Vin melakukan hal yang sama. Ia tahu harus mengatakan sesuatu, tetapi sangat bingung memilih kata yang tepat. Vin ingin mengatakan 'aku janji tidak akan mendekati Kristy lagi', tetapi saat ini bukan tentang dirinya, atau Kristy. Ini tentang Casey dan Vin sadar harus ada untuknya sekarang.
Casey menarik napas saat ia melanjutkan. "Aku selalu takut kalau ibuku tahu tentang video itu, seluruh kampanye yang ia lakukan akan hancur, dan dia tidak akan membiarkanku keluar rumah lagi. Bayangkan koran kota menerbitkan berita berjudul 'Casey Sumner, Mengungkapkan Kenyataan Keluarganya! Pernikahan, keluarga, dan seluruh karier politik walikota adalah palsu'."
"Aku janji akan membantumu," ucap Vin langsung. Casey akhirnya mengangkat kepala, dan tersenyum sekali lagi.
"Terima kasih, Vin, tapi kau tidak perlu. Aku akan menghadapi ini sendirian."
"Tapi bagimana caramu melakukannya?"
"Memang kau sendiri? Bagaimana kau akan membantuku?"
Vin mengedikkan bahu. "Entahlah. Pokoknya kita harus memberi Kristy pelajaran."
Kali ini Casey tertawa. "Kau serius? Bukankah kau suka padanya?"
"Tidak lagi," Vin ikut tertawa. "Dia memang gadis yang mengerikan. Tapi kau tahu kata orang? Cinta itu buta."
Vin merasakan suasana mulai menghangat saat mereka berdua minum kopi lagi secara bersamaan. Vin berkata. "Aku akan membantumu. Kita bisa pikirkan sesuatu."
Casey menghela napas panjang. "Terima kasih, Vin."
"Hei. Itulah gunanya teman."
***
Mereka berempat tiba di hadapan sebuah toko serbaguna. Chris berpendapat, mereka butuh sesuatu untuk membela diri saat berada di dalam hutan.
"Kau tahu kita tidak bisa memukul hantu, kan?" ujar Kate padanya.
"Bukan berarti tidak ada beruang atau ular yang harus dipukul," balas Chris.
"Tidak ada salahnya, kurasa," ucap Daniel. "Kalau-kalau golem itu kembali."
"Atau jika Mr. Geagley benar-benar menampakkan dirinya di hadapan kita nanti," sambung Harry.
Ketika masuk ke dalam toko, mereka langsung berpencar ke setiap rak. Daniel berpikir akan mengambil tongkat pemukul saja, tetapi ia berhenti melangkah saat menemukan sesosok perempuan tinggi yang berdiri di belakang konter.
Saat perempuan itu juga berbalik, mereka bertatapan. Perempuan itu tersenyum padanya, dan Daniel langsung mengangkat jari.
"Kau?!"
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top