Chapter 5
Daniel menyaksikan matahari turun dari balik pepohonan saat ia berjalan menuju air mancur di halaman sekolah. Tepat setelah obrolan singkatnya dengan Ethan, Daniel langsung menghubungi Harry dan sepakat untuk bertemu dan membahas kejadian di gym.
Menghubungi Vin juga persoalan yang mudah. Vin bahkan mengatakan akan mengajak Casey dan Chris meski tidak berjanji dapat mendatangkan mereka. Sementara sisanya, Daniel mencari mereka dan tak ketemu, pun dihubungi juga tak dibalas. Daniel tahu mereka semua harus membahas ini bersama-sama tanpa terkecuali. Apapun hasilnya.
Begitu tiba di kolam, ia langsung menemukan Harry dengan kabel earphone terhubung ke telinganya, dan Vin yang cukup sibuk pada ponselnya sampai ia menyadari kedatangan Daniel.
"Jadi hanya kita bertiga?" tanya Harry, dan Daniel menarik napas.
"Aku sudah meminta Ethan untuk datang," kata Daniel, tetapi harapannya makin terkikis karena tak kunjung menemukan teman-teman mereka yang lain. Ia beralih pada Vin dan untuk mencari kabar baik. Namun, Vin bahkan tak tahu harus berkata apa. "Casey bilang dia harus menyusul latihan. Chris juga sama, tapi mereka bilang akan menyempatkan diri."
"Sebaiknya mereka benar-benar datang atau aku akan—" Ucapan Harry terpotong saat mendengar suara melengking di belakangnya. Casey muncul dengan seragam pemandu sorak dan melambai pada mereka bertiga.
"Hai, guys ...!"
Diikuti Chris yang berjalan di sampingnya. Belum memakai seragam tim basket, tetapi Daniel menduga di balik jaket kulitnya itu ia sudah siap untuk latihan. Napas Daniel bisa lebih lega, tetapi masih ada orang yang belum datang. "Berarti tersisa Ethan," sambungnya.
"Hiiiii! Kalian sudah lupa aku rupanya." Lalu tiba-tiba saja Kate berada di samping Daniel dan membuatnya terlonjak. Harry dan Vin bahkan tak ada yang sadar akan kedatangannya entah sejak kapan.
"Astaga! Kate! Siapa kau sebenarnya? Vampir?" keluh Daniel.
"Kuharap begitu," jawabnya lalu duduk di tepi kolam sambil menyilangkan kaki.
Mereka masih menunggu selama dua menit sampai orang terakhir tiba. Ethan akhirnya datang--yang membuat Daniel terheran adalah penampilannya tidak begitu berubah. Rambutnya masih tersisir rapi dan wajahnya mulus tanpa keringat. Seakan semua kesibukan yang ia lalui sebelumnya tak pernah ada.
Lalu Daniel berdehem untuk memulai. "Terima kasih karena kalian semua sudah datang. Sekali lagi aku ingin memastikan, kalau kita semua memutuskan untuk berkumpul karena satu hal."
Tak ada respon, seakan tak tahu--atau pura-pura tak tahu dan menunggu Daniel melanjutkan. Ia sendiri jadi bingung harus mengatakan apa. Sampai Harry masuk untuk berterus terang. "Semuanya harus bermain."
Hampir semua mata menoleh, tertegun dan gelagapan. Lalu Harry tanpa ragu menambahkan. "Mati lampu, angin kencang, dan suara bisikan itu. Semuanya harus bermain."
"Harry, sudah cukup," ujar Casey gelisah. "Kami semua tahu."
"Kalau begitu kenapa hanya diam saat Daniel tanya, Cass?" sambung Harry, tetapi Vin tiba-tiba berkata.
"Ada ... sesuatu yang lain." Vin mengeluarkan ponselnya dengan tangan nyaris gemetar. Ia memperlihatkan pada mereka pesan yang diterimanya sekitar pukul tiga pagi. Air muka Daniel langsung jatuh. Tidak mungkin! "Semua ini dari Theo?"
"Tunggu!" Ethan buru-buru mencari ponselnya juga. "Kau juga mendapatkannya?"
"Sebentar. Apa kita semua mendapatkan pesan aneh dari Theo semalam?" Kate menambahkan, lalu mereka semua ikut mengeluarkan ponsel masing-masing, termasuk Daniel. Namun, hanya dia dan Vin saja yang membalas pesan itu, sementara lainnya tidak.
Jari-jari Daniel kembali mengusap tengkuk lehernya, memeriksa memar yang masih terasa sakit saat disentuh itu. "Oke, aku harus mengatakan sesuatu." Daniel mengumpulkan keberaniannya, dan menceritakan semua yang terjadi padanya semalam sama seperti yang dia katakan pada Kate saat di gym. Reaksi mereka agak berbeda-beda, tetapi satu hal yang pasti, semuanya terkejut.
"Aku tahu ini kedengaran gila, tapi ...." Suara Daniel memelan di akhir.
Chris sontak berkata. "Kita harus memanggil polisi. Sekarang juga. Mereka akan menemukan orang yang menyerangmu itu dan—"
"Apa? Chris, tidak! Bukan itu yang ingin kukatakan," potong Daniel. "Lagi pula kau pikir polisi akan percaya kalau ada monster yang menyerangku?"
"Itu pasti hanya orang Daniel. Kau bukan anak kecil, monster itu tidak ada!" Casey kembali menimpali.
"Tidak. Monster itu ada." Suara datar Kate mengalihkan mereka. "Maaf atas sikapku saat di gym tadi, Daniel, tapi kau memang benar." Kate berdiri, dan kemudian menjelaskan tentang golem yang menurutnya menyerang Daniel semalam. Sayangnya, beberapa dari mereka mulai skeptis.
Casey memutar mata sembari menyilangkan tangan. "Kau tahu kalau itu sulit dipercaya, Kate."
Harry mendengus. "Dari tadi kau hanya terus menyangkal, tapi—"
"Tapi Mr. Geagley sudah kembali." Daniel melanjutkan. Terlihat cowok itu menggigit kecil ujung bibirnya. Namun, tidak ada yang lebih kesal daripada Harry. Buku-buku jarinya seketika mengeras. Daniel nyaris berbisik saat menambahkan. "Kalian semua tahu kalau dia nyata."
Casey mulai kehabisan kata-kata. Vin semakin gemetar di tempatnya. Chris bahkan tak bisa menyembunyikan kegelisahan yang ia rasakan.
Namun, Ethan sebaliknya. "Baiklah. Sudah cukup. Kalian mau bilang Mr. Geagley kembali, terserah. Aku juga mendengar suara-suara itu di gym, tapi aku yakin ada penjelasan untuk itu. Tapi aku tidak percaya pada ceritamu, Daniel. Golem itu tidak ada," pungkasnya, dan tepat setelah itu ia sudah siap untuk pergi, tetapi Harry yang sudah kehabisan kesabaran tiba-tiba menyambar pundak Ethan dan menarik kerah bajunya.
Casey mulai berteriak terlebih ketika tangan Harry sudah naik, siap memukul cowok itu, tetapi beruntung Chris dan Daniel sigap menahan mereka.
"Kita tidak kesini untuk berkelahi!" tukas Daniel, tetapi Harry tak melepaskan Ethan.
"Sudah cukup permainanmu, Miller! Kau tidak bisa terus menyangkal semua ini! Daniel sudah mau baik hati untuk memperingatkanmu dan kau malah jadi acuh tak acuh lagi, seperti dulu!"
Mata biru Ethan melebar di balik lensanya, menemukan Harry jadi semarah itu membuatnya jadi bisu. Walaupun pada akhirnya Harry melepasnya, tetapi emosi cowok itu masih meledak-ledak. "Kau—tidak, kalian! Kalian semua melupakan Ginger! Apa kalian mau mengabaikan yang ini juga?!"
"Aku setuju. Kita harus bersiap," tambah Kate.
"Apa maksudmu?" tanya Chris.
Kate akhirnya berdiri. "Theo dilaporkan menghilang pagi ini oleh ibunya."
"Apa?!" Casey terkesiap. "Dan kau baru bilang sekarang?!"
"Kalian terlalu sibuk berdebat satu sama lain! Ah. Intinya, dia menghilang dan kalau kalian berpikir polisi seperti ayahku akan mengatasinya, itu kesalahan besar."
"Dan kenapa bisa begitu?" ketus Ethan.
"Karena hanya kita yang bisa menyelamatkannya." Daniel yang menjawab. "Hanya kita yang tahu siapa pelaku sebenarnya."
Casey lagi-lagi menampik. "Ya, benar. Dia diculik oleh teman khayalannya saat dia masih ... delapan tahun."
"Mr. Geagley bukan khayalan, dan kau tahu itu!" Erang Harry, tetapi gadis itu juga melakukan hal yang sama.
"Yang aku tahu adalah kita hanyalah sekelompok anak kecil bodoh yang seharusnya tidak bermain di hutan sendirian!"
Daniel bergegas masuk untuk melerai mereka lagi. "Teman-teman! Tenanglah! Bukan saatnya untuk terus berdebat. Kita tahu Theo dalam bahaya, jadi kita harus menyelamatkannya! Kita harus pergi—"
"Pergi ke dalam hutan ...." Vin berbisik, seiring napasnya yang pendek. Lebih pendek daripada angin yang malam yang datang untuk menerbangkan daun-daun gugur di bawah mereka. Tak lama Vin tiba-tiba mundur. "Tidak. Tidak, tidak, tidak. Tidak lagi. Aku tidak akan kembali ke sana."
"Vin? Aku tahu kau takut, tapi kita harus—" Harry berusaha untuk mendekatinya, tetapi baru sekali melangkah Ethan langsung menghalanginya dan meletakkan tangannya yang tegas di dada Harry.
"Mundurlah, Harry. Vin tidak perlu melakukan apapun yang dia tidak mau."
"Apa kau serius sekarang?!" Kali ini Harry benar-benar murka, tetapi Ethan juga tidak menahan diri. Harry tak lagi peduli meski di hadapannya adalah seorang dewan siswa. Ia sudah siap menghajarnya. Perkelahian benar-benar hampir saja akan terjadi andai pintu koridor tidak terbuka dan menimbulkan suara keras. Membuat mereka semua jadi tegang seperti binatang yang ditemukan mata predator.
Namun, yang muncul hanyalah tiga gadis pemandu sorak yang siap-siap untuk latihan. Daniel bahkan tak sadar telah menahan napas sampai ketiga orang itu pergi.
Tepat setelah itu Casey ikut menarik napas. "Dengar, Harry. Mungkin kau punya waktu untuk berurusan dengan monster di hutan, tapi beberapa dari kami punya urusan penting."
"Jadi sekarang ditangkap oleh monster bukan lagi masalah, Cass?" balas Harry.
"Harry, aku minta maaf. Hanya saja, aku tidak ingin berurusan dengan hal yang seperti ini."
"Kenapa? Karena itu mungkin akan mengacaukan kedudukanmu sebagai kapten pemandu sorak? Atau pesonamu di antara anak-anak populer?"
Casey lantas maju satu langkah ke hadapannya. "Karena jika memang Theo diculik oleh monster mengerikan di hutan, maka mencarinya mungkin malah akan menambah laporan orang hilang!"
"Jadi kalian akan terus menutup mata dan pura-pura tidak tahu apapun?! Sama seperti saat adikku tewas?!" Napas Harry memburu, amarahnya benar-benar akan jadi di luar kendali sebelum Chris lagi-lagi bisa menahannya. "Aku sudah muak dengan semua ini! Ginger dibunuh tepat di hadapan kita, dan kalian semua mengabaikannya!"
"Kami tidak mengabaikan apapun!" protes Casey.
"Omong kosong kalian tidak mengabaikannya! Pemandu sorak, basket, dewan siswa. Kalian semua hidup seakan baik-baik saja! Kalian semua terlihat bahagia, dan sekarang kalian akan melakukan hal yang sama untuk Theo?!"
"Oh?! Sekarang kau peduli dengan Theo?! Kemana kau bertahun-tahun yang lalu, Harry?" Casey akhirnya tak bisa menahan diri. "Di mana kau saat Theo benar-benar kacau? Di mana kau saat dia mengalami cedera sehabis pertandingan sepak bola?! Di mana kau, Harry?! Di mana kau saat itu?!"
Lalu pada akhirnya Casey pergi dengan kesal, menghilang setelah melewati pintu koridor untuk bergabung dengan latihannya. Vin masih berdiri di tempatnya, memandang ke bawah dengan tubuh gemetar hebat.
"Vin?" panggil Daniel pelan.
"Aku ... aku minta maaf. Hanya saja aku tidak bisa kembali ke sana. Aku hanya tidak bisa." Dia berbalik dan menyusul Casey untuk masuk ke dalam sekolah.
Harry kembali pada Ethan dengan tatapan tajam yang masih sama. "Kurasa kau juga akan pergi, Kapten?"
Berbeda dengan yang lain, dia pergi tanpa sepatah kata pun. Membuat Harry benar-benar muak dengan sikapnya. "Baiklah! Pergi saja kalian! Jika misalnya nanti kalian juga diculik, maka aku akan pura-pura tidak tahu!"
"Harry! Sudah cukup!" Daniel akhirnya menarik Harry mundur. Sejak lama Daniel selalu mendengar Harry punya tempramen yang mudah sekali disulut. Sekarang dia tahu gosip itu benar.
Untuk sejenak suasana kembali hening di antara mereka. Tersisa empat orang. Daniel melirik Chris, dan berpikir ia juga akan pergi untuk latihan. Lalu Kate ... Daniel tidak tahu. Namun, ia masih seperti Kate yang biasa. Nampak tak peduli, tetapi sebenarnya selalu sigap.
Lalu Harry. Daniel masih merasakan sulutan amarah, tetapi dia memberanikan diri untuk berkata pada mereka. "Aku akan menyelamatkan Theo."
"Aku ikut," ucap Harry tanpa ragu. Daniel langsung membalas dengan senyum sembari menepuk bahu cowok itu.
"Bagaimana dengan kalian?" Daniel lanjut melirik ke dua orang yang tersisa. Mulai dari Kate yang tengah sibuk membersihkan jemarinya.
"Perburuan monster di dalam hutan? Tentu saja aku ikut!" katanya dengan bersemangat. Daniel nyaris tertawa.
"Aku juga akan ikut," lanjut Chris. "Persetan dengan basket. Aku yakin Zayn tidak akan mengeluarkanku dari tim karena tidak ikut latihan satu kali. Theo temanku, aku harus membantunya."
"Theo teman kita," ujar Daniel. Mereka berempat saling menatap, dan kemudian mengangguk dengan yakin. "Baiklah, sudah diputuskan. Kita akan masuk ke hutan malam ini."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top