Chapter 4

Ethan selalu mendapati sekolah sepi saat pagi hari. Memang sudah kebiasaannya untuk datang paling awal, dan itu jauh sebelum ia jadi dewan siswa. Teman-temannya selalu menyebut cowok itu sebagai kutu buku paling populer di South Nova High.

Ia langsung masuk kelas dan menunggu pelajaran dengan membuat tanda light marker di buku. Sepuluh menit berikutnya dan belum ada siapapun yang bergabung dengan Ethan.

Setidaknya sampai pintu tiba-tiba saja terbanting dan membuat Ethan melompat dari kursi. Beberapa orang berseragam coklat masuk dan mengerumuni cowok itu. Ia belum sempat berkata apa-apa sampai Mr. Yuu berteriak di hadapannya.

"Itu dia! Bawa dia pergi dari sini!"

Bukan hanya guru sejarahnya, beberapa murid dan guru-guru lain yang ada di sana ikut berteriak dan menunjuk Ethan dengan tatapan dingin dan mampu membuatnya goyah.

"Aku tidak percaya Ethan menyimpannya!"

"Semua pada dirinya palsu!"

Lalu tak lama, di tangan seorang gadis kecil yang sangat Ethan kenali, tergenggam sebuah botol kecil yang semakin membuatnya terbelalak. "Di mana kau—"

"Jadi ini benar-benar milikmu?"

"Tidak! I–Itu bukan! Aku tidak pernah—" Dia mencoba untuk menyangkal, tetapi tertulis Ethan Miller di labelnya dengan jelas. Mulutnya basah, ia sontak menunduk dan menutup telinganya rapat-rapat. Tidak bisa ia jelaskan, tetapi kepalanya terasa nyeri hebat.

Kacamatanya buram akibat air matanya, kakinya gemetar dan ia jatuh berlutut. Isaknya menjadi teriakan putus asa.

"Tidak! Aku terpaksa melakukannya! AKU SUDAH TIDAK TAHAN!"

Lalu semuanya menjadi gelap, iris hitam Ethan gelagapan mencari cahaya. Semuanya hilang, tak ada apapun seperti sebelumnya. Ia baru sadar tubuhnya masih berbaring di atas kasur.

"Itu hanya mimpi ...." Ethan tertawa sendiri, tetapi napasnya memburu meski tahu yang terjadi barusan hanyalah bagian dari tidur pendeknya yang buruk. Buru-buru dia menyalakan lampu di nakas dan mengambil botol berisi pil-pil kecil. Tanpa air minum, Ethan langsung menelannya.

"Hanya mimpi buruk."

***

Daniel tak bisa melihat apapun, seluruh penglihatannya gelap, tetapi tahu seseorang sedang menariknya pergi. Sampai akhirnya tangan yang menutup kuat mata Daniel terlepas, lalu tubuhnya dihempaskan ke dalam kelas kosong yang sama gelapnya.

Sebelum Daniel bisa bangkit untuk melihat siapa yang telah mengerjainya, pintu langsung menutup rapat, diikuti suara 'klik' yang menandakan kuncinya sudah dipasang. "Selamat datang di semester baru, Daniel."

"John? Apa-apaan! Keluarkan aku dari sini!" Masih setengah meringis karena kesakitan, Daniel langsung memukul-mukul pintu tersebut.

"Ya, tapi aku ada urusan jadi ... mungkin besok," balas John. Selanjutnya adalah langkah kaki yang perlahan menjauh, lalu hening. John sudah pergi.

Bagus! Sangat bagus! Maki Daniel seraya duduk bersandar pada pintu. Satu-satunya yang dia harapkan adalah petugas kebersihan masuk dan mengeluarkannya, sama seperti sebelum-sebelumnya. Lagi pula bukan pertama kali Daniel mendapatkan perlakuan yang sama.

Daniel mengubah posisi dengan memeluk kakinya. Keadaan benar-benar senyap. Sangat senyap sampai-sampai Daniel bisa mendengarkan detak jantungnya sendiri. Ia tak tahu sudah berapa lama dirinya berada di dalam sana, tetapi tiba-tiba saja terdengar sesuatu dipukul dengan keras. Daniel bangkit tiba-tiba, deru napasnya berubah cepat. Mungkin jika suaranya dari luar, Daniel tak perlu sekaget itu, tetapi suara itu ada bersamanya di dalam ruangan.

Sembari menahan napas, dia berkata, "oke, John. K–Kau sama sekali tidak membuatku takut." Namun, tidak ada suara John atau orang lain. Malah terdengar sesuatu dipukul lagi, kali ini Daniel tahu itu salah satu meja di dalam kelas. Tangan Daniel sudah meraih gagang pintu untuk menariknya berkali-kali. Kepalanya cemas bolak-balik ke arah sumber suara dan juga pintu keluar.

"Tidak takut! A–Aku tidak takut!" Kenyataannya Daniel sangat ketakutan, dia sangat yakin kalau itu bukanlah ulah John atau siapapun yang bernyawa. Masih bergidik, salah satu meja malah terbanting ke depan kelas. Daniel sontak duduk kembali dan menutup seluruh tubuhnya sebisa mungkin.

Selama beberapa saat, hanya suara meja yang menemaninya. Daniel berdoa, memohon, dan berteriak dalam hati. Berharap semua itu berhenti. Siapapun itu, apapun itu. 

Lalu semuanya hilang, seisi kelas kosong itu tak lagi bersuara. Daniel memberanikan diri untuk mengintip, dan sorot cahaya terang seketika membuatnya buta sesaat. Butuh beberapa detik lamanya sampai Daniel sadar ia sudah berada di dalam hutan.

"Di mana?" Daniel bangkit. Ia menatap sekitar. Pohon-pohon menjulang dengan rimbun. Kenapa aku bisa ada di sini? Tanya Daniel dalam hati.

"Aku tidak takut!" Daniel sontak menoleh dan menemukan hal lain yang membuatnya terkesiap. Sesosok gadis kecil--sahabatnya, berada di hadapannya. Menatapnya marah dengan kedua tangan mengepal. Di belakangnya, Daniel melihat sebuah rumah tua yang di beberapa bagian sudah hancur hingga akar-akar pohon mengelilinginya.

Daniel mendapati mata gadis itu berkaca-kaca. Daniel berusaha untuk meraihnya, tetapi kumpulan bayangan hitam seketika mengelilingi Ginger.

"Ginger!" teriak Daniel.

"Berjanjilah kau akan melindungiku."

Daniel mulai panik, ia ingin berlari untuk menggapainya, tetapi kakinya tertahan seolah ditarik sesuatu. Sementara bayangan yang mengelilingi Ginger semakin gelap. "Ginger! Jangan pergi."

"Kau akan melindungiku, kan?"

"Aku—Aku akan melindungimu! Aku mohon jangan pergi!" Daniel putus asa. Ginger berjalan maju, tetapi justru melewatinya. "Tidak! Jangan pergi! Aku minta maaf! Aku minta maaf, Ginger ...."

Ginger semakin jauh darinya, Daniel terjatuh seraya menangis. Tidak lama, di telapak tangannya muncul bayangan yang sama, mengelilinginya dengan cepat. Daniel sesak napas. Ia tahu harus pergi, kabur dari sana, tetapi bayangan itu seakan menyedotnya masuk ke dalam tanah.

"Tidak! Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan, lalu semua jadi hitam sekali lagi.

'BRUK!'

Sesuatu yang dingin terasa di kulit kepalanya. Cahaya terang sekali lagi menembus kelopak matanya yang tertutup. Semula memang samar, tetapi ia mendapati bayang-bayang dari sosok cowok berkacamata. Begitu fokusnya kembali, ia akhirnya tahu Ethan tengah menatapnya dengan sebelah alis terangkat.

"Sama-sama," kata cowok itu sambil mengulurkan tangan, membantu Daniel yang masih terbaring di lantai.

"Omong-omong, bagaimana kau tahu aku di sini?" balas Daniel sambil menepuk-nepuk pakaian dan jeans-nya.

"Ada yang bilang John berulah lagi. Jadi ... apa kau mau melaporkannya? Setidaknya dia mendapatkan pelajarannya dan mungkin akan di skorsing." Daniel mau saja mengatakan iya. Namun, setelah berpikir panjang dengan apa yang sudah pernah terjadi di masa lalu, Daniel menggeleng. Sebelumnya—saat dewan siswa bukanlah Ethan—John mendapatkan skorsing dari laporan Daniel, tetapi setelah dia kembali ke sekolah, Daniel tak bisa berhenti membenamkan kepalanya di toilet selama dua minggu.

"Baiklah kalau begitu," balas Ethan lalu beranjak pergi. Dari jauh, Daniel menemukannya terlihat gelisah dan berkali-kali menatap jam tangannya. Lalu Daniel baru teringat kembali harus membicarakan sesuatu pada cowok itu. Dia berlari dan menyusul Ethan yang sudah berbelok di koridor kanan.

"Ethan, bisa bicara sebentar?"

"Tentu, tapi bisa sambil jalan? Aku harus ke auditorium segera." Daniel mengangguk, dan baru saja akan membuka mulut, Ethan malah melangkah dengan lebih cepat.

"Ini soal acara penerimaan," ucap Daniel tergesa-gesa.

"Acara penerimaan? Oh, maksudmu soal mati lampu itu? Aku sudah melaporkannya, dan kemungkinan akan selesai beberapa hari ke depan. Lagi pula kita ada pertandingan basket, jangan sampai itu mengganggu."

"Lalu bagaimana dengan suara itu?"

"Suara apa?" Di akhir kalimat Ethan, mereka sudah sampai di auditorium. Ethan sama sekali tak membuang waktu dan langsung masuk. Suara yang lantang menyambut mereka. Klub musik sekolah sedang latihan.

"Kerja bagus kawan-kawan! Tetapi ingat kalian harus mengosongkan tempat ini pukul empat, karena klub drama akan melakukan latihannya juga," teriak Ethan. Laki-laki lain yang ada di baris depan menaikkan jempolnya tanda memahami perintah.

"Ethan. Jangan bercanda, aku tahu kau mendengar suara itu." Daniel berusaha untuk mengembalikannya ke topik, tetapi dia sadar kalau Ethan sama sekali tidak mendengarkannya.

Akhirnya dengan terpaksa dia memegang kedua bahu Ethan agar mereka bisa saling berhadapan. "Dengarkan aku, okey! Theo dalam bahaya!"

Namun, bukan seperti yang Daniel harapkan, cowok itu malah mengangkat dahi. "Theo?"

"Theodore Randal! Temanmu! Teman lamamu yang—" Mata Daniel melebar, dia langsung urung dan melepaskan pegangannya. Ethan masih terlihat kebingungan, tetapi Daniel yakin cowok itu sebenarnya mengerti dengan arah pembicaraan mereka.

Dalam diam yang singkat, ponsel Ethan berdering. Dia langsung menghela napas dan tatapan yang berubah kacau. "Maaf, aku harus menjawab ini."

Sudut bibir Daniel turun saat melihatnya keluar melalui pintu belakang, tembus ke parkiran sekolah. Dia mengikuti, dan menemukan Ethan berada di tengah-tengah panggilan telepon dalam nada tinggi. Bukan pemandangan yang biasa.

"Ya, Mama, aku tahu ada seminar penerimaan kampus malam ini, tapi kita sudah membicarakannya ... karena, aku harus bertemu dengan panitia pesta prom dan buku tahunan sepulang sekolah, dan aku tidak bisa berada di tiga tempat sekaligus ...!"

Daniel baru berani mendekat setelah nada suara Ethan melemah. "Aku tahu, Mama. Aku tahu. Ya, love you too. Bye." Ethan mendesah lagi. Itu adalah kali pertama bagi Daniel menemukan dan mengetahui kalau menjadi dewan siswa tidak semudah yang dia pikirkan selama ini. Ethan bahkan tak bisa menyembunyikan kelelahan dan betapa tertekannya ia.

"Kau tahu ... jika kau mungkin ingin istirahat sejenak—"

"Saat itu juga sekolah ini akan hancur," balas Ethan dengan tawa yang hambar, tetapi ponselnya bergetar lagi dan Daniel tahu Ethan benar-benar tak bisa diajak bicara sekarang. Terlebih ketika di balik kacamata itu muncul kilatan tajam dan jempol yang bergerak cepat di layar ponsel.

Jadi Daniel membatalkan niatnya untuk mengobrol, meski harus. Dia berpikir bisa meminta nomor ponsel Ethan saja dan membahas semuanya nanti. Daniel siap beranjak pergi sebelum Ethan tiba-tiba memanggilnya.

"Dengar, aku memang sedang sibuk, jadi jangan buat ini lama," ucapnya dalam suara kecil. Matanya sempat melirik sekitar sebelum kembali pada Daniel. "Soal suara-suara itu, aku mendengarnya. Lalu Theo ... dengar, aku—"

"Sungguh?" tanya Daniel, dan Ethan mengangguk ragu.

"Aku tidak akan bohong, Daniel. Aku mendengarnya, tapi ...." Suara Ethan nyaris hilang.

Daniel merasa pembicaraan mereka tak bisa dilanjutkan. Ia segera meraih pundak Ethan. "Baiklah. Begini saja, bagaimana kalau kita bahas nanti dengan yang lain?"

"Yang lain?"

"Ya. Yang lain. Kita semua. Aku yakin bukan hanya kita dan Harry yang mendengarnya. Jadi kita akan membicarakannya di air mancur, pukul enam. Aku harap kau bisa datang sebentar."

Ethan mendesah. "Aku ada pertemuan malam ini. Jadi kuharap tidak lama." Ia terburu-buru pergi. Daniel tak bisa memastikan apakah itu karena Ethan benar-benar sangat sibuk atau karena memikirkan apa yang terjadi sepuluh tahun lalu.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top