Chapter 3

Daniel mendapati murid-murid lain terlihat biasa saja dengan acara penyambutan yang terpaksa dihentikan. Ia sendiri hampir tak berhenti menatap dengan gelisah. Dia memicingkan mata untuk melirik orang-orang tertentu, dan menemukan mereka sama khawatirnya seperti Daniel.

Dari sudut belokan koridor, ia menemukan Kate. Daniel baru saja mengangkat tangan untuk memanggilmya, tetapi cewek itu melangkah sangat cepat dan menghilang dari kerumunan. Sekali lagi, Daniel bisa meyakinkan dirinya, kalau dia tidak sendirian mendengar suara itu.

Di kelas, Daniel masih belum melepaskan perhatiannya dari kejadian itu. "Sekarang jika kalian membuka buku halaman 102 ...." Penjelasan dari guru sejarahnya pun seakan memantul keluar dari telinganya. Bunyi spidol di atas papan hanya memekak selama beberapa detik baginya. Saat Daniel menutup mata, hanya hening yang bisa dirasakannya.

Daniel mencoba untuk mengingat kembali sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dikenangnya lagi. Sebuah ingatan saat dirinya masih berumur delapan tahun.

***

Saat itu sinar matahari yang hangat menyinarinya di antara pepohonan rindang. Kamath memang sebuah kota yang dibangun di tengah-tengah hutan, meski begitu fasilitasnya sudah cukup memadai bagi semua orang yang hidup di sana.

Bersama sahabatnya—gadis berambut kuning cerah—Daniel berjalan dengan agak ragu. "Ginger, ke mana kita pergi? Ibumu akan membunuh kita jika dia tahu kita pergi sejauh ini sendirian." Namun, sahabatnya yang ada di depan itu tak menggubris, dia tetap berjalan lebih jauh ke dalam hutan.

"Aku tahu, tapi kau harus melihatnya! Sebentar lagi kita sampai," balas Ginger tak berbalik, beberapa saat kemudian langkahnya sudah memelan. Ketika tiba, Daniel tertegun, mata abu-abunya hampir tak berkedip. "Whoa."

Ginger mengangguk dan memberikan tatapan apa—aku—bilang. Di hadapan mereka, berdiri sebuah bangunan batu yang sudah hancur di beberapa sisi. Akar-akar pohon tumbuh seakan meremukkan dindingnya yang tersisa. Tepatnya, seperti sebuah rumah tua yang sudah ditinggalkan sangat lama.

"Tempat apa ini?" tanya Daniel.

"Tidak tahu, tapi lihat ini." Ginger membungkuk untuk mengambil kerikil di dekat kakinya, kemudian melemparkannya ke rumah tersebut. Batu itu mengarah lurus menuju pintu depan yang rusak, dan batu itu seketika berhenti di udara.

"Tidak mungkin!" Kerikil itu bahkan masih tetap melayang di udara selama Daniel tercengang tak percaya. "Itu sangat ... keren! Aku juga mau coba!" Daniel mengambil kerikilnya sendiri dan melemparkannya ke tempat yang sama. Batunya juga tertahan di udara seperti menabrak sebuah penghalang tak terlihat yang dilapisi lem lengket, dan beberapa detik kemudian baru jatuh ke tanah.

"Kereeeen!" Daniel semakin takjub. "Aku penasaran apa yang ada di dalam sana."

Ginger menoleh, kali ini terpancar keraguan di matanya. "Di dalam? K–Kita tidak bisa masuk ke dalam!" protesnya, meski sadar kalau dialah yang mengajak Daniel.

"Kenapa tidak? Tidak mungkin ada yang tinggal di sini. Lihat, bahkan ada lubang di atapnya." Daniel masih tetap penasaran dan membujuk Ginger agar mau ikut masuk ke dalam.

"Bagaimana kalau kau salah? Bagaimana kalau misalnya kita masuk dan malah terjebak masalah? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?" Ginger meringis, gadis itu menunduk dengan tangan mengepal dan bibir bawah yang gemetar.

Daniel menaruh dua jarinya di dagu untuk berpikir, dalam beberapa detik bola lampu muncul di atas kepalanya. "Hei ... kau membawa kado yang pernah kuberikan saat ulang tahunmu?" Ginger mendengus dan mengangguk, dia memasukkan tangannya ke bawah kerah gaun dan menarik sebuah peluit aluminium yang mengalung di lehernya.

"Bagus! Ingat apa yang kukatakan saat kuberikan itu untukmu?"

"K–Kalau aku merasa takut, aku hanya harus meniup peluitnya, dan kau akan datang untuk melindungiku." Ginger menaruh peluit itu di bibirnya, kemudian meniupnya sampai nada yang naik turun  menggema ke sekitar hutan. "Hehe ...." Tawa pendek yang dia buat berhasil melegakan Daniel.

"Jangan khawatir, Ginger. Kau sahabatku. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu." Kali ini giliran Daniel yang melangkah di depan. Namun, baru beberapa meter mulai terasa seperti batu-batu yang menyusun rumah itu memanggilnya. Rumah itu ternyata lebih mengerikan jika dari dekat. Kakinya bergetar dan Daniel seketika berhenti di tempatnya. Niatnya langsung pupus saat itu juga.

Daniel menoleh dan menemukan Ginger ternyata masih di tempatnya. "Um ... tapi jika kau terlalu takut, kita bisa pergi—"

"Aku tidak takut!" tukas Ginger lalu melangkah dengan cepat. Pandangannya jadi ikut gugup saat menyusul Daniel "Hanya ... berjanjilah kau akan menjagaku."

Daniel menaikkan jempolnya sebagai respon. Sadar sudah tidak bisa mundur, Daniel meneruskan langkah dengan jantung yang berdegup cepat. Di depan pintu, Daniel mengulurkan tangannya untuk mencoba merasakah sesuatu yang ada di dalam.

"A–Apa ada sesuatu? Apa sesuatu menggigitmu?" tanya Ginger khawatir melihat Daniel kembali berhenti.

"Tidak ... hanya, geli." Saat Daniel mulai memasukkan satu kakinya ke dalam, tubuhnya seakan kesemutan, lalu tiba-tiba normal. Perasaan yang aneh tersebut membuatnya tersenyum paksa pada Ginger.

Mereka akhirnya masuk ke dalam, kegelapan mengelilingi keduanya seperti kabut. Dingin mulai membuat Daniel menggigil meski dia menggunakan hoodie favoritnya sekarang. Dengan sisa keberanian dan harga dirinya di hadapan Ginger, Daniel melangkah masuk lebih jauh. Ia mengintip ke sebuah ruangan yang membuat Daniel terhenyak. Dia sangat yakin telah melihat seseorang di sana, bahkan yakin kalau orang itu juga melihatnya.

"H–Halo?" Daniel memanggil. Suaranya bergema ke seluruh sudut, dan saat memantul kembali dia semakin yakin kalau itu bukan sepenuhnya suaranya.

"HaLOoo ...."

"Apa ada orang di sana? Siapa namamu?"

"Nnnnnaaaamaaamu ...?" Daun-daun kering di sekitar kaki Daniel mulai tertiup ke samping, menampakkan sepetak batu halus dengan warna abu-abu. Daniel memicingkan mata dan menyadari sesuatu tertulis di atasnya.

'Geagley.'

"Geagley ...? Terdengar ... lucu. Hehe! Seperti nama untuk boneka. Senang bertemu denganmu, Mr. Geagley. Aku Daniel!"

"Daniel ...!" Suara Daniel kembali memantul. Ia mendekati salah satu ruangan yang gelap dan menyipitkan matanya. Daniel melihat sesuatu seperti tangga yang mengarah ke lantai bawah.

"Daniel? Apa kau baik-baik saja? Dengan siapa kau berbicara tadi?" Ginger menyusul dengan gelisah, sedari tadi kebingungan melihat Daniel berbicara sendiri.

"Sebentar, kupikir ada sesuatu—" Sebelum bisa selesai bicara, angin tiba-tiba menderu melalui lubang-lubang di lantai. Daniel dan Ginger sigap menarik tangannya untuk melindungi wajah mereka, tetapi tekanannya langsung berpindah ke segalah arah, Daniel tak mampu menahan dirinya untuk terjatuh.

"Ouch!" Angin jadi semakin kuat dan langsung menyeret Daniel masuk. "Aaaahhhh!" Tangannya berusaha mencakar lantai dan menemukan sebuah celah untuk menahan dirinya, meski pegangannya nyaris tak bertenaga.

"DANIEL?!"

"Ginger, lari!" Meski ragu, gadis itu tetap mengikuti perintahnya. Ginger langsung berbalik dan mencoba untuk keluar, tetapi angin itu mampu mengejar dan menyambarnya sebelum Ginger melangkah lebih dari tiga kali.

"Daniel!" Ginger tertarik lebih cepat, dan langsung menarik kaki Daniel tetapi hanya berhasil meraih celananya. Ginger mencengkeramnya begitu kuat sampai celana Daniel sudah melorot dan akan terlepas.

"Ginger!" Teriakan Daniel meraung di antara panik dan malu. Pegangannya sendiri akan terlepas.

"Daniel, aku tidak tahan lagi! Tanganku licin!" Ginger mulai menangis. Hati Daniel berteriak untuk dirinya sendiri. Lakukan sesuatu!

Segera ketakutannya berubah menjadi amarah. Dia berteriak ke dalam kegelapan yang masih menariknya. "Hentikan, Mr. Geagley! Hentikan sekarang juga, atau ... atau teman-temanku akan datang dan menghancurkan rumah bodohmu!"

Angin kuat tetap menarik mereka. Daniel merasakan celananya sudah sampai di ujung kakinya dan tangisan Ginger jadi semakin kuat. "Daniel! Tolong aku!"

Daniel akhirnya ikut menangis meski tidak sampai terisak. Ginger ... aku harus melindungi Ginger. Tangan Daniel semakin licin, tetapi dia juga sudah berjanji untuk melindungi sahabatnya. Hingga tak lama angin berhenti, Daniel membuka mata dan menyadari keadaan tiba-tiba berubah senyap.

Sedikit hati-hati, Daniel melirik sekitar, dia menemukan Ginger menempel di lantai masih terisak. Wajah Daniel berubah bagai tomat segar dan buru-buru berdiri begitu sadar Ginger menarik celananya sampai benar-benar terlepas.

"H–Hei ... Ginger. Kau sudah bisa melepaskan peganganmu." Ginger akhirnya mengangkat kepala. Daniel langsung berteriak. "Jangan melihat!" Ginger langsung menutup mata. Gadis itu tak tahu apapun yang terjadi, sementara Daniel memanfaatkan kesempatan untuk mengenakan celananya yang masih ada di tangan Ginger.

Daniel tersadar kalau dia kehilangan ikat pinggangnya. Pasti terbawa angin. Daniel terpaksa harus memegang ujung celananya dengan satu tangan.

"Ah! Peluitku hilang." Ginger meraba sekitar lehernya, benda yang sejak tadi mengalung di lehernya juga sudah menghilang sama seperti ikan pinggang Daniel.

"Ginger, ayo kita pergi saja dari sini, atau Mr. Geagley akan berubah pikiran dan mengambil kita juga." Satu tangan Daniel yang tersisa menarik Ginger untuk keluar dari rumah itu. Keduanya melangkah dengan cepat dan sampai ke hutan dengan nafas yang tersegal-segal.

Di tempatnya, Daniel tak mampu menahan diri untuk melihat ke belakang sekali lagi. Kesal karena sekarang dia harus pulang dengan menahan celananya, dan juga peluit pemberiannya yang diambil. Hanya saja, sepanjang pengamatannya rumah itu tetap sunyi tanpa ada suara, tidak ada tanda-tanda seseorang tinggal di dalam sana. Seakan memanipulasi pikiran mereka sejak tadi.

***

Kejadian itu sepuluh tahun yang lalu, jika saja Daniel sudah delapan belas tahun seperti sekarang, tentu dia tidak akan sepenasaran itu dan membawa sahabatnya masuk ke dalam. Bahkan kalaupun masuk, dia juga tahu kalau angin itu tidaklah normal.

"Daniel ...." Dia masih terus mengkhayalkan hal yang sama, hanya suara Ginger yang memutar kepalanya. "Kau akan melindungiku, kan ...."

"Ya ... Ginger. Aku akan melindungimu, itu janjiku padamu," balas Daniel, tetapi tidak bersuara. Daniel hanya berdialog dengan dunianya sendiri.

"Daniel Connor!" Mata Daniel membuka dengan terbelalak, jiwanya seperti baru saja kembali ke tubuhnya setelah bersenang-senang melintasi waktu. Hal pertama yang Daniel temukan adalah Mr. Yuu menatapnya begitu dingin dan tajam, khas dari guru berumur 43 tahun itu. "Senang melihat kau sangat memperhatikan pelajaran ini, jadi kau pasti tahu jawaban dari pertanyaanku."

"Y–Ya, pak." Jawaban itu justru membuat keadaan menjadi semakin runyam—karena nyatanya Daniel tak ingin berkata begitu, melainkan hanya refleks semata. Murid-murid di dekatnya mulai terkekeh.

"Kapan eksekusi mati seorang penyihir terakhir dilakukan?" Daniel mulai melirik gugup—mengutuki diri sendiri karena melamun terlalu lama—dan yang dia temukan hanya teman-teman sekelasnya yang mengedikkan bahu ataupun meliriknya dengan senyuman mengintimidasi. Sampai keajaiban muncul tepat di depan kursinya.

Seorang murid dengan sweater kain dan kacamata yang mulai jadi identitasnya sejak acara di gym pagi ini. Dia tidak menoleh ke belakang untuk menatap Daniel melainkan fokus ke papan tulis, tetapi bukunya terangkat dan memperlihatkan Daniel empat angka yang tertulis di sana.

"1878?" jawab Daniel. Mr. Yuu langsung menaikkan alis, terkejut.

"Kau benar, Daniel. Tahun 1878. Bayangkan itu, murid-murid. Belum lama ini! Hanya 139 tahun yang lalu." Penjelasan Mr. Yuu berlanjut, dan Daniel bisa bernafas lega di tempatnya. "Kesimpulannya hari ini: sejarah tidak akan bisa lepas dari kehidupan, masa lalu akan selalu merayap di belakang kita."

Sisanya masih mengisi kelas sampai bel berbunyi. "Dan ... kelas selesai. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya." Murid-murid mulai mengemasi barang-barang mereka. Daniel menarik napas saat membopong tas. Ia ingin menyusul cowok yang tadi membantunya, dan bukan hanya untuk berterima kasih. Daniel memang ingin membicarakan sesuatu dengannya.

Namun, sebelum Daniel bisa memegang pundaknya, Mr. Yuu sudah terlebih dahulu menahan cowok itu. "Ethan! Ada waktu?"

"Uh ... ya, tentu saja, Pak." Melihat Ethan ditarik dari pintu membuat Daniel urung. Keluar dari kelas, Daniel menemukan Harry tengah menyimpan buku-buku di loker. Daniel beringsut untuk mendekat, tetapi tetiba saja seluruh matanya jadi gelap, dan tubuhnya terasa seperti diseret pergi.

"Hei! Apa yang—lepaskan aku! Lepaskan—"

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top