Chapter 2
Kate masih terus menggambar saat ia berkata. "Kau duduk di tempat temanku. Tapi dia tidak berwujud jadi tidak dihitung."
Daniel langsung tertawa, hingga dia sadar kalau Kate hanya terdiam. Jadi ia ikut terdiam dan suasana di antara mereka berubah canggung sekali lagi.
Jauh di belakangnya ia bisa mendengar samar orang-orang berkata 'dia duduk di samping penyihir itu'. 'Mungkin dia mau belajar sihir'. 'Mungkin dia sedang dikutuk'. Daniel coba untuk mengabaikan itu semua seperti Kate yang selalu terlihat santai. Daniel tak tahu Kate sedang menggambar apa, tetapi cewek itu berkata lagi. "Jadi kau yakin mau bergabung dengan kultus sihirku?"
"Aku tidak mau bergabung dengan—tunggu, jadi kau sungguh melakukan praktik sihir?" Daniel terkesiap, kemudian terbentuk senyuman di wajah Kate, lalu berubah jadi kikikan pendek. Sesuatu yang sejak sangat lama akhirnya Daniel temukan. Kate sejak awal memang hanya bercanda. "Ah ... begitu menyenangkan melihat semua orang ketakutan," katanya puas.
"Baiklah ... kau berhasil." Daniel tersenyum.
"Tapi kau memang takut, bukan?" Sambung Kate dan Daniel terdiam sejenak.
"Tidak? Kenapa aku harus takut padamu?"
"Bukan padaku. Tapi sejak di lorong, dan lagi pula sekarang kau mencungkil bangku malang itu tanpa alasan selain takut pada sesuatu." Daniel menoleh ke bawah, dirinya sama sekali tidak menyadari kalau kukunya sudah mengambil serpihan demi serpihan dari tepi bangku penonton.
Daniel mendesah. "Ya ... ini soal ... ini sebenarnya aneh untuk diceritakan."
"Aneh juga nama tengahku, tapi lanjutkan." Walau terlihat acuh tak acuh, Daniel tahu Kate sebenarnya penasaran—atau peduli—dengan masalahnya.
"Jadi ... apa tanggapanmu kalau aku mengatakan 'semalam aku melihat monster'?"
"Tergantung. Seperti apa monsternya?"
"Dia ...." Ingatan Daniel kembali saat malam penyerangan, masih cukup membuatnya merinding sendiri. "Dia mirip Theo."
Tangan Kate berhenti menggambar. Perlahan ia menoleh pada Daniel "Teruskan."
"Awalnya dia seperti Theo, sampai kemudian aku tahu kalau dia bukan Theo karena dia menyerangku. Lalu wajahnya seperti ... meleleh, dan baunya sangat busuk. Seperti ... air rawa, kurasa." Jelas Daniel berusaha mencari kata yang tepat.
"Golem," jawab Kate langsung.
"Golem? Apa itu?"
"Monster, seperti yang kau katakan. Dalam ilmu sihir, dia terbuat dari tanah liat atau lumpur," jelas Kate lalu kembali menggambar pada lembar kosong yang berbeda.
"Tapi anehnya dia menghilang saat aku bangun. Kenapa dia hanya menyerangku lalu pergi?"
"Jujur aku tidak tahu banyak soal golem, enam puluh persen berasal dari Wikipedia, dan sisanya dari seorang pria bernama 'VenoomX' yang kutemui di forum internet." Kate mengangkat bukunya, dan memperlihatkan sketsa kasar yang sudah dia buat. "Apa terlihat seperti ini?"
Daniel terperangah pada gambar tersebut, dan sekilas hampir mirip. Meski ukuran tubuhnya sedikit besar, tetapi dia cukup yakin untuk mengangguk sebagai jawaban awal. "Jadi ... bagaimana?" sambung Daniel.
Kate menarik napas. "Mungkin aneh mendengar ini dari mulutku, tapi monster itu tidak nyata. Jadi aku minta maaf, Daniel. Kau pasti hanya bermimpi." Daniel memang tidak berharap banyak, tetapi jawaban yang Kate berikan tidak membuatnya puas. Sedikit bergidik, dia meraba kembali lehernya yang sakit.
"Monster itu nyata, kau sendiri pernah melihatnya, kan?" kata Daniel nyaris tak terdengar, tetapi Kate langsung berhenti menggambar. Mata Kate nampak kosong tiba-tiba.
"Aku tidak mau membahasnya, Daniel." Suara Kate tidak lagi seperti sebelumnya. Ada kemarahan, dan juga getaran takut. "Ya ... Mr. Geagley adalah monster, tapi itu sudah sangat lama."
Daniel sebenarnya menyesal sudah mengatakan itu, dia bahkan lebih daripada takut dengan hanya mengingatnya kembali. Meski kejadiannya sudah sangat lama, tetapi setiap detik di hari itu masih tersusun rapi di kepalanya.
Mereka berdua jadi terdiam. Di antara suara dan keramaian, Kate memutuskan untuk berdiri. "Kau mau ke mana?" tanya Daniel.
"Pergi, acara ini membosankan."
"Tapi acaranya bahkan belum di mulai ...." Namun, Kate sudah pergi, dan menghilang ditelan keramaian murid-murid lain yang masih sibuk mencari tempat duduk. Sambil menarik napas, Daniel mengambil ponselnya, dan belum menemukan pesan masuk dari orangtuanya yang masih di luar kota. Daniel tentu saja tidak bercerita tentang penyerangan tersebut, hanya bertanya kapan mereka akan pulang.
Ia memikirkan lagi kata-kata Kate. Mungkin dia benar. Mungkin ada sesuatu yang terjadi hingga leher Daniel memar. Ia melamun cukup lama sampai tak menyadari seseorang sudah mengisi tempat Kate. Ketika ia menoleh, Daniel nyaris melompat.
"Harry?!" Cowok bertopi kupluk itu melambai kecil, dan sama seperti Kate, wajahnya datar dan hampir seperti tak ingin berada di sana. "Hei ... bagaimana kabarmu?" lanjut Daniel.
"Aku baik. Kau sendiri?"
"Sedikit tidak enak badan." Daniel tersenyum. "Omong-omong ... sudah lama kita tidak mengobrol sejak ...." Daniel memutuskan untuk diam begitu tahu lagi-lagi dia akan salah bicara. Dasar kau bodoh, Daniel!
"Ya, aku tahu." Harry yang paham hanya membalas sebisa mungkin, tanpa menunjukkan sikap canggung seperti Daniel. Kemudian tak ada lagi yang berbicara selama beberapa menit lamanya. Daniel memusatkan fokusnya di podium, melihat seorang laki-laki yang tinggi dengan kacamata tebal berjalan ke arah mic.
"Apa kabarmu, South Nova High?!" Semua orang langsung berteriak. Seisi gym berguncang saat mereka semua menghentakkan kaki ke lantai.
Daniel sendiri agak terkejut menemukan cowok itu, bukan hanya keributan yang sudah dia hasilkan, tetapi bagaimana penampilannya cukup berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. "Ethan tampak ... berbeda."
"Ya, setelah tubuhnya mencapai enam kaki, lalu dia akhirnya mulai memakai gel rambut. Dewan siswa kita sudah berubah sepenuhnya," jelas Harry menerka. Di sana, Ethan melambai ke kerumunan yang masih bersorak-sorai sambil tersenyum manis.
"Selamat datang kembali, semuanya! Bagi kalian yang belum mengenalku, namaku Ethan Miller, dewan siswa South Nova High." Kerumunan semakin menggila, terutama murid-murid perempuan yang menggemarinya. "Aku tahu, aku tahu. Semuanya pasti merasa sedikit malas karena semester baru sudah di mulai, tapi percayalah, ini akan jadi tahun yang tidak akan pernah kalian lupakan. Maka dari itu, mari kita menyambutnya, dengan gaya South Nova."
Sinyal Ethan disambut dengan beberapa pemandu sorak yang melompat dari bangku penonton, melambaikan dan melempar pom-pom mereka ke udara.
"Apa itu Casey?" Salah satu gadis menarik perhatian Daniel hingga membuatnya mengangkat alis.
"Mari kita mulai!" teriak gadis yang Daniel maksud. Semua pemandu sorak kemudian berlari ke tengah, dan Casey berhasil menarik kembali sorak-sorai dengan melakukan putaran ke belakang dengan mudah.
"Dia luar biasa." Meski tak akan didengar, Daniel memuji bakat gadis itu di tempatnya. Casey melempar senyum yang manis ke kerumunan, lalu pandangannya berganti ke regunya yang seketika membuat lekuk bibirnya memudar. Casey berbalik, dan tanpa diduga ia tersandung kakinya sendiri dengan wajah terkapar di lantai.
"Aaaaahhhh!" Jeritan Casey disambut tawa oleh seluruh penonton. Sambil berusaha menyembunyikan wajah, ia buru-buru kembali ke tempat duduknya.
Satu pemandu sorak ikut maju, kali ini dia mampu melakukan putaran tiga kali di udara yang membuat semua orang terkesan. "Sekarang itu yang luar biasa," ucap Harry.
Setelah semua pemandu sorak selesai, di podium Ethan kembali mengambil alih. "Wow, itu dia penampilan menakjubkan dari tim pemandu sorak. Untuk selanjutnya kita akan serahkan ke tim basket South Nova."
Tepuk tangan yang meriah menyambut kedatangan barisan pria dengan seragam basket biru di depan podium. Kali ini, perhatian Harry diambil oleh salah seorang di antara mereka. "Chris akhirnya berhasil masuk tim basket."
"Bagus untuknya. Dia pasti sangat bekerja keras, aku tidak sabar melihatnya bermain," balas Daniel ikut melirik ke arah Chris. Tampak cowok itu sangat senang dengan keramaian yang ada di gym.
Kemudian remaja lain—kapten tim basket—mengambil tempat Ethan. "Apa kabar kalian, South Nova High?!" Kerumunan kembali berteriak dan menginjak-injak lantai di bawah mereka. "Dalam beberapa minggu, kami akan punya pertandingan besar, jadi sebaiknya kalian berada di sini untuk melihat kami menghancurkan tim lawan!" ucapnya dengan lantang. Dia melanjutkan, "aku akan jujur, kita punya cukup banyak pemain baru tahun ini, tetapi bukan berarti itu akan menghentikan—"
Dia berhenti, lampu-lampu di dalam gym tetiba saja berkedip-kedip. "Uh ... permisi?"
Terdengar gemerisik di podium, sementara di bangku penonton murid-murid melirik mencari tahu. Suara Ethan kembali terdengar dari speaker berusaha menenangkan kerumunan. "Semuanya, tetaplah di tempat masing-masing. Kita tidak ingin ada yang jatuh dari—ksssshhhhhkkkk!" Kemudian berubah menjadi statis. Musik yang masih terputar ikut tersendat-sendat, mati lalu menyala kembali.
Lalu terdengar suara bantingan pintu yang mengagetkan semua orang, diikuti angin yang kencang menyapu seluruh ruangan. Lampu kembali menyala, dan Daniel hampir melompat dari kursinya saat tiba-tiba Harry mencengkeram lengannya.
"Harry, apa yang—"
"Shhhhh! Diamlah, apa kau tidak mendengarnya?" Harry menaruh telunjuk di depan bibirnya. Mengikuti isyarat itu, Daniel berusaha mencari. Selama beberapa detik, memang hanya terdengar gemuruh pelan dari kerumunan yang masih bingung dengan apa yang terjadi, tetapi akhirnya Daniel bisa mendengarnya. Suara yang mampu menarik semua napas di dalam tubuhnya dan mendinginkan kulitnya.
"Oh tidak ...."
Musik pada sound system akhirnya mati total, dan lampu di satu sekolah jadi padam sepenuhnya. Hanya tersisa suara, suara yang berat ... tetapi tidak asing.
"Semuanya ... harus ... bermain ...."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top