Chapter 1
Hamburan manusia memenuhi halaman depan South Nova High, melambai dan memanggil teman-temannya di kejauhan. Koridor juga sama ramai. Daniel kesulitan melewati gelombang kerumunan tersebut sebelum tiba di lokernya.
Setelah membuka pintu loker, ia malah terdiam. Memikirkan apa yang baru saja terjadi. Satu tangannya meraba belakang lehernya, dan panas langsung terasa hingga Daniel mengernyit kesakitan.
Pagi ini, Daniel bangun dalam keadaan yang berbeda. Adrenalin membara di pembuluh darahnya. Tubuhnya meronta-ronta berusaha melawan seseorang yang menyerangnya. Hingga Daniel tersadar kalau dia masih terbaring di kasur. Daniel hanya sendirian di kamarnya.
Buru-buru Daniel melompat dan masuk ke kamar mandi untuk melihat cermin. Semula tampak biasa saja, tetapi saat dia berputar, hampir seluruh punggung lehernya merah karena memar.
Dia memeriksa sekitar rumahnya, dan tak ada tanda-tanda dari Theo, atau bahkan monster dengan bau yang sangat mengerikan. Daniel sampai bertanya ke tetangganya kalau-kalau dia melihat seseorang, tetapi semuanya nihil. Membuatnya sampai sekarang masih belum mengerti, apakah yang terjadi padanya memang nyata atau mimpi belaka?
Saat menutup pintu loker, mata abu-abunya menyorot ke gadis yang sibuk memasukkan kombinasi kunci lokernya. Daniel agak terkejut menemukannya di sana. Bukan karena gaya gothic serba hitam dan rambut merahnya yang berbeda daripada orang-orang kebanyakan, tetapi karena dia adalah Kate.
"H–Hei," sapa Daniel dengan suara agak gugup.
"Hei." Kate membanting pintu lokernya dengan keras, dan kemudian pergi. Daniel menyimpulkan kalau loker gadis itu sudah dipindahkan ke sebelahnya. Daniel kemudian menyusulnya.
"Ketty, aku mau—"
"Jangan panggil aku Ketty, Daniel." Kate berhenti dan menaikkan satu tangannya ke atas, membuat langkah Daniel ikut berhenti dengan tiba-tiba. "Dan kau mau bicara apa?" Seakan mampu membaca pikiran, dia melanjutkan. Membuat Daniel jadi gagap lagi saat dia baru membuka mulut.
"Umm ... begini ... jangan tersinggung, tapi kau tahu banyak soal ... hantu, kan?" katanya sambil mengusap tengkuknya yang masih panas.
"Aku hantunya di sini, jadi apa kau serius ingin bertanya seperti itu padaku?" Tubuh Daniel langsung terguncang, dia melirik orang-orang di dekatnya yang mulai berbisik dan menatap aneh ke arah mereka. Daniel bisa mengerti akan sikap-sikap itu dan sama sekali tak mau protes.
Banyak orang—termasuk Daniel—yang percaya kalau Kate adalah remaja yang spesial. Sesekali mereka mendengar gadis itu berbicara sendiri, mengucapkan kalimat-kalimat aneh, dan menulis huruf-huruf yang hanya bisa dibaca olehnya seorang. Mereka percaya kalau Kate bisa melihat apa yang tidak dilihat orang-orang, atau Kate memiliki kaitan dengan iblis dan melakukan praktik sihir di rumahnya. Dengan ayahnya yang seorang polisi, membuat mereka semakin yakin kalau Kate adalah anak yang aneh.
Sampai tak lama malah terdengar lantang sebuah hinaan yang membuat Daniel malu, meski itu bukan ditujukan untuknya. "Lihat, itu Kate si Penyihir."
Dua murid laki-laki dan perempuan mendekati mereka, masing-masing memberikan seringai yang cukup membuat Daniel menghela napas. Berbeda dengannya, Kate terlihat lebih santai dan memasang wajah datar. "John dan Jesse. Apa kalian mau konsultasi mimpi buruk yang kau alami tadi malam?" kata Kate pada kedatangan mereka.
"Aku tidak bermimpi apapun, dasar gila!" balas Jesse, lalu menoleh pada Daniel. "Tapi aku lihat kalau sepertinya Daniel mulai tertarik untuk bergabung dengan kultus sesatmu."
Karena namanya sudah disebut—yang memang sudah ia duga, Daniel coba membalas. "Tidak ada yang meminta pendapatmu, Jesse." Katanya, tetapi air mukanya langsung jatuh saat John memelototinya. Daniel merasakan sesuatu yang membuat kakinya berteriak untuk lari, tetapi juga terlalu takut untuk pergi.
"Jadi ... apa ada—" Jesse baru saja akan melanjutkan, sebelum Kate tiba-tiba saja menarik beberapa helai rambut John yang lebat hingga tercabut.
"Hei! Apa yang salah denganmu?!" protes John sebari mengelus kepalanya.
"Aku dan Daniel baru saja akan mencoba mantra yang kudapatkan di buku tua perpustakaan. Jika nanti kau merasakan sesuatu yang membakar bola matamu, artinya itu normal." Kate kemudian menoleh ke arah Daniel yang ikut menatap heran. "Kalau kau mau bicara, cari saja aku di gym." Gadis itu lalu berbalik dan meninggalkan mereka, mengayunkan jari-jarinya dengan lembut sebelum menghilang.
Kepala Daniel terangkat mengikuti ke mana gadis itu berbelok, tetapi seketika kepalanya terdorong ke loker dan berhasil membuatnya kesakitan. "Ouch! Apa yang salah denganmu, John?!"
"Ini semua salahmu! Kalau sampai sesuatu terjadi padaku maka kau akan kubunuh!" Tangan John siap memukulnya, dan Daniel sigap mengangkat tangannya untuk mempertahankan diri. Melihatnya membuat John dan Jesse jadi tergelak. "Dasar anak aneh." Keduanya ikut beranjak pergi, tetapi sebelum itu John memukul punggung leher Daniel dan membuatnya menjerit.
Daniel mengusap lagi tengkuknya, sekarang terasa seluruh wajahnya jadi perih. Sumpah serapah beriring di hatinya, dan berharap kalau Kate tidak bercanda soal mantra itu agar setidaknya John berhenti mengganggunya.
Di tahun pertama, Daniel pernah tanpa sengaja menumpahkan saus mayo ke pakaian John. Daniel hampir babak belur jika saja tak ada guru yang melihatnya. Namun, sejak saat itu John selalu bertindak kasar setiap kali bertemu Daniel.
"Kau baik-baik saja?" Suara yang lain memanggil di belakangnya. Daniel berbalik dan menemukan cowok bertubuh gempal tengah memeluk beberapa buku pelajaran.
"Hei, Vin," balas Daniel lemah. "Ya ... Awal semester yang sempurna."
"Apa kau mau melaporkannya?"
"Ya, tentu, dengan semua prestasi hebatku, atau bagaimana terkenalnya aku di sekolah ini, John dan pacar gilanya itu pasti akan mendapatkan masalah." Vin tahu kalau Daniel hanya sedang sarkas. Daniel memang bukan murid yang mencolok di sekolah. Bobot tubuhnya standar, nilainya biasa saja, dan ia tak bergabung dengan organisasi sekolah manapun.
Keduanya berjalan bersama untuk pergi ke gym. Setiap awal tahun akan selalu ada acara singkat yang dilakukan oleh sekolah berupa penyampaian ataupun lainnya. "Hei ... apa kau tahu di mana loker Kristy?" tanya Vin.
"Kristy? Tentu saja tidak. Lagipula kenapa aku harus tahu?" balas Daniel acuh tak acuh.
"Benar juga." Tanpa Daniel sadari, Vin menyimpan sebuah amplop dengan warna merah muda yang dengan hiasan berbentuk hati di antara buku-bukunya. "Hei ... aku mau tanya sesuatu. Apa kau mendapatkan—" Vin tak sempat menyelesaikan pertanyaannya karena kerumunan yang memenuhi gym. Ditambah suara dari sound system yang bising membuat mereka nyaris tak bisa mengobrol. Daniel terpaku di tempatnya. Tanpa alasan yang jelas ia lagi-lagi teringat kejadian dini hari tadi.
"Daniel!"
"Ya?!" Kesadarannya kembali ke dunia nyata, dia menoleh menemukan sedang Vin menatapnya dengan raut bingung. "Maaf, Vin. Aku hanya ... menghayal."
"Kau baik-baik saja?!" lanjut Vin berteriak agar bisa terdengar.
"Ya ... maksudku, aku sedang mencari tempat kosong."
Vin menjulurkan lehernya untuk melihat sekitar. "Ya, di sana ada ... lupakan saja. Ada Kate di sana."
Daniel menoleh ke arah pandang Vin, menemukan ada gap besar di dekat tempat Kate duduk. Gadis itu sedang mencoret-coret sesuatu di buku yang terlihat usang. "Kalau kau mau duduk di sana, aku tidak akan ikut. Jadi ... sampai jumpa." Vin melanjutkan, dan pergi mencari tempat lain.
Sejenak Daniel masih tertahan di tempatnya. Murid-murid lain juga menolak duduk di dekat Kate. Kalau kau mau bicara, cari saja aku di gym. Kate tadi bilang begitu. Setelah mengambil napas pendek, dia berjalan dan duduk di samping Kate.
"Jadi ...? Apa kita bisa mengobrol sekarang?"
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top