Prolog
Bzzzzzzzzzzz!
Ponsel Daniel bergetar. Masih dalam keadaan setengah tertidur, dia berusaha sekuat tenaga untuk pura-pura tak mendengar, tetapi suara yang semakin lama malah memekikkan telinga membuat Daniel menyerah. Tangannya meraba sekitar sebelum bisa menemukan ponselnya.
"Ugh, siapa yang menelepon pukul tiga pagi?" Keluhnya saat berhasil menatap layar dalam pandangan buram, tetapi agak enggan mengangkatnya karena mendapati nomor yang tidak terdaftar. Namun, Daniel malah memencet tombol berwarna hijau.
"Hei ...," katanya parau.
"Daniel! Syukurlah kau di sana, semuanya kacau di sini!" Seketika kesadaran Daniel terkumpul. Matanya membelalak hebat saat bangkit dari kasur. Bukan tanpa alasan, Daniel sangat mengenal suara itu. Masalahnya, kontak terakhir Daniel dengan orang itu adalah bertahun-tahun yang lalu.
"Theo?! Astaga, kenapa menelepon tiba-tiba?!"
"Aku hanya ingin membuktikan kalau semua itu mimpi. Tapi tidak! Semua ini nyata! Daniel, dia benar-benar ada!" Suara Theo semakin panik diikuti derapan kaki di atas daun-daun kering.
"Theo, apa kau mabuk atau semacamnya?"
"Dia terus berbisik, sama seperti saat kita masih kecil. Aku tidak bisa menahannya lagi."
Daniel langsung terdiam, dia mulai memahami arah pembicaraan Theo. Sekilas memori lama yang selalu berhasil membuat bulu-bulu tubuhnya berdiri, kembali masuk dan memenuhi kepalanya. Daniel melepaskan ponsel dari telinganya, menatap panggilan itu masih berlangsung, tetapi jarinya langsung menggeser layar untuk membuatnya berakhir.
Dia kembali berbaring di kasur, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya dan mencoba untuk tidak memikirkan hal barusan. Theo terdengar sangat ketakutan. Daniel terus menutup mata, tetapi kesadarannya tak ingin pergi meski ia memaksa karena pagi ini terhitung tahun ajaran baru. Theo pasti hanya sedang mimpi buruk. Daniel mulai mengubah-ubah posisi tidurnya dengan gelisah.
Mr. Geagley tidak nyata! Daniel melepaskan selimutnya dan menarik napas yang dalam. Ia tak kepanasan, tetapi dadanya berdegup terlalu cepat. Udara sangat berat di dalam tubuhnya. Kemudian jantungnya seperti akan melompat saat mendengar ketukan keras dari jendela . Ia sampai terlonjak dari kasur hingga ponselnya ikut terjatuh ke lantai.
Di sana, sosok gelap muncul di balik kaca. Daniel panik mencari saklar. Ketika lampu menyorot seisi kamar, nampak lah remaja seumurannya berdiri di sana.
"Theo?!"
"Daniel, boleh aku masuk?" kata cowok di balik jendela. Masih sedikit terguncang, Daniel melangkah cepat ke arah jendela untuk membukanya, hingga cukup bagi Theo untuk masuk ke dalam. "Terima kasih."
"Okey! Sebaiknya jelaskan apa yang baru saja terjadi! Kenapa kau menelepon pagi-pagi buta? Dan bagaimana kau bisa memanjat naik ke lantai dua?!" Berbagai pertanyaan diajukan Daniel dengan beruntun, dia sangat cemas. Jelas terlihat baginya Theo juga berusaha menarik napas dengan membungkukkan tubuh dan menopang kedua tangannya di lutut. Lalu dia mengangkat kepala, dan hanya terlihat senyum seolah tak ada apapun yang terjadi.
"Syukurlah kau ada di sini. Kita harus pergi sekarang," ucap Theo lalu menarik tangan Daniel agar mau mengikutinya, tetapi cowok itu memilih menepis karena masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Pergi ke mana?"
"Tentu saja ke rumah, yang lain sudah menunggu."
Lekuk bibir Daniel turun. Ingatan lama merasukinya lagi. Kenangannya bersama Theo, dan banyak teman-teman lama terngiang-ngiang di kepalanya.
"Tidak." tegas Daniel. "Aku tidak mau, tidak lagi. Tidak setelah apa yang terjadi pada Ginger—"
"Tapi semua orang harus ada di sana, Daniel! Itu aturannya!" Theo berteriak hebat, berhasil menyentakkan Daniel di tempatnya.
"Theo, kau sebaiknya pergi! Kurang lebih empat jam lagi kita akan sekolah dan—" Ucapan Daniel terpotong tepat saat ponselnya yang masih ada di lantai kembali bergetar. Dia menunduk untuk melihat, dan mendapati dirinya terkesiap bukan main.
Dengan napas tertahan ia melirik Theo di hadapannya. Tubuhnya gemetar tak karuan. Di ponselnya, nomor itu memanggil lagi. Lalu siapa? Dengan hati-hati ia menaruh ponselnya di telinga kanan.
"Daniel! Kenapa kau mematikan teleponku?! Aku sangat butuh bantuanmu! Aku sepertinya tersesat dan daya ponselku hampir habis!"
Daniel tak mampu membuka mulutnya untuk berbicara, bahkan untuk menggerakkan kakinya pun begitu sulit. Di hadapannya, Theo tersenyum dengan lebar, lebih lebar daripada sebelumnya, dan terlalu lebar daripada seharusnya.
"Kita harus kembali ke 'rumah', Daniel." Lampu kamarnya berkedip-kedip. Angin masuk dari jendela kamarnya yang lupa ditutup. Daniel mundur perlahan-lahan saat Theo melangkah mendekatinya.
"Theo ...?"
"Daniel!" Teriakan Theo menggelegar dalam nada yang berbeda. Suaranya berat, bergetar dan dingin. Daniel sudah siap kabur, tetapi Theo mencengkeram lengannya lebih cepat. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi Theo mampu menahannya dengan kekuatan yang tidak masuk akal dan cukup membuat Daniel mengernyit kesakitan.
"Ack! Theo, lepaskan aku!" Tak punya pilihan lain, Daniel mengarahkan bogem mentah dari tangannya yang tersisa ke pipi Theo. Namun, bukannya terbebas, malah tangannya sendiri yang kesakitan.
Di saat belum pulih, Theo melepaskan cengkeraman, tetapi menggantinya dengan menarik kerah dari baju tidur—hanya dengan satu tangan—hingga membuat Daniel tercekik. Dia meronta saat udara semakin menipis. Sampai Theo tiba-tiba melemparnya ke atas lantai kayu yang kasar.
Daniel batuk berkali-kali, berusaha mengambil oksigen sebanyak mungkin. Saat belum pulih sepenuhnya, Theo malah menarik kakinya. "Lepaskan aku!" Kali ini, Daniel berhasil melawan balik dan melepaskan diri dengan menendangnya. Lalu tanpa pikir panjang ia bangkit dan mencakar wajah Theo.
Terasa sesuatu yang lunak di kuku-kuku Daniel. Daging pipi Theo terselip di sana. Tubuhnya goyah, dan tidak lama bau yang sangat busuk menggerogoti penciuman Daniel. Kedua tangannya langsung menutup hidung, sementara itu dengan sangat jelas ia menemukan seluruh kulit Theo terkelupas hingga menyisakan dagingnya saja.
"Astaga!" Daniel kali ini tak mau melakukan apapun selain melarikan diri, tetapi usahanya gagal. Sekali lagi Theo berhasil menahan dan menimpa tubuhnya. Kedua tangan Theo terjulur ke leher Daniel dan mencekiknya.
"Semua harus bermain, Daniel!"
"Tidak! Lepas—Hrrnnggg!" Penglihatan Daniel mulai kabur. Di sisa waktu yang ia miliki, Daniel menemukan Theo bukan lagi Theo. Kini, ia digantikan makhluk berdaging tanpa kulit dan darah yang mengalir di sekujur tubuhnya. Tak ada napas yang tersisa di tubuh Daniel untuk menjerit, dan di detik berikutnya ia tak lagi melihat apapun.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top