4
Hallo readers/siders
Happy Reading
"Dia yang mati karena mulutnya dan hidup karena ingatannya"

TOK! TOK! TOK! TOK!
Ketukan pintu yang begitu kuat itu membuat [Name] yang masih terlelap dalam tidurnya sedikit bergerak, maniknya perlahan terbuka meskipun tetap setengah sadar karena masih terbuai akan rasa ngantuk yang seakan melelahkan.
TOK! TOK!
"[NAME]!!"
"Hm?"
Erangan kecil keluar dari mulut sang gadis yang malah mengeratkan tubuhnya untuk berbaring lebih lama. Tuuhnya seakan sangat lelah bahkan hanya untuk membuka mata, dan kembali bergelung dengan sofa.
TOK! TOK! TOK!
Ketukan itu kembali terdengar, kali ini lebih keras, lebih tidak sabaran seolah siapa pun di balik pintu tak mau menerima alasan apa pun.
"[NAME]!! Buka pintunya!"
Suara pekikkan itu membuat [Name] akhirnya tersentak. Alisnya berkerut, kepalanya terasa berat. Dengan malas ia menggeliat, lalu menarik selimut lebih rapat ke bahu sebelum akhirnya menghela napas panjang. Ada sesuatu dalam suara itu... tegang. Tidak biasa. Dengan pasrah, tubuhnya perlahan bangkit, mengusap mata dan menguap.
"Hyungseok...?" gumamnya pelan, nyaris tak terdengar saat mengenali suara itu.
TOK! TOK!
Tanpa menunggu lebih lama, [Name] memaksa dirinya bangun. Langkahnya sedikit sempoyongan saat berjalan menuju pintu, rambutnya berantakan, matanya masih setengah terpejam. Begitu kunci diputar dan pintu dibuka, sosok Hyungseok langsung berdiri di hadapannya wajahnya pucat, rahangnya mengeras, napasnya terlihat tak beraturan.
"Hyungseok?" [Name] mengucek mata.
"Kamu kenapa datang pagi-pagi begini?"
Hyungseok tak langsung menjawab. Matanya justru menatap tajam ke dalam, seakan mencari sesuatu di wajah [Name]. Lalu, dengan kuat Hyungseok menguncang kedua bahu [name] dengan kuat serta suara rendah namun bergetar, ia membuka mulut.
"Haneul... meninggal."
Dunia seolah berhenti berputar.
"Apa...?" suara [Name] tercekat. Tubuhnya membeku di tempat. Kantuk yang sebelumnya seakan memberatkan mata kini tak terasa lagi.
"Meninggal?? Haneul?"
Hyungseok menatap dengan ekspresi tak karuan, keduanya pun ikut tegang meskipun selanjutnya dirinya bisa melihat [Name] yang tertawa. Hyungseok menatap [Name] dengan ekspresi yang sulit diartikan-marah, hancur, sekaligus putus asa. Namun, tawa kecil yang keluar dari bibir [Name] justru membuat wajahnya mengeras.
"Apakah hari ini April Mop?" gumam [Name] sambil terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang terasa terlalu berat.
"Lucu banget kalau ini prank... Aku baru ketemu Haneul tadi malam di bar, Hyungseok. Dia baik-baik aja."
Tawa itu terasa kosong. Rapuh...Hyungseok tidak ikut tertawa, sebaliknya, ia justru semakin mengeratkan genggamannya di bahu [Name], suaranya merendah namun terdengar penuh tekanan.
"Ini bukan lelucon," katanya dingin. "Bukan prank. Bukan April Mop."
[Name] yang terkekh perlahan berhenti, maniknya menatap Hyunseok yang juga menatapnya dengan nanar. Getaran tangan dibahunya seakan menampilkan kegelisahan dan juga sesuatu yang kosong.
"Dia ditemukan pagi ini," lanjut Hyunseok lirih, lebih parau. "Tidak bernyawa."
Senyum di wajah [Name] perlahan memudar, terkejut dn juga pikiran yang tiba tiba kosong seakan membuat tubuhnya berhenti untuk bernafas bahkan menjalankan syaraf syaraf otak untuk melakukan hal lain. Air matanya mulai berjatuhan pada wajah yang semakin lama semakin memucat pasi.
"Aku... aku baru lihat dia semalam," bisiknya, kali ini tanpa tawa. "Dia masih bercanda. Masih minum. Masih... hidup."
Hyungseok menghela napas berat. "Makanya aku ke sini. Kamu orang terakhir yang bertemu Haneul tadi malam, dan kalau ada siapa pun yang tahu apa yang sebenarnya terjadi... aku berharap itu kamu."
Jantung [Name] berdegup kencang. Potongan ingatan semalam kembali menyerbu senyum Haneul yang tampak seperti biasa. Mereka berdua bahkan bercanda sedemikian rupa, hingga rasanya tidak ada sedikitpun kejangalaan yang terjadi pada sahabatnya itu. Kata-kata Hyungseok seakan menjadi palu terakhir yang menghantam kesadaran [Name]. Napasnya tersendat. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram paru-parunya kuat-kuat. Pandangannya mulai kabur, suara di sekitarnya perlahan menjauh digantikan oleh dengung panjang yang menyakitkan di telinganya.
"A-aku..." bibirnya bergetar. Tubuhnya mundur selangkah, punggungnya membentur daun pintu. "Dia... dia baik-baik saja semalam..."
Air mata semakin deras mengalir, jatuh tanpa bisa ia cegah. Wajahnya kini benar-benar pucat, bahkan bibirnya kehilangan warna. Tangannya gemetar saat mencoba berpegangan pada kusen pintu, namun tenaganya perlahan menghilang. Ingatan tentang Haneul terus berputar tanpa ampun tawa lepasnya, caranya menyenggol bahu [Name] sambil bercanda, suara gelas yang beradu. Tidak ada jeritan minta tolong. Tidak ada tanda perpisahan. Hanya ada tawa diantara mereka yang bahkan mungkin belum 24 jam.
"Ini nggak mungkin..." bisiknya lirih, hampir tak bersuara.
Kakinya tiba-tiba terasa kosong. Tubuh [Name] melemas, lututnya menyerah lebih dulu. Pandangannya menggelap di tepi, dunia seakan berputar cepat. Jika bukan karena refleks Hyungseok yang sigap, tubuh itu pasti sudah ambruk ke lantai.
"[Name]!" serunya panik.
Hyungseok menangkap bahunya, menarik tubuh [Name] ke dalam pelukannya sebelum ia benar-benar jatuh. Gadis itu terisak pelan, napasnya terputus-putus, kepalanya terkulai lemah di dada Hyungseok.
"Tarik napas... hei, dengar aku," ucap Hyungseok dengan suara yang kini ikut gemetar, meski ia berusaha tetap tenang.
"Jangan pingsan. Lihat aku."
Namun mata [Name] hanya setengah terbuka, air mata masih mengalir, tubuhnya dingin dan ringan bahkan terlalu ringan, seolah jiwanya perlahan menjauh untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku... harusnya..." gumamnya nyaris tak terdengar, rasa bersalah mulai menyelinap di sela-sela keterkejutannya.
Hyungseok mengeratkan pelukannya, rahangnya mengeras menahan emosi yang bercampur aduk.
"Ini bukan salahmu," katanya lirih, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri. "Tapi sekarang... kamu harus bertahan."
Tubuh [Name] masih gemetar hebat, kesadarannya goyah... tubuhnya seakan berdiri di ambang gelap yang siap menelannya kapan saja.
'"[Name] bangun!"
Waktu seakan berhenti berputar, yang ada hanyalah kegelapan yang menghiasi pengelihatan [Name]. Suara tawa Haneul yang berdengung ditelinganya seakan memekakkan telinga. Pangilan Hyunseok seakan hanyalah bisikan kecil yang tidak akan pernah membuatnya bangun.
"Haneul..."
-----------------------
Pria berkemeja kuning itu akhirnya menyalakan rokoknya. Api dari korek menyala sesaat, memantul di tato yang menjalar dari pergelangan siku hingga punggung tangannya dengan garis-garis kasar, simbol yang tak asing bagi dunia gelap. Ia mengisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap perlahan, seolah sedang menimbang sesuatu yang sama sekali tak ringan.
"Berisik sekali kota pagi ini," ucapnya datar.
Lelaki itu Jonggun Park.
Di hadapannya, bersandar santai pada dinding beton yang dingin, seorang lelaki dengan rambut kuning yang terkekeh kecil. Wajahnya tenang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja merenggut nyawa orang lain. Pria itu bahkan dengan santainya mengoyangkan kedua kakinya diatas meja, senyum kemenangan yang seakan tak ada habisnya.
"Berita pasti sudah mulai menyebar," Ujarnya pelan, manik sipit dibalik kacamatanya memicing pada sosok Jonggun.
Jonggun hanya menatap, tak langsung menanggapi. Manik hitamnya hanya menatap kosong ke kejauhan, asap rokok keluar dari sela bibirnya. Tidak ada rasa puas di sana. Tidak juga penyesalan.
"Dia terlalu banyak tahu, dan terlalu berani."
Jungoo mengangguk pelan. "Dia pikir dengan datang ke bar semalam, bertemu temannya, semuanya akan aman." Ia tersenyum miring. "Sayang sekali."
Jonggun menggeser rokoknya, abu jatuh ke lantai. Tangannya mengambil ponsel di nakas kemudian menatap beberapa foto baru yang menjadi koleksinya yang bertambah. Foto bugil, celana dalam bahkan payudara yang bulat seakan menjadi koleksi yang bagus untuk seorang park Jonggun. Perpindahan setiap jari yag mengeser kesamping seakan membuat manja manik hitamnya.
"Temannya," gumamnya. "Gadis itu... [Name]."
"Yang terakhir bertemu Haneul," sambung Jungoo cepat. "Tenang saja. Dia tidak tahu apa-apa."
Jonggun menoleh, tatapannya tajam. "Belum."
Suasana hening sejenak. Hanya suara lalu lintas jauh dan dengung kota yang perlahan bangun dari tidurnya tanpa tahu ada satu nyawa yang sudah dipadamkan beberapa jam lalu. Jonggun kembali menatap foto koleksinya yang terbaru dimana [Name] yang terbaring diatas sofa yang semalam ia ambil. Terlihat berantakkan dan sexy.
"Kamu yakin tidak meninggalkan jejak?" tanya Jonggun, suaranya rendah.
Jungoo tertawa kecil, seolah pertanyaan itu menghina kemampuannya. "Aku selalu rapi."
Jonggun mengisap rokoknya untuk terakhir kali, lalu mematikkannya dengan tekanan keras di asbak logam dengan penuh tekanan.
"Polisi akan mulai mengendus. Hyungseok juga."
Nama itu membuat Jungoo sedikit mengernyit. Senyum miring mulai muncul dengan tenang, perlahan melepas kacamata dengan tenang.
" Yahhhh dia datang ke apartemen gadis itu pagi ini, kan?"
"Ya," jawab Jonggun singkat. "Dan mulai saat ini, semuanya akan bergerak."
Ia berdiri tegak, merapikan lipatan kemejanya, tato di lengannya kembali tersembunyi setengah.
"Kalau Haneul mati karena mulutnya," lanjut Jonggun dingin, "maka yang hidup... berbahaya karena ingatannya."
Jungoo tersenyum tipis, senyum yang tak pernah sampai ke matanya.
"Berarti," katanya pelan,
"Siapa selanjutnya, Jonggun?."
"..."

To be continued...
25 - 1 - 26
Salam manis
TR
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top