5
Hallo reader/siders
Happy reading

"Bangun [name]!"
"[Name]"
"Bangun, [Name]!"
Suara-suara itu terdengar jauh. Terputus-putus. Seolah datang dari dasar air yang dalam. Tubuh [Name] terasa ringan sekaligus berat, seperti jatuh tanpa benar-benar menyentuh lantai. Pandangannya mengabur sebelum akhirnya gelap sepenuhnya. Lututnya lebih dulu kehilangan kekuatan, disusul tubuhnya yang ambruk begitu saja.
"Brengsek!" Hyungseok reflek menangkap bahunya, tapi terlambat. Tubuh [Name] terkulai lemas, kepalanya nyaris membentur lantai sebelum Hyungseok menahannya dan menjatuhkan dirinya berlutut.
"[Name]! Hei-bangun!" Hyungseok mengguncang tubuhnya, kali ini tanpa peduli seberapa kuat. Suaranya bergetar, bukan lagi marah-panik.
Zin dan Mijin yng ikut menyusul Hyungseok berdiri kaku saat meihat [Name] jatuh, kemudian keduanya bergerak ikut bergerak untuk membangunkan [Name] akhirnya. Wajah pucat keduanya seaakn mengambarkan situasi yang teramat menyusahkan, rahang Zin mengeras menahan sesuatu yang ingin meledak. Ia berjongkok di sisi lain, menepuk pipi [Name] dengan cepat namun hati-hati.
"[Name], dengar aku. Tarik napas. Ayolah."
Tidak ada respons.
Mijin menutup mulutnya dengan tangan, napasnya tercekat menatap wajah pucat [Name] dengan perasaan gelisah..
"Dia pingsan?" suaranya nyaris tak terdengar. Tangannya gemetar saat meraih pergelangan [Name], mencari denyut nadi. "Masih ada... masih a"
"[Name] bangunlah..."
Sedikit gerakan mata dari [Name] membuat Mijin menyadari bahwa kelopak mata [Name] bergetar samar, nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama. Napasnya tersendat, dada kecilnya naik turun lebih jelas dari sebelumnya. Mijin tersentak, refleks menggenggam tangan [Name] lebih erat.
“Dia bergerak, Zin! Hyungseok! dia bergerak!”
Mijin menggosokkan kedua tangannya yang dingin ke punggung tangan [Name], berusaha menyalurkan sedikit kehangatan. Sentuhannya lembut, penuh kehati-hatian, seolah takut gerakan yang terlalu keras bisa membuat [Name] tenggelam lagi ke dalam kegelapan.
“[name]..."
Hyungseok mengusap rambut [Name] dengan lembut, menatap kelopak mata yang bergetar sedikit demi sedikit seakan berusaha mencari cahaya yang masuk kedalam netra.
“[Name], dengar suaraku... kalau kamu bisa dengar, coba buka matamu sedikit saja.”
Hyungseok menahan kepala [Name] agar tetap stabil, ibu jarinya menyapu rambut yang menempel di kening gadis itu dengan usapan kecil. Tangannya bergetar, meski ia berusaha menyembunyikannya. Hingga, bulu mata [Name] bergetar lagi, kali ini lebih jelas. Bibirnya sedikit terbuka, mengeluarkan napas pendek yang terdengar.
Mijin menahan isaknya, air mata menggantung di pelupuk matanya. Ia terus menggosokkan tangan [Name], enggan melepaskan walau sedetik. “Tolong bangun, [name]”
Sedangkan [name] merasakan rasa pusing dikepalanya yang begitu menyakitkan, sedikit celah maniknya yang terbuka menampilkan sinar yang semakin lama membuatnya tak betah untuk menutup mata. Suara panggilan namanya yang semakin lama semakin jelas membuat [name] mebuka matanya, menatap Hyungsk, Zin dan Mijin yang menatapnya dengan wajah pucat.
“[Name]…”
Panggilan itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih dekat. Alis [Name] bertaut, napasnya tersendat. Ia berusaha fokus, meski kepalanya terasa seperti dipenuhi kabut tebal. Perlahan, sangat perlahan, matanya terbuka semakin lebar menunjukkan teman-temannya. Dan wajah pertama yang ia lihat adalah Hyungseok.
Pria itu menatapnya dengan ekspresi yang tak pernah ia lihat sebelumnya pucat, mata merah, rahangnya mengeras seolah menahan sesuatu yang hampir runtuh. Tangannya masih menopang kepala [Name], seakan takut melepaskannya walau sedetik.
“Syukurlah… [Name], kamu dengar aku?”
[Name] ingin menjawab, tapi tenggorokannya kering. Bibirnya hanya bergerak tanpa suara menatap Hyungseok dalam diam. Di sisi lain, Zin mencondongkan tubuhnya, tatapannya tajam tapi jelas diliputi kecemasan. Wajahnya pucat, rahangnya masih tegang, namun matanya tak lepas dari wajah [Name], memastikan ia benar-benar sadar.
“Jangan gerak dulu,” kata Zin cepat, nada suaranya lebih lembut dari biasanya. “Kamu pingsan.”
Mijin muncul di pandangannya berikutnya. Mata perempuan itu berkaca-kaca, satu tangannya masih menggenggam tangan [Name] erat-erat, seolah takut ia akan menghilang lagi jika dilepas. Senyum kecil yang rapuh muncul di wajahnya saat melihat mata [Name] terbuka.
“Kamu bikin kami takut [name]…”
[Name] menelan ludah, napasnya terasa berat. Ingatannya perlahan kembali, potongan demi potongan yang menyakitkan. Nama itu. Wajah itu. Suara tawa yang kini tak mungkin terdengar lagi dan baru saja ia temui malam sebelumnya sebelum ia berada dirumah.
“Haneul…” suaranya akhirnya keluar, serak dan nyaris tak terdengar.
Udara seketika terasa membeku. Hyungseok menunduk sedikit, matanya berkedip cepat. Zin mengalihkan pandangan sesaat. Mijin menggenggam tangan [Name] lebih erat seakan tak ingin mendengar nama itu sekali lagi.
“Pelan-pelan,” bisik Hyungseok, suaranya penuh kehati-hatian.
Namun [Name] sudah mengerti, tubuhnya ikut luruh saat mengingat nama itu. Kemudian, dari wajah pucat teman-temannya. Dari cara mereka saling menatap seolah rapuh dan bisa pecah kapan saja juga mengambarkan bagaimana perasaan mereka saat ini. Dari rasa sakit di dada yang jauh lebih parah daripada pusing di kepalanya membuat air mata menggenang di sudut mata saat [Name] menatap mereka bertiga.
“Ini… bukan mimpi, kan?” tanyanya lirih.
Tidak ada yang langsung menjawab.
"Apa yang terjadi dengan, Haneul?"
"Kau akan mengerti saat melihatnya sendiri, [Name]" Ujar Zin
Suaranya rendah, datar, tapi justru itu yang membuat kalimatnya terasa berat. Tidak ada upaya menenangkan. Tidak ada kebohongan manis. Hanya kejujuran yang dingin dan tak memberi ruang untuk menghindar. [Name] menatap Zin dengan mata yang masih basah. Kepalanya berdenyut, tapi dadanya terasa jauh lebih sakit. Ada sesuatu dalam nada suara Zin sesuatu yang membuat perutnya mengeras seakan mual yang tak tertahankan, seolah firasat buruk yang sejak tadi berusaha ia tolak kini mulai merayap ke permukaan.
“Melihat… apa?” tanyanya pelan.
Zin tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke Hyungseok, lalu ke Mijin, seakan mencari kesepakatan diam-diam. Rahangnya kembali mengeras, urat di lehernya tampak menegang. Sedangkan, Mijin perlahan menunduk, jemarinya masih menggenggam tangan [Name] erat. Bahunya sedikit bergetar.
“Kita enggak mau kamu tahu dengan cara seperti ini,” katanya lirih.
“Tapi..."
Hyungseok menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar memotong ycapan Mijin dengan menarik dagu [Name] untuk menatap wajahnya. Jantung [Name] berdegup lebih kencang menunggu ucapan yang akan terdengar selanjutnya. [Name] menelan ludah, napasnya terasa pendek saat ingin bernafas membuatnya terasa semakin tak waras.
“Aku mau tahu apa yang terjadi sama haneul, apa pun itu… aku mau tahu sekarang.”
Hyunseok menatapnya lama sahabatnya itu, seolah menimbang apakah gadis di hadapannya benar-benar siap dengan apa yang baru dialami oleh kekasihnya yang meninggal secara tragis. Tatapan keduanya bertemu, dan untuk sesaat, [Name] melihat sesuatu yang jarang ia lihat di mata Hyungseok yang menunjukkan dengan jelas bahwa pria itu tak yakin
“Kami ke sana tadi pagi,” kata Zin akhirnya. “Tempat Haneul ditemukan.”
Kata ditemukan membuat perut [Name] terasa kosong, gejolak diperutnya semakin terasa panas.
"Tubuh Haneul ditemukan dalam keadaan sudah termutilasi, sepanjang jalan didepan tempatmu bekerja."
"..."

To be continued...
8 - 2 - 26
Salam manis
Tr
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top