3
Hallo readers/siders
Happy reading
" Putih dikegelapan malam"

[Name] menutup pintu rumahnya perlahan, memastikan bunyi klik dari kunci terdengar jelas sebelum akhirnya melepas sepatu haknya. Sepatu itu ia dorong ke sudut dekat rak, tak lagi peduli apakah posisinya rapi atau tidak. Bahunya turun, seakan beban seharian baru benar-benar dilepaskan saat itu. Ia berdiri sesaat di ambang pintu, membiarkan keheningan rumah menyambutnya. Lampu ruang tamu belum dinyalakan. Cahaya redup dari luar menyusup lewat celah jendela, membentuk bayangan panjang di lantai. [Name] melangkah perlahan, langkahnya berat dan tak beraturan, seolah tubuhnya masih tertinggal di luar, di jalanan yang bising, di pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran. Setiap otot terasa kaku, setiap tarikan napas terasa lebih dalam dari biasanya.
"Haahh, ini melelahkan.."
Perempuan itu menjatuhkan tasnya di atas sofa dengan bunyi tumpul, lalu menyandarkan tubuhnya sejenak di dinding. Kepalanya menunduk, mata terpejam. Ingatan tentang hari itu berkelebat begitu saja: percakapan yang melelahkan, tuntutan yang tak ada habisnya, dan senyum-senyum yang terpaksa ia kenakan. Semuanya bercampur menjadi satu rasa letih yang sulit dijelaskan. Dengan sisa tenaga, [Name] menyalakan lampu. Cahaya kuning lembut memenuhi ruangan, memperlihatkan rumah yang sederhana namun sunyi. Tak ada suara selain detak jam di dinding dan napasnya sendiri. Sunyi itu biasanya menenangkan, namun malam ini terasa berbeda lebih berat, lebih dalam.
Ia berjalan menuju dapur, menuangkan segelas air dari sebuah gelas yang berada dimeja tanpa benar-benar memperhatikan apakah gelas itu bersih atau tidak. Air dingin mengalir ke tenggorokannya, sedikit membantu menyadarkan tubuhnya yang nyaris menyerah. Tangannya bergetar samar saat meletakkan gelas kembali. Kemudian duduk di sofa, punggungnya bersandar, pandangannya kosong menatap langit-langit. Ada banyak hal yang ingin ia pikirkan, namun kepalanya terlalu penuh untuk memilih satu. Dalam diam, ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba mengumpulkan kembali dirinya yang terasa tercerai-berai.
"Huft... Bisakah aku berhenti saja dan mecari sugar daddy untuk menghidupiku?"
"Ah yaampun kenapa kau berfikir seperti itu, [Name]... Tidak akan ada sugar daddy yang mau denganku.."
Percakapan antar diri sendiri itu membuat rumah kecil itu sedikit hangat di tengah kelelahan yang menumpuk, [Name] akhirnya membiarkan dirinya diam sehabis sedikit peracakapan random pada dirinya. Tak ada tuntutan, tak ada peran yang harus dimainkan. Hanya dirinya sendiri, lelah, namun masih bertahan menunggu esok hari dengan segala kemungkinan yang belum ia pahami hingga tak terkira dirinya yang sudah terasa begitu lelah dan memutuskan untuk menutup matanya dan tenggelam dalam mimpi yang dalam.
Dengkuran halus itu teratur, nyaris tenggelam oleh sunyi malam. Napas [Name] naik turun dengan ritme yang menenangkan, tubuhnya tenggelam dalam kelelahan yang akhirnya menang. Lampu ruang tamu masih menyala redup, memantulkan bayangan sofa dan meja kecil di depannya.
Dari sudut dapur yang gelap, sesosok bayangan bergerak, melangkah tanpa suara, seolah menyatu dengan kegelapan. Lelaki itu tinggi, dengan rambut klimis rapi berwarna hitam, tubuhnya ramping namun padat, otot-ototnya tersembunyi di balik pakaian gelap yang menyerap cahaya. Lengannya dipenuhi tato pola-pola berwarna merah dari pergelangan hingga siku, sebagian tertutup lengan kemeja yang tergulung hingga batas siku, sebagian lagi seakan sengaja dibiarkan terlihat. Di tangannya, sebuah kacamata hitam tergenggam, ia putar perlahan di antara jemarinya, bunyinya nyaris tak terdengar.
Matanya tajam dan gelap menatap perempuan yang tertidur dihadapaanya dengan fokus yang tak wajar. Ada ketenangan di sana, ketenangan seorang pemburu yang telah lama mempelajari kebiasaan mangsanya. Ia berdiri cukup lama, hanya memperhatikan. Menghitung napas. Menghafal jeda dengkuran.
Rumah ini bukan tempat asing baginya.
Lelaki tahu letak setiap sakelar, setiap papan lantai yang berderit, setiap sudut gelap yang aman. Ia tahu bahwa sang pemilik, [Name] akan pulang larut pada hari-hari tertentu, tahu kapan kelelahan akan mengalahkan kewaspadaan. Ia tahu karena ia selalu ada di seberang jalan, di halte bus, di balik pantulan kaca toko, di antara kerumunan bar yang tak pernah menyadari satu pasang mata yang selalu mengikuti.
Lelaki itu melangkah mendekat, berhenti beberapa langkah dari sofa. Ia memiringkan kepala, memperhatikan wajah [Name] yang tertidur. Ada bekas letih di sana, garis-garis halus yang baru muncul, alis yang sedikit berkerut bahkan dalam tidur. Pemandangan itu membuat sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, lebih seperti pengakuan diam.
Manik hitam itu menatap tangannya yang dengan perlahan menggerakan jari jarinya untuk menyentuh tulang pipi [name] dengan pelan. Ia ingat pertama kali melihat perempuan itu. Bukan pertemuan yang istimewa, sekadar momen singkat di persimpangan, ketika hujan turun dan orang-orang berdesakan mencari tempat berteduh. Namun ada sesuatu pada cara [Name] berdiri saat itu: tegak, sendirian, seperti dunia terlalu berat namun tetap dipikul tanpa keluhan.
Lelaki itu berlutut perlahan, menjaga jarak. Tangannya yang terulur, berhenti di udara, tak pernah menyentuh. Ia tidak perlu menyentuh. Belum. Kehadirannya saja sudah cukup, seperti bayangan yang tak bisa diusir.
Ia melirik jam kecil bermerek Guess di pergelangan tangannya. Waktu selalu ia hitung dengan cermat. Terlalu lama berarti berisiko. Terlalu singkat berarti tak memuaskan. Malam ini, ia hanya ingin memastikan bahwa gadisnya kembali dengan selamat, tetapi tidak dengan air putih yang sudah diberikan obat tidur agar gadis ini kembali tertidur dengan nyenyak.
"Tidurlah lebih lama.."
Lelaki berdiri kembali, melangkah ke meja kecil. Dengan gerakan yang terlatih, ia menggeser sebuah benda hanya beberapa sentimeter, lalu mengembalikannya hampir ke posisi semula. Perubahan kecil, nyaris tak terlihat. Lelaki itu menyukai detail semacam itu. Bukti keberadaannya yang hanya akan terasa, bukan terlihat. Esok hari, mungkin [Name] akan berhenti sejenak, merasa ada yang berbeda tanpa tahu apa. Di dapur, ia membuka laci paling bawah. Mengeluarkan sesuatu, lalu menyimpannya kembali. Tak ada yang hilang. Tak ada yang rusak. Semuanya utuh seperti hidup [Name] yang ia jaga agar tetap pada jalurnya.
Lelaki bertato itu kembali menatap [Name] untuk terakhir kalinya malam ini saat sudah semakin dekat pada kemunculannya. Dengan perlahan, lelaki itu tersenyum, bibir tipisnya terangkat membentuk sebuah kurva yang indah.
"Kau cantik sekali.."
Lidah lelaki itu sedikit keluar, mengapai sudut bibirnya sendiri. Manik hitam yang perlahan menatap kerah rok span yang sedikit terbuka karena [Name] yang berada diposisi mengangkang. Tangan bertato itu dengan tenang mengeser kedua kaki itu agar terbuka lebih lebar, membiarkan kulit tangannya yang sedikit lebih kasar membelai kulit paha dengan lembut.
"[Name]-ku.."
Lelaki itu perlahan menengelamkan wajahnya pada vagina [name] yang masih terbungkus cd berwarna hitam itu. Lelaki itu mengendus bahkan mencium celana dalam itu dengan penuh hasrat yang mengebu.
"[Name]-ku.."
Suara berat itu semakin lama semakin menggebu, lelaki itu bahkan tak segan merayapkan kedua tangannya untuk meremas kedua buah dada [name] yang semakin lama semakin penuh dan membulat membuat lelaki itu tersenyum dengan bibir yang tak henti hentinya menhujamkan banyak ciuman pada vagina sang perempuan.
"Lain kali akan kubungkam vaginamu dengan penisku, jadi tunggulah aku... [Name]-ku.."
Lelaki itu menghela napas tanpa suara. Senyum tipis itu kembali muncul, perlahan bangkit dan membiarkan tubuh [name] yang masih berantakan tetap pada posisinya. Tanpa suara, tangan pria itu kembali morogoh rambutnya yang rapi dengan pomade dan satunya lagi mengapai ponsel untuk mengambil foto sang perempuan.
Satu. Dua. Tiga
Tiga foto yang membuatnya senyum tak luntuh, tubuhnya yang masih rapi segera bergerak menuju pintu belakang, membuka dan menutupnya tanpa jejak. Kegelapan menelannya, menyisakan rumah kecil yang kembali sunyi dengan [name] yang masih tak sadar dan tertidur pulas dengan obat tidur yang memutus alam sadar pada otaknya.
"Selamat tidur, sayang..."
To be continued...
TR
11 01 26
Salam manis

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top