2
Hallo readers/siders
Happy reading
Angin subuh dingin menerpa kulit, membuat gigilan kecil menjalar tanpa bisa ditahan. Jaket tipis yang dikenakan [Name] terasa tak banyak membantu, namun ia tetap merapatkannya ke tubuh sambil melangkah pelan menyusuri jalanan yang lengang.
Pukul tiga dini hari.
Lampu-lampu jalan berdiri seperti saksi bisu, memancarkan cahaya kuning pucat yang memanjang di aspal basah. Tidak ada kendaraan lewat, tidak ada suara selain langkah kakinya sendiri dan desir angin yang berhembus pelan. Kota yang biasanya riuh kini terasa seperti dunia yang ditinggalkan.
[Name] menghembuskan napas, uap tipis keluar dari bibirnya. Tubuhnya lelah—bahu pegal, telapak kaki sedikit nyeri karena terlalu lama berdiri saat melayani para tamu yang berdatangan. Namun pikirannya justru sulit tenang. Ada perasaan aneh yang mengendap sejak ia meninggalkan bar. Seperti ada sesuatu yang tertinggal... atau mungkin mengikuti.
Ia memperlambat langkahnya, tanpa sadar menoleh ke belakang.
Kosong.
Hanya jalan panjang yang terbentang dan bayangan dirinya sendiri yang memanjang di bawah lampu. [Name] menggeleng kecil, mencoba menertawakan kecemasannya.
"Aku terlalu capek," gumamnya pelan.
Namun saat ia kembali berjalan, langkahnya terasa lebih berhati-hati. Setiap suara kecil—ranting patah, angin yang menggeser dedaunan—terdengar terlalu jelas di telinganya. Tangannya menggenggam tali tas lebih erat, seolah itu bisa memberinya rasa aman.
Subuh semakin mendekat. Langit di kejauhan mulai memucat, semburat biru keabu-abuan menggantikan hitam pekat malam. Tapi dingin justru terasa lebih menusuk, menyelinap hingga ke tulang.
[Name] menurunkan kepala, fokus pada langkah kakinya sendiri. Angin yang berhembus menusuk hingga ke sela-sela kulit, membuat tubuhnya kembali menggigil. Setiap bunyi kecil—entah itu kaleng yang terseret angin, dedaunan yang bergesek, atau gema langkahnya sendiri—cukup membuat jantungnya berdegup keras. Ia menoleh, meski sebagian dirinya tidak ingin. Takut apa yang ia rasakan berubah menjadi nyata.
Kosong.
Namun rasa tidak nyaman itu tidak pergi.
Perjalanannya masih panjang. Dua puluh menit berjalan kaki terasa jauh lebih lama di jam seperti ini, ketika malam belum sepenuhnya pergi dan pagi belum benar-benar datang. Jalanan tampak sama, namun suasananya berbeda—lebih sunyi, lebih dingin, seolah kota sedang menahan napas.
Kedua tangannya menekan lebih dalam ke saku jaket tipis yang ia kenakan, mencoba mengurung sisa-sisa hangat di tubuhnya. Langkahnya dipercepat sedikit, sepatu menapak aspal dengan irama tergesa yang tidak ia sadari. Napasnya membentuk uap tipis setiap kali ia menghembuskan-nya.
Ia melewati deretan toko yang sudah lama tutup, etalase gelap memantulkan bayangannya sendiri. Sekilas, pantulan itu tampak... aneh. Seperti ada bayangan lain yang ikut bergerak, tertinggal setengah langkah di belakangnya.
[Name] berhenti mendadak.
Pantulan itu ikut berhenti.
Jantungnya terasa naik ke tenggorokan. Ia menahan napas, mendengarkan berharap mendengar apa pun yang bisa membuktikan bahwa ia hanya berlebihan. Angin berdesir pelan. Lampu jalan berdengung samar.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada apa-apa.
Ia menghembuskan napas panjang, memarahi dirinya sendiri dalam hati.
"Aku hanya lelah, pikirnya. Hanya terlalu banyak pikiran."
[Name] kembali berjalan, kali ini dengan ponsel ditangan yang sedikit mengusir pikiran. Manik diam menatap beberapa chat yang masuk, hanya dari Haneul yang masuk 2 jam yang lalu.
"Dia pasti sedang bersenang-senang.."
[Name] kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Langkahnya kembali teratur, meski bahunya masih sedikit menegang. Jalanan tetap kosong, hanya lampu-lampu jalan dan suara jangkrik yang terdengar kecil, jika bukan karena sunyinya yang terasa tidak wajar.
Ia menunduk, menatap ujung sepatunya yang menyentuh aspal.
Sedikit lagi, batinnya. Aku hanya perlu sampai rumah.
Tiba-tiba—
Tap.
Sesuatu menyentuh pundaknya.
Tubuh [Name] menegang seketika. Napasnya tercekat, jantungnya berdegup keras hingga telinganya berdenging. Ia berputar cepat, hampir tersandung oleh langkahnya sendiri.
"Ah—maaf," sebuah suara terdengar.
Seorang pria berdiri di belakangnya.
Wajahnya biasa saja, tidak terlalu biasa, bahkan. Rambut hitam rapi, jaket gelap, senyum kecil yang tampak ramah. Tangannya masih terangkat sedikit, seolah baru saja menarik diri setelah menepuk pundaknya.
"Aku tidak bermaksud mengejutkanmu," katanya ringan. "Kau kelihatan ketakutan."
[Name] menelan ludah. "Aku—" suaranya sedikit gemetar, membuatnya berdeham dan mengulang
"Aku kira... tidak apa-apa."
Pria itu tersenyum, memperkenalkan diri dengan nada santai. "Janghyun. Kita sering berpapasan, kan? Kau pulang larut hampir setiap malam."
Kata sering membuat perut [Name] mengencang.
"Oh," jawabnya singkat. Ia berusaha tersenyum, tapi rasanya kaku. "Mungkin. Aku bekerja di bar."
"Aku tahu," sahut Janghyun cepa. Lalu ia tertawa kecil, seolah baru menyadari sesuatu.
"Maksudku, aku pernah ke sana. Sekali dua kali."
Ada jeda singkat. Angin kembali berhembus, membawa dingin yang menusuk.
"Kau tinggal di arah sana, ya?" lanjut Janghyun, menunjuk lurus ke depan—tepat ke arah rumah [Name].
Denyut jantungnya kembali memburu. "Iya," jawabnya pelan. "Aku... aku harus pergi."
Janghyun mengangguk, mundur setengah langkah, memberi jalan. "Tentu. Hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Jalanan jam segini tidak terlalu aman."
Ia tersenyum lagi—senyum yang sama, ramah, tak berbahaya. Namun entah kenapa, [Name] merasakan tengkuknya kembali dingin.
Saat ia melangkah pergi, Janghyun menyusul di sampingnya, menjaga jarak yang sopan.
"Aku kebetulan searah," katanya. "Tidak apa-apa kalau kita berjalan bersama?"
[Name] ragu sejenak. Menolak terasa kasar. Mengiyakan terasa... salah.
"Sebentar saja," tambah Janghyun, suaranya rendah namun tenang. "Sampai kau merasa aman."
[Name] mengangguk kecil.
Mereka berjalan berdampingan di bawah lampu jalan yang berkedip pelan. Dua bayangan memanjang di aspal—bergerak seirama. Meskipun, diam cukup menyelimuti keduanya disetiap langkah keduanya
"Kenapa kau ada di jalanan sepagi ini?" tanya [Name] akhirnya, memecah keheningan yang terasa terlalu panjang.
Janghyun meliriknya sekilas, lalu tersenyum kecil—kali ini lebih santai, lebih manusiawi. "Aku baru pulang," jawabnya ringan. "Bukan dari hal aneh, tenang saja."
[Name] menghela napas pelan tanpa sadar. "Aku tidak berpikir macam-macam."
"Aku tahu," sahutnya cepat, lalu terkekeh kecil. "Tapi jam segini memang mencurigakan."
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. "Aku membantu keluargaku. Kami punya toko buah kecil."
"Toko buah?" [Name] menoleh, sedikit terkejut.
"Iya. Toko Buah Hostel," katanya dengan nada bangga yang sederhana. "Kami biasa dapat kiriman sebelum subuh. Kalau datang kesiangan, buahnya keburu diambil toko lain."
"Oh..." [Name] mengangguk pelan. "Jadi kau menurunkan persediaan?"
"Angkat, susun, hitung, lalu dimarahi karena salah naruh apel," jawab Janghyun sambil tertawa kecil. "Rutinitas klasik."
Nada bicaranya hangat, jujur—tidak dibuat-buat. Perlahan, ketegangan di bahu [Name] mengendur. Langkah mereka tetap seirama, namun kini tidak lagi terasa menekan.
"Kenapa tidak pakai mobil?" tanya [Name].
"Dipakai Hosel buat antar buah ke kios lain," jawabnya santai. "Lagipula, jalan kaki begini lumayan. Kepala jadi lebih ringan."
[Name] tersenyum tipis. "Kedengarannya melelahkan."
"Sedikit," akunya.
Ada keheningan singkat lagi, namun kali ini terasa lebih nyaman. Lampu jalan di depan mereka menyala stabil, tidak lagi berkedip.
"Kau pulang dari kerja?" Janghyun bertanya balik, nada suaranya sopan—tidak ingin tahu berlebihan.
"Iya. Bartender," jawab [Name]. "Shift malam."
"Pantas," katanya mengangguk. "Kau kelihatan lelah... tapi tetap bertahan."
Ucapan itu sederhana, tanpa maksud apa pun, namun entah kenapa membuat dada [Name] terasa hangat.
"Baiklah sepertinya kita harus berpisah disini.."
Janghyung tersenyum, sedikit menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, hati-hati [Name].."
[Name] membalas dengan senyuman kecil dan anggukan, perlahan dengan tangan yang melambai pelan ia menaikki tanjakan tangga untuk sampai kerumahnya yang berada diata anak tangga ini. Sedangkan Janghyun juga ikut melanjutkan perjalanannya.
"Cantik sekali..."
"..."
To be continued..
Tr
5 - 01 - 2026
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top