1

Hallo readers/siders

Happy reading

"S T A L K E R"

Lampu-lampu neon menggantung rendah, memantulkan cahaya biru dan ungu di permukaan meja kayu yang lengket oleh tumpahan minuman. Musik mengalun pelan—cukup keras untuk menutupi percakapan, cukup lirih untuk membuat rahasia terasa aman. Di balik meja bar itulah [Name] berdiri, celemek hitam terikat rapi di pinggang, rambutnya disanggul sederhana agar tak mengganggu pekerjaannya.

Ia menuang es ke dalam shaker dengan gerakan terlatih. Denting es beradu menjadi irama yang akrab—irama yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Setiap malam, wajah-wajah berbeda datang dan pergi. Ada yang mencari pelarian, ada yang sekadar mengisi kesepian. Dan ada yang datang untuk menatap terlalu lama.

"Yamazaki," Ujar seseorang.

[Name] mengangguk singkat, senyum profesional terukir tanpa usaha. Ia meracik minuman itu dengan presisi, takaran yang tepat, hiasan lemon yang rapi. Tangannya bekerja cepat. Bartender harus peka, katanya. Bukan hanya pada rasa, tapi juga pada orang.

Ketika ia menggeser gelas ke depan pelanggan, perasaan aneh itu kembali muncul melihat sosok lelaki yang selalu memesan minuman yang sama setiap malamnya diantara beberapa wanita yang senantiasa berada disampingnya.

"[Name] berikan aku 1 botol Yamazaki."

[Name] menoleh, mendapati Haneul yang dengan santainya meminta Whiskey. Lihatlah crop top kuning dengan celana jeans pendek yang menampilkan tubuhnya, dengan jelas wanita itu pasti ada tujuan tertentu.

"Kau kemari? Kenapa dengan pakaianmu itu?

Haneul menepuk sedikit pundak [Name], "Ada seseorang yang memesanku malam ini.."

[Name] menatap Haneul  dengan alis terangkat, maniknya mengambil sebuah botol Yamazaki dan memberikannya pada Haneul.

Haneul tertawa kecil, menerima botol itu. "Kau selalu tahu."

[Name] menyandarkan siku di meja bar, menatapnya lebih lama dari biasanya. "Kau mengambil itu lagi," ucapnya datar. "Apakah kau sudah putus dengan Hyunseok?"

Gerakan Haneul terhenti sepersekian detik. Cukup singkat untuk hampir tak terlihat, namun [Name] menangkapnya. Senyum Haneul tetap ada, tapi kali ini terasa tipis.

"Tidak juga," jawabnya sambil menuang minuman ke gelas kecil. "Kami hanya... butuh jarak."

"Jarak atau pelarian?" [Name] bertanya, nadanya tidak menghakimi, hanya lelah.

Haneul mengangkat bahu. "Bukankah itu hal yang sama?"

[Name] menaikkan bahu, menatap Haneul dengan senyuman. 

"Entahlah, tapi aku sedikit aneh malam ini. Perasaanku tidak enak.."

Alih-alih ikut cemas, Haneul justru terkekeh pelan. Ia menepuk-nepuk pundak [Name] dengan ringan, lalu membungkuk sedikit, berbisik di telinga sang empu bar dengan nada setengah bercanda.

"Pelanganku orang kaya, tahu?" katanya antusias. "Kalau aku dapat banyak uang malam ini, aku akan kasih kau dua puluh persen!"

[Name] tertawa kecil mendengarnya. "Kau bicara seperti sedang menawar kontrak."

Haneul terkikik, matanya berbinar. "Hei, bisnis tetap bisnis! Lagipula, kau yang selalu menyelamatkanku dengan minuman dan tempat curhat."

Ia berdiri tegak lagi, memutar tubuhnya kecil seolah sedang di atas panggung. "Doakan aku sukses malam ini. Siapa tahu besok aku traktir kau makan mahal."

"Dan lusa kau kembali minum Yamazaki di sini," balas [Name].

"Detail kecil!" Haneul mengibaskan tangan, tertawa lebar. 

"Yang penting niatnya. Aku gadis baik—sedikit ceroboh, sedikit boros, tapi baik."

Ia mendekat lagi, menyenggol bahu [Name] dengan manja. "Jangan pasang wajah muram begitu. Kau cantik kalau tersenyum, tahu?"

[Name] menggeleng pelan, senyumnya kini lebih tulus. "Kau ini selalu saja."

"Karena kalau aku ikut murung, dunia bisa runtuh," jawab Haneul riang. "Tugasku menjaga suasana tetap cerah."

Ia meraih tasnya, melambaikan tangan dengan penuh semangat. "Aku pergi dulu! Jangan rindu. Kalau ada pelanggan aneh, ingat—aku gadis kaya sementara malam ini."

"Baiklah"

Yamazaki.

Tennessee Whiskey itu terteguk kedalam tenggorokan seorang lelaki ber-manik hitam yang dengan santai ya duduk diantar dua wanita sexy disisi kanan dan kirinya. Gelas kecil yang sudah kosong itu kembali terarah pada wanita disamping-nya, perempuan itu perlahan menuang cairan dari dalam botol hingga penuh dan lelaki itu kembali meneguknya.

Tak terhitung sudah gelas 49 atau 50, tetapi lelaki itu tetap meneguk dan memintanya berulang kali. Rasa panas dalam tubuh sudah terbendung karena minum terlalu banyak. 

"Oppa, mau ke kamar?"

Sebuah tangan kecil menyentuh bahu sang pria, manik hitam itu menoleh pada sosok disampingnya.

Sang wanita menatap sang lelaki dengan tatapan polos, dengan dada yang sengaja sedikit membusung hingga belahan dada terlihat menantang untuk disentuh. Senyum kecil muncul di wajah sang lelaki, dengan pelan pria itu menarik dagu itu hingga bibir keduanya bersentuhan.

"Haneul..."

Bibir keduanya saling berpautan, bibir tebal saling menyentuh satu sama lain hingga lidah tak bertulang itupun ikut mengait satu sama lain dengan nafas berat. 

"Mhmm.. oppa!"

Remasan kasar dari tangan penuh tato itu menandakan hawa nafsu yang sudah tak tertahankan. Haneul hanya melenguh dan melenguh saat tubuh atasnya kini sudah tak tertutupi sehelai benang-pun. 

"Oppa...."

Lelaki itu menjauh, melepaskan remasan tangannya pada tubuh sang wanita. Menatap wajah sang wanita yang baru saja ia cumbui dengan tenang.

"Kau mirip dengan perempuan yang aku inginkan.."

Haneul tersipu, pipinya merona dengan semburat merah. Dengan maniknya yang seperti boneka menatap sang pria dengan penuh arti.

"Kau begitu cantik..."

"Oppa...."

Pria itu tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. Ia menatap Haneul lama, terlalu lama, seakan sedang menimbang sesuatu di kepalanya.

"Kau tahu apa yang paling aku sukai dari wajahmu?" tanyanya pelan.

Haneul menelan ludah. "A-apa, Oppa...?"

"Cara kau menatapku," jawabnya lirih. "Seolah kau ingin dipercaya. Seolah kau ingin aku memilihmu."

Ia melangkah sedikit lebih dekat, namun tidak menyentuh. Jarak itu justru terasa lebih menekan.

"Perempuan yang aku inginkan selalu punya tatapan seperti itu," lanjutnya tenang. "Polos... sebelum akhirnya mereka sadar."

Haneul tersenyum gugup. "S-sadar tentang apa?"

Pria itu memiringkan kepala, matanya mengamati tiap perubahan ekspresi di wajah Haneul.
"Bahwa mereka bukan yang aku cari," ucapnya ringan. "Hanya bayangan yang kebetulan cocok."

"Kau cantik," katanya lagi, datar. "Tapi kecantikan itu mudah tergantikan."

Haneul terdiam, jari-jarinya mencengkeram kain di sisinya. "Oppa... kau bicara aneh."

Pria itu terkekeh pelan. Suara tawanya rendah, nyaris berbisik.
"Semua orang bilang begitu," katanya. "Tepat sebelum mereka ingin pergi... atau sebelum mereka ingin tinggal."

Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya merendah.
"Dan kau?" tanyanya. 

"Kau ingin menjadi siapa malam ini, Haneul?"

"..."

To be continued.. 

Jangan lupa tinggalkan jejak...

TR

4 - 1 - 2026


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top