2 - 3

Aku tidak ingat sejak kapan aku memandang Izekiel dengan cara yang berbeda.

Ketua klub sains. Lelaki yang satu tahun lebih tua dariku itu memiliki tinggi yang standar untuk ukuran anak laki-laki kelas 3 SMA. Tubuhnya bukanlah yang berisi maupun berbidang karena jelas, Izekiel tidak terjun dalam dunia olahraga sekolah kami. Pendiam, dia berbicara seperlunya tetapi sangat ramah dan tidak segan membantu. Tipe yang kalem dengan senyum tipisnya, entah kenapa terlihat sangat menawan.

Kupikir Izekiel hanya seorang laki-laki biasa. Tidak terlalu istimewa ataupun laki-laki yang menjadi tokoh utama dalam novel remaja. Pergi sekolah, mengurus klub, mengerjakan tugas, lalu pulang. Dia bukanlah sosok yang menggemparkan seisi sekolah dengan rupa wajahnya ataupun kelakuannya yang ekstrim. Izekiel memang sering mengikuti lomba-lomba sains dan tidak semuanya memperoleh kemenangan, tetapi hal itu tidak membuatnya lantas menjadi sangat istimewa.

Bila kubandingkan dengan mantan pacarku, Ethan, yang merupakan anak band sekolah dan namanya dikenal hingga ke telinga sekolah lain. Tampan dan memiliki ratusan pengikut di sosial media. Sangat berbeda, begitu pula bila mengaitkannya dengan perasaanku. Rasa yang kumiliki untuk Izekiel dan Ethan sangatlah berbeda.

"Lynne, tidak kedinginan?" sesuatu seolah menyentil hatiku. Aku melihat Izekiel di pintu ruangan klub sains, dengan mantel musim dingin yang memeluk tubuhnya. "jendela ruangan kau biarkan terbuka."

Seandainya dia tahu, alasanku tetap hangat adalah karena memikirkannya. "Ya, kak. Akan kututup."

"Apa kita tiba terlalu cepat?"

"Teman-teman yang lain sedang kesini juga kak."

Aku harap sepenuh hati anggota klub yang lain akan berjalan lama menuju ke ruangan klub.

Hanya kami berdua di ruangan klub yang hangat. Tak ada yang kami bicarakan, Izekiel membuka buku saku. Aku tahu dia sangatlah suka membaca. Samar-samar mendengar hela nafasnya yang tenang ketika membaca itu sangat menenangkanku. Membuatku tanpa sadar menarik senyum dan merasakan pipiku merona.

Aku mencari kesibukan lain, tentu saja. Membuka ponsel melihat seisi dunia maya. Tapi mataku tak dapat beralih darinya, betapapun kerasnya usahaku. Ujung rambut Izekiel terlihat sedikit kering, kupikir itu adalah hasil sensitifnya terhadap musim dingin. Aku penasaran apakah dia membawa payung, karena kudengar akan turun salju hari ini.

Lagi pula, ini satu hari sebelum natal.

Bibirku bergetar karena ingin kutanyakan. Tapi aku takut mengganggu waktu membacanya. Aku sangat menyukai ketika dapat menatap sosoknya yang tenang hanyut dalam barisan kata-kata itu. Karena dengan itu, dia tidak dapat melihat betapa aku salah tingkah dibuatnya.

Hahaha, kesal. Aku merasa senang walau hanya menatapnya.

Ruangan klub mulai ramai. Anggota kami satu persatu mulai berdatangan. Sedikit banyak mengeluhkan mengenai suhu yang semakin turun maupun tugas-tugas menjelang kenaikan kelas yang semakin banyak. Tapi tidak sedikit juga kami menghebohkan tentang perayaan natal besok.

Ah iya, berbicara soal akhir tahun, hatiku selalu nyeri menghitung hari menuju pergantian tahun. Karena hari itu bertepatan dengan hari kelulusan SMA kami. Aku kembali melirik Izekiel, membayangkan sosoknya yang segera lulus dan sulit kutemui selalu tidak menyenangkan.

Padahal aku begitu jatuh cinta, tetapi kelulusan tepat di depan mata.

*

Agenda kami berkumpul hari ini adalah untuk pesta natal sekaligus pesta perpisahan.

Kelulusan Izekiel membuat kursi ketua klub menjadi tergantikan. Namun kami memilih menutup periode kepengurusan klub tahun ini dengan pesta hot pot di suatu restoran. Kami makan bersama, tertawa, bercerita, dan bermain game. Aku menyukai pudding restoran ini. Rasanya manis, dan kulihat kak Izekiel juga Nampak menyukainya. Dia suka kudapan manis.

"LYNNE! DARE OR DARE!!"

Aku terkesiap. Gara-gara terlalu lama melamun memikirkan seniorku itu, tak sadar kalau botol berputar aneh yang kami mainkan itu menuju ke arahku. Seisi ruangan tertawa-tawa. Entah kegilaan apa yang akan mereka lakukan kali ini padauk.

"Oke-oke, kalian dapatkan aku. Apa tantangannya, hm?"

"Kamu bersemangat ya?? Sudah menantikan rupanya??"

"Ayolahh, besok natal!"

Di tengah-tengah kami, duduk Leo, si paling jahil diantara kita semua. Sejak tadi ide-ide usil itu bermunculan dari kepalanya. Aku juga melihat kak Izekiel sedikit tertawa dan tersenyum kalem, ah aku senang dia menikmati ini.

Leo menatapku seolah menganalisis, sembari memikirkan entah hal konyol apapun. "Lynne, kamu kutantang untuk mencium laki-laki yang paling kau sukai di klub1"

Seisi ruangan langsung heboh. Mereka semua mengelu-elu-kan Leo dan mendorong-dorong bahuku. Dasar si kecil menyebalkan! Dia tidak tahu aku merinding dengan wajah memerah seperti ini???

"TIDAK TIDAK! ITU KONYOL! GANTI!"

"Ayolah Lynne, kamu tadi sangat bersemangat!"

"TAPI TIDAK DENGAN MENCIUM SESEORANG YA DASAR KAU MENYEBALKAN!"

"Loh apa sulitnya berciuman?? Kita semua sering melakukannya dan tidak ada rasa bukan??" Ah, Leo menyebalkan sekali! Lihat wajahnya yang meledek padaku itu.

Aku masih tidak percaya. Aku yakin wajahku sudah memerah. Tak berani aku menatap wajah kak Izekiel saat ini meski aku penasaran dia akan memasang ekspresi seperti apa. Akan bilang apa dia kalau tiba-tiba aku... menciumnya? Membayangkan bibir kami bersentuhan, membuat kakiku terasa seperti pudding.

"Lynne, kamu cukup menciumnya di pipi. Atau kamu membayangkan-"

"AH TIDAK DASAR KAU!" Aku mendorong Leo yang akhirnya dia terjungkal sambil terbahak-bahak. Ah, pikiranku kacau sekali. Rasa malu memelukku saat ini.

Aku meraih gelas hukuman. Meminum isinya yang punya rasa sangat tidak enak dan membuatku ingin muntah, hasil kreativitas anggota klub kali dengan mencampurkan berbagai minuman. Aku pengecut, tak mungkin kulakukan disini.

Seisi ruangan mengerang sebal, menyorakiku lalu menertawaiku yang memasang wajah masam setelah meminum dari gelas hukuman. "Ah kau payah sekali!"

"Masa begitu saja nyerah?"

"Kalau begitu berarti diantara kita ada seseorang yang disukai Lynne, bukan?"

"Sepertinya begitu, lihat wajahnya memerah!"

"AH DIAMLAH KALIAN!" Aku meraih botol, lalu memutarnya di atas meja sambil mendengarkan mereka berspekulasi tentang siapa yang mungkin kusukai di klub. Saat ini aku tidak punya keberanian untuk menatap kak Izekiel. Saat sebelumnya aku meliriknya sekilas, aku langsung membuang wajah. Dia tengah menatapku juga, dengan ekspresi yang tak dapat kuperkirakan apa artinya.

Memikirkannya saja cukup membuatku ingin melebur di tempat.

*

Pesta kami selesai sekitar tiga jam sebelum tengah malam.

Kami tak bisa lebih malam lagi karena harus mengejar kereta pulang. Kami naik kereta bersama sesuai arah rumah, lalu turun di stasiun yang tepat. Semakin sedikit dari kami yang tersisa terutama yang memiliki rumah lebih jauh.

Hingga menyisakan aku dan kak Izekiel dari rombongan kami.

Masih beberapa stasiun hingga aku turun. Kalau kak Izekiel akan turun setelah aku turun, lebih jauh lagi rumahnya. Kami seperti biasa, tenggelam dalam diam meski duduk bersebrangan. Kak Izekiel membuka buku saku, seolah itu ada pengisi daya setelah sepanjang sore ini kami dan anggota klub berpesta. Sedangkan aku, larut hanya dengan menatapnya.

Menurutmu, aku ini gadis yang seperti apa?

Mungkin setelah hari ini, kami akan sulit bertemu. Aku berharap waktu berhenti, kereta ini terus melaju tanpa stasiun tujuan. Aku ingin lebih lama bersama orang hangat ini. Meski rasa yang aku punya tak bisa ia dengar.

Asal bisa bersamanya lebih lama lagi.

Tak kusangka, ia mengalihkan perhatian dari buku sakunya. Mata kami bertemu, membuatku sedikit bergetar tapi aku tak ingin mengalihkannya. Bunyi kereta melaju menemani hening kami.

"Salju."

Senyum tipis yang sangat kusukai itu. "Di luar turun salju." Aku membalikkan badan, menatap ke luar jendela kereta. Di langit gelap itu, butiran putih yang banyak turun seperti air mata. Rasanya ajaib, aku sudah sering melihat salju berjatuhan.

Tetapi melihat salju turun bersama Izekiel yang kucintai, tak kusangka memiliki magis sendiri.

Aku selalu menyukai salju. Melihat mereka turun perlahan membuat dunia seolah bergerak melambat. "Kau tahu kak? Benda putih yang berjatuhan itu bagiku terlihat seperti-"

"Kupu-kupu..."

Senyumku tak dapat tertahan. Hanya begitu saja hatiku langsung menghangat. "Ya. Seperti kupu-kupu."

Ya Tuhan, tak kusangka jatuh cinta akan terasa seperti ini. Aku lupa hari dimana eksistensinya tak kupedulikan, aku lupa saat-saat dimana senyumnya tak lagi menarik perhatianku. Bagaimana aku kembali ke hari itu?

"Sepertinya salju di Berlin lebih indah, kak."

Izekiel melipat bukunya. Menatapku, lagi-lagi dengan tatapan yang tidak dapat kuartikan. "Benarkah? Kupikir tidak seindah disini."

"Berbahagialah di sana kak." Ada sedikit pahit dalam suaraku ketika mengatakannya. Aku tulus menginginkan bahagianya. Dan aku akan lebih bahagia, bila dia tidak pergi dari jangkauan pandanganku.

Tawa renyahnya yang langka. "Akan kurindukan banyak hal."

Semoga kau akan rindukan aku juga.

Ah menyebalkan. Rasa sesak yang tak kusukai dan air mata yang memaksa untuk keluar. Aku tahu, mungkin ini yang disebut jatuh cinta memang indah, tapi tidak di waktu yang salah.

"Sebentar lagi tiba di stasiunmu, kan?"

Aku mendengar pemberitahuan di kereta. Ya, sebentar lagi aku akan turun. Dan berpisah dengannya. Aku menghitung detik demi detik hingga kereta ini berhenti. Semua ingatanku tentangnya terasa berputar saat itu juga.

Hari pertama aku melihatnya di ruang klub.

Ketika dia memimpin rapat.

Ketika dia menghadapi soal yang sulit.

Ketika dia membaca buku dengan tenang.

Ketika dia menatapku.

"Aku... turun duluan, kak."

Dan kereta pun berhenti.

Sekali lagi aku menatapnya. Tatapan teduh yang membuat jantungku selalu berirama dengan cepat. Ujung rambut yang kering karena pengaruh angin musim dingin. Buku-buku jari yang panjang, kudapat bayangkan betapa hangatnya kala tanganku digenggam olehnya. Cepat-cepat kuputuskan kontak mata kami, sebelum air yang berkumpul di pelupuk mata tumpah tidak karuan.

Aku mengambil langkah berat. Satu detik sebelum pintu kereta benar-benar tertutup.

Tak kusangka tangisku pecah saat aku benar-benar keluar dari stasiun. Kereta kembali melaju cepat, membawa orang yang saat ini paling kucintai pergi. Bahkan hingga akhir aku tidak bisa mengatakan segala perasaanku padanya.

Rasanya sesak, kakiku tak dapat berlari mengejarnya.

.

.

.

.

.

.

.

Kepada Izekiel.

Aku berharap kakak sampai ke rumah dengan hati bahagia. Dan semoga kakak tidak terjebak badai salju, -aku telah meminta dewa salju untuk menurunkan salju dengan tenang hehe-. Semoga tetap hangat. Berbahagia ya kak, kau akan melihat hal-hal yang tak kau temui di sini. Berlin akan bangga menyambutmu kak. Dan terima kasih, atas semua yang kakak berikan untukku dan untuk kami semua.

Ah, aku tidak ingin membuat suasana yang sedih di malam natal seperti ini. Tapi banyak yang ingin kukatakan. Entahlah, aku berharap kau terus sehat dan bahagia.

Salju malam ini cantik sekali, ya.

Lynne.

[sent]

.

.

.

.

.

.

.

.

P.s. Aku menyukaimu, entah sejak kapan dan mungkin sampai nanti.

[deleted]

.

.

.

*


HAHAHAHHAHAHHAAHHAHAINI APAAAAAA

AKU KETIK TERUS PUB

ADUH ADUH BLM SEMPET DISUNTING ULANGGGG??????

yaudahlah daripada greged. btw ini povnya ganti ya heheSENGAJA



Tobyosan, 2022

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top