3 - 3
"Kencan buta? Kau tahu akhir tahun aku selalu sibuk, kan?"
"Lynne ayolah! Aku mengatur kencan buta di malam natal susah payah demi dirimu masa kau tidak datang?"
"Ralat, bukan demi diriku. Tapi memang kau saja yang-"
"AH OKE OKE! Memang aku yang mau! Tapi Lynne tak bisakah kau bayangkan menghabiskan satu malam di hari natal di atas ranjang empuk dengan lelaki tampan di sampingmu?"
"Hahaha, funny. Lakukan sendiri saja, aku sibuk."
"Dasar menyebalkan!"
"Terima kasih~"
"Aku penasaran kamu ini punya pacar diam-diam dan tak cerita padauk ya? Setiap kuajak kencan buta atau kukenalkan ke setiap laki-laki, kamu selalu menolaknya."
"Aku hanya terlalu sibuk."
"Jangan-jangan kamu masih menunggu, siapa itu? Seniormu dulu di klub sains?Yang pergi ke Jerman setelah kelulusan?"
Aku menelan ludah pahit, "Jangan mengada-ngada, sudah ya aku sudah sampai di stasiun."
"Kalau berubah pikiran, hubungi aku!"
"Tidaaakkk."
Aku menghela nafas berat. Sepintas nama kembali lewat di pikiranku. Potongan nama yang membuat jantungku selalu terasa berbeda setiap detaknya. Nama itu seperti tinta pada baju putih, sulit sekali hilang. Sudah berapa tahun ya sejak terakhir kali aku melihatnya? Dan seperti apa, dia sekarang?
Menyebalkan. Aku selalu mengutuk diri sebagai gadis menyedihkan yang lemah pada rasa lama.
Aku pikir setelah sekian tahun aku lewati, kesibukan-kesibukan yang menelanku, beberapa lelaki yang kupacari, akan membantuku melupakan sosoknya. Semua langkah yang kulalui membawaku pergi jauh darinya. Tetapi saat aku memejamkan mata, sebaris nama itu muncul. Meresahkanku, kembali terbayang sosoknya yang tak dapat kugapai. Padahal aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi, dia seakan menghilang. Dia bukanlah orang yang aktif di sosial media. Aku tidak mengetahui kabarnya, keadaannya, seharusnya aku dapat melupakannya, bukan?
Lalu dari ujung mata, air mataku jatuh tanpa permisi.
Dia hanya kenangan masa SMA.
Seharusnya aku lebih dewasa dalam menyikapi perasaan.
Tetapi bagaimana aku bisa melupakannya, jika setiap butir salju yang turun, memiliki aromanya?
Aku kembali menginjakan diriku di stasiun ini. Lalu menoleh ke belakang, ke arah kereta yang kembali hendak melaju. Lagi-lagi kenangan itu berputar seperti kaset. Terbayang beberapa tahun lalu kereta yang melaju membawanya pergi. Tanpa menoleh ke belakang, tanpa ragu. Meninggalkanku dengan perasaan tak terucap yang tak kunjung hilang.
Musim dingin selalu berat kulewati, karena setiap hembus angin seolah dia ikut berbisik.
Seperti saat ini, angin dingin bertiup dan menggelitik kulit wajahku begitu aku keluar dari stasiun. Benda putih yang berjatuhan layaknya air mata, dan lampu-lampu gedung menyala berwarna warni menyambut natal. Instrumen biola berisikan lagu rohani yang kudengar dari berbagai radio. Suasananya romantis, dapat kubayangkan betapa indahnya jika sosok yang menghantuiku bertahun-tahun juga ada tepat didepanku untuk menikmati ini.
Bersamaku.
Rasanya semakin sesak. Sepertinya aku begitu merindukannya.
Aku sepertinya berhalusinasi akan sosoknya yang berbalut mantel musim dingin berdiri tak jauh dari tempatku. Senyum teduh yang menghangatkan, tak lekang sejauh apapun langkah membawanya pergi. Sorot mata yang menatapku, seolah dia menatap dunia.
Tolong katakan aku bermimpi karena begitu merindukannya.
Kakiku membeku begitu ia mengambil langkah ke arahku. Aku pikir waktu saat ini berhenti, hanya aku dan dia yang saling menatap. Semakin lama, semakin dekat. Aku mencium bau yang kukenali bertahun-tahun lalu, coklat hangat.
Butir salju memenuhi bahunya. Air mataku menggenang di pelupuk. Dia ada tepat di hadapanku. Izekiel yang kucintai.
"Sudah lama ya, Lynne."
Benteng pertahananku semakin hancur. Suara-suara dalam diriku berteriak untuk segera menghambur padanya, merengkuhnya erat setelah tertahan bertahun-tahun. Pertahanan terakhirku bernama perasaan tak terucap berupaya menghalau.
Namun rengkuhan hangat yang datang darinya tak dapat kutahan. Air mataku mengalir begitu saja kala kedua tangan Izekiel melingkar di pinggangku. Menghapus jarak diantara kami dengan sikap posesifnya, seolah tak membiarkan barang seujung salju mengenaiku.
Isi kepalaku tak bisa berpikir jernih. Izekiel menembus semuanya, wangi coklat hangat bercampur cinnamon yang kuhirup samar-samar dari ceruk leher dan bahunya memabukkanku. Membuatku lupa waktu dan tempat.
"Akhirnya aku bertemu denganmu."
Rasa sesak dari rindu yang tumpah.
"Kau tak tahu betapa aku menahannya selama ini?"
Dia membisikkan kata-kata itu padaku. Membuatku semakin tidak tahu diri karena memeluknya semakin erat, tak ingin melepaskan.
Kami terdiam untuk beberapa saat dan hanya berbagi hangat. Izekiel sepertinya tahu aku menangis di bahunya tanpa suara dan dia membiarkannya. Seharusnya ini tidak boleh terjadi, aku terlalu emosional. Kami hanya sebatas senior dan junior SMA. Berpelukan seperti ini, berlebihan bukan?
Perlahan aku mendorong dadanya menjauh. Menghindari tatapan lembutnya yang tertuju padaku. Aku kembali membuat jarak dan berusaha menguasai diri. "Ah maafkan aku kak, aku tidak sopan."
Kulihat Izekiel mengangkat tangannya, mendekat ke arah wajahku yang tersisa bekas air mata. Tetapi aku menjauhkan diri. Dapat kulihat sekilas gurat kecewa yang timbul di matanya, namun aku harus membatasi diri. "Kau telah kembali dari Berlin, setelah sekian lama?"
"Ya. Untuk bertemu denganmu."
Aku menggigit bibir bawahku. "Kak, kau pandai merayu setelah kembali dari Berlin-"
"Tidak." Sorot matanya kembali berubah. Menatapku intens, serius, mengartikan dia tidak sedang bercanda dengan kata-katanya. Tanpa kuduga, dia kembali mendekat dan menjatuhkan kepalanya pada bahuku. Keningnya menempel di sana seolah aku adalah tempat istirahatnya. "Rasanya aneh. Kau terus berputar di kepalaku. Ada rasa asing yang tak kukenali ketika mengingatmu. Aku ingin cepat-cepat menemuimu, mempertanyakan alasan tentang perasaan aneh ini,"
Kedua tangannya kembali melingkar pada pinggangku.
"dan begitu aku melihatmu, aku seperti pulang."
Siapapun, jika ini adalah mimpi, tolong jangan bangunkan aku.
"Sampai pada hari sebelum aku berangkat, hari terakhir kita bertemu, rasanya sakit sekali melihatmu. Kenapa kau begitu menggangguku?"
Rasa yang tak tertuntaskan. Perasaan yang dipaksa terkubur saat sedang mekar.
The more I hide my feelings, the more they show. The more I deny my feelings, the more they grow.
"Rasanya sulit. Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan, tak satupun terucap. Aku pengecut, tak pernah sanggup menghadapimu. Siapa yang ingin kau cium hari itu?"
Pertahananku runtuh. Ternyata aku menyukainya lebih dari yang kukira. Ternyata dia menyimpan segalanya tentang rasa. Aku menjauhkan bahuku darinya, menangkup pipinya. Iris mata kami beradu, dan bersamaan dengan angin musim dingin meniup, aku menempelkan bibirku padanya. Menumpahkan segala kerinduan yang tak terucap disana. Izekiel membalasnya.
Dalam ciuman itu, kami mengetahui berbagai hal yang dipendam bertahun-tahun. Mengatakan segalanya yang tak dapat digambarkan hanya dengan kalimat saja.
Aku dapat merasakan detak jantungnya. Bagaimana tangan dinginnya yang menempel di pipiku terasa hangat. Waktu yang berdentang seolah berhenti, seolah semua orang pergi ketika aku merasakan bagaimana bibirnya bergerak pada milikku, menuntut. Seperti menegaskan, bahwa dia adalah milikku dan aku adalah miliknya.
Every touch is feels like butterflies.
"It's always you. It's fucking you."I whisper while he biting my lips.
Salju-salju itu berbisik. Aku dapat merasakan betapa irinya mereka melihat kami tenggelam dalam dunia kami sendiri. Perasaan itu menggelitik. Seperti kembang api yang berpedar. Aku merasakan deru nafas hangatnya, menatap matanya seperti aku melihat diriku sendiri. Kembali mendekapku erat, membisikkan segalanya tentang rasa.
"Let me be your last."
*
WKWKWKWKWKKKKKKINI APAANSII
jadi sebenernya, cerita ini ditulis pas aku lagi naksir naksirnya sama kating kampusku wkwkwk tp kita bakal jarang kontekan lagi gegara doi udah demis kan dan aku terlalu cupu buat pdktnya. oh iya btw menurut kalian gimana ceritanyaaaa?? kalo gaje bilang aja plis tp jan lupa kritik sarannya yaaa, makasih banyakkkkk
Tobyosan, 2022
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top