1 - 3
"Izekiel, ini kota tempat tinggal kita yang baru."
Kelopak mataku yang berat itu perlahan terbuka. Mendengar ibu dan ayah yang sibuk berbincang di kursi depan. Aku melihat ke luar jendela mobil, kota ini asing. Rumah-rumah sederhana yang tidak terlalu mencolok satu sama lain. Tidak banyak gedung pencakar langit sepanjang mata memandang. Beberapa gedung berhiaskan lampu-lampu natal yang akan datang besok.
Aku akan menginjak kelas 1 SMP ketika kami pindah ke kota baru ini. Di luar sana langit kelam meski jam baru menunjukan pukul 5 sore. Mobil kami berhenti di depan sebuah bangunan yang cukup luas, sebuah sekolah.
"Kami akan turun mencari makanan di dalam sana untuk dibawa pulang, kamu mau ikut turun, nak?" Ibu bertanya yang hanya kujawab dengan gelengan lemah. Badanku terlalu lelah untuk bergerak.
Tidak banyak yang kupikirkan saat itu, hanya menatap langit yang seolah hendak menangis. Kupikir salju akan turun, ramalan cuaca yang kudengar dari radio mengatakan akan turun salju ringan.
Pandanganku teralihkan pada sosok yang sedang duduk memeluk lutut di depan gedung sekolah. Di cuaca sedingin ini dan tempat sesepi ini, apa yang dia lakukan seperti orang bodoh itu?
Sampai beberapa menit lalu, tubuhku terasa lemah digerakan. Tetapi kali ini, entah siapa yang menyetir otakku sehingga aku membuka pintu mobil dan berlari kearahnya.
Saat itu, butiran-butiran salju perlahan turun.
Aku ingat mata gadis itu yang berbinar ketika aku datang. Aku tidak sepenuhnya dapat melihat wajahnya karena sebagian tertutup syal merah yang besar. Tetapi binar kecoklatan itu terlihat seperti permen karamel.
"Salju datang!" ia memekik kepadaku, lalu bertepuk tangan. Tangannya menengadah begitu pula kepalanya, menatap butir putih itu perlahan jatuh mengenai tubuhnya.
Saat itu aku diam tergugu, tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih lagi, kenapa aku harus mendatangi gadis aneh ini yang berteriak ketika salju datang?
"Kakak pasti dewa salju."
Dasar anak kecil! Dia pasti terlalu banyak membaca buku dongeng. "Aku Ize-"
"Buktinya pas kakak datang, salju turun. Aku udah lama menunggu loh!"
Aku hendak membantah. Tapi melihat senyum dia yang melebar seperti itu, rasanya seperti aku melihat bunga matahari mekar di musim dingin. "Dewa salju itu sibuk."
"Mungkin dia yang mengirim kakak kesini. Menemui aku."
Aku heran, kota ini aneh sekali. Dihuni oleh anak-anak yang aneh. Dimana orang tuanya? Kenapa mereka membiarkannya sendirian? "Di luar dingin. Nanti kamu sakit kalau tidak pulang."
Tanpa sadar aku jadi mengomelinya. Tapi dia lagi-lagi menunjukan senyum aneh itu. "Jangan bilang ibuku ya kak, aku pergi kabur dari tidur siang hehe!"
Ternyata anak nakal.
"Nanti ibumu mencari kemana-mana."
"Tapi salju hari ini indah sekali! Ibu pasti tidak akan marah."
Salju sedikit demi sedikit hinggap di bahunya, dan di rambutnya yang hitam mengembang. Senyum itu tak pernah lepas dari wajahnya. "Kamu sangat suka salju ya?"
"Ya, kak," dia memainkan ujung syal yang melingkar di lehernya. "Salju-salju jatuh itu, terlihat seperti kupu-kupu! Mereka meninggalkan jejak yang cantik."
Aku tidak tahu bagaimana dia bisa menghubungkan antara salju dan kupu-kupu, tapi melihat mata yang berbinar itu, mungkin benda putih yang berjatuhan memang terlihat secantik yang dia bilang.
Aku ingin bersamanya sedikit lebih lama, tetapi suara ibu yang keluar dari restoran mengingatkanku untuk kembali. Tapi dia akan sendiri di sini...
Entah kenapa, tapi kakiku membawaku berbalik ke mobil. Mencari-cari sesuatu di saku jok mobil. Sesuatu yang selalu kami bawa, meski aku takt ahu bagaimana ibu akan mencari-cari lagi barang ini dan bertanya mengapa bisa hilang. Aku kembali lagi kepada anak itu yang menatapku dengan mata polosnya.
"Kenapa memberiku payung?" tanyanya bingung melihatku menyodorkan payung lipat berwarna biru dengan hiasan bola-bola putih pada ujung gagangnya.
"Sebentar lagi aku harus pulang. Kamu juga... jangan terlalu lama disini. Kamu bisa memakai payung itu untuk pulang."
Tak kusangka, tawanya pecah dan terdengar renyah. Seperti biskuit yang mekar dalam oven. "Telingamu memerah kak." Perkataannya juga membuat pipiku terasa panas sekali. Aku lupa saat ini aku sedang tidak berada dalam penghangat.
"Nanti kita bertemu lagi ya kak!" dia setengah berteriak sambil melambaikan tangan kepadaku yang buru-buru kembali ke mobil. Aku masih dapat melihat sosoknya melambaikan tangan meski mobil ayah telah melaju. Hingga di tikungan, barulah aku tak dapat melihatnya.
Dan hingga kini, aku tak pernah menemuinya lagi.
.
.
.
.
Udara dingin menyelinap masuk melalui jendela ruang klub.
Musim dingin datang untuk yang kesekian kalinya. Berita pagi mengatakan akan turun salju di kotaku. Kalau melihat salju, ingatanku tak pernah lupa pada hari pertama menginjakan kaki di kota ini. Bertemu dengan anak perempuan yang memeluk lutut menunggu salju.
Ah, dia apa kabarnya ya sekarang? Masih menyukai salju juga kah?
Terkadang aku merasa ini lucu. Pertemuan itu seolah meninggalkan jejak aneh, tapi tak kulupakan. Mungkin karena dia mengatakan hal-hal aneh karena itu aku tak melupakannya dengan mudah?
Aku melangkah keluar klub, kegiatan hari ini selesai. Hanya tersisa beberapa anak saja yang juga berencana pulang.
"Lihat! Itu salju!"
Aku menangkap suara itu dari luar ruangan klub. Melihat dia berdiri disana dan membuka payung berwarna biru... dengan gantungan bola putih pada ujung gagangnya.
Aku pikir aku salah lihat? Dan lagi siapapun bisa mempunyai payung lipat berwarna biru, bukan? Tuhan tidak sering bercanda, aku tahu.
"Aku tidak mau terjebak salju. Ayo pulang!"
"Ihh kenapa?? Salju itu cantik kan? Mereka terlihat seperti kupu-kupu yang meninggalkan jejak!"
Langkahku terhenti. Musim dingin mengganggu pikiranku lebih dari yang kukira. Itu hanya kenangan singkat masa kecil, tidak mungkin secara kebetulan aku bertemu dengannya?
Tapi debaran yang kurasakan berkata sebaliknya. Lagi-lagi emosi menguasaiku hingga tanpa sadar aku berbalik. Mataku bertemu dengan iris sewarna permen caramel yang cantik dan berbinar itu.
Langit-langit agung yang menitikkan salju putih perlahan. Aku disini, dan dia disini.
"Lynne?"
Angin musim dingin meniup ujung-ujung rambutnya.
"Ya, kak?"
Sesuatu yang tak kasat mata dan tak dapat kuartikan seolah berebut keluar dari hatiku. Menciptakan nyala hangat di tengah dingin.
"Salju selalu cantik, ya?"
*
Haiiii
ini shortstory yang dibuat berdasarkan apa yang aku rasain pas libur hehe mumpung gabut yakannnn
sebenernya tadinya aku mau buat tokohnya tuh mark lee gt soalnya aku pikir pas eh tapi ngga jadi deh hehe
yaudaa, enjoy ya! selalu terima kritik dan sarannyaaa
Tobyosan, 2022
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top