Fifth Chapter - Interhigh
"Kagami-kun, kau tau? Kau hebat" sindir (Y/n).
"Uruse, bukan salahku masih lelah setelah pertandingan kemarin" sangkal Kagami.
"Biar kutebak, kau bermimpi melakukan dunk buzzer beater kemarin 'kan?" Tebak (Y/n).
"Uruse"
Apa yang terjadi? Mari kita flashback beberapa jam yang lalu...
Flashback
Di pagi yang cerah, jam pelajaran pertama berlangsung. Guru menerangkan materi di depan kelas.
Guru itu berhenti menjelaskan, matanya memincing tajam, beliau berjalan ke arah deretan bangku kedua paling belakang--
-dan berhenti di sebuah bangku dengan sosok pria bertubuh besar dengan Surai merah gradasi hitam, Kagami Taiga. Guru itu berkali-kali menegur Kagami, tapi Kagami yang tertidur tak kunjung bangun.
Tangan Kagami perlahan naik, dan...
-mendarat dengan 'perlahan' pada kepala Guru yang menegurnya.
Kagami terbangun, sensasi yang dirasakannya sedikit berbeda dari permukaan bola basket dan pinggiran ring.
Dan seperti yang kita tau, Kagami berakhir dengan dipanggil Guru tadi ke ruang guru untuk menjadi sukarelawan mendengar konser gratis.
Padahal dibelakang Kagami Tetsuya juga tidur, tapi tidak mendapat teguran apapun, sasuga Maboroshi no Sixth man. Dan disamping Tetsuya, ada (Y/n) yang mendadak lupa caranya tertawa.
(Author : emang (Y/n) bisa ketawa?
Kagami : *lempar author ke gudang + gembok 5 lapis*
Author : *gedor-gedor* Oi! BAKAGAMI BUKAIN OI!)
Flashback end
"Lagi pula kenapa kau mengikutiku?!" Pekik Kagami.
"Aku tidak mengikutimu, aku ada janji dengan Riko-senpai dan Takeda-sensei di ruang guru" jawab (Y/n) seadanya.
Mereka sampai di ruang guru, Kagami menemui guru tadi pagi dan (Y/n) pergi menemui Riko dan Takeda-sensei.
"(Y/n)-chan lama sekali" gumam Riko.
"Aku sudah disini senpai" ucap (Y/n).
"GYAA--"
"Sejak kapan?!" Kaget Riko.
"Baru saja" (Y/n) menjawab datar, ia sudah biasa tidak disadari :').
"Apa yang akan dibicarakan, senpai?" Tanya (Y/n).
"Ah, itu..."
Riko menjelaskan, mereka sesekali meminta pendapat Takeda-sensei. Diskusi itu berlangsung tidak lama, dengan hasil terserah pada kedua gadis itu.
'apa gunanya diskusi_-'
"Ah, (Y/n)-chan jangan pergi dulu, ikutlah denganku, aku akan memanggil yang lain" Riko memanggil (Y/n) yang hendak menuju kelasnya.
Mereka sampai, pemain baru kelas satu belum berkumpul, (Y/n) berdiri di samping Izuki. Tak lama kemudian mereka datang.
Para senpai meminta anggota baru membeli roti isi istimewa di kantin. Roti istimewa yang dipercaya membawa keberuntungan, tentu saja bukan hanya klub basket yang mengincarnya.
"...mungkin akan sedikit lebih ramai dari biasanya" ucap Riko. (Y/n) curiga, firasatnya buruk.
'mencurigakan' batin (Y/n).
"Kami hanya perlu membeli roti 'kan? Terlalu mudah!" Ucap Kagami meremehkan, ia terlihat yakin.
"Ya 'kan?" Lanjut Kagami.
"Kagami-kun, kuberi tahu satu hal, itu kalimat pendatang kesialan" (Y/n) muncul disamping Kagami, Kagami kaget.
"GWAH?!"
"Aku datang duluan bersama Riko-senpai tadi jika kalian tanya" ucap (Y/n) tanpa menunggu pertanyaan terlontar padanya.
'dia bisa membaca pikiran sekarang?!' batin mereka.
Hyuuga menyodorkan sejumlah uang. Yang membayarnya tentu saja para senpai, Hyuuga minta untuk membelikan untuk semuanya sekalian sebagai makan siang.
"Tapi kalau kalian gagal... kami tidak butuh uang kami kembali. Kami hanya akan menambah porsi latihan kalian sebanyak tiga kali lipat" ucap Hyuuga dengan aura menyeramkan di belakangnya.
'Kowaii! Clutch Time di jam makan siang?!' batin murid kelas satu.
Selanjutnya mereka pergi setelah menerima 'saran' dari Izuki.
Di kantin...
"Yang benar saja... Serius,nih?" Kagami kaget, ia merutuki pemikirannya yang naif sudah meremehkan.
Keadaan kantin saat ini tak lebih mirip seperti perebutan sembako, dengan kekacauan yang terjadi akibat roti isi Iberia tersebut.
"Mau tidak mau kita harus melakukannya. Kita bisa mati kalau harus latihan tiga kali lipat" kata Kagami.
Kawahara maju duluan, menerobos masuk kerumunan manusia yang saling berdesakan dan...
-Langsung terpental begitu saja.
"Kalau dilihat baik-baik, ini... Sepertinya akan mustahil bila tanpa kekuatan yang besar. Pemain forward dari klub rugbi, pemain lineman dari klub American football, sumo dan angkat beban. Kita harus melewati mereka untuk mendapat roti isinya?" Jelas Fukuda. Kagami mengepalkan tangannya semangat.
"Omoshiree... Akan kulakukan..." Kagami berlari menuju lautan manusia. Berdesakan lalu terpental ke luar dalam posisi terduduk.
"This is Japanese lunch time rush"
"Kagami..."
"Berlagak jadi orang Amerika disaat seperti ini?"
"Tidak ada pilihan lain, kita semua harus maju. SEIRIN FIGHT!" Kawahara memelopori.
"AAA!!"
Semua maju, tak terkecuali (Y/n) dan Tetsuya yang berjalan paling belakang. Mereka berkali-kali maju, berkali-kali pula terpental keluar.
Sementara itu (Y/n) dengan santuynya terdorong sendiri ke depan. Ia mengambil satu roti dan menaruh uangnya, lalu berbalik menemui teman-teman klub basket yang mungkin sudah mau kembali.
(Y/n) berhasil keluar, pemandangan pertama yang tampak adalah Kagami yang mencengkeram kerah Tetsuya dan... Penampilan mereka yang seperti baru saja diterjang badai.
"Kalian kenapa? Diterjang badai?" Tanya (Y/n) watados.
"Manager?!"
"Ah, aku sudah membelinya, ayo kembali... Tokorode, dimana milik kalian?" Kata (Y/n) melihat tangan mereka yang kosong, tidak membawa apapun.
"M-manager... Bagaimana kau bisa semudah itu mendapatkannya?" Fukuda bertanya dengan wajah cengo.
"Aku terdorong ke depan, ambil rotinya, taruh uangnya lalu kembali" jawab (Y/n) datar. Hening beberapa saat. Kagami yang sudah melepaskan kerah Tetsuya kembali mencengkeramnya.
"Kuroko! Apa yang kau ajarkan padanya?!" Kagami berteriak pada Tetsuya.
"Aku tidak mengajarinya apapun, Kagami-kun" jawab Tetsuya datar.
Semua speacless akan kemampuan Kuroko bersaudara itu, tak disangka kemampuan mereka bisa digunakan disaat-saat seperti ini.
(Author : itulah sebabnya Saia bisa keluar kantin yang super duper ramai paling dulu dari yang lain😂)
Skip
"Kami sudah membelinya..." Kawahara menyodorkan sekantung roti isi istimewa pada para senpai.
"Otsukare, Arigatou. Ini, ada jus untuk kalian" ucap Riko menyodorkan dua kotak jus.
"L-lalu...ini?" Tanya Kawahara.
"Ah. Tidak apa-apa, kalian saja yang makan" jawab Izuki.
"Eh? Boleh?" Fukuda bertanya memastikan.
"Tentu saja, tidak usah menahan diri" jawab Hyuuga ramah. Kawahara berbalik.
"J-jaa siapa yang makan duluan?"
"Yah, kali ini sudah pasti Kuroko duluan 'kan?"
"Jaa, itadakimasu" Tetsuya membuka plastik pembungkus lalu memakan rotinya.
"?! Kore wa..." Netra Tetsuya mengerjap.
"... Meccha Oishii desu" lanjut Tetsuya.
"Ini pertama kalinya aku lihat Kuroko sesenang itu!" Ucap Kawahara kaget, diikuti satu per satu dari mereka mencoba roti isi istimewa itu. Seketika penampilan mereka yang seperti baru saja diterjang badai itu kembali rapi dan bersih, bagaimana itu bisa terjadi? Saya juga tidak tau, mari kita tanyakan pada Fujimaki-sensei.
"Aku sih lebih suka kalau ukurannya besar" ujar Kagami sambil memakan roti isi bacon sepanjang 100 cm.
"Kagami-kun, sebenarnya seberapa besar porsi makanmu?" Tanya (Y/n) yang tiba-tiba sudah berjongkok di depan Kagami.
"GYAAAAH?!" Kagami yang tengah khidmat menikmati makanannya terlonjak kaget.
"MUNCULNYA GA BISA BIASA AJA YA?!" Pekik Kagami, acara sakralnya (baca: makan) diganggu.
"... Aku muncul seperti biasa kok" seperti biasa... Jawaban datar (Y/n) membuat Kagami semakin kesal.
"DARIMANANYA?!"
"Jangan kasar pada perempuan, Kagami-kun" Tetsuya berucap dari belakang Kagami.
"Teme..." Perempatan imaginer muncul di pelipis Kagami.
☁☁☁
Bel pulang baru saja berbunyi. (Y/n) segera mengemas buku yang berserakan diatas mejanya sembari menunggu Riko sampai di kelasnya.
"(Y/n)-chan" sebuah suara memanggil. (Y/n) menoleh, Riko diambang pintu menunggu.
(Y/n) langsung menghampiri Riko. Mereka berjalan beriringan, berjalan keluar sekolah, menuju sebuah akademi yang akan menjadi lawan pertama mereka di babak penyisihan Interhigh.
Shinkyo Gakuen
Setelah mendapat izin untuk mengamati jalannya latihan, kedua gadis berbeda usia itu menuju gymnasium sekolah.
Gymnasium...
"Aku tidak melihat pemain itu tahun lalu" gumam Riko. (Y/n) yang penasaran mengikuti arah pandang Riko. Tertuju pada seorang pria dengan tinggi diatas rata-rata. Iris baby blue itu menganalisa.
"Sepertinya dia yang dibicarakan pelatih mereka tadi, Papa Mbaye Siki" ujar (Y/n). Pandangannya mulai dipenuhi data dari pemain bertubuh jangkung itu.
"Tingginya 2 meter, berat 87 kg. Siswa pindahan dari Senegal, rekan timnya memanfaatkan ketinggiannya dengan baik. Offense berpusat padanya, rekan setimnya memberi pass, Papa mencetak angka. Pola yang biasa digunakan sebuah tim yang memiliki pemain dengan kelebihan tinggi badan. Defense diperkirakan dapat memblok shoot Hyuuga-senpai di posisi tertinggi. kemampuan berbahasa Jepangnya... Rata-rata..." Ucap (Y/n) menerjemahkan apa yang dilihatnya. Riko cengo, mereka bahkan belum ada 5 menit disini, dan kouhainya itu dengan mudah mengemukakan sebuah data? Sasuga Kiseki no Sedai no manager.
"Hanya itu yang kutemukan" (Y/n) menutup matanya, tangannya mulai mencoret-coret kertas yang berada di papan LJK yang sedari tadi ia pegang.
Tangannya dengan lihai mencoret-coret. Selesai, (Y/n) menyodorkannya pada Riko. Statistik kekuatan fisik Papa Mbaye Siki. Riko melongo, bukan karena kemampuan (Y/n) tapi...
"Ano... (Y/n)-chan..." Riko canggung, ragu mengatakan sebuah kebenaran. (Y/n) bertanya-tanya.
"Tolong perbaiki tulisanmu dulu, aku tidak bisa membacanya" ucap Riko tersenyum canggung.
"H-hai' " jawab (Y/n) malu, pipinya bersemu samar. Membuat Riko tertawa renyah dengan kelakuan kouhainya itu.
(Y/n) membenarkan tulisannya dengan cepat, setelah mengamati beberapa menit, mereka memutuskan untuk kembali ke Seirin.
Skip (untuk ke sekian kalinya)
Gymnasium SMA Seirin...
Riko kembali dengan mood yang buruk, dan Dengan bodohnya Furihata malah bertanya kenapa Riko tidak lompat kegirangan seperti saat akan latih tanding dengan Kaijou . Tentu saja Riko yang sedang dalam mood buruk langsung melemparkan tatapan dan aura mematikan. Hyuuga bertanya kenapa moodnya sangat buruk, Riko memberitahu untuk tidak mencemaskan Shutoku, karena mereka mungkin saja bisa kalah di pertandingan pertama nanti. Kantoku menyerahkan ponselnya, meminta mereka untuk melihat apa maksudnya. Hyuuga menyalakan ponsel.
"Kore wa..." Ucap Hyuuga terjeda.
"Kawaii na..." Lanjut Hyuuga, Tetsuya yang disampingnya melemparkan Blink pada Riko.
"Ah, gomen, tsugi" Ucap Riko mengibaskan tangan. Hyuuga menekan tombol lanjut.
"?!"
"(Y/n)-chan" panggil Riko. (Y/n) mengangguk.
"Namanya Papa Mbaye Siki, tinggi 2 meter berat 87 kg, siswa pindahan dari Senegal. Statistik kemampuan diatas rata-rata, aku belum bisa melihat rank-nya karena belum melihatnya bermain" (Y/n) menyingkat penjelasannya.
"Si Papa Mbaye... Siapa tadi?" Hyuuga lupa nama.
"Bukannya Papa-ganbaru?" Koganei menimpali.
"Papa...Papaya itu..." Izuki mulai mencatat pun di catatannya.
"Ah, pembicaraannya mentok. Kuroko-kun coba cari nama panggilan" perintah Riko. Tetsuya berpikir.
"Jaa... Otou-san?" Ucap Tetsuya.
"Nama macam apaan tuh?" Ucap Koganei.
"Otou-san!... Perusahaan Otou-san itu... Otoo san" Izuki membuat pun.
"Namanya culun abis..."
"Tapi kenapa kau juga tertawa..."
"Jadi, untuk melawan si Otou-san itu..." (Y/n) melanjutkan ucapannya, tapi tim Seirin malah sibuk tertawa. (Y/n) kesal, dibelakangnya aura menyeramkan mulai berkobar.
"Kiite kudasai" ucap (Y/n) yang sontak membuat tim Seirin yang tertawa langsung bungkam karena takut terkena efek aura menyeramkan (Y/n).
"Dia tidak hanya tinggi, tapi lengan dan kakinya juga panjang. Mudahnya, lawan kita kali ini seperti tembok, tinggi dan sulit ditembus" lanjut (Y/n) sudah kembali normal. Riko sweatdrop, apa yang terjadi pada manager yang mereka kira lemah lembut nan imut. Ah... Tolong garis bawahi kalimat 'yang mereka kira' . Karena nyatanya (Y/n) tidak jauh berbeda dengan pelatih mereka.
Riko menjelaskan, walaupun mereka tahun lalu hanya mencapai babak pertengahan, namun dengan tambahan satu pemain asing, mereka menjadi tim yang sangat berbeda.
"Karena itulah, kita tidak boleh diam saja kan?" Celetuk Kagami.
"Memangnya siapa yang akan diam saja?" Jawab Riko percaya diri.
"Karena itulah, Kagami-kun dan Kuroko-kun, mulai besok kalian akan mendapat menu latihan khusus" ujar Riko. Kagami terlihat bersemangat.
"Penyisihan akan dimulai tanggal 16 Mei. Sampai hari itu, kalian tidak punya waktu untuk bermalas-malasan" Suara Riko menginterupsi seluruh gym.
"Baik!"
Suara itulah yang menjadi penyemangat tim Seirin. Latihan dimulai, tak ada yang tidak semangat, mereka berusaha keras. Hari demi hari berlalu, Riko dan (Y/n) memberi arahan, semua sedang berjuang keras. Hingga tiba hari penyisihan.
16 Mei Riko dan (Y/n) sudah menunggu, seluruh tim basket Seirin bersama menuju gymnasium terbesar Tokyo. Dan jangan lupakan mata Kagami yang 'sangat baik dan indah' itu.
Di dalam...
(Y/n) sedang sibuk dengan data di tangannya, bersiap menganalisa setiap pemain, atensi nya beralih kala mendengar suara benturan dari pintu masuk diikuti sosok yang menjadi kewaspadaan Seirin terhadap lawan-Papa Mbaye Siki. Ia berjalan ke arah pelatih, meminta maaf karena datang terlambat, disusul oleh kapten mereka yang datang dari belakang pelatih.
Bola menggelinding ke arah Shinkyo Gakuen, Hyuuga mengambilnya, Tanimura Yusuke kapten mereka masih sempat-sempatnya bertanya pertandingan dengan Kaijou tempo hari, apa mereka benar-benar mengalahkan Kaijou. Mereka juga meremehkan Kiseki no Sedai, mengatakan bahwa mereka (Kiseki no Sedai) tidak sekuat yang orang-orang bicarakan. Hal itu membuat beberapa orang geram, termasuk (Y/n). Papa mulai mengeluh dan berjalan, sedikit melirik Kagami, lalu tanpa sadar menabrak sesuatu. Papa celingukan lalu menunduk, menemukan Tetsuya yang menatapnya datar. Ia mengangkat Tetsuya.
"Tak boleh ya nak, anak-anak tak boleh berada di lapangan" ucap Papa. Kaos Tetsuya tersibak, menampilkan seragam basket dibaliknya. Papa heran, lalu menurunkannya.
"Mereka kalah dari anak-anak seperti ini? Kiseki no Sedai ternyata isinya anak-anak semua!" Papa berlalu dari Tetsuya.
'tapi kurasa dia lebih tinggi sekarang' batin (Y/n) mengingat sosok dengan tinggi abnormal yang dikenalnya.
Tim Seirin tertawa, entah karena Tetsuya yang dibilang anak-anak atau karena logat bicara Papa yang... Err... Apa ya nyebutnya? 'unik' ? 'aneh' ? Ah sudahlah. (Y/n) sendiri bingung mau tertawa atau marah.
"Jujur saja, aku merasa agak kesal" kata Tetsuya.
Beberapa berhenti tertawa, sedangkan Kagami mempelopori. Tipp off, bola Shinkyo Gakuen, bola diarahkan pada Tanimura dan langsung di pass ke papa, Kagami menjaga. Papa melakukan shoot tanpa fake. Kagami melompat, sayangnya lompatannya tidak dapat menghalau shoot Papa.
Bola masuk, angka pertama untuk Shinkyo Gakuen. Seirin menyerang balik, Hyuuga melakukan shoot, tapi dengan mudah di blok oleh papa.
Sementara itu di pinggir lapangan, Furihata dan Kawahara merasa pertandingan ini tidak adil.
"Ini sih konyol namanya..."
"Namanya gak adil dong, kalau ada pemain asing"
"Bicara apa kalian" (Y/n) menyahut dari belakang mereka, membuat kedua orang itu berjengit kaget lalu memandangnya penuh tanya.
"Mereka sama sekali tidak melanggar aturan. Dalam basket setiap tim berhak memasukkan paling banyak dua pemain asing dalam timnya. Jika kalian berpikir ini tidak adil hanya karena ada pemain asing yang kuat..." (Y/n) menjeda ucapannya, pandangannya tak beralih dari lapangan.
"-kalian anggap apa Kagami-kun dan Tetsu-nii yang bahkan datang sendiri tanpa diundang Seirin?" lanjut (Y/n), nada bicaranya memang datar tapi ngejleb untuk mereka berdua. Tepat setelah itu, satu pun shoot Papa tidak ada yang masuk.
(Author : kek jelangkung ya berarti? 😂😂
Tetsuya & Kagami : SIAPA YANG JELANGKUNG?!)
Penyebabnya adalah Kagami yang menjaga Papa tidak membiarkannya bermain dengan bebas, metode penjagaan Mitobe benar-benar digunakan dengan baik, Alhasil akurasi shoot Papa menurun drastis.
Papa yang shootnya selalu meleset merasa kesal, begitupula Kagami yang sudah tidak tahan lagi dengan metode penjagaan yang diajarkan Mitobe. Di tengah lapangan tampak Kagami yang sedang berbicara dengan Papa lalu menjauh, mendekati ring.
Bola dioper Izuki ke arah Papa, Papa merasa beruntung...
-hingga sesosok manusia (transparan) memantulkan pass tadi menuju Kagami. Kagami melakukan dunk.
"Melawan anak-anak bisa jadi merepotkan, lho!" Ucap Kagami.
"Teiuka, bisa tolong berhenti menyebutku anak-anak?" Tetsuya merasa kesal disebut anak-anak.
Papa terlihat shock (?). Selanjutnya Seirin terus mencetak angka berturut-turut. Quarter pertama selesai dengan score 8-23, keunggulan untuk Seirin.
Karena kemampuan Tetsuya memiliki batas waktu, mereka memutuskan untuk mencadangkan Tetsuya di quarter kedua nanti, juga dengan tujuan menyimpan kekuatan Tetsuya. Kekuatan offense sedikit berkurang, Riko menghimbau untuk jangan membiarkan Shinkyo Gakuen menyusul.
"... Selain Otou-san, tidak ada pemain lain yang berbahaya di tim mereka. Itu berarti semua bergantung pada seberapa baik Kagami-kun bisa mengatasi Otou-san. Apakah kau bisa melakukannya?" Tanya Riko.
"Serahkan saja padaku!" Ucap Kagami percaya diri.
"Ato Kagami-kun..." (Y/n) memanggil Kagami, membisikkan sesuatu.
Quarter kedua dimulai, Kagami masih menjaga Papa. Papa melakukan shoot, Kagami melompat, hampir menjangkau bola yang dipegang Papa.
Pertandingan terus berlangsung, berkali-kali Kagami mencoba memblok shoot Papa. Papa menjadi ragu untuk melakukan shoot, ketinggian lompatan Kagami semakin bertambah tiap kali ia melompat.
Penjagaan Kagami yang ketat pula yang membuat Papa enggan melakukan shoot. Kagami teringat ucapan (Y/n) sebelum quarter kedua tadi.
"Melompatlah dengan bertumpu kaki dominanmu" ucapan (Y/n) tadi langsung dipraktekkan Kagami begitu pertandingan kembali dimulai.
Hingga di Quarter terakhir, Shinkyo Gakuen hampir berhasil mengejar, Tanimura melakukan shoot, selisih angka dibawah 10. Tetsuya yang sedari tadi di bench masuk, mengubah jalannya pertandingan. Pass tidak terlihat kembali muncul. Hyuuga menghimbau untuk tidak lengah sampai pertandingan berakhir.
Di detik-detik terakhir Papa memegang bola, sedikit terjadi perdebatan diantara mereka. Hingga akhirnya papa melakukan shoot dan berhasil di blok oleh Kagami. Papa shock shootnya berhasil dihalau. Peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi, score 67-79, kemenangan untuk tim Seirin. Pemain cadangan di bench bersorak senang, Riko menghela nafas lega. Sementara (Y/n) tersenyum tipis, ia merindukan suasana seperti ini setelah sekian lama.
Di tengah lapangan, kedua tim berbaris. Lalu kembali ke pinggir lapangan dan membereskan beberapa barang. Kagami baru saja menutup resleting tasnya, tiba-tiba Papa datang menghampiri.
"Aku kalah. Demi bagianku, tolong berjuanglah sekuat tenaga di pertandingan berikutnya" kata Papa. Kagami masih mencoba mencerna ucapannya.
" Hah? Ah, iya..." jawab Kagami sekenanya.
"Mana mungkin aku mengatakan itu, bodoh!" Papa mengejek.
"Lihat saja, yang berikutnya aku tidak akan kalah!" Ucap Papa dengan kerah ditarik Tanimura dari belakang menjauh berjalan keluar. Hyuuga sweatdrop, Kagami kesal, dan Tetsuya diam.
"Maa ii desuka... 'kan kita sudah menang" (Y/n) berujar datar disamping Tetsuya.
"GWAKH?!"
"Manager? Kau dari mana saja? Aku tidak melihatmu tadi" Tanya Hyuuga.
"Aku ada disini sedari tadi. Hyuuga-senpai saja yang tidak menyadariku" jawab (Y/n) cuek.
"O-oh..."
Dengan ini SMA Seirin berhasil melewati pertandingan pertama babak penyisihan Interhigh. Pertandingan kedua adalah melawan SMA Jitsuzen, Seirin menang dengan score 118-51 dengan Tetsuya di bangku cadangan selama pertandingan. Lalu di pertandingan ketiga SMA Seirin melawan SMA Kinga. SMA yang masuk 16 besar tahun lalu, mereka adalah tim kuat dengan keseimbangan offense dan defense yang baik, Seirin menang dengan score 92-71. Semua berjalan mulus, mengejutkan. Tapi dimana ada kesenangan, kesedihan menanti didepan sana.
Seusai pertandingan ketiga, saat tengah melihat susunan pertandingan Interhigh, (Y/n) menemukan sebuah amplop berwarna hijau terselip diantara lembaran kertas yang terapit papan di tangannya. Ia membukanya, sama seperti amplop kuning tempo hari, tak ada surat di dalamnya. (Y/n) mulai berpikir, siapa orang iseng yang kurang kerjaan menaruh amplop kosong berwarna-warni di tempat yang sangat umum ia jumpai.
"Ada apa, (Y/n)-chan?" Tanya Tetsuya.
"Ah, nandemonai... desu" jawab (Y/n) sambil kembali menyelipkan amplop itu. Tanpa sengaja Tetsuya melihat apa yang (Y/n) selipkan merasa penasaran.
"Apa itu?" Tanya Tetsuya penasaran.
"Dari orang iseng" jawab (Y/n).
"Sou desuka"
(Author : Percakapan macam apa ini ?!
// flip table
(Y/n) & Tetsuya : 'kan Author-san sendiri yang bikin_-
Kagami : Jadi pengin pindah ke Author lain :')
#lelahdenganauthor)
Setelah itu mereka berjalan keluar dengan tim Seirin. Sejauh ini semua baik-baik saja, Bahkan bisa dibilang ini terlalu lancar. Berbeda dengan yang lain, (Y/n) mulai was-was, pikirannya melayang membayangkan skenario apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka.
"Ada apa (Y/n)-chan? Kau terlihat khawatir" tanya Riko yang kebetulan ada disamping (Y/n).
"Iee, aku hanya merasa... Bukankah ini terlalu lancar?" Jawab (Y/n).
"Bukankah itu bagus, manager?" Kata Kawahara antusias. (Y/n) hendak menjawab, tapi melihat wajah-wajah kelas satu yang senang itu membuatnya mengurungkan niat.
"Hai' "
Skip
"Kau baik-baik saja nanodayo?"
Suara ini ! Kutolehkan kepalaku ke samping, pria bersurai hijau yang kukenal duduk tenang disana.
"Dimana ini?" Tanyaku menyapu pandangan.
"UKS nanodayo" jawabnya .
"Ano..." Atensiku beralih kala merasakan sesuatu yang hangat menggenggam tanganku.
"??"
"Tanganmu..." Ucapku.
"B-bukan aku yang mau nanodayo, aku hanya kasihan melihat tanganmu mencengkeram selimut nanodayo, b-bukannya aku peduli nanodayo" pria hijau itu melepaskan genggamannya.
"Kenapa ********-kun ada disini?" Tanyaku.
"Aku disuruh guru nanodayo, saat aku mau mengambil perban aku malah disuruh menunggu nanodayo" ucapnya sambil membenarkan posisi kacamatanya. Suara bising terdengar dari bilik samping, membuatku menoleh dan langsung memandang kembali pria hijau ini.
"Demo..." Jari telunjukku menunjuk bilik samping yang hanya berbatas sebuah tirai tipis. Pria hijau itu tampak merona.
"A-aku tau nanodayo, aku juga tidak mengerti nanodayo. Bukan berarti aku ingin menungguimu nanodayo" ucapnya cepat.
"********-san, kau boleh kembali. Kuroko-san sudah sadar 'kan? Kau bilang akan menunggunya hingga sadar tadi" ujar sensei. Pria hijau itu berdiri.
"B-baik, terimakasih sensei"
Ah, Tsunderenya masih belum sembuh... Eh? Memangnya bisa sembuh? Bukannya itu permanen ya? Ah, sudahlah. Aku tidak tau.
Pria bersurai hijau itu keluar, diikuti cahaya putih yang menyilaukan, mau tak mau aku menutup mataku.
Cahaya itu perlahan-lahan meredup, netraku kembali menyesuaikan cahaya. Latar berganti di gymnasium. Hanya ada pemain cadangan yang sedang berlatih.
"Kenapa kau ada disini nanodayo?" Lagi-lagi aku bertemu pria hijau ini.
"Hanya melihat lihat, ********-kun sendiri sedang apa? Bukankah Kiseki no Sedai tidak diwajibkan latihan?" Jawab dan tanyaku.
"****** Bilang tidak diwajibkan, bukan berati tidak diperbolehkan nanodayo. Aku hanya berusaha seperti yang biasanya aku lakukan, manusia berusaha, Tuhan mengabulkan, itulah mottoku, jika mereka tidak latihan, bukan urusanku nanodayo" ucapnya, nada suaranya terdengar sedikit kesal.
"Manusia berusaha, tuhan mengabulkan huh? Apa memang itu masih berlaku jika memang kemenangan mutlak ada di tangan kalian?"
Ah, aku menyesal mengatakan itu semua.
"Sumimasen, aku masih terbawa emosi tempo hari"
"Tidak apa-apa" jawabnya tenang, tangannya mengambil satu bola basket lalu melemparnya menuju ring, dari jarak setengah lapangan.
"Ano..." Panggilku, ia menoleh, menghentikan aktivitasnya.
"Apa... Kita semua akan terus seperti ini?" Tanyaku.
"Maksudmu?"
"Semua terpecah belah, tidak ada kehangatan yang dulu terus menyertai tim ini... Apa... Apa semua akan terus seperti ini?" Ujarku dengan kepala tertunduk. Kudengar ia menghela nafas panjang, tiba-tiba sepasang telapak tangan besar dan hangat menangkup wajahku, mengangkatnya menatap manik emerald yang dibingkai kacamata itu.
"Aku tidak tau nanodayo, tapi satu hal yang bisa kupastikan, mottoku adalah bagian dari kehidupan, manusia hanya harus terus berusaha, tuhan yang menentukan segalanya. Jika kau ingin semua itu kembali, berusahalah nanodayo" ucapnya.
Hari itu, aku masih memproses segala ucapan yang pria itu katakan padaku.
"Lalu... Bagaimana dengan mu..."
"Midorima-kun"
(Y/n) terbangun dari mimpinya, peluh membasahi wajah dan sebagian tubuhnya, nafasnya memburu. Mimpi yang amat sangat gantung sekali.
"Apa yang akan terjadi? Apa selanjutnya Midorima-kun?" Gumam (Y/n).
(Y/n) beranjak, ia teringat amplop hijau yang ia selipkan di sela-sela data. Tangannya sibuk mencari. Tapi amplop itu tak kunjung ditemukannya.
Lembar terakhir, amplop itu hilang tak bersisa.
'apa yang kupikirkan, berpikirlah secara rasional, (Y/n)' batin (Y/n), ia mengusap wajahnya gusar.
Detik selanjutnya ia melihat ke nakas disamping ranjangnya, jam menunjukkan pukul 03:40, terlalu pagi untuk seorang manusia terjaga.
Tanpa sengaja netranya melirik ke arah meja belajar, sebuket bunga tulip dengan warna yang bermacam-macam tertata dengan sebuah kotak disampingnya.
(Y/n) mendekat, sejujurnya ia tidak terlalu mengerti arti dari semua ini. Bahkan Bunga matahari tempo hari masih ia letakkan dekat jendela dengan vas berisi air yang rutin ia ganti.
Dan sekarang bunga tulip? Oh ayolah, (Y/n) masih hidup kenapa dapat persembahan bunga terus?!
Jemari lentik (Y/n) meraih buket bunga, dipandanginya bunga itu. Setelah puas, ia beralih pada kotak yang ada disamping buket bunga tadi.
'aku mulai berfirasat ada yang menguntitku sekarang' batin (Y/n). Stalker adalah yang terburuk baginya.
Kotak itu dibuka, sebuah amplop hijau yang dilihatnya kemarin ada di dalamnya...
... Beserta sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk daun semanggi berhelai empat... Ya, simbol keberuntungan.
(Y/n) membuka amplop hijau itu, terdapat surat dengan lembar putih yang tebal dengan tulisan tinta hijau.
=========================================
Pertama, jangan pikir aku penguntit mu, kita pernah saling kenal.
Kedua, tunggu aku
Ketiga, Aku mencintaimu (Y/n)
Lembaran data adalah kali pertama kita bicara, kau mengingatnya?🍀
ps: pakailah, keberuntungan akan selalu bersamamu.
=========================================
(Y/n) mengernyit heran, sebelum beralih ke kalung yang sama sekali belum ia sentuh. Sedikit ragu, (Y/n) memakai kalung itu.
'mungkin aku bisa mendapatkan petunjuk tentang semua keanehan ini' tidak masuk akal memang, ini sangat bertentangan dengan (Y/n) yang sangat menjunjung tinggi akal sehat dan kerasionalan.
Bunga tadi diletakkan di vas bunga, bersanding dengan bunga matahari di jendela kamarnya, berharap bunga-bunga itu tidak akan layu sebelum ia menemukan jawaban dari datangnya bunga-bunga dan benda-benda itu padanya.
(Y/n) kembali merapikan lembar kertas data dan memasukkannya kedalam tas. Besok pertandingan penyisihan keempat melawan Meijo Gakuen.
(Y/n) kembali ke ranjangnya, menyelimuti diri dan mencoba memejamkan mata, berharap bisa kembali ke alam mimpi.
×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×
Gini ya rasanya melepas penat dengan menulis? Sehari update 2 chapter ga masalah kan ya...
Tentu saja saya masih berharap ada yang baca plus nungguin ini cerita hehe...
Pokoknya...
Jangan lupa klik bintang dibawah ya~
Jangan ragu juga buat comment, krisar diterima~
Thanks for Reading, Enjoy, and Thank you very much~
Share please ~
Bye bye~
See u next chapter~
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top