Bab 6



Seluruh darah Genta seolah tersedot, menjadikannya pias. Kedua mata Genta melotot, hampir-hampir menggelinding kalau saja mereka buatan manusia. Genta merasakan sendi-sendinya lolos satu per satu, kemudian luruh dan berkumpul di dalam sepatu Converse-nya. Keringat dingin menetas di jaringan kulitnya, berselancar membasahi tubuh Genta. Ia menelan ludah dengan sukar, mencoba menenangkan batin, walaupun Genta tahu, pemandangan yang disuguhkan di depan matanya akan menjadi mimpi buruk yang pernah ada. Mimpi paling buruk yang pernah Genta temui.

Ya, Tuhan.

Ya, Tuhan.

Sekali, dalam seumur hidup Genta, ia pernah melihat penganiayaan terhadap babi hutan yang dilakukan oleh warga di lereng gunung Sumbing. Itu penganiayaan terhadap binatang paling sadis. Tubuh babi hutan dikuliti. Organ-organ dalamnya diberedel. Dagingnya disayat-sayat. Kepalanya dipenggal. Darah di mana-mana. Aroma amis merebak, memusingkan kepala. Melihat usus-usus yang terburai, tak ayal, sukses membuat Genta muntah-muntah. Didukung dengan bebauan anyir yang kuat, Genta takkuasa menahan laju isi perutnya yang terus mendesak keluar. Tidak sampai di sana, para warga yang murka sebab babi hutan melukai beberapa keluarga mereka, membakar binatang itu. Aroma daging panggang dan tulang yang membara, tanpa ampun membikin Genta kelimpungan menahan diri. Seluruh makan siangnya bablas tanpa sisa.

Tapi kali ini, yang ia lihat lebih mengerikan daripada penganiayaan terhadap babi hutan kala itu. Jauh. Jauh. Jauh lebih menakutkan.

Genta lari ke halaman rumah, lalu muntah di sana. Sengatan mi pedas buatan Aji terasa membakar kerongkongannya. Aroma amis yang kuat tercium, kembali mendidihkan perut Genta. Ia terus muntah. Berkali-kali, sampai mi-mi goreng itu habis tanpa sisa, dan hanya mampu mengeluarkan cairan kuning pahit yang terasa begitu menyakitkan kepala.

Demi Tuhan, itu apa?

Genta bahkan kesulitan menduga bahwa mayat di dalam adalah Siska. Gadis ceria yang akan melakukan pameran seni lukis dua bulan lagi. Gadis penuh semangat yang memintanya menemani ke Jakarta untuk bertemu maestro seni lukis. Gadis penuh tawa yang memeluk tubuh Dian ketika ibu muda tersebut dirundung sedih. Siska anggota Kaki Wilisnya, yang selalu menggerutu apabila Genta memeperin keringat padanya. Yang selalu cerewet apabila Genta berjalan terlalu cepat selama pendakian. Yang selalu membangunkan Genta tengah malam untuk menemaninya buang hajat di gunung. Dan selalu memarahinya apabila Genta menghabiskan stok tisu.

Kali ini, tubuh perempuan itu....

Apa yang terjadi padanya?

Organ dalam tubuh Siska tidak hanya berceceran di lantai, tapi juga terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Kedua kaki dan tangannya tercerai dari tubuh. Lehernya seolah-olah dikampak. Kepala Siska seperti dipotong atau digergaji atau entah apa—Genta tidak paham—menjadi dua bagian, membuat otaknya terserak di lantai. Wajahnya tidak lagi dapat dikenali dengan jelas kalau bukan oleh orang-orang terdekat. Kedua mata Siska entah menggelinding ke mana. Bibir dan hidungnya terpisah dengan bekas-bekas sayatan vertikal. Darah di mana-mana. Membanjiri lantai. Membasahi tembok-tembok. Menciprati perabotan rumah, bahkan sampai langit-langit kamar.

Hoek!

Genta kembali muntah. Dengkulnya terasa lemas. Ia lantas ambruk. Kedua tangannya erat mencekal pilar. Jantungnya berdetak hebat. Dari kejauhan, terdengar suara sirine polisi meraung-raung. Di dalam hatinya, Genta merasa bersyukur, satu dari empat orang yang ada di sana masih memiliki pemikiran waras untuk segera menghubungi polisi.

Ya, Tuhan. Ya, Tuhan. Ya, Tuhan.

Rasa ngeri itu merayapi tumit hingga ubun-ubunnya. Seluruh isi dalam kepalanya seolah meledak, membuat Genta kesulitan berpikir. Baru beberapa waktu lalu dia bisa berkumpul dan berdiskusi dengan kedua sahabatnya, tapi sekarang semua berubah drastis. Ada yang berlubang di dada Genta. Besar sekali. Besar sekali sampai rasa-rasanya Genta takkuat menampung seorang diri. Genta mengusap kelopaknya yang terasa menebal, dan mendapati cairan bening di ujung jempol. Paru-paru Genta seolah tertindih oleh berkuintal-kuintal batako, menjadikannya kesulitan mengambil napas.

Astaga. Siapa manusia keji yang telah berbuat sesadis itu?

"Res...." Pundak Genta dicekal oleh seseorang. Genta berjengit seketika. Ia menengadah dan mendapati Benedictus menangis tersedu-sedan. Bibirnya bergetar hebat sewaktu berucap, "Demi Tuhan, Res, bukan gue pelakunya. Siska menghubungi gue dari semalam mempertanyakan masalah tim komdis yang sedang dia dekatin untuk merampungkan alur cerita kita. Tapi siang ini gue baru bisa ke sini untuk menemuinya dan sudah menemukan kondisinya seperti itu. Dari kemarin gue sibuk menego para porter untuk melayani para dokter dan pendakian tujuh belasan nanti, Res."

Tidak sepatah pun kalimat Ben mampu ia cerna. Telinganya seakan-akan pengang. Ia butuh ruang untuk mengistirahatkan tubuh barang satu atau dua jam. Genta merasa capai. Kejadian yang menimpanya belakangan ini tak memberinya jeda untuk aso sejenak. Ini sungguh berlebihan. Genta merasa takkuasa menanggungnya.

"Gue tadi datang mengetuk-ngetuk pintunya, tapi nggak dibuka-buka oleh Siska. Gue mencoba masuk, pintunya dia kunci. Alhasil, gue memutuskan untuk menelepon Siska, tapi betapa terkejutnya gue, waktu gue dengar suara ponsel Siska dari dalam. Gue panggil-panggil, nggak dia jawab. Gue teriak-teriak, tetap nggak ada balasan. Akhirnya gue mendobrak pintu rumah Siska dan... dan semuanya sudah seperti ini. Percaya sama gue, Res."

Genta mencoba mengontrol emosi. Berkali-kali ia berusaha menarik napas panjang yang ia embuskan perlahan-lahan. Tapi sial, getar di tubuhnya tak juga mereda. Gedoran jantungnya masih terdengar jelas di gendang telinga. Tidak pernah sekali pun Genta dihadapkan kasus semenakutkan ini. Siapa pun pembunuh Siska, pastilah itu bukan manusia. Rasa-rasanya, sulit sekali menyejajarkan kata manusia dengan keparat yang tega memutilasi sahabatnya.

Tuhan.

Genta masih mencoba berdamai, namun pemuda tersebut tetap terpukul. Guncangan ini sungguhlah dahsyat. Pukulan ini di luar batas kemampuannya. Seperti ada orang yang sengaja meledakkan bom atom di dalam kepalanya, dan itu membuatnya pengar bukan main. Aksi pembunuhan yang dilakukan kawan-kawannya terhadap mahasiswa baru kemarin saja, tidak pernah Genta toleransi sampai kapan pun. Sekarang, Genta menghadapi pembunuhan yang jauh lebih keji? Sampai tega memotong-motong tubuh Siska seperti memotong daging hewan? Kata apa yang pantas untuk menggambarkan karut-marut perasaannya saat ini?

Ketika Genta menutup mata, gambar daging dan potongan tubuh Siska yang berantakan kembali menghantui. Organ-organ dalamnya yang terurai seperti mainan, merayapi kelopak matanya. Gumpalan-gumpalan putih otak Siska yang keluar dari tempurung kepala, bukan main menggigilkan tubuh Genta. Perutnya kembali bergolak, detik setelah itu, ia memuntahkan cairan kuning yang terasa begitu pahit. Sirine mobil polisi kian dekat. Napas Genta terasa putus-putus. Ia bisa limbung kalau tidak memaksa diri untuk bertahan.

Genta mencoba bangkit. Ben yang masih berdiri di sebelahnya, mengulurkan tangan untuk membantu Genta. Di dalam rumah kontrakan Siska, Aji terlihat mematung di tempat semula ia datang. Sementara Rick, syok di pojok ruang. Genta mencoba menguatkan batin melihat pemandangan mahaburuk di depan mata. Ia mengedarkan pandangan. Tidak ada yang luput dari darah di ruangan ini. Semuanya merah dan beraroma anyir. Dengan lutut yang bergetar akibat takut, Genta hendak mendekati tubuh Siska sebelum suara Rick menginterupsi.

"Jangan tinggalkan banyak jejak, Res. Kita nggak tahu apa yang terjadi setelah ini."

Menggelincirkan ludah, Genta menyetujui ucapan Rick. Ia mengajak mereka keluar tepat dengan datangnya para polisi. Suasana mendadak riuh. Para tetangga Siska datang berduyun-duyun. Suara jerit dan tangis membahana di mana-mana. Polisi mengevakuasi tubuh Siska dengan cekatan. Police line dibentangkan supaya tidak ada warga yang mendekat. Beberapa wartawan dan reporter datang meliput. Orang-orang menyemut di kontrakan Siska.

Yogyakarta siang itu gempar oleh penemuan mayat perempuan yang dimutilasi.

Seluruh koran—baik lokal maupaun nasional—memberitakan hal tersebut. Reportase-reportase di hampir seluruh channel televisi mewartakan pembunuhan biadab ini. Berita-berita di media sosial tentang pembunuhan sadis kembali viral. Tagar RIPSiska trending topik beberapa waktu. Kampus A gempar. Teman-teman Siska terus membicarakan hal ini dengan imbuhan cerita-cerita mistis, kemudian menyebarkannya ke penjuru kampus. Orang tua Siska yang didatangkan langsung dari Ngawi, melengkingkan tangis yang benar-benar meremangkan bulu kuduk. Para tetangga diwawancarai. Teman-teman Siska tak luput disidak. Pun Genta dan ketiga temannya.

Hampir lima kali dua puluh empat jam mereka digeledah polisi. Pertanyaan-pertanyaan ditembakkan tanpa ampun. Sungguh, Genta sama sekali tidak takut dihadapkan hukum kali ini. Hanya saja, rasa ngeri melihat bagaimana jasad Siska tercabik-cabik secara membabi buta, tidak akan pernah hilang dari kepala Genta.

Dari penglihatan Genta.

Dari pemikiran Genta.

Sampai kapan pun.

==

"Mas Genta kelihatan murung terus." Seorang anak perempuan membelai kedua tangan Genta yang tengah memegang kepala. Mendapati sentuhan tersebut dan mendengar namanya disebut, Genta menurunkan tangan, dan menemukan bocah menggemaskan berdiri di hadapannya. Anak itu menawarkan seulas senyum lebar, membuat dua gigi kelincinya terpampang menggemaskan, dan dua lesung pipit di kedua belah pipinya tercetak.

Genta menarik sang bocah, lalu mendekapnya ke dalam pelukan. Aroma melon segar dari sampo yang dikenakan anak ini menyeruak hidung Genta. Tubuhnya yang kurus lagi tinggi, Genta eja penuh sayang. Gendis Arumbumi. Adik semata wayangnya. Kelahirannya mendatangkan kematian buat ibu Genta. Tapi Genta sangat menyayangi manusia ini dengan tulus. Ketika para dokter itu memberi pilihan untuk menyelamatkan bayi atau ibunya, perempuan penuh cinta itu tidak perlu berpikir dua kali untuk memilih Gendis. Genta tidak tahu apakah keputusan itu benar, hanya saja, sekarang, satu-satunya bentuk cinta yang ia kenal dan hidup di dunia ini hanya Gendis. Gadis kecil kesayangannya.

Gendislah alasan kenapa Genta masih bertahan di neraka ini. Jika saja ia tidak memiliki adik, Genta tidak perlu berpikir dua kali untuk minggat. Kehadiran Gendis bak oase bagi Genta. Bocah itu satu-satunya pengikat Genta. Jika ia meninggalkan Gendis seorang diri, bisa saja neraka sepuluh tahun silam kembali hidup dan menghancurkan segalanya. Genta tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai hal itu terjadi.

Gendis mengenyam pendidikan di sebuah sekolah swasta yang menerapkan sistem asrama. Ia baru boleh pulang ke rumah setiap akhir pekan. Sulit sekali berjumpa dengan Gendis di musim-musim pendakian. Biasanya, jika Genta terlalu disibukkan dengan kegiatan Kaki Wilis, Genta yang akan mengunjungi Gendis ke asramanya. Tapi sejak kejadian yang menimpa Genta belakangan, Genta seolah-olah tidak memiliki waktu berkunjung.

"Mas Genta lagi sedih, ya?" Genta mengulas senyum ketika kedua tangan kecil Gendis menangkup pipinya. "Gendis kangen banget. Mas Genta nggak mengunjungi Gendis hampir dua bulan ini, lho, Mas. Mas Genta sudah melupakan Gendis, ya?"

"Maafin Mas Genta, Sayang, Mas ada kerjaan di kampus, jadi nggak sempat pulang dua bulan terakhir ini. Gimana kabarmu? Semuanya berjalan dengan oke, kan?"

"Semuanya oke, Mas. Cuma, kemarin, tuh, ya, Mas, masa Fajar pamer foto ke gunung bareng orang tuanya gitu, Mas. Aku bilang ke dia, aku juga pernah naik gunung bareng masku di Gunung Prau. Eh, Fajar nggak percaya, Mas. Katanya kalau nggak ada foto artinya hoax. Padahal, kan, nggak hoax. Iya, kan, Mas? Mas Genta pernah ngajakin aku ke gunung pas aku masih kelas satu SD. Aku jadi pengin banget naik gunung lagi, Mas Genta. Masa sampai sekarang nggak ngajakin aku lagi, sih? Aku mau foto yang banyak dan tunjukin ke Fajar kalau aku, tuh, nggak bohong."

"Idih. Masa adiknya Mas Genta dibilang bohong, sih? Jahat sekali."

"Makanya, Mas Genta tuh jangan sibuk terus. Ajakin aku ke gunung gitu, loh, Mas. Aku mau ngalahin Fajar. Aku mau nunjukin ke teman-temanku bahwa aku nggak bohong."

"Baiklah, Jenderal. Perintah dilaksanakan." Genta memberi gestur hormat di hadapan Gendis, dan perempuan mungil tersebut tergelak. "Tapi, sebelum kita naik gunung, niatnya dibenerin dulu."

"Niat gimana maksudnya, Mas Genta?"

"Gunung itu bukan tempat untuk pamer. Bukan tempat untuk mengalahkan teman. Apa yang kita lakukan di gunung adalah cara kita bersyukur kepada Tuhan karena telah diberi keindahan alam sehebat itu secara cuma-cuma." Genta berbicara dengan sabar. Dielusnya kepala Gendis penuh sayang. Senyum terus tersimpul di bibirnya yang kehitaman. "Kita datang ke sana dengan sopan, dengan rendah hati, karena sejatinya yang kita kalahkan ketika mendaki gunung adalah diri kita; keinginan kita untuk pamer ke teman-teman; dan keegoisan diri kita sendiri. Gunung hanya akan memberikan apa yang kita cari. Kalau Gendis hanya mencari cara buat pamer, ya cuma itu yang Gendis dapat. Gendis nggak akan merasakan nikmatnya mendaki, lelahnya berjalan, indahnya pemandangan, hijaunya hutan, birunya langit, emasnya matahari terbit dan terbenam, sejuknya angin gunung, lucunya binatang-binatang di sana, dan bonus puncak di atas titik tertinggi."

Gendis mengangguk sambil tersenyum lebar. Kedua mata hitamnya yang serupa Genta berpijar penuh semangat. "Baiklah kalau Mas Genta berkata demikian. Aku percaya sama Mas Genta."

"Dan ingat, karena gunung bukan habitat kita, bukan tempat hidup kita, kita harus menjaga gunung ketika kita mendaki. Jangan mengambil apa pun selain foto, jangan meninggalkan apa pun selain jejak, jangan membunuh apa pun selain waktu. Kita harus dan harus membawa sampah kita turun. Kamu bisa bertanggung jawab untuk membawa sampah-sampah kamu turun kalau nanti Mas ajak mendaki?"

"Kalau Mas Genta meminta demikian, aku pasti turuti. Selalu percaya sama Mas Genta. Tapi Mas Genta janji ajak aku naik gunung."

"Janji, dong. Cowok kan yang dipegang omongannya. Nggak akan Mas Genta bohong. Nanti Mas Genta ajak teman-teman Mas Genta di Kaki Wilis untuk menemani Gendis mendaki, gimana? Seru, kan?"

Adik Genta melonjak gembira. Ia memeluk Genta antusias. Sebelum meninggalkan pemuda tersebut, Gendis memberi Genta sebuah kecupan sayang. Senyumnya menulari Genta. Dengan lembut, Genta menyugar rambut keriting Gendis, dan membiarkan bocah itu keluar dari kamarnya.

Menarik napas panjang, tangan Genta merogoh saku celana, dan mengeluarkan secarik kertas putih dari sana. Sudah enam hari ini, semenjak ia dibebaskan polisi karena tidak memiliki bukti menjadi salah satu tersangka dari pembunuhan Siska, dia mengurung diri di kamar. Ia matikan gawai. Ia pun berujar kepada Petrus untuk menolak siapa pun temannya yang datang berkunjung. Ia tidak bertandang ke acara pemakaman jenazah Siska. Pun tidak hadir ketika kawan-kawannya mengajak bertemu. Demi Tuhan, Genta ingin menenangkan diri. Ingin menarik diri sejenak dari segala prahara yang sangat menggencet pertahanannya. Segala macam pendakian yang mendatangkan keuntungan, bubar tanpa sisa dari pikirannya. Dalam kondisi seperti ini, manusia anjing mana yang masih memusingkan gunung dan menyenangkan orang lain?

Manusia mana?

Genta memaki. Suara beratnya memantul-mantul dalam kamar. Kembali ia menyelisik kertas putih yang ternoda darah Siska di tangannya. Itu kertas yang Rick selipkan di tangannya ketika mereka digelandang ke kantor polisi.

"Gue menemukannya di bawah kolong kursi sewaktu gue syok di pojok kontrakan Siska kemarin, Res. Gue tahu, seharusnya gue biarkan kertas ini dibawa polisi, tapi gue sangat ingin memberikan kertas ini pada lo. Gue belum baca isinya apa. Gue harap ini memberikan petunjuk tentang siapa pelakunya pada lo."

Dengan tangan bergetar, mengingat bagaimana darah ini adalah darah sahabatnya yang telah meninggal, Genta membuka kertas tersebut. Sebait puisi yang diketik rapi kembali terpampang dengan jelas. Genta membaca ulang puisi yang sudah ia hafal di luar kepala. Enam hari mencoba mencerna isinya, membuat otak Genta mampu menangkap dengan jelas bagaimana jalinan huruf itu terangkai di sana.

Dari serangkaian puisi keparat ini, sederet kalimat terakhir benar-benar memilin usus-usus Genta.

Sial!

Apakah ini pertanda bahwa akan ada korban yang berjatuhan lagi? Tapi kenapa? Apakah ini ada hubungannya dengan pembunuhan mahasiswi tersebut? Kalaupun iya, kenapa harus menunggu dua minggu setelah malam nahas itu berlangsung? Bukankah itu terlihat rumpang jika pelakunya memutilasi Siska karena ingin balas dendam? Seumpama pelakunya memang benar berniat membalas tindakan keji itu, tapi siapa? Apakah orang-orang di Kaki Wilis? Atau orang-orang yang sedang Siska investigasi?

Mata Genta membulat seketika. Tubuhnya mematung serupa reca. Jantungnya seolah melorot ke mata kaki. Demi Tuhan, pemikiran yang terlintas terakhir di kepala Genta membuatnya menggeriap. Menggigil ketakutan. Seumpama pembunuhnya orang Kaki Wilis, maupun orang di luar Kaki Wilis, jelas ada yang berkhianat di antara mereka. Ada yang telah melanggar sumpah. Siapa pun itu orangnya—Genta tidak mampu menyembunyikan rasa ngeri sewaktu berpikir sekarang—seiyanya asumsi Genta benar, hukuman yang akan mereka terima jauh lebih mengerikan daripada sekadar dipenjara. Mengingat bagaimana sadisnya pelaku memutilasi tubuh Siska, bukan tidak mungkin dia seorang psikopat yang akan membabat habis korban dengan cara... seperti binatang.

Dan, hebatnya, psikopat itu telah hidup begitu dekat dengannya selama bertahun-tahun.

Tidak tercium sama sekali aroma kejahatanya.

Tidak ketahuan secuil pun sampai detik ini.

Betapa orang itu lihai berkamuflase.

Cerdas melakukan sandiwara.

Hebat menyembunyikan kebohongan.

Pertanyaannya, di antara Aji, Ben, Rick, Gerard, Irang, dan Dian, siapakah pengkhianat tersebut?

Kepala Genta kembali tertunduk. Sebait puisi di sana ia baca ulang. Kalimat terakhir yang diketik benar-benar ampuh merontokkan nyali Genta. Pertanyaan serupa berbunyi lagi dalam kepala Genta. Terus berulang-ulang. Terus berdentang-dentang. Siapakah di antara sahabatnya di Kaki Wilis yang berkhianat?

Takdir terjatuh

Rupa tanah

Perempuan telanjang

Bertitah-titah

Ia akan kembali bertumbal kepala

Prabu mufakat

Dua aji-aji membabat

Takdir terjatuh

Rupa tanah

Semak belukar

Sebelum mekar

Ayo dicari, atau aku akan mati

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top