Bab 5

"Kamu nggak ada niatan berdamai dengan Ben?" Aji melempar bungkus rokok dan korek api di atas meja, lantas beranjak ke dapur. "Melihat bagaimana dia memakimu kayak di camp tempo lalu, saya khawatir dia bisa jadi boomerang buat rencana yang sudah kita susun matang." Ia membuka kabinet, mengeluarkan panci dari sana, kemudian membuka keran untuk menjerang air. "Omongannya sadis. Selama kita berteman, belum pernah saya mendengar dia kayak gini."

Menanggapi pertanyaan Aji, Genta hanya mendesah. Ia mengempaskan pantat di kasur lantai, lalu menyulut sebatang rokok. "Sejak aku menolaknya ikut pendakian, belum sekali pun dia menjawab semua pesanku. Aku tegur waktu ketemuan pun nggak dia jawab. Pusing juga ngeladeninya lagi dalam mode ngambek. Udah kayak perawan aja, Su, kelakuannya. Sial. Aku merasa jadi bapaknya kalau seperti ini."

"Tugas yang kamu pasrahi padanya untuk mencari akun cewek itu gimana? Ada progres, nggak?" Aji kembali ke ruang tamu yang merangkap kamar tidurnya seusai ia menyalakan kompor guna memasak beberapa bungkus mi instan.

"Yah, mana aku tahu, lah, kalau aku nggak bisa menghubunginya sama sekali."

"Ck." Digelengkan kepalanya mendengar jawaban Genta. "Lagian kamu juga cari perkara di waktu-waktu genting kayak sekarang," tudingnya. "Kalau keadaan kita normal seperti dulu, kamu boleh ngelarang-ngelarang Ben semaumu. Tapi sekarang, kondisi kita beda, Res. Seumpama Ben sakit hati dan nggak bisa ditawar-tawar, bukan nggak mungkin dia buka suara. Saya beneran nggak mau dipenjara untuk kasus yang bahkan saya nggak ikut campur sedikit pun. Sial."

"Kan, aku bilang juga apa, Ji, aku nggak mau melibatkan Ben dalam aktivitas alamku. Males banget seumpama kudu ngerawat tai kuda itu di gunung. Ah, elah, jangankan ngerawat manusia, ngebedain puyer buat pening dengan diare saja aku nggak tahu. Apalagi porter-porter kita. Nggak ada yang bisa diandalin. Bisa-bisa obat yang seharusnya untuk ambeien kuberikan untuk ngobatin bengeknya anak setan itu."

"Kamu ngawatirin Ben segitunya, tapi kamu lupa, kekhawatiranmu ini bisa membunuh seluruh keluarga tim komdis yang sudah menganiaya perempuan nggak berdosa itu. Kamu harus mengubah sudut pandangmu tentang keselamatan Ben sekarang, Res, karena ada tujuh manusia yang nasibnya saling ketergantungan pada kita. Termasuk kita, Res, yang, demi Tuhan, secuil pun nggak menyentuh tubuh perempuan itu. Kamu mau, gitu, dipenjara atas kesalahan yang murni mereka lakukan sendiri?"

Mendesah berat, Genta mengembuskan asap rokok. Ia menyugar rambut gimbalnya dan membiarkan suara-suara Aji menyelusup kuping. Kilasan masa lalu sewaktu Ben sekarat di gunung Merbabu kembali terpaparkan. Sungguh, itu adalah hal yang menakutkan. Membuat Genta seperti memiliki trauma berlebih dengan Merbabu. Kendati sekarang ia telah mampu menguasai ketakutannya, mengikutsertakan Ben dengan kegiatan pendakian bukanlah hal yang mudah.

Tapi di lain pihak, apa yang diutarakan Aji ada benarnya. Mengesampingkan ide gilanya mengubur jasad perempuan itu di dalam tembok, Genta dan Aji sama sekali tidak ikut menganiaya perempuan itu. Jangankan menganiaya, tahu namanya saja tidak. Tahu rupanya tanpa luka-luka pun tidak. Bahkan jika diselisik ulang, duduk perkara kenapa sampai bisa terjadi pembunuhan saja Genta tidak paham. Semua kejadian itu serba-mendadak. Genta hanyalah individu biasa yang kebetulan memiliki jabatan pemimpin di sana, dan harus menelan masalah ini suka atau tidak. Dan jika Ben tidak mampu mengendalikan emosinya, ia bisa masuk ke jeruji besi untuk hal yang, demi Tuhan, tidak dia lakukan sekecil pun.

Genta memang sangat mengagungkan rasa kesetiakawanan. Tapi membayangkan bagaimana ia akan mendekam di balik penjara untuk hal-hal yang tidak ia kendalikan, hati kecilnya memberontak.

"Kamu sudah berkeras hati melarang Ben dan Gerard melaporkan tindakan ini ke polisi. Kamu juga yang menginstruksikan menyembunyikan mayat perempuan itu. Kamu harus bertanggung jawab, Res. Dan, sekarang, mewujudkan keinginan Ben untuk mendaki adalah salah satu bentuk tanggung jawab yang segera kamu ambil atau semua kegilaan ini akan sia-sia."

Lagi, mendengar orang lain menyebutkan kata 'mayat', menimbulkan efek tidak mengenakkan pada Genta. Perutnya terasa melilit. Mimpi-mimpi buruk yang selalu menghantui tidurnya sejak kejadian malam itu seperti bangkit. Keringat menetas di punggungnya. Apalagi jika kata itu diikuti oleh pernyataan-pernyataan yang menyebutkan bahwa ialah dalang dari semua kegilaan ini, batin Genta kian tidak tenteram. Seperti ingin berak, tapi ia kesulitan mengeluarkan.

Ia mengisap kereteknya dalam-dalam, lantas mengembuskannya dalam bentuk bulatan-bulatan sempurna. Di dalam halimun menyesakkan tersebut, pemikiran Genta tersesat. Batinnya bertanya-tanya.

Kenapa dalam kurun waktu dua minggu ini, ia selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan berat?

Apakah sewaktu di Semeru kemarin, ia tidak sengaja mengencingi salah satu pohon yang merupakan tempat bersemayamnya jin-jin Semeru, sehingga dia seolah mendulang ribuan kejadian nahas?

Sial! Ini nggak lucu, Lur.

"Kemarin-kemarin memang baru Rick yang diperiksa lebih lanjut. Beruntungnya, dia ada di pihak kita. Jadi ketika para polisi melempar pertanyaan retoris padanya, Rick tetap bisa berkilah. Kalau suatu hari nanti giliran Ben yang dipanggil, gimana? Apa kamu nggak khawatir Ben nggak mampu mengendalikan emosinya? Rahasia kita bisa kebongkar semuanya, Res."

"Bingung asli, Su. Sial. Kenapa aku nggak bisa tenang sekali saja, elah." Merebahkan punggung, kembali Genta mengembuskan asap rokok. "Ingin pinjem pintu ke mana sajanya Doraemon saja kalau bisa, supaya aku bisa tinggal dan menetap di hari sebelum kita turun dari Semeru." Pandangan Genta menimpa plafon indekos Aji yang berlumut. "Perasaan aku nggak kencing sembarangan pas kita ke Semeru kemarin. Di Kalimati pun aku kencing di Sumber Mani. Nggak neko-neko. Mau summit juga aku kencingnya nggak di pohon-pohon. Tapi kenapa seolah-olah aku ketimpa sial terus, ya?"

"Makanya, botakin tuh kepala. Kesialan kamu nggak berasal dari Semeru, melainkan dari koloni kutu yang buat kerajaan di kepalamu." Aji menggeleng melihat tingkah laku Genta. Ia beranjak ke dapur dan mengangkat mi yang sudah matang. Tidak ada topping apalah-apalah untuk Genta. Bisa keenakan bukan main manusia keparat itu kalau dijamu dengan makanan nikmat. Lagian, Aji juga tidak memiliki stok apa pun di kulkasnya selain beberapa bungkus mi instan dan air mineral dalam botol.

Kali ini mereka sedang ada di indekos Aji di daerah Gowongan. Sepulang bimbingan skripsi dengan dosen, Aji terpaksa mengiakan keinginan Genta mampir ke tempatnya. Sebenarnya, ogah juga membawa peranakan genderuwo itu ke kos-kosannya. Hanya saja, Aji tak bisa menolak tumpangan Jeep yang Genta tawarkan. Yogyakarta pukul dua belas siang itu tidak waras, Lur. Macet, panas, dan debu adalah hal paling hakiki yang sebisa mungkin Aji hindari. Ia memarkir vespa bututnya di kampus sebelum meluncur ke sini.

Siang-siang begini memang edan namanya kalau memutuskan memasak mi pedas untuk makan. Akan tetapi, enek juga mentraktir Genta di Gudek Barek Bu Tari yang ada di Jalan Diponegoro. Membayangkan Genta akan menguras kantongnya adalah hal paling menyebalkan yang harus Aji elak. Itu bukan perbuatan bijak. Apalagi ditambah pemikiran tidak masuk akal Genta yang kukuh melindungi Ben di saat-saat seperti sekarang, Aji sangat waras untuk tidak membuat laki-laki sialan itu mendulang kebahagiaan. Kalau bisa, ingin rasanya Aji membuatkan sepiring paku dan beling kepada Genta.

Setelah rampung menguleni mi dengan bumbu-bumbunya, Aji membawa dua piring mi ke depan. Disodorkannya satu piring ke arah Genta yang menyambut antusias setelah mematikan putung rokoknya. Ia meletakkan mi bagiannya di atas meja kecil di samping tempat tidur, kemudian kembali ke dapur untuk mengambil sebotol air.

Tidak ada yang istimewa dari indekos Aji Saka. Ruangnya kecil saja yang terdiri dari dua bagian. Bagian depan hanya terisi kasur lantai, nakas, dan lemari penuh stiker gunung. Bagian belakang terdapat toilet dan dapur. Tembok-tembok di kamar Aji nyaris terisi pernak-pernik gunung dan beberapa fotonya tengah menikmati panorama lautan awan. Ada fotonya dengan Gerard sewaktu mendaki Gunung Kelud. Ada fotonya dengan Rick di puncak Gunung Kawi. Ada juga fotonya dengan anggota Kaki Wilis sewaktu napak tilas di Gunung Welirang dan Gunung Kembar.

Dari sekian foto yang ia tempel di tembok yang warnanya sudah mulai menguning tersebut, satu foto ia letakkan di atas nakas. Fotonya dan Genta tengah memunggungi kamera. Mereka lagi berdiri. Aji bersedekap, sementara sebelah tangan Genta terlihat masuk ke dalam kantung celana. Sebelah yang lain—kendati tidak terbidik kamera—Aji paham, saat itu Genta sedang menyulut sebatang rokok. Di depan mereka, langit seolah terbakar oleh cahaya keemasan dari matahari yang mulai merangkak dari perut bumi. Sinarnya yang menggelimantang memantul di lautan awan yang serupa kapas, dan menjadikan sosok mereka berupa siluet.

17 Juli 2015.

Pukul 05.12 WIB.

Aji tak akan pernah lupa hal tersebut.

Satu-satunya gunung yang menggoreskan satu sejarah mengerikan bagi seorang Aji Saka.

Gunung yang mempertemukan Aji dengan hidup dan kematian hanya dalam satu tempo.

Gunung yang membuat Aji menumpahkan air mata ketika melihat Genta sekarat.

Gunung yang membuat Aji melihat dengan mata telanjang bagaimana kematian menjilat-jilat kehidupan.

Puncak Surono.

Gunung Slamet.

Foto itu diambil satu jam sebelum Genta terserang hipotermia hebat.

Apabila Aji dan kawan-kawan lain telat sedikit saja memberikan pertolongan, mungkin kisah ini tidak akan terjadi.

"Gila! Ini makanan apa, sih?"

Suara raungan yang menampar plafon indekos itu, menyadarkan Aji dari lamunannya.

Genta mendesah kasar, lantas segera beranjak ke pantri dan mengambil sebotol air mineral dingin dari kulkas. "Kamu mau membunuhku?"

Yang dituduh hanya diam saja. Gulungan mi dalam garpu tetap Aji santap. Ia sama sekali tidak memiliki minat menghiraukan kelakuan absurd Genta. Bahkan ia sama sekali tidak memiliki minat meladeni manusia keparat itu. "Hanya orang lemah yang nggak tahan dengan pedas." Begitu ia berkilah. "Ini mi nggak ada pedas-pedasnya sama sekali."

Ekspresi nikmat di wajah Aji benar-benar menimbulkan keinginan untuk menampol. Tapi sadar bahwa kali ini ia hanya menumpang, Genta mengabaikannya. Ia terus memakan mi setan buatan Aji. Sekali suap, Genta akan mengguyur lidahnya dengan air es. Melihat itu, Aji tertawa culas. Tidak tahu saja Genta—batin-batin biadab Aji berbisik keji—makanan pedas akan semakin membara apabila dihajar minuman dingin. Kali ini, melihat manusia plin-plan itu menderita, Aji merasakan kebahagiaan.

Ketika mi dalam piring Genta masih tersisa separuh, pintu indekos Aji ada yang mengetuk. Detik berikutnya, tidak menunggu Aji membukakan pintu, Rick Chandra masuk dalam keadaan basah kuyup. Peluh menetes di muka dan lengannya yang semerah kepiting rebus.

"Res, gue udah minta porter yang bisa masakin menu pilihan klien lo di Latimojong," tembaknya langsung, menggeser tubuh Aji, dan merebahkan badan gempalnya di atas kasur. Baru beberapa detik ia mendarat, Rick bangkit dan menarik tali kipas angin yang tergantung di atasnya. "Gila! Panas banget! Ini neraka pada bocor apa gimana, sih?" gerutunya. Kipasan angin dari mesin yang ia nyalakan, nyatanya tak cukup mengembuskan angin segar. Ia melepas kaus singlet yang ia kenakan. "Kos-kosan lo ada hantunya, ya? Panas banget, sial!"

"Bacot!" Aji melimbai ke dapur sambil membawa piringnya yang sudah bersih.

"Terus gimana? Ada yang bisa masak sesuai pesanan para dokter itu?" tidak mengindahkan seruan Aji, Genta bertanya.

"Di sana ada satu porter pinter masak gitu. Tapi bayarnya mahal, Res. Udah gue nego seharian kemarin, tetap nggak mau turun. Hari ini giliran Ben yang lagi kelimpungan nego soalnya gue ada pertemuan dengan dospem. Tadi dia juga riweh nyari-nyari porter lain dan menghubungi beberapa pihak mapala di sana. Nggak tahu, deh, dia berhasil nego apa kagak. Gerard dan Irang bahkan udah ngerunding kemarin sore. Mereka sampai bolak-balik nyari informasi dan tidur di camp. Bikin beberapa proposal untuk dikirim ke sana lagi. Hasilnya tetap saja. Yang sesuai dengan permintaan lo cuma satu. Dia minta empat juta sehari. Gimana?"

"Asu! Itu porter apa lintah darat?"

"Kemampuannya, kata Pak Daeng, nggak main-main. Dia pernah menjamu tamunya Pemkot dan menyervis mereka dengan menu-menu andalan. Bahkan menu yang gue sodorin pun dianggap enteng sama dia."

"Tapi itu kemahalan banget." Genta menggeleng berat. Ia kembali menyuap mi keparat tersebut. Dan rajaman pedas itu membakar lidahnya ulang. Mengerang, buru-buru Genta menenggak air es-nya, lantas memaki, "Asu, Ji! Kamu kalau ada masalah, ngomong sama aku. Jangan ngeracunin aku kayak gini."

Aji terpingkal dari dapur.

"Emang beneran nggak ada yang bisa masak untuk dokter-dokter itu selain dia? Porter kita Mas Jalu dan Mas Bagus?" Genta mengeluarkan tanya setelah rasa pedas tak lagi menggigit lidahnya. Kalau mi buatan Aji ia habiskan, bisa-bisa anusnya yang terbakar.

"Lo tolol apa gimana, sih? Mereka ikut gue ke Gede, lah. Tahu, sendiri, kita nggak punya porter asli sono. Lagian, yang benar saja masrahin masakan kaya bumbu gitu pada mereka. Mereka bikin nasi goreng aja keasinan. Malah kebanyakan, gue yang masak kalau mendaki bareng mereka."

"Coba kamu pendekatan sama mereka, Res. Tanya, kenapa mereka pada minta masakan-masakan high class gitu." Aji kembali dari dapur membawa sepiring mi dan memberikannya pada Rick. "Bujuk mereka untuk mengubah makanan yang kiranya bisa dimasak sama porter kita. Kalau mereka minta menu western, kita bisa mengusahakan bikin burger, sandwich, atau spagethi."

"Bagus juga tuh ide. Kalau lo ada muka, lo tawar, gih, Res." Masakan yang dihidangkan Aji, Rick santap dengan ceria. Berbeda dengan Genta, tidak ada ekspresi kepedasan sama sekali dari Rick kecuali bibirnya yang memerah. "Dokter-dokter ini orang mana, sih?"

"Kata Ben, sih, orang-orang Medan. Aku belum ngecek profil mereka lebih lanjut. Boleh, lah, ditawar, tapi takutnya hal itu bisa menurunkan kredibilitas Kaki Wilis. Kalian tahu, kan, kalau bisa trip kita zero complain. Kemampuan marketing word of mouth itu nakutin, Su. Apalagi mereka dokter. Melek teknologi dan segala macam. Kalau mereka nge-blow up-in kekecewaan mereka di muka umum, dan mengeluarkan bukti-bukti kita nggak sanggup menjamu mereka dengan layak sesuai standar mereka, bisa mati Kaki Wilis."

"Atau kamu buat tarif khusus untuk menu yang mereka minta. Minta Dian dan Siska menghitung berapa besar pengeluaran kita dengan menu-menu khusus itu." Aji memberi usul. Menemani kedua temannya makan, ia menyulut rokok. "Perinci dari hal terkecil seperti snack dan sewa kendaraan sampai ke bahan-bahan makan dan biaya porternya. Lalu bagi sejumlah anggota mereka. Jika perorang masih di bawah sepuluh juta dan kita nggak rugi, nggak apa-apa bayar porter dengan nilai segitu. Tapi kalau di atas sepuluh juta, kamu floorin tambahan ini ke mereka."

"Tapi kalau bisa, mending lo sama Aji nego dulu, deh. Siapa tahu mereka mau menurunkan harganya. Kalian tahu sendiri, lah, kemampuan persuasif kami level tiarap jika dibandingkan kalian. Kalau beneran mentok, dengan siapa pun tuh harga tetap nggak mau turun, satu-satunya cara ya pakai alternatif dari Aji."

"Boleh. Boleh. Nanti aku telepon Dian dan minta tolong untuk menghitung pengeluaran kita." Genta mengangguk mengiakan. "Simaksi untuk para pendaki yang mau ke Semeru sudah kamu urus?" Sebenarnya mengurus simaksi dan perizinan lainnya adalah tugas Ben di Kaki Wilis, tapi mengingat bagaimana Genta sedang berseteru dengan Ben, kesulitan sekali untuknya memprogres info tentang persiapan pendakian.

"Beres. Ben sudah mengurus semuanya. Tapi kemarin ada satu yang mundur. Aku tanya kenapa, katanya, dia nggak dapat izin dari orang tuanya. Jadi, ya, akhirnya Ben membuka pengumuman di IG kalau pendakian ke Semeru masih tersisa satu seat."

"Lebih baik batal daripada mendaki sama orang yang nggak dapat izin dari orang tuanya. Bisa bahaya di tengah perjalanan. Mending kita main aman saja."

Seperti Genta, Rick memiliki tubuh yang kokoh. Hanya saja, kesamaan itu cukup berada di sana. Lainnya, di antara para lelaki di Kaki Wilis, Rick-lah satu-satunya pemuda yang memiliki kulit seputih bakpao. Biarpun terpanggang sinar matahari gunung, kulit Rick tetap terang. Ia memiliki bibir berwarna merah muda yang cerah kendati sering merokok. Terdapat kumis tipis yang melintang di atas bibir tipisnya. Hidungnya seruncing cantolan kapstok. Rambutnya terpotong pendek dan selalu rapi. Matanya belo, berwarna hitam kelam. Rick pemuja kebersihan. Ia satu-satunya orang paling murka kala ada mahasiswa yang mengembalikan barang-barang sewa dalam keadaan kotor. Ia bahkan pernah bermusuhan dengan Genta ketika laki-laki itu membawa tenda turun dari gunung dengan bau pesing.

Keheningan merayap ketika diskusi tentang pendakian rampung. Aji sibuk mengisap batang rokoknya. Genta dan Rick sibuk menghabiskan porsi mi goreng di piring mereka masing-masing. Kesunyian hanya dipecah oleh suara kendaraan yang berlalu lalang di depan indekos Aji dan kipas angin yang berkeriat-keriut di atas mereka. Meskipun sudah menanggalkan kausnya, dada telanjang Rick tetap bermandikan keringat. Tubuhnya masih memerah akibat paparan matahari. Apalagi didukung oleh rasa pedas dari makanan yang ia santap, Rick merasa benar-benar terbakar. Usikan kipas angin milik Aji sama sekali tidak menurunkan kadar panas yang ia dera.

"Ngomong-ngomong...." Jeda yang diambil dari kalimat barusan, membuat Genta menghentikan makan. Ia mengangkat kepala dan menoleh ke arah Rick. "Lo takut, nggak, sih, Res, dengan apa yang menimpa kita kali ini? Jujur banget, gue takut setengah mati, Res. Sejak malam itu, tidur gue nggak pernah nyenyak. Setiap kali gue menutup mata, bayang-bayang perempuan itu terlihat jelas di mata gue."

Ada yang terasa meninju perut Genta. Dan, itu sakit sekali. Ia lemparkan pandangan ke arah Aji yang fokus menatap Rick.

"Gue emang orang yang berada di samping lo ketika Gerard dan Ben menantang lo. Tapi sejujurnya, apa pun yang mereka katakan, terus berputar di telinga gue, Res. Gue takut setiap kata yang mereka ucapkan menjadi kenyataan. Lebih-lebih...," dalam bisikan yang berbau ganjil, Rick melanjutkan, "gue takut kena karma."

Kekakuan membebat mereka seiring kalimat yang Rick desiskan di ujung pernyataannya. Kali ini, seluruh nafsu Genta untuk menghabiskan makan siangnya lenyap tak tersisa. Rick seperti menyuarakan perasaan gamang yang selama dua minggu ini merongrongnya tanpa ampun. Tidak ada lagi malam-malam tenang yang bisa ia habiskan dengan tidur. Ketika pada akhirnya ia mampu mengatupkan kelopak dan beristirahat pun, ia akan terbangun tidak lama kemudian. Dengan mimpi-mimpi buruk. Dengan suara-suara minta tolong yang menghantui. Dengan merah darah yang berceceran di mana-mana. Dengan... rasa takut yang kian besar.

"Gila, nggak, sih, gue sampai telepon orang tua gue yang di Jakarta hanya untuk mendapatkan rasa tenang. Ajaibnya lagi, gue minta maaf ke mereka, Res. Lo tahu, kan, Nyokap orangnya sensitif banget. Dengar gue minta maaf, doi nangis nggak keru-keruan. Untung aja Nyokap nggak maksa minta ke Yogya. Coba kalau bisa, beh, bakal makin runyam suasana." Rick menggusak rambutnya serampangan. "Ini hanya permintaan maaf secara impulsif saja, respons Nyokap kayak gitu. Gimana kalau mereka sampai dengar berita gue dipenjara. Gue sama sekali nggak memiliki persiapan untuk itu, Res."

Masih belum bisa memutuskan ingin menimpali uraian Rick dengan apa, Genta hanya diam. Ia mengusap cambang lebatnya seraya berpikir. Jika dibandingkan dengan anggota Kaki Wilis lainnya, mungkin bisa dibilang Genta-lah satu-satunya orang yang tidak akan ambil pusing tentang perasaan orang tuanya apabila ia dipenjara. Fungsi orang tua itu sudah mati di rumah Genta sejak sepuluh tahun silam. Sementara jejak mendiang ibunya yang meninggal kala ia masih kecil, sama sekali tidak mampu menghidupkan arti orang tua sesungguhnya buat Genta. Barangkali di mata orang lain, Petrus adalah ayah yang bertanggung jawab. Single parent yang tidak menelantarkan kedua anaknya. Tapi di mata Genta, Petrus tak ubahnya iblis keparat yang menjelma menjadi sosok bapak. Jika Genta tidak memiliki adik yang kini tinggal di asrama sekolah menengah, Genta muak memandang laki-laki bajingan itu dengan status ayah.

"Dian dan Irang sudah membuatkan alibi kita sedemikian rapat."

Suara yang diangkat Aji, menyadarkan Genta di mana mereka sekarang. Ia menyugar rambut gimbalnya, lalu menatap Aji tanpa memiliki niatan untuk urun rembuk.

"Saya sudah baca rangkaian alur cerita yang mereka ciptakan. Berkali-kali. Setiap saat. Dan, saya nggak menemukan satu celah pun di sana, Rick. Saya bahkan udah menyimulasi kalau-kalau ada polisi yang menghubungi kita lebih lanjut, tapi saya nggak menemukan lubang yang bocor dari kerangka itu. Semuanya terorganisasi dengan sempurna. Dan berita baiknya, setelah kamu dipanggil mereka, nggak ada lagi pemanggilan di antara kita sampai saat ini." Setelah itu, kembali ia embuskan asap rokok seraya menyelisik Genta.

Ada sesuatu yang terasa begitu asing di dasar iris sekelam malam milik Genta. Semenjak mengenal pemuda sialan itu, beberapa kali Aji berpapasan dengan tatapan Genta yang asing seperti saat ini. Mulanya Aji tidak ambil pusing. Hidupnya terlalu berharga untuk mengurusi tatapan manusia keparat seperti Genta. Tapi semenjak kejadian pembunuhan ini menimpa mereka, pancaran mata Genta yang nyaris tersembunyi itu, sering kali tampak dan membuatnya bertanya-tanya. Adakah yang tidak ia ketahui tentang Genta?

"Lo bisa mengatakan sempurna dari sisi mana, Ji? Kita siapa, sih, sampai bisa bilang rencana yang sudah kita susun sempurna? Yang kita hadapi polisi, Man. Polisi sialan yang setiap saat masih berkeliaran di kampus kita. Kalau para teroris saja bisa mereka tangkap semudah menarik bulu hidung, bagaimana dengan kita?" Suara Rick terdengar bergetar. Ketara sekali ia berusaha menahan emosi supaya tidak tumpah di sini. Mata besarnya tajam menatap Aji. "Dan lagi, apa lo nggak memiliki perasaan bersalah setiap orang tua gadis itu ke kampus kita menjeritkan tangis dan permintaan tolong? Man, acapkali gue mendengar itu, bulu kuduk gue merinding. Gue seperti dihadapkan dengan kematian itu sendiri. Jujur, gue takut banget."

"Kamu benar, Rick." Dibuangnya abu yang terkumpul di ujung rokoknya. "Tapi setidaknya kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Kalau pada akhirnya kita tertangkap setelah gilang-gemilang rencana yang sudah kita susun ini, ya, sudah, itu takdir kita. Kita bisa saja mengelabui para polisi, tapi kita nggak akan pernah bisa menyiasati bagaimana takdir berlaku pada diri kita."

"Lo nggak takut dipenjara dan kena karmanya, Ji?"

"Sebelum saya menjawab pertanyaan kamu, saya mau bertanya dulu. Ke mana tujuan dari pertanyaan kamu ini sebenarnya? Apakah kamu memiliki niat seperti Gerard dan Ben? Melaporkan kejadian ini ke polisi dan mengakhiri semua kegilaan ini?"

"Gue sama sekali nggak memiliki niatan seperti itu, Ji. Seriusan. Gue hanya menyuarakan ketakutan gue. Selama ini gue nggak bisa ngomong ke siapa pun karena gue nggak memiliki kepercayaan sebesar itu untuk berbagi cerita. Tapi sebelum gue memutuskan ke kos-kosan lo tadi, ketakutan gue udah benar-benar nggak bisa gue sembunyikan dan gue tanggung seorang diri. Gue butuh teman bicara. Dan di antara manusia berengsek di komunitas kita, cuma kalian yang memiliki kemampuan itu."

"Bukan hanya kamu saja yang ketakutan, Rick. Semua dari kita pun sama. Tapi kita harus tetap konsisten dengan rencana yang sudah kita sepakati dari awal. Jangan ada yang berkhianat atau kita akan terjeblos ke dalam penjara. Kamu pikir, orang tua saya di Tangerang bisa tenang-tenang saja mendengar anaknya yang mengemban pendidikan sampai ke Yogyakarta berujung dipenjara? Memang nggak ada yang bisa tenang sejak kejadian itu. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah meneruskan apa yang sudah kita susun, sepakati, dan sumpah." Setelah rokoknya mulai habis, Aji kembali membakar sebatang. Ia mengamati Genta yang terlihat kembali murung. Kelopak matanya sayu. Kantung mata tercetak tebal. Dan ketika Genta tengah menutup mata sambil mengurut pertemuan alis, Aji bisa merasakan kelelahan itu menderanya dengan cara yang sama. "Kita bernaung dalam satu organisasi, masing-masing dari kita memiliki tugas dan tanggung jawab. Jalankan tupoksi kita, mainkan kerangka yang telah dibuat. Sementara Siska dan Gerard melakukan pendekatan pada tim komdis lain yang bertugas pada hari itu, kita terus berpura-pura."

"Berpura-pura sampai kapan, Ji?"

"Selamanya, Rick, karena yang kita renggut pun hak hidup selamanya dari seorang anak manusia. Hak berkumpul selamanya dari orang tua dengan anak yang nggak kita kenal. Hak bermimpi dan cita-cita selamanya dari seorang generasi anak bangsa. Itu konsekuensi yang harus kita terima. Suka atau tidak. Memang sangat besar, karena apa yang telah kita perbuat pun sebesar itu."

"Oh, ya, Tuhan. Gue belum siap menanggung konsekuensi seperti itu."

Genta meletakkan piring mi gorengnya. Ia mengambil bungkus keretek yang tadi dilempar Aji, kemudian menyulut sebatang. Asap rokok dan aroma tembakau yang familier dalam tubuhnya terasa jauh lebih baik daripada makanan apa pun.

"Apa, sih, yang kita cari dari kehidupan ini, Rick?" suaranya berkisik parau. Genta bangkit, berjalan melintasi ruang, dan membuka jendela kamar Aji. Hawa panas dari Yogyakarta langsung menerpanya. Angin pengap bercampur debu, ditambah panasnya sinar matahari, sama sekali membuatnya lupa bagaimana menggigilnya hawa pegunungan. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya sekali sentak.

Hidup berpura-pura sudah ia lakoni—demi Tuhan—sepuluh tahun ini di atas mimbar. Rasa takut yang ia dera pun sudah takdir kenalkan secara biadab semenjak ia masih remaja. Mimpi-mimpi buruk yang ia terima dua minggu terakhir ini juga merupakan bentuk lebih panjang dan mengerikan dari mimpi-mimpi buruk yang ia dapat di hampir seluruh kehidupannya. Genta tidak pernah menyukai hal tersebut, tapi ia tidak memiliki pilihan lain untuk kabur. Tidak pernah ada pintu dalam kehidupan Genta. Semuanya hanya berupa tembok besar yang saling terjalin berupa labirin. Sejauh apa pun Genta lari mengejar kebebasan, ia akan kembali di tempat yang sama. Dengan perasaan yang sama. Dengan ketakutan yang semakin meningkat.

"Kita hidup seperti mendaki gunung," ungkapnya setelah mengisap saksama keretek dalam jepitan ruas jarinya. "Setiap orang memiliki puncak dan treknya masing-masing. Ada yang jalannya berbatu terjal. Ada yang treknya ada bonus. Ada yang tidak ada bonus sama sekali sampai puncak. Ada yang ketika sunrise justru berhadapan dengan tembok. Ada yang ketinggalan momen sunrise ketika sampai di puncak. Ada yang gagal mencapai puncak. Bahkan, ada yang menyerah di tengah-tengah jalan. Dan ketika kita sampai di puncak pun, apa yang kita dapat berbeda-beda. Sesuai dengan apa yang kita harap dan mimpikan. Ada yang puas. Ada yang terharu bangga. Sampai ada yang mendesah kecewa karena ketika sampai puncak, ia nggak mendapatkan apa apa. Tapi, Rick, kamu tahu, kan, seberbeda apa pun puncak bagi kita semua, setiap pendaki memiliki satu ketakutan yang sama. Takut gagal melakukan pendakian dan takut pulang dalam keadaan mengenaskan." Genta menjeda. Beberapa kali ia mengembuskan asap rokok.

"Banyak sekali faktor kegagalan mendaki, aku sangat yakin, kamu tahu hal itu. Persiapan yang kurang matang, logistik yang habis duluan, cuaca ekstrem, binatang buas, gunung yang erupsi, semua. Tapi ketika keril itu sudah kita panggul, ketika sepatu sudah kita ikat, yang para pendaki lakukan hanyalah yakin dengan perjalanannya. Seberat apa pun trek yang mereka lalui, mereka tempuh dengan sepenuh hati. Seberat apa pun medan, sebelum tubuh mereka tumbang, mereka akan terus maju. Satu anggota minta break, semua break. Satu anggota minta lanjut, kita semua lanjut. Nggak ada langkah yang mendahului anggota lain, dan nggak ada yang meninggalkan anggota di belakang. Leader yang akan memimpin perjalanan, membuka jalan, mengarahkan jalan mana yang benar untuk sampai di puncak, menentukan akan membuka area camp di mana. Sweeper menjadi orang yang memastikan nggak ada anggotanya hilang atau tertinggal.

"Itu yang sedang kita hadapi saat ini, Rick." Genta membalik tubuh dan menghadap ke arah Rick. Ia mendesah berat. Tatapannya menerawang jauh. Tersesat ke dalam labirin yang mengepungnya selama ini. "Kebetulan saja puncak yang kita hadapi sekarang sama, jadi kita harus memiliki satu visi dan misi. Apabila di antara kita ada yang meminta istirahat, kita istirahat, lalu kembali melaju. Satu di antara kita tumbang, pendakian akan dihentikan. Satu di antara kita hilang, pendakian selesai di situ. Kita sudah mengangkat keril masing-masing. Sepatu kita sudah terikat dengan kuat. Saat ini kita tengah berhadapan trek terjal dengan bebatuan besar. Angin menggempur dari segala sisi. Jurang mengintai di bawah kaki kita. Binatang buas siap memangsa kalau kita nggak saling awas. Sementara puncak, letaknya masih jauh. Ujungnya saja belum terlihat. Apa yang bisa kita lakukan saat ini selain terus mendaki dan saling menolong? kamu bisa memberitahuku? Perjalanan yang berat? Memang, sangat berat. Memakan waktu lama? Bukan lama lagi, bisa selamanya. Tapi yang menanti kita di puncak pun sebanding dengan apa yang telah kita korbankan. Kamu harus menempatkan dirimu di titik itu, Rick."

Obrolan dengan Genta tak pernah semagis ini. Efek yang ditimbulkannya luar biasa. Genta dengan sifat kepemimpinannya memang bisa selalu diandalkan walaupun tidak selamanya keputusan-keputusan yang dia ambil benar. Sewaktu mendaki Tambora, Genta hampir mencelakakan satu tim Kaki Wilis bersama dua klien. Perkiraannya yang nekat melanjutkan perjalanan alih-alih membuka perkemahan, berbuah nahas. Hujan badai menyerang mereka ketika area camp masih jauh. Tiga di antara mereka terserang hipo. Dan semuanya akan mati kalau saja tidak segera mendapat pertolongan. Tapi siang ini, di dalam kamar indekosnya, Aji merasa sebuah kelegaan mendengar uraian Genta. Ia sangat paham, trek yang mereka hadapi kali ini bukan main susahnya. Namun bersama Genta, Aji yakin, Kaki Wilis kali ini pun bisa bersama-sama sampai di titik puncak. Jika Genta mengulurkan tangan dengan yakin untuk menjadi leader dalam pendakian mereka sekarang, maka Aji berbesar hati menjadi sweeper dan menjaga siapa pun tidak akan ada yang tertinggal di belakang.

"Sejak kejadian itu, gue nggak tahu apa lagi yang gue cari dari kehidupan ini, Res." Suara Rick kembali terdengar setelah mereka didekap bisu menyusul pernyataan Genta. "Mungkin jangka pendek adalah jaminan nggak akan dipenjara. Selamanya. Okelah kalau gue harus berpura-pura, gue jabanin, asal jangan sampai gue dipenjara. Gila. Gue benar-benar nggak bisa membayangkan hal itu. Mungkin kalau sampai gue ketangkep dan semua bukti itu sama sekali nggak bisa membebaskan gue, gue akan minta ke bokap nyokap untuk membeli hukum. Apa pun akan gue lakukan agar gue bebas. Orang tua gue sangat mencintai gue. Mereka selalu mengabulkan keinginan gue. Kali ini pun, apabila gue minta dibebaskan dari jeratan hukum, gue yakin mereka akan mewujudkannya."

"Senang mendengarnya, Rick." Genta melempar tatapan ke arahnya. Kalimat-kalimat yang diutarakan Rick, entah kenapa, menyerang sesuatu yang begitu besar dalam hidupnya. Dan itu membuatnya terluka. "Kalau aku jadi kamu...." menelan ludah sebelum kembali mengisap batang rokok, Genta bersuara, "aku pun akan melakukan hal yang sama."

Yogyakarta, panas, siang hari, obrolan berat, bukanlah perpaduan yang asyik, Lur. Genta mafhum hal tersebut. Sebisa mungkin ia mengalihkan topik diskusi agar pemikiran mereka tidak tersesat. Tapi yang ada, justru hal yang tidak dia sangka-sangka ia dapatkan siang itu.

Ponselnya melengking keras dan menggerung berkali-kali. Buru-buru Genta merogoh kantung celana dan mendapati nama Ben berkedip-kedip di layar ponsel. Terakhir kali ia mendapat telepon dari Ben dua minggu lalu, dengan berita mahagawat yang menjerumuskannya sampai di titik ini. Genta melempar tatapan ke arah Aji dan Rick.

"Angkat saja. Siapa tahu penting."

Kalimat Aji seperti de javu. Perutnya tiba-tiba melilit. Pelan, sedikit ragu, dan diliputi ketakutan tanpa sebab, Genta mengangkat telepon. Suara yang dilantangkan Ben di ujung sana benar-benar mimpi paling buruk yang tidak pernah ia pikirkan di seluruh hidupnya. Dan Genta bersumpah, tidak akan pernah menerima panggilan terkutuk dari Ben dalam bentuk apa pun.

"Res, lo sekarang di mana? Ada berita gawat, Res. Gue benar-benar takut. Gue belum menelepon yang lain karena gue ketakutan hebat sekarang ini."

"Kenapa, Ben?"

"Gue menemukan tubuh Siskadalam keadaan nggak bernyawa, Res. Dia mati. Kondisinya sangat mengenaskan. Loharus ke sini dan melihat semuanya."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top